Tasbih Cinta – 17

0
70
views

“Akankah aku bertahan dengan segala situasi seperti Ini?”

Sandy mengirim sebuah status di media sosialnya.
Hatinya kembali bergemuruh dengan detak cinta yang berlebihan.
Tatapan kepada Anisa tadi membuat hatinya kembali merasakan cinta.

“Sandy…”

“Iya mah”

“Papa harus dirawat dulu beberapa hari”

“Ya mah. Mungkin ini yang terbaik untuk papa. Papa juga harus banyak istirahat”

“Mama harus temanin papa disini. bagaimana nanti Adinda dirumah seorang diri saat kamu kerja?”

“Hmmm…..”

“Kamu ragu??”

“Enggak…Adinda pasti mau mah lagian Sandy kerja gak sampe malam ”

“Ya sudah..mama masuk dulu ya.”

“Iya ma sandy ikut”

Setelah selesai melihat keadaan papa Sandy keluar dari ruangan inap papa. Saat itu pukul 9 malam. Mama tampak mengantar Sandy sampai kedepan. Sandy pun pamit dengan mencium punggung tangan ibunya.

“Hati hati ya Sandy”

“Iya mah”

***

“Mas….” saat Adinda membuka pintu menyambut suaminya

“Gimana pertemuan tadi?”

“Alhamdulillah seru banget”

“Emang ramai ya sampe bisa seru gitu?”

“Enggak…hihihi”

“Loh kenapa tawa kayak gitu . Seremmm”

“Ihh…mas Sandy…”

***

Pagi ini Adinda sibuk dengan pekerjaan rumah. Biasanya ada mama yang membantunya kali ini Adinda seperti kewalahan mengurus rumah dari cuci baju menyapu mengepel menyiram tanaman dan menyiapkan sarapan untuk orang yang dicintainya.

“Capek sayang???”

“Sepi ya mas gak ada mama?”

“Sepi atau capek Ini?”

“Dua duanya lah mas. Sepi dan capek”

“Belum juga punya anak udah capek. Kalau udah punya anak nanti lebih banyak urusan kita”

“Iya. ”

“Kok sedih?”

“Enggak..”

“Mas bantu kok jika nanti kamu capek saat ngurus baby”

“Ihhh…mas Apaan sih”

“Kenapa sayang??”

“Gak…kapan ya mas kita punya anak?udah beberapa tahun juga nikah tapi belum Lagi”

“Secepatnya kok”

“Iya tapi kapan??”

“Hayo kita usaha Lagi ” Sandy mendekatkan kepalanya dengan telinga Adinda dan berbisik nakal “sekarang yukk,sayang”

Adinda mendesah pelan
“Mas kan harus kerja”

“Masih ada waktu kok 1 jam lagi”
Jawab Sandy nakal dan menggendong istrinya.

***

“Mas berangkat dulu ya sayang. Hati hati dirumah. Segera telepon mas kalau ada apa apa”

“Siap mas Sandy sayang”

Sandy pun berangkat ke kantornya dengan mengendarai motor matic kesayangannya.
Karena mobil bukan miliknya.

“Suatu saat aku pasti bisa membeli mobil buat kenyamanan istri dan anak anak ku kelak saat perjalanan agar kami tidak kepanasan dijalan ” pikir Sandy suatu waktu.

***

1 minggu berlalu papa pulang dari rumah sakit.
Hati Adinda sangat senang sekali. Setidaknya ia takkan kesepian lagi.

Sewaktu dikamar bersama Sandy

“Dinda ceria sekali?”

“Iya mama dan papa pulang dinda seneng”

“Alhamdulillah ya. Banyak bersyukur kita punya orang tua sehat.setidaknya masih ada doa yang kita butuhkan dari lisan lisan kedua orang tua kita.”

“Iya mas”

“Tapi ada sedihnya juga”

“Kenapa mas?”

“Gak bisa colek colek dinda lagi dimanapun kan nanti dilihat mama”

“Hihihi..mas Sandy…”

“Heheheheh”

“Coleknya dikamar aja mas”

“Bener nih…?”

“Iya bener..dinda juga pengen kayak Anisa dicolek terus bisa punya anak yang lucu lucu”

Glekkk…..!!!

Sandy menelan air salivanya. Sangat sulit baginya melupakan nama tersebut.

“Dinda???”

“Kenapa mas?”

“Hubungan dinda sama Anisa udah lama?”

“Iya.emang Kenapa?”

“Mas tidak tau kalian berteman?”

“Yah ngapain juga mas harus Tau teman Adinda. Kan gak penting mas.”

“Penting sayang.”

“Hmmm…maafkan Dinda mas, sudah berlangsung lama juga setelah pertemuan terakhir kami saat acara syukuran anak pertamanya beberapa tahun yang lalu.kami bertukar nomor handphone. Dinda seneng punya sahabat seperti dia”

“Apakah kamu sering curhat tentang pernikahan kita?”

“Enggak mas. Tapi kalau tentang anak dinda sempat cerita pengen banget punya anak kayak dia”

“Terus…apa katanya?”

“Memiliki anak itu bukan mutlak harus dan bagaimana gitu atau anak juga gak termasuk salah satu kebahagiaan. Jadi dinda disuruh menikmati aja perjalanan pernikahan saat Ini”

“Hmmm….”

“Kenapa mas?”

“Enggak..Terus Dinda jawab apa lagi?”

“Yah tapi bagaimanapun dinda pengen. Apapun itu Dinda pengen”

“Kok dinda jadi egois?”

“Loh kan Dinda pengen…pengen banget mas?”

“Ya doa aja secepatnya”

“Selalu mas…tapi….”

“Udah Dinda. Tidak baik banyak mengeluh.syukurin aja apa yang ada saat ini. Kita sudah berusaha ini saat nya kita berdua memasrahkan keputusannya kepada Allah.”

“Mas….”

“Kenapa lagi?”

“Coleknya dikamar yuk mas”

“Ini Udah siang. Sayang mas harus siap siap berangkat kerja.”

Sandy bergegas bangkit dari tempat duduknya. Ada perasaan menyesal telah berkata demikian kepada Adinda.
Tapi ia tidak bisa berbohong. Bayang bayang Anisa kembali melintas di pikirannya.
Sandy berangkat kerja dengan mencium kening Adinda istrinya. Tampak wajah Adinda kembali murung. Tapi ia berusaha menyembuhnyikannya. Sandy tau Adinda pasti telah kecewa.
Tapi Sandy harus segera meninggalkan Adinda. Ia tidak mau melakukan “sesuatu” dengan bayang bayang Anisa.
Bukankah itu juga termasuk salah satu dosa besar.

Sandy mulai menghilang dari pandangan Adinda. Adinda segera menutup pintu dan masuk kedalam rumah.

***

“Masih ada waktu 1 jam lagi untuk istirahat dan bersantai “pikir Sandy.

Tadi terpikir Sandy untuk menghabiskan 1 jam bersama Adinda istrinya. Tapi ternyata ia tidak bisa melupakan ketika nama Anisa terucap dari mulut istrinya. Hatinya terus mengatakan untuk bertanya lebih lanjut bagaimana pernikahan mereka. Apakah hampa atau bahagia. Meski ditahan Sandy ia tidak boleh bertanya lengkap karena akan membuat Adinda curiga akan perasaannya. Bukankah insting wanita itu sangat tajam?

Sandy melangkah masuk sebuah kafe kecil di dekat kantornya.
Suasana masih sepi mungkin masih pagi dan kafe ini baru saja dibuka.
Segera ia memesan 1 gelas kopi susu dan roti bakar menemani santainya pagi ini.
Dibukanya medsos Anisa dengan rasa yang bercampur aduk.
Dilihat Sandy statusnya 4 hari yang lalu

“tujuan pernikahan bukanlah ingin hidup bahagia, melainkan ingin membuat hidup lebih baik.”

“Apakah ia sedang ada masalah?” Pikir Sandy mulai menerka nerka
Sambil terus scroll kebawah

“Menikahi seseorang yang mencintai ALLAH Akan menunjukkanmu lebih banyak hal tentang masa depan, dibanding apa yang kau lihat dan dengar sekarang.”

“Apa maksudnya Ini?”

Sandy memagang rambutnya dengan perasaan cemas.

“Apakah ia sedang bermasalah sama pernikahannya?”

“Aarggghh..Ini hanya tulisannya di dunia maya. Pasti ia sudah bahagia bersama suaminya Rendy”

Sandy berusaha berpikiran positif ketika hati kecilnya berkata.

“Kembalilah kepada Anisa. Sungguh dialah hanya satu satunya wanita yang pantas kamu cintai”

“Itu pasti kata hati yang berasal dari setan. Aku harus melawannya! Tidak baik merebut yang bukan hak aku!”
Lirih Sandy.

Tiba tiba pelayan datang dengan senyumannya menawarkan dan memberikan pesanan Sandy.

Sandy membalas senyum pelayan itu dan kemudian lanjut berselancar ke aktivitas dunia mayanya.

“Bisa melangsungkan pernikahan dengan orang yang sangat kamu cintai adalah berkat dan hadiah dari Tuhan yang sangat indah. Hargailah dan ingatlah selalu”

“Status ini buat Adinda kah?”

Sandy terus scroll kebawah dan ia sedikit meresap kata kata status terakhir Anisa semalam.

“Suami yang engkau nikahi

Tidaklah semulia Nabi Muhammad SAW

Tidak pula setaqwa Nabi Ibrahim AS

dan setabah Nabi Ayyub AS

Suamimu hanyalah pria biasa

Yang punya cita cita membangun keturunan yang sholeh

Pernikahan mengajarkan kita kewajiban bersama

jika Suami nahkoda kapal, maka istri navigatornya

Suami menjadi rumah, istri penghuninya

Suami menjadi guru, istri menjadi muridnya

Seandainya…

Suami lupa bersabarlah mengingatkannya

Istri yang engkau nikahi tidaklah semulia Khadijah

Tidak setaqwa Aisyah, pun tidak setabah Fatimah

Istrimu hanya wanita biasa

Pernikahan mengajarkan kita kewajiban bersama

Apabila Istri menjadi tanah, suami langit penerangnya

Istri ladang tanamannya, suami pagarnya

Istri bagaikan anak kecil, suami tempat bermainnya

Seandainya…

Istri tulang yang terkoyak, berhati hatilah meluruskannya”

“Ini status terakhirnya semalam
Sandy bergumam sambil menikmati pagi hari nya dengan perasaan entahlah Sandy sendiri tidak memahami.
Rasa cintanya kembali tumbuh dan bermekaran dengan indah.
Bayang bayang Anisa kembali melintas di pikirannya.

“Kekasih hatiku,Anisa..”
Lirih Sandy


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here