Tasbih Cinta – 15

0
468
views

Hari ini adalah tahun ke 4 pernikahan Anisa dan Randy. Mereka baru saja selesai acara syukuran kelahiran putri pertama mereka.
Mereka mengadakan aqiqah dirumah ayah dan mama Anisa. Karena permintaan Ali dan Mira yang merasakan bahagia yang sangat luar biasa kelahiran cucu pertama yang telah lama ia tunggu tunggu.
Mereka mengundang semua kerabat dan sahabatnya. Termasuk Lia dan hidayat papa dan mama Sandy. Dan Sandy pun datang menghadiri acara ini dengan mengajak Dinda yang sampai saat ini juga belum hamil.

” selamat atas kelahiran putri pertamanya” ucap Sandy kepada Randy dan Randy pun membalas senyuman khas nya yang bahagia.

“Terima kasih. Semoga kalian juga segera diberi kesempatan seperti kami ” jawab Randy dengan memeluk Sandy dengan pelukkan sahabat dan santai.

“Semoga saja..amiinn . Ini ada bingkisan untuk dedek nya.” balas Sandy sambil memberikan bingkisan bewarna pink kepada Randy.

“Wow…Terima kasih sudah merepotkan kalian” jawab Randy ceria menerima bingkisan itu

“Maaf bungkusannya tanpa nama. Aku belum tahu siapa namanya ” ucap sandy

“Iya..namanya Adelia Zahra” jawab Randy

“Nama nya bagus dan cantik” jawab Sandy

“Iya doakan semoga cantik juga akhlaqnya” balas Randy ramah

“Aamiinn. Pasti ” jawab Sandy dan mohon pamit sama Randy saat melihat Dinda memberi kode sesuatu.

***

“Ada Apa?”

“Bosen mas disini”

“Mau pulang?”

“Iya sih”

“Hmmm…..”

“Kenapa mas? Mas masih belum mau pulang?”

“Iya sih. Masih betah disini”

“Tapi kan Dinda sendirian mas”

“Dinda yang gak mau gabung. Coba gabung sama Mereka”

“Siapa??”

“Ituhh…..”

“Sama Siapa?”

“Iya itu sama dia coba gabung.”

“Anisa???”

“Yuppp”

“Kayaknya sombong gitu mas.”

“Udah pernah kenal?”

“Belum sih”

“Itu jatuhnya fitnah loh”

“I..iya deh…tapi kan..hmmm gimana ya…”

” ya udah mas temenin”

“Mas….”

“Kenapa? Gak papa lagian mas juga udah kenal biasa kok sama dia.”

“Deket???”

“Penasaran banget..ayoo..mas kenalin kamu ke dia”

***

“Assalamualaikum…”

” wa’alaikum salam . ehh….Sandy..”

“Sendirian?”

“Iyah. Lagi nungguin mama sama ayah mau foto bareng juga”

“Owh…hmmm…Ini Nisa..kenalin.”

“Iya udah kenal kok .hehehe…hai Dinda”

“Hai juga Anisa. Senang bisa bertemu hari ini”

“Iya…bagaimana kabar kalian ? Apa sudah ada calon baby juga?”

“Heheh…belum nih mas Sandy terlalu sibuk sih.doain ajah yah”

“Sibuk juga buat masa depan kan. Bukan keluyuran gak jelas.”
Jawab Sandy meluruskan perkataan Dinda yang membuatnya mengganggu

“Heheheh..iya deh mas.”

“Ya udah Anisa , Dinda . Mas ke depan dulu ya. Kalau mau pulang segera kabarin ya?”

“Ok mas”

Sandy sekilas melirik Anisa. Tampak Anisa tersenyum bahagia.

Percikan cinta itu mulai lagi di hati Sandy dan Anisa. Tapi mereka sadar ada batasan yang menghalangi cinta mereka berdua.

***

“Lama kamu tidak kesini teman,” tiba tiba saja ada yang menepuk punggung Sandy dengan kuat.

“Shaleh?!” Ucap Sandy kaget

“Hahahahah….santai teman aku bukan setan ” canda Shaleh

“Apaan loh!” Balas Sandy tertawa lebar

“Kemana aja.”

“Yah dirumah aku lah. Emang kemana lagi ” jawab Sandy

“Iyalah tapi jarang terlihat disini ” jawab Shaleh

“Yah ngapain juga terlihat disini. Ngaco lo ya. Kamu mau aku kayak dulu ? Gila karena cinta. Hampir gila teman benar benar deh cinta itu gila ya?!” Balas Sandy dengan tertawa

“Hahahahah….benar juga ya. Untung kamu ngak gila beneran. Sedih dong aku punya teman orang gila. Apa kata dunia?!” Balas Shaleh dengan tertawa renyahnya

“Hahahahah”

Mereka pun tertawa lebar dan puas setelah setahun tidak bertemu dikarenakan Shaleh menikah sama orang luar kota jakarta dan Shaleh juga membangun sebuah toko di kota kelahiran istrinya palembang.
Hari ini Shaleh datang kemari menghadiri acara Aqiqah anaknya Anisa dan sekalian ia mau belajar bisnis sama Ali AYAHNYA Anisa.

“Jadi Safira gak ikut? ”

“Enggakla San. Di sedang hamil besar anaknya yang ke 3”

“Www,,,udah hamil lagi dia ”

“Emangnya kamu betah aja pacaran mulu kapan punya anaknya? Gak pengen? ”

“Pengen deh tapi belum siap juga”

“Jadi……”

“Apa???”

“Jadi… Emang kamu sengaja menunda buat punya anak Sandy?”

“Iya”

“Yaa Allah Sandy..Kamu Kenapa sih?”

“Emang Kenapa? Aku belum siap?”

“Udah hampir 4 tahun Sandy? Belum siap gimana? Tar kamu tua lagi di tunda mulu?”

“Apaan sih. Laki laki biar tua masih perkasa”

“Kata kamu”

“Emang fakta begitu”

“Hadehhh ni bapak kenapa sih?. Kamu ada masalah Sand?”

“Entahla Shaleh. Aku tuh sulit jika suatu saat punya anak laki laki terus hidupnya akan susah dan menyedihkan seperti aku. Mencintai seseorang dengan sepenuh hati tapi harus dikubur hidup hidup..sakit Shaleh,,”
Jawab Sandy ngawur membuat Shaleh menghembuskan napasnya.

“Sandy….”

“Hmmm…”

“Kamu belum bisa move on dari dia?”

“Dia Siapa?”

“Apaan sih mau di sebut segala.”

“Yah sebut dong siapa namanya gitu.”

“Kamu udah mulai gila lagi ya Sand!”

“Maafkan aku Shaleh.”

“Lupakan Sandy, kamu sudah punya istri”

“Sudah ku usahakan Shaleh”

“Usaha kamu belum maksimal.”

“Ini pertemuan membuat ku goyah saat melihat wajahnya kemudian senyumnya.”

“Kenapa kamu mau hadir disini jika tau kamu pasti goyah. Kamu memupuknya sudah pasti cinta itu hadir dan tumbuh.”

“Aku sudah berniat tidak mau ikut kesini . Tapi mama dan papa ku membujuk ku”

“Mereka seperti itu hanya….”
Ucap Shaleh terputus dengan sambungan Sandy

“Sudahlah…Mereka hanya memupuk kembali cintaku kepadanya ”

“Sandy.. tidak seperti itu ”

“Apa shaleh. Santai aja aku tidak sejahat apa yang sedang kamu pikirkan!”

“Apa loh. Kayak bisa baca pikiran aku aja,,hahahahah”

“Kamu takut aku mengambil Anisa dari suaminya kan?! Tidak akan Shaleh. Tenang aja. Tapi yang jelas aku masih menunggunya sampai kapan pun”

“Ngaco loh Sand!! Udah mulai gila lagi lo ya!!”

“Hahahahhaha..enggak lah shaleh.”

“Udah kita gak usah bahas itu”

“Hahahah..Kamu takut?”

“Enggak takutnya nanti aku bantu memberi pupuk biar tanaman cinta kamu tumbuh. Kalau bahas lain aku ingin bikin mati itu tanaman cinta Kamu!”

“Ide bagus itu Shaleh. Kamu sahabat ku sejati selalu ada saat aku kacau dan apapun itu.”

“Terima kasih itulah sahabat yang sebenar benarnya”

Tiba tiba

“Mas…Dinda mau pulang,,”

“Oke dinda. Shaleh aku pulang dulu”

“Sippp..jangan lupa pengamanan malam ini di lepas dulu biar tumbuh”

“Apaan loh…sembarangan ngomong depan perempuan ”
Jawab Sandy spontan

“Hahahahahah…”
Shaleh tertawa lepas melihat ekspresi Sandy yang sedikit marah

“Pulang dulu shaleh. Tolong sampaikan salam aja ya buat pak Ali”
Ucap Sandy melunak

“Siap menantu pak Ridwan.”
Jawab Shaleh masih ingin bercanda

“Hahahahah basi loh.”
Sahut Sandy melangkah kedepan

“Hahahahahah”
Shaleh masih tertawa terpingkal melihat sahabatnya yang mulai bete

***

Saat dirumah Sandy tampak lebih pendiam dari biasanya.
Kebetulan mama dan papa Sandy tidak langsung pulang kerumah. Ia akan mengunjungi saudara Sandy . Andrian.
Sandy hanya bersama bersama Dinda istrinya.

“Mas….”

“Hmmm….”

“Liat Dinda dulu dong…”

“Apa?”

“Mas kok diem dari tadi?”

“Emang selama ini mas gak diem? Mas kan emang dari sononya pendiem”

“Hmmm…Kalau tadi Dinda liat mas bicara sama kak Shaleh mas tampak bahagia banget”

“Yah namanya sahabat lama yang udah lama gak bertemu kan udah biasa. Semua orang juga gitu”

“Tapi kan Dinda lebih dari sahabat mas. Harusnya Dinda mendapatkan lebih dari semuanya?”

“Kamu kenapa? Sakit??”

“Enggak…emang kenapa?”

“Kok aneh bilang kayak gitu”

“Aneh gimana mas. Kan fakta loh Dinda istrinya mas. Tapi mas gak bisa tersenyum renyah dan tertawa bahagia saat bersama Dinda!!!”

“Wanita sholehah tidak membentak suaminya seperti itu!”

“Terus mas merasa udah jadi suami sholeh?!!”

“Kamu kenapa sih Dinda ? Jangan deh suka mancing emosi orang”

“Dinda serius mas bukan mancing tapi bertanya. Apa mas gak pernah bahagia hidup dan menikah dengan Dinda?!”

“Tidak juga. Kamu sudah cukup membuat mas bahagia.percayalah?!”

“Hanya cukup mas..? Kenapa mas selalu menghindar…..”

“Menghindar apa? Itu hanya perasaan kamu saja,”

“Dinda merasa mas ada cinta sama wanita lain”

“Tidak baik menerka isi hati orang lain. Apalagi memfitnah ”

“Tapi mas kan suaminya Dinda. Bukan orang lain!!”

“Mas ada urusan sebentar. Baik baik dirumah…!”

“Dinda ikut..!!”

“Tidak !!! Kamu harus patuh sama aku. Tunggu dirumah. Aku akan segera kembali. Aku ada urusan sebentar!”

Sandy melangkah cepat dan lebar meninggalkan Dinda merenung meratapi nasibnya mencintai seorang laki laki yang tidak pernah mencintainya.
adinda bersimpuh di lantai dengan derai air mata kesedihan saat bunyi motor matic Sandy keluar dari pagar rumah.

“Aku benar benar tidak ada di hatinya”

Dinda melangkah dengan kurang semangat menuju kamarnya. Ia terus menangis.
Tiba tiba

Drrrttt….drtt…..

Hape Adinda menyala dan bergetar diraihnya hape di nakas samping tempat tidurnya
Ia mencoba membaca pesan yang masuk.

Dari mama mertua ternyata

“Dinda. Bilang Sandy mama dan papa tidak pulang hari ini sampai beberapa hari karena istrinya Andrian kakaknya Randy tadi sore pendarahan.”

Segera Adinda membalas chat dari mama mertuanya.

“Iya mah.semoga kak maudy cepet sehat ma. Tapi sandy belum pulang ma”

5 menit setelah chat terkirim mama menelpon ku.

Mama – kemana Sandy ? Mama mau ngomong

Adinda- kan tadi Dinda udah bilang mah Sandy belum pulang

Mama- sampai saat ini juga??

Adinda- iya mah katanya ada perlu sebentar.

Mama- kalian ada masalah dinda?

Adinda- tidak kok ma. Semua baik baik saja.

Mama- ini semua salah mama tadi yang membujuk Sandy pergi ke acara aqiqah anak Randy dan Anisa dirumah tante Mira tadi siang

Adinda- emang kenapa mah?

Mama- gak papa. Segera kabarin mama kalau Sandy udah kembali. Dari tadi mama menelpon Sandy tidak aktif. Mama khawatir sama kalian.

Adinda- terima kasih ma. Tapi insyaAllah gak kenapa kenapa kok ma.

Mama- ya udah kalau begitu. Assalamualaikum.

Adinda- wa’alaikum salam ma.

Adinda memutuskan pembicaraannya kepada mama mertuanya.
Ada perasaan sesak di dadanya menahan gemuruh di dalam hati.
Adinda menaruh curiga perkataan mama saat telepon tadi yang merasa bersalah telah membujuk Sandy untuk pergi menghadiri acara aqiqah anaknya Randy dan Anisa.

“Apakah mereka dulu sepasang kekasih?”

Adinda mulai bermain menerka nerka.

“Aku harus aku segera meminta penjelasan dari Sandy atau inilah akibatnya alasan Sandy tidak mau punya anak dari rahim ku. Karena.. Sandy berharap melahirkan benih dari rahim wanita itu…”
Pikiran Adinda menjadi kacau.

***

Malam pun telah tiba setelah menunaikan kewajibannya shalat isya. Adinda berdoa sepenuh hatinya memohon petunjuk agar di mudah kan perjalanan rumah tangganya kepada Sandy.

“Aku harus melupakan semuanya. Bisa saja ini hanya prasangka buruk ku yang berasal dari bisikan setan yang akan mempengaruhi rumah tangga aku agar rumah tangga aku hancur berantakkan.”

“Ini tidak bisa di biarkan. Aku akan memupuk kembali cinta ini. Bukankah Sandy telah menikahi aku. Sudah pasti ia mencintaiku”

“Jika ia tidak mencintaiku. Dia bisa menolak ku dulu”

Adinda mencoba berpikir jernih dengan prasangka prasangka baik.

Setelah pikirannya tenang Adinda segera ke dapur melihat stok yang ada di dalam kulkas untuk menyiapkan makan malamnya.

“Mudah mudahan dia akan kembali dan kami bisa menikmati makan bareng. Bukankah ini saat yang tepat.aku akan meraih dan mendapatkan cintanya kembali”

Tiba tiba

Drrrttt….drrrttt…

Hape Adinda kembali bergetar.
Dilihatnya chat dari mama mertua.

“Sandy sudah pulang?”

Segera Adinda mengetik sesuatu untuk membalas pesan mama mertuanya itu.
Adinda sedikit mulai berbohong.

“Sebentar lagi katanya mah. Lagi dijalan”

Tidak sampai 3 menit chat ku terbalas dari mama mertua.

“Ok segera kabarin mama ya”

Adinda langsung membalasnya

“Siap mama😊

***

Adinda kembali ke dapur membuat mie goreng tumis . Ia menyiapkan bumbu bumbunya menghaluskannya kemudian menumisnya.mencampuri mie tumisnya dengan irisan bakso dan sayur mayur.
Kemudian ia menggoreng telur mata sapi setengah matang .menggoreng kerupuk udang. Dan mulai melumuri udang dengan tepung karena Adinda ingin membuat udang goreng tepung sebagai pelengkap nya. setelah semua telah lengkap Adinda segera menata mie tumis special nya ke atas piring mie tumis dengan telur mata sapi setengah matang. Kerupuk udang dan sepiring udang goreng tepung lengkap dengan sambal dan lalapnya timun dan tomat. Semua Adinda telah siapkan kemudian ia tata di atas meja makan.
Adinda duduk termenung menunggu sang kekasih suaminya tercinta Sandy.
Di lihatnya jam di dinding tampak sudah menunjukkan angka 9.

“Rasanya tidak mungkin Sandy akan pulang”
Raut wajah Adinda tampak kesedihan.
Dilihatnya Hape nya menyala tanda panggilan masuk.

“Mama mertua?”

Adinda tidak mengangkat telepon dari mama mertuanya. Adinda takut mama memarahi Sandy.

“Biarlah. Maaf mama Adinda belum. Bisa angkat teleponnya dulu ” ucap Adinda di dalam hatinya dan terus menatap hapenya yang menyala.

Tiba tiba…

Tok tok tok

“SANDY??!” adinda bergerak cepat menuju depan. Ia melihat Sandy tampak kacau penampilannya.

Adinda membuka pintu dan memeluk Sandy dengan erat.

“Maafkan Dinda mas tidak menjadi wanita sholehah seperti harapan mas Sandy”

Sandy mengangguk pelan. Dan melepas pelukkan Adinda.

“Aku harus masuk. Capek pengen tidur”

“Makan dulu mas. Adinda sudah siapkan semua. Baru juga selesai. Dan masih hangat mas. Ayok…”

“Terima kasih”
Jawab Sandy berjalan pelan menuju meja makan. Ia duduk di meja makan dan mulai melahap abis mie tumis special yang telah disiapkan Adinda.

Ada kebahagiaan terlihat dari Adinda melihat suaminya memakan abis masakannya meski hanya mie tumis hatinya menjadi gembira.

“Enak mas?”

“Enak…”

“Mau lagi mas? Dinda ambilkan”

“Tidak mas udah kenyang”

“Mas kemana aja. Kenapa menjadi gini mas. Tadi mama nanyain mas terus.”

“Mas kerumah temen”

“Mas minum?”

“Iya…”

“Yaa Allah mas.. dosa loh.”

“Minum apa maksud kamu.”

“ini mas awut awutan gini pasti abis minum kan mabok kan??”

“Emang ada aromanya?”

“Dinda kan gak tau belum pernah nyium semuanya!”

“Mulai lagi ya,,,”

“Mass….”

“Mas minum kopi dan rokok entahlah sampai berapa banyak. Mas sudah sesak ini. Rasanya susah napas”

“Yaa Allah mas…Kenapa Mas jadi gini.”

“Gak papa mas hanya bersenang senang tapi ternyata melampaui batas”

“Mas Ada dinda disini. Ayo bersenang senang sama Dinda?”

“Maksud kamu?”

“Mas udah mandi?”

“Belum nih mau mandi”

“Dinda pijat ya nanti setelah mandi biar gak sesak lagi napasnya.”

“Boleh..”

***

“Dinda….Ayo pijat punggung mas pake minyak angin ini”

“Iya mas”

“Mungkin benar kata Shaleh. Aku harus move on sekarang. Mulai malam ini lepaskan lah pengamannya “pikir Sandy dengan tersenyum puas.

“Aku akan mencoba lagi memulainya dari awal” ucap Sandy di dalam hatinya.

***


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here