Tasbih Cinta – 13

0
115
views

[” tunggu Anisa disana,”]

[“Siap sayangku aku menunggu mu. Bahkan lebih dari yang biasanya”]

Setelah memberi kabar melalui chat wa. Anisa. melangkah pelan menuju jendela kamar Safira. Ia membukanya dan bersiap siap keluar dari jendela.

Safira dan Kak Shaleh masih membahas tentang Anisa sepupunya itu diruang tengah.

“Kamu Mau kemana? ”

“Ke kamar kak, menemui Anisa”

“Biarkan dulu ia berpikir”

“Maksud kak Shaleh?”

“Biarkan dulu ia sendiri. Biarkan ia berpikir dan menentukan keputusannya

“Tidak kak, Fira yakin Nisa belum kuat dalam memutuskan hal ini.”

“Kalau kamu terlalu ikut urusan ini, Nisa akan merasa terganggu.”

“Kak Shaleh..Nisa Itu orangnya….”

“Kakak yakin kok. Kita tunggu disini 15 menit.”

“Baiklah.”

Hening….

“Fira…”

“Ya kak”

“Tolong bikinin kakak nasi goreng ya.laper,”

“Aduh..kak Shaleh. Ini aku lagi seru maen game tau!”

“Seporsi aja deh.”

“Emang KAK Shaleh pikir Fira gak lapar

“Nah bagus itu, kamu lapar? Eh..hmm.eh lebih tepatnya. Kalian berdua lapar?”

“Ya la. Tadi juga rencananya mau keluar terus beli makanan.kak Shaleh gangguin aja!”

“Ya udah kamu bikin nasi goreng ajah bikin 3 porsi. Kakak kamu sama Anisa. Nanti kalau udah selesai kamu temui itu Anisa. Ajak dia makan bareng. Siapa tau keadaannya membaik setelah berpikir dengan menyendiri Tadi,”

“Hmmm…iya juga ya. Oke lah kak. Fira bikinin dulu.”

***

“Sayang…..” Sandy menghampiri Anisa yang baru saja berdiri di hadapannya. Sandy memeluk Anisa dengan erat.

“Nisa…Nisa minta maaf sandy. Maafin Nisa” Anisa membalas pelukkan Sandy dengan kuat
Sepertinya Anisa lupa akan niatnya membunuh rasa Cinta itu

“Kamu cinta kan sama aku?”

“Tentu Sandy Nisa sangat mencintaimu. bahkan untuk menghapus bayang bayang kamu di pikiran Nisa aja itu sangat sulit sekali”

“Sebenarnya kamu tak perlu membuat keputusan ini, sayang. Kita harus berjuang lebih kuat lagi”

“Tidak San,” jawab Anisa kemudian melepaskan pelukkan Sandy. Ia akhirnya sadar telah berpelukan lama di pinggir jalan.
Hatinya kembali takut dan resah.

“Kenapa?”

“Itu takkan pernah terjadi,”

“Apa?”

“Pernikahan antara kita berdua takkan pernah terjadi”

“Meski kita harus berjuang?”

“Kita sudah berjuang kan?”

“Anisa…”

“Sandy. Cinta itu tak harus saling memiliki. Tak harus saling bersama”

“Kita harus berusaha lagi ,sayang?”

“Cukup doa didalam hati. Beri kebaikan untuk sang kekasih hati”

“Anisa…”

“Nisa masuk dulu.”

“Nisa…ku mohon…”

“Sandy bersikap dewasa lah”

“Anisa…please.. 5 menit lagi. Aku mau memberikan sesuatu kepadamu.sayang.”

“Apa itu?”

“Ini,” Sandy memberikan sebuah liontin indah yang membuat Anisa terpukau bukan harga dan bentuknya. Tapi mengenai kisah sang pemberi liontin ini.
Anisa benar benar rapuh saat ini.

“Terima kasih , Sandy”

“Akan aku pakaikan, sini mendekatkan lah”

“Tidak terima kasih. Nisa harus kembali.” Jawab Anisa mengambil dan berbalik kebelakang berjalan pelan menjauhi sosok pria sang pemilik hatinya.

“Andai kita tak bisa bertemu lagi hubungan kita benar benar berakhir disini dan kamu merindukan ku. Genggam lah liontin itu sayang ” teriak Sandy dengan pasrah.

Anisa menoleh kebelakang menatap wajah Sandy sesaat kemudian ia mengangguk pelan dan menghapus air matanya yang mengalir menahan sakit pedihnya mencintai.

***

“Kamu menangis?”

“Hiks…hiks hiks…”

“Sudahlah Anisa, apalagi ini?”

“Aku mencoba tegar fir. Maafkan aku telah merepotkan mu”

“Enggak lah. Kamu kan sepupu aku”

“Terima kasih,fir”

“Sama sama. Oh iya aku tadi bikin nasi goreng spesial yukk kita makan bareng.”

“Ya. Baiklah. Aku cuci muka dulu”

“Ok sippp aku tunggu di ruang makan bareng Kak Shaleh ya”

“Oke”

Fira keluar dari kamarnya. Dan Anisa bergegas menyimpan liontin pemberian sang kekasihnya.
Lalu Anisa melenggang keluar kamar menyusul Fira dan Kak Shaleh.
Safira fan Shaleh tidak mengetahui Anisa baru saja menemui Sandy.

***

“Nasi gorengnya enak kan?”

“Enak fir..udah bakat buka warung dong Jawab Anisa mencoba melupakan segalanya.

“Iya pengennya buka gerobak aja biar kak Shaleh yang dorong gerobaknya

“Hahahahaha . Ada ada aja loh Fira”

“Tuh kan enak liat kamu bahagia kayak gitu.”

“Apaan sih kak Shaleh.”

“Udah kak Shaleh cepetan makannya abis itu segera kembali ke kamar. Gak boleh ikut campur urusan kita berdua,”

“Eiittt…kok tadi memerintah kakak?”

“Sekali sekali gak papa lah.”

“Apaan. Mana ada sejarahnya adik memerintahkan kakaknya”

“Ihhh….”

***

“Terima kasih udah merepotkan kalian semua “ucap ayah saat menjemputku pagi itu. Serasa jadi anak mama kayak dulu lagi. Manja.

“Sama sama” jawab Safira yang kemudian dapat anggukan dari kak Shaleh.

“Lain waktu mampirlah lagi Li. Biarkan mereka berkumpul. Seru sepertinya” jawab Hidayat sambil merangkul PundaK ali.

“Iya .. pasti. Kita atur kembali waktunya nanti.”

***

Saat itu Anisa pulang kembali menyepi menyendiri menatap hati. Sengaja hari ini ia tidak masuk kuliahnya. Hatinya masih kacau.

Malam ini selepas isya mereka berkumpul seperti biasa setelah melaksanakan shalat isya berjamaah.

“Tapi besok kamu harus kuliah seperti biasa!” Tegas ayah Anisa

Anisa hanya menganggukkan kepalanya.

“Ayolah Anisa. Anak ayah yang paling manja. Kenapa kamu jadi begini?”

“Iya ayah. Nisa akan mencoba”

“Mencoba apa?”

“Eng….mencoba jadi anak ayah yang lebih baik Lagi ”

“Nah gitu dong sayang, mana senyumnya?”

Anisa tersenyum kecil

“Kok sedikit? Senyuman yang lebar. Nikmati hidup dengan yang lebih bermanfaat. Jangan ada kata pacaran. Jika kamu telah siap ayah akan carikan suami buat kamu”

“Nisa bisa kok cari calon suami buat Nisa sendiri”

“Ah kamu belum terlalu pandai mencari calon. Buktinya……”

“Ayah!!!” Jawab Mira cepat

“Iya sayang?”

“Ihhh..Ayah.. di depan Nisa kok sayang sayangan.”

“Yang penting udah halal dan tentunya kamu sudah dewasa.”

“Ihhh….Nisa mau tidur dulu ah”

Anisa melenggang masuk ke kamarnya. Ia menutup pintu kamarnya berbaring kemudian terlelap dalam mimpi indahnya.

“Dia ngantuk”

“Iya yah apaan sih tadi pake ungkit kembali Sandy”

“Dia harus kuat,”

“Tapi gak sekarang. Anisa masih butuh proses,”

“Iya ngerti. Kita gak usah bahas lagi untuk selanjutnya”

***

Ke esokkan hari nya. Anisa sudah siap untuk kuliahnya.

“Ayah takkan biarkan lagi kamu berangkat sendiri ke kampus”

“Loh???”

“Ayah antar jemput kamu”

“Ohh…iya yah”

Ali pun tersenyum melihat perubahan pada Anisa entah itu berusaha berubah melupakan atau kah hanya pura pura melupakan.

Saat tiba di kampus Anisa melangkah masuk ke gedung bertingkat itu setelah bersalaman dan pamit kepada ayahnya.

Sepasang mata menatap dari jauh di atas motornya. Berharap bisa merangkul kekasih nya.
Sandy yang masih berharaf cinta

***

3 bulan lamanya Anisa sekarang udah jauh lebih baik. Ia mempunyai sahabat bernama aliyah.
Saat berpacaran dengan Sandy Anisa tidak terlalu berteman sesama teman sekampusnya. Ia hanya memikirkan dunianya bersama Sandy.
Tapi kali ini Anisa bisa memiliki sahabat dan sesaat melupakan wajah Sandy.

***

Mama dan ayah sangat berbahagia saat melihat Anisa bisa melupakan semua tentang Sandy.
Padahal di dalam lubuk hati Anisa yang paling dalam nama Sandy tak mampu ia hapus dengan cara apapun.

***

Hari ini aku beberapa tahun telah terlewati. Anisa mengatakan acara syukuran kecil di rumahnya menyambut hari lahirnya yang ke 24 tahun Anisa mengundang sedikit teman temannya.

“Hai Anisa selamat ulang tahun ya”

“selamat ulang tahun juga sahabat Ku”
Aliya ikut mengucapkan sambil memeluknya erat saat itu. Mereka sama sama mengucapkan ucapan selamat ulang tahun untuk Anisa.

Tampak di depan ada kak Shaleh bersama Safira.

“Hai sepupu kesayangan selamat ulang tahun yah semoga lekas ketemu jodohnya ” ucap Safira sambil menggendong anaknya yang berusia 1 tahun

Yah Safira telah menikah . Ia telah mempunyai anak perempuan berusia 1 tahun yang sangat lucu.

“Loh kamu kan gak aku undang?” Jawab Anisa sambil terkekeh.

“Biar gak diundang juga aku pasti kesini. Orang mau nemuin Mama mu..huuu Bukan nemuin kamu..huuu ” balas Safira membuat Anisa menjadi geli sendiri.

“Wah..Safira udah datang yah..mana cucu oma,,,? Ihhh cantik banget Anisa. Coba liat ini dedek cantik kan?” Ucap Mira santai melirik Anisa kemudian menggendong anak Safira bernama putri.

“Apaan sih mama ”

“Bener itu tante. Siapa sih yang gak kepengen gendong cucu.” Ucap Safira

“Huuuhh” Anisa menjadi sewot

“Papanya kemana nih fira ” tanya Ali

“Kerja om. Nanti sore datang kok selesai kerja nanti sekalian langsung jemput Safira”

“Oh ya ok lah kalau begitu”

“Ayo kita kumpul di tengah ajah. Loh Shaleh kok kamu diam aja. Biasanya judes juga?” Tanya Mira sesaat melihat Shaleh seperti ada sesuatu.
Kemudian shaleh mendekati om Ali yang ada di sebelah Mira sambil berbisik
“Di depan ada Sandy,om.”

“Apa!!”

“Sssttthhh…Jangan keras keras om.”

“Jangan kamu suruh masuk dia.” Jawab Om Ali dengan berbisik.

“Siappp om.”

“Kamu jangan beri dia masuk kesini Shaleh”

“Tapi dia temenku om.”

“Siapa suruh yang ajak dia kesini?”

“Enggak kok bukan Shaleh. Dia sendiri yang bilang mau ketemuan mau urusan. Kirain dimana kek. Ehh ternyata udah ada di depan aja”

“Ya udah anggurin ajah”

“Maksud nya om??”

“Yah di anggurin dicuekin gak usa dikasih kerjaan masa diberi anggur gitu maksud Loh?”

“Hahahaha…ada ada aja om bahasanya kurang jelas om ” jawab shaleh tertawa

“Apaan sih kalian berdua main bisik bisik aja?” Jawab Mira penasaran.

“Ini urusan laki laki sayang ” jawab Ali sekenanya.

“Huhhh” jawab mama setengah kesal menatap suaminya.

“Ya udah ayo kita nikmati ini sajiannya . Yukkk ” ajak Mira kepada sahabat sahabat Anisa lainnya.

Suasana dirumah Anisa saat itu sangat ramai. Tapi tidak diluar pagar rumah Anisa tampak sosok laki laki berjaket coklat tua sedang menahan perih di dada mengharap cinta kembali.

“Aku takkan menikah kecuali dengan mu Anisa.kekasihku”
lirih Sandy dengan lemah

Sementara di dalam rumah Anisa mereka semua sedang menikmati sajian yang telah di siapkan Mira mamanya Anisa.

“Mau kemana kamu nis?” Tanya saFira

“Mau kedepan bentar?”

“Ke toko depan rumah?”

“Iya. Hihihihi. Tadi abis dari kamar mandi ku lihat ternyata lagi dapet ” jawab Nisa kemudian melenggang

“Jangan lama lama ” teriak Safira dan alia kebetulan berbarengan kemudian dijawab anggukan kepala oleh Anisa.

“Eiitt…dah sejak kapan kamu disini “tanya Safira

“Dari tadi juga kok kak”

“Hmmmm”

Safira tidak mengetahui saat itu di depan ada Sandy Karena ia sibuk dengan anaknya saat di mobil bersama Kak Shaleh

***

“Anisa?”

“Sandy?”

Rasanya hati Anisa dan Sandy tidak percaya kalau sekarang mereka dipertemukan lagi.
Mulut seakan terhenti tidak bisa mengucap kalimat apapun. Mereka menikmati pertemuan ini dengan penuh hayat. Menyelam dengan perasaan masing masing tanpa lewat kata kata.
Cukup hati berbicara mereka berdua saling mencintai.

***

Sementara itu di dalam rumah

“Fir. Kamu liat Anisa?”

“Kedepan kak”

“Kedepan gimana?”

“Yah ke depan kak”

“Maksud kamu, fir?”

“Duh kak Shaleh gak ngerti juga ya. Fira lagi sibuk ini putri mau minum susu”

“Iya kedepan dimana?”

“Kedepan kak ada toko kak. Nisa kesana mau beli pembalut.tuh jelas kan??”

“Apa??”

“Loh kenapa juga?”

“Ah panjang ceritanya kalau ngomong sama emak emak kayak Kamu,” jawab shaleh kemudian bergegas keluar

“Hhuuuhhh..”Jawab Safira masih sibuk mengocok botol dot yang udah jadi susu untuk anaknya putri.

***

Apa yang telah terjadi???


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here