Tasbih Cinta – 12

0
106
views

[“I love you and only you. Sandy”]

Chat Sandy malam ini membuat hati Anisa kembali bergetar. malam ini saat Anisa menginap disini menenangkan hatinya yang rapuh dari pagi ia disini. Dan malam ini Safira keluar sebentar menemui temannya menyelesaikan pekerjaan kuliahnya.
Hanya 1 jam katanya. 1 jam menurut Safira entah berapa jam faktanya.

Anisa segera meraih handphone nya.
Ditatapnya layar handphone berisi tulisan ungkapan hati Sandy. Anisa tidak mampu membalasnya karena Anisa tidak mau menumbuhkan kembali dengan segar rasa cinta itu.

“Aku harus membunuh rasa Ini” lirih Anisa pelan.

Tiba tiba
Drrrttt…drrrttt..drrrttt…
Chat dari Sandy tertera di layar handphone Anisa. Penasaran Anisa menggeser layar handphone nya kemudian membaca chat dari Sandy.

[“andai kamu tau BERPISAH dengan kamu adalah hal terberat yang harus aku jalankan “]

Anisa hanya membacanya. Kemudian Anisa terdiam menunggu sejenak karena tampak di atas tertulis “sedang menulis…”
Kemudian masuk chat Sandy berikutnya

[“If I could go with you in the dream, I will continue to sleep forever.”]

Anisa mendesah pelan.
Air matanya perlahan menetes di pipinya.

“Yaa Allah..bantu Anisa..” ucap Anisa pelan mencoba menenangkan hatinya.
Kalimat terakhir sangat membuat hatinya ingin kembali lagi kepada sang pemilik hati .

Drrrttt…drrrttt . .
Handphone Anisa bergetar kembali.
“[Aku tau kamu menunggu chat Aku,balas sayang. Aku sungguh sangat mencintaimu”]

Anisa membaca mengucapkan istighfar. Di klik nya Handphone nya tanda power.
Segera. Ia bangkit dari kamar Safira menuju ruang tengah.

“Aku mungkin harus cari angin sebentar menenangkan hatiku” pikir Anisa kemudian meninggalkan handphone nya diatas ranjang yang ber sprei bermotif bunga matahari kesukaan Safira.
Saat baru saja ia melangkah 2 langkah dari kamar. Tampak tante Mila yang akan keluar bersama suaminya om Hidayat.

“Hai Safira. Tante keluar sebentar ya sama om hidayat,”

“Iya tante, om , lagian Safira juga sebentar lagi mungkin pulang”

“Iya tadi tante udah coba hubungi Safira katanya 30 menit lagi dia udah ada disini.”

“Kak Shaleh ada juga Tante?”

“Hmmm…gak Kak Shaleh juga keluar. Mungkin agak malem. Soalnya mau kerumah Sandy dulu katanya ada urusan.”

Anisa terkejut mendengar nama itu.

“Kenapa?”

“Enggak tante.”

“Ya udah tante berangkat dulu Ya,”

Anisa menganggukkan kepalanya dengan senyuman

“Om berangkat dulu. Kalo ada apa apa telepon aja,”

“Iya Om,”

***

Ada kah hati yang tidak merasakan getaran halus saat nama sang di cintai disebut?
Sungguh Anisa tidak sanggup melalui ini semua apalagi dengan membunuh rasa cinta Itu.
Andai Sandy tau Anisa tidak mampu memilih keputusan ini. Meski ini keputusan yang terbaik tapi Anisa harus mengorbankan begitu banyak perasaannya untuk sakit.
Kini Anisa duduk termenung di ruang tengah.
Dinyalakannya televisi saat malam itu untuk menghibur hatinya yang sedang terluka.
Tapi nyatanya televisi juga tidak mampu menghiburnya.
Mata Anisa terus menatap televisi saat itu berita tentang debat politik.
Tapi Anisa tidak sepenuhnya menonton. Ia larut dalam pikirannya

“Sedang apakah Sandy saat Ini ”

“Apakah ia sama denganku,sedang menonton televisi tapi saling memikirkan Aku sebagaimana aku saat Ini”

“Atau ia sedang menggoda wanita lain untuk mencoba melupakanku?”

” tidak. Sandy sekarang bersama Kak Shaleh. Tidak mungkin ia bisa memikirkan ku. Kak Shaleh pasti marah jika tau Itu”

“Apa aku harus membalas chat nya saja?” Pikir Anisa saat tersadar dalam lamunannya.

“Mungkin aku harus membalas satu kali saja. Agar ia tahu aku membunuh rasa ini dengan terpaksa ” pikir Anisa yang tak terkendali lagi.

Anisa segera bangkit dari ruang nonton kemudian ia melenggang arah kamar Safira.
Ia mengambil handphone nya yang sengaja ia matikan tadi kemudian ia nyalakan kembali.

Tiba tiba masuk beberapa chat dari Sandy.

[“Kamu harus Tau Anisa. Banyak wanita yang telah aku jalani tapi aku belum pernah menemukan apa itu cinta”]

[“Saat aku menemukan cinta yaitu di dalam hatimu.”]

[“Berat rasanya menjadi aku,Anisa…Tapi aku harap kamu baik baik saja dengan keputusanmu”]

[“Dan sungguh sampai kapanpun aku tidak bisa melupakanmu,selamanya…sayangku kekasih ku aku akan terus merindui kamu. Anisah ku.”]

Tangisan Anisa pun pecah saat ini.
Tangannya mengetik sesuatu untuk Sandi.

[“aku tau mencintaimu adalah sesuatu yang tersulit untuk hidup kita. Sungguh sedikitpun aku tidak pernah menyesal mengenalmu dan kemudian mencintai mu”]

Beberapa saat kemudian tampak balasan dari Sandy.

[“Apakah kamu mampu mengakhiri Ini?”]

Anisa segera membalasnya

[“InsyaAllah. Kita harus mencoba.”]

Tiba tiba panggilan masuk dari Sandy. Anisa menolaknya.

[“Kenapa, sayang?”]

[“Lupakanlah aku, Sandy. Jangan telepon Aku lagi.”]

[“Itukah mau kamu, Anisa?”]

[“Cukup tinggalkan jejak cinta mu disini, dihatiku”]

[“Anisa. Bisakah aku menemui mu sekarang?”]

Tiba tiba chat ku berhenti karena ada panggilan masuk dari Safira.

“Iya hallo..assalamu’alaikum”

“Wooyyy…buka in pintunya!”

“Jawab Salam dulu kek!”

“Aku juga udah ucap salam dari tadi kamu gak jawab salam ku!”

“Iya iya maaf.”

“Cepetan!”

“Sabar!”

Anisa segera membasuh wajahnya karena baru selesai menangis. Ia tidak mau Safira melihatnya menangisi Sandy.
Kemudian Anisa melenggang ke ruang tamu dan membuka pintu depan.

“Lama amat sih!”

“Maaf”

“Ngapain Itu?”

“Apaan?”

“Itu wajah kamu? Abis Main air mata?”

“Weewww…enggak lah. Abis wudhu”

“Mau shalat?”

“Iya”

“Tadi ashar kamu bilang lagi dapet.kok bisa?”

“Eh..heh..Eh..”

“Bohong kan kamu. Abis main air mata kan?”

“Udah Safira kita gak perlu bahas kan?”

“Baru di tinggal bentar juga.udah main air mata.”

“Biasa hanya penyesuaian aja”

“Udah. Ini udah keputusan yang terbaik!”

“Iya. Aku tau”

“Oh iya nanti kalau kak Shaleh udah pulang kita keluar bentar yuk. Cari cemilan.sekalian menghibur lukamu yang sepertinya basah lagi”

“Masih aja kamu fira”

“Mau kan?”

“Iya…”

“Nah gitu dong!”

Mereka berdua tersenyum bahagia menuju ruang televisi sambil menunggu kak Shaleh pulang.
10 menit baru saja mereka mengobrol sebentar kak Shaleh pulang.

“Loh Anisa? Gak pulang?”

“Pengen nginep disini kak”

“Owh…”

“Biasa kangen sama Aku ” sahut Safira setengah teriak.

“Ihhh…geer banget kamu fira!”

“Hahahahaha”

“Ohh..ribut amat kalian berdua”

“Oh iya Anisa. Ayo siap siap kita langsung otw ini yuk

“Eeiittt..mau kemana kalian berdua?”

“Mau cari angin sebentar kak!”

“Udah malem. Lagian udah jam 8 kayak gini mana ada angin segar.”

“Boleh dong kak Shaleh”

“Enggak!”

“Cari hiburan aja kak ”

“Tetep Enggak!”

“Kak,,,”

“Kalian tau didepan ada Sandy. Dia menunggu Anisa. ”

“Serius ?”

“Iya..kenapa? Kamu senang?”

“Apaan sih kak?”

“Kamu kan yang janjian mau ketemu Dia?”

“Enggak!”

“Gak mau ngaku?”

“Serius kok kak Shaleh. Udah Nisa gak mau bahas ini lagi.”

Anisa melangkah menuju kamar Safira. Ia menuju jendela depan Safira.

Anisa terus saja memikirkannya.

Dy melihat ponselnya ada beberapa chat dari Sandy.

[“Sungguh Nisa sayang aku yakin kamu juga masih mencintaiku,iya kan?,”]

[“Aku udah didepan tadi abis ada urusan sama Shaleh”]

[“Keluar sebentar saja sayang aku benar benar merindukan kamu, aku tidak bisa seperti ini tanpa mu, mengertilah sayang?”]

[“Jika memang kamu mencintai ku. Akui saja. Jika tidak bisa. Kamu temui aku sekarang di depan. Aku masih menunggu mu sampai saat ini. Meski keputusannya kita tidak bisa bersama izinkan aku mendengar dari lisan mu bahwa kamu masih mencintai ku, hanya satu itu saja. Ku mohon.”]

Anisa mendesah pelan. Bulir bulir bening itu kembali mengalir.

Ia menatap ke jendela kamar Safira. Anisa terus memikirkan Sandy.

“Apa aku harus kabur untuk menemui Sandy? Dia ada di depan rumah ini. Apakah aku berdosa menemuinya sekali saja?,hanya sebentar saja,”
Pikiran Anisa mulai berselancar


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here