Tasbih Cinta – 10

0
77
views

Hari ini semenjak bercerita semua tentang hubungannya bersama Sandy kepada Safira. Anisa mengakui salah atas segala keputusannya berpacaran dan tentu saja itu perbuatan dosa. ia benar benar bertaubat. Ia telah merendahkan dirinya. Berciuman dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya. Apalagi bukan sekali ia melakukannya. Memberikan ‘sesuatu’ yang tidak boleh disentuh karena selain termasuk zina juga belum tentu akan menjadi pendamping hidupnya dan hanya akan menambah dosa dosa besar saja.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’ [17] : 32)

“Yaa Allah sungguh Nisa telah menyesal..jauh dari ajaranMu” lirih Anisa

Anisa terus berpikir bagaimana caranya mengakhiri rasa ini.
Anisa bertekad akan membunuh rasa cinta ini. Walau berat tapi Anisa harus menghentikan rasa ini.
Ia yakin suatu saat jika memang Sandy jodohnya. Ia akan kembali.

Anisa sudah mulai dewasa dalam menyikapi keputusan.

Segera ia bangkit dari tempat tidurnya siang itu meraih handphonenya dan chat Safira sepupunya

“Fir. Temani aku”

“Kapan?”

“Sekarang bisa?”

“Aku lagi sibuk. Ini lagi dijalan Bagaimana kalau nanti jam 4 sore. Aku jemput?”

“Ok lah . Aku tunggu ya”

***

“Anisa kamu mau kemana?” Tanya Mira heran saat Anisa bersalaman mau pamit

“Keluar bentar ma sama Safira. Safira udah di depan? Langsung yah ma.”

“Loh ada safira gak bilang kan mama mau bikin brownies buat dia”

“Nanti aja lah. Sepulang urusan Anisa nanti langsung pulang kesini lagi. Bentar aja mah”

“Ya sudah hati hati, ya”

“Iya ma, assalamu’alaikum,”

“Wa’alaikum salam”

Begitulah Mira. Ia selalu percaya kepada Anisa. Dan kalau saat itu ada ayahnya sudah pasti banyak pertanyaan sebelum pergi dan harus siap dengan jawaban “Tidak boleh “.

***

“Jadi serius kamu udah mantap dengan keputusan kamu mengakhiri ini semua?”

“Iya aku harap aku bisa kuat melalui semuanya.”

“Aku yakin kamu pasti bisa tanpa dia ”

“Aku tadi udah chat Sandy bertemu di kafe biasa ”

“Aku harus ikut kalian kan”

“Enggak, aku aja yang nemuin dia”

“Duh kalau kamu luluh bagaimana?”

“InsyaAllah enggak. Aku udah gak mau kayak gini lagi. Aku udah melangkah terlalu jauh. Aku harus berhenti dan kembali berjalan seperti hidup ku dulu lagi”

“Jadi anak mama lagi. Mantap mantap dirumah ya..hihihihi”

“Ihhh..kamu godain aku terus”

“Ok ok. Fokus ya keputusan kamu gak bisa diganggu gugat”

“Aku tau aku selama ini salah . Aku sadar Doain ya fira,,”

“Tentu sepupuku”

***

“Hai sayangku..”

“Hai”

“Kangen”

Anisa senyum aja tanpa membalas perkataannya yang memancing mesra

“Aku harus kuat” batin Anisa berbicara

“Kamu udah pesen minum?”

“Udah nanti juga pesenan kita datang”

“Kamu kok beda hari ini, sayang?”

Sandy meraih tangan Anisa untuk mengenggamnya seperti biasa.

“Eh..heh..eh..berbeda kenapa?”
Anisa menarik tangannya dengan gugup menolak genggaman sang kekasih hatinya

“Kok…?”

“Kenapa,?”

“Enggak..sayang..kamu berbeda tampak lebih cantik sekali hari ini sampai gemes pengen genggam tangan kamu terus aku peluk biar gak lepas lagi”

“Stop Sandy?”

“Kenapa sayang?”

“Nisa mau ngomong sesuatu sama kamu,”

“Yah…? Ngomong tentang Apa??”

“Hubungan kita,”

Anisa menangis. Sungguh ia tak sanggup mengatakan ini. Tapi ia harus kuat meninggalkan sesuatu yang membuatnya jauh dari agama membuatnya melanggar perintah ayahnya. Dan teringat kata kata mamanya untuk jangan hanya mengorbankan keluarga demi kebahagiaan cintaku seorang.

“Kamu kenapa menangis sayang,?” Tanya Sandy gusar lalu meraih pipi Anisa dan mengelusnya pelan.
Sesaat Anisa menikmati elusan lembut itu kemudian ia sadar dan menepis tangan Sandy dengan kuat.

“Kenapa sayang? Kamu kenapa?” Kata Sandy mencoba memeluknya. Tapi Anisa menolaknya.

“Aku harap Anisa mampu melawan nafsunya Hari ini. Semoga Allah melindunginya” batin Safira saat melihat adegan Sandy dan Anisa tepis menepis di kafe itu

“Katakan Anisa. Ada apa?

“Nisaa . . .hiks hiks hiks”

“Kamu ada masalah sayang? Tentang hubungan kita? Aku janji segera aku memperbaiki semua dan akan menemui kembali orang tua kamu sayang,” Sandy berbicara sambil berusaha memegang tangan Anisa dan Anisa kembali menolaknya.

“Nisaa…hiks..”

Tiba tiba pelayan datang mengantarkan 2 buah minuman pesanan mereka.

“Ok sayang di minum dulu. Tenangkan hatimu ” kata Sandy mencoba menghibur Anisa mendekat dan mencoba memberikan minuman ke arah Anisa.

Beberapa saat kemudian.

“Terima kasih Sandy, hiks..”

“Udah tenang?”

“Insyaallah

“Ceritakanlah. Ada apa sayang?”

“Sandy…hiks Nisa mau kita putus”

“Apa!!!”

“Iya Sandy maaf hubungan kita sudah terlalu jauh.”

“Masalah apa sayang. Jangan kamu katakan kalimat itu lagi!”

“Tidak ada masalah apa apa. Cuma hubungan ini akan terlalu membuat kita berdua semakin banyak dosa, hiks…”

“Sabar sayang. Aku akan melamar kamu sekali lagi. Pasti dan yakinlah aku sudah membicarakannya sama papa dan mama aku.”

“Tidak..cukup sudah”

“Kenapa?”

“Hiks..hiks..Hiks”

“Apa masalah itu. Aku terlalu semangat merayu mu hingga kita…”

“Stop…!!! Jangan ingatkan Nisa lagi akan dosa itu. Nisa menyesal Sandy. Sangat menyesal,”

“Aku minta maaf. Tapi itu bukan masalah besar sayang . Hanya……….” Sandy mencoba memeluk Anisa dan kembali di tolak Anisa.

“Tidak masalah besar?maaf Sandy tapi itu dosa besar bagi Nisa.”

“Maaf kalau begitu. Aku akan memperbaikinya”

“Cukup Sandy. Aku akan fokus kuliah ku saja. Untuk sementara kita putus. Kita sama sama memperbaiki diri dan hati kita yang telah kotor. Jika saatnya kita telah waktunya bertemu Nisa yakin kalau memang Kamu jodoh Nisa kita akan bertemu kembali.”

“Nisa…”

“Nisa mau menata hati Nisa lagi Sandy. Nisa mau berhenti ‘aktivitas’ ini lagi”

“Kamu tidak mau memperjuangkan cinta kita seperti niat mu diawal saat kita putus”

“Tidak!”

“Semudah itu bagimu Nisa?”

“Tidak. Sulit sekali bagi Nisa. Tapi kita harus mampu membunuh rasa ini”

“Kenapa harus membunuh rasa cinta sayang. Kita bisa menikah dengan halal bukan membunuhnya ”

“Tapi ayah Nisa Sandy.”

“Ayahmu masih belum setuju?”

“Itulah alasan Nisa kita putus. Kita sudah terlalu jauh melangkah padahal sudah pasti ayah Nisa tidak akan setuju dengan hubungan ini.”

“Kita bisa menunggu, sayangku”

“Sampai kapan? Kita menunggu sambil berbuat maksiat sedangkan maksiat itu menciptakan dosa besar”

“Kamu tidak perlu takut aku akan memperbaiki semua. Aku tak akan merayu mu lagi hubungan kita berjalan seperti biasa saja tapi tolong jangan ada kata putus. ”

“Maaf. Nisa mau pulang. Keputusan Nisa udah bulat Nisa mau putus!”

“Nisa…!”

“Assalamualaikum,”

***

“Terima kasih Fira. Kmu telah menunjukkan jalan yang benar ”

“Sama sama sepupuku sayang.Sekarang aku antar kamu pulang Ya”

Anisa mengangguk kecil.
Sepulang perjalanan mereka berdua hanya diam. Anisa masih saja meneteskan air matanya. Karena sungguh perpisahan ini menyiksanya.

20 menit mereka telah sampai dirumah.

“Anisa? Kamu Kenapa?” Tanya Ali ayahnya Anisa saat melihat Anisa pulang dengan wajah yang berbeda.

“Eng..ayah..”

“Kamu menangis?”

“Hiks…ayahhhh…” Anisa langsung memeluk ayahnya.

Tampak Mira baru datang dari dapur heran melihat adegan ini.

“Ada apa Safira?”

Safira mendekat kemudian ia bersalaman kepada bibinya itu

“Tante tanya langsung aja yah.”

“Kenapa Anisa?”

“Anisa udah putus sama Sandy ayah

“Alhamdulillah” jawab Ali

“Ihhh.. ayah…hiks…”

“Bersyukur dong jangan ditangisi kayak gini!” Jawab ayah.

Tampak Mira heran dengan adegan ini. Rasanya tidak mungkin Anisa bisa memutuskan hubungannya dengan semudah itu. Padahal mereka baru saja beberapa hari membahas ini.
Mira memandang Safira meminta penjelasannya.
Tapi Safira tersenyum dan mengangkat bahunya kemudian dengan kedipan matanya.

“Fira pulang dulu yah. Tante, om?”

“Heh…Safira Nanti dong” jawab Mira

“Safira ada tugas ini”

“Yah. Kapan kesini lagi. Besok Ya?”

“Insyaallah”

“Ya udah hati hati ya nak.” Jawab pak Ali

“Ok om. Assalamualaikum”

“Wa’alaikum salam”

***

2 hari telah berlalu
Hari ini minggu yang sangat cerah Tampak Lia dengan bersemangat untuk pergi menemui Mira sahabatnya Lia telah selesai dengan langkah yang di temani perasaan harap harap cemas harin ini Lia memakai dress panjang bewarna coklat muda dengan ban 11pinggang membuatnya tampak lebih cantik dari biasanya wajahnya bersinar.

Suaminya dan Sandy pun telah siap dengan perasaan campur aduk. Ia memang sengaja tidak menghubungi dan menceritakan kepada Anisa tentang rencananya akan melamarnya kembali. Mengingat mendengar Anisa meminta putus dari nya kemarin. Sungguh keadaan seperti ini tak mampu sandy ceritakan kepada papa dan mamanya. Karena melihat papa dan mamanya sangat bersemangat untuk melaksanakan lamaran kedua ini. Mengurungkan niat sandy untuk bercerita bahwa Anisa sudah memintanya putus.
Sangat rumit.
Rumit sekali untuk dipikirkan Sandy.

***

Tampak mereka sekeluarga bersemangat hari ini menemui keluarga pak Ali dan Mira.
Mereka telah menghubungi Mira akan berkunjung hari ini dan Mira menyambutnya dengan senang hati.
Mira menyambut layaknya seorang sahabat dan Mira dan Ali tidak tau kedatangan mereka untuk melamar kembali.

Dan kebetulan hari ini Safira hari ini gak sibuk dan Anisa kerumah Safira sambil mengantarkan brownies untuk Safira.

“Ayah antarkan Anisa Ya” kata Ali

“Iya yah. Makasih.” Jawab Anisa

“Nanti sore ayah jemput”

“Malam aja yah “pinta Anisa

“Hmmm….”

“Ya udah biarin aja lah. Sekalian Anisa berlibur.” Jawab Mira

“Biar kita bisa berduaan kan ya ma?”

“Oihh..apaan sih. Kan hari ini kita bakal ada tamu.” Jawab Mira

“Oh iya. Tamu…hmmm..Ya udah segera berangkat sebelum tamunya datang” jawab Ali takut Anisa tau siapa tamu yang dimaksud

“Siapa tamu ma?”

“Temen mama sayang”

“Siapa ?”

” mau tahu…ajah ”

“Ihhh..mama… Siapa sih?”

“Udah ayo siap siap ayah udah di depan nungguin. Ini brownies 3 kotak”

“Banyak banget ma”

“Gak papa.syukuran hihihi”

“Ihhh…”

***


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here