Tasbih Cinta – 09

0
74
views

1 tahun berlalu hubungan Anisa dan Sandy masih tetap berjalan mulus sebagai sepasang kekasih “tak halal”

Meski mama Anisa tau tapi ia tetap menyembunyikan semua tentang hubungan Anisa dan Sandy.

Karena ia yakin ayah Anisa Ali akan marah besar kepada nya jika saja tau Anisa masih terus berhubungan dengan Sandy. Sedangkan mama Anisa Mira seolah mengerti gejolak asmara yang tak mampu ia pisahkan hanya dengan memaksa memutuskan hubungan kedua pasangan tersebut.
Itulah sebabnya mama Anisa memilih diam dan terus mengamati sampai dimana hubungan Sandy dengan anaknya. Karena sungguh mama Anisa diam bukan merestui secara penuh tapi ia benar benar mengkhawatirkan anaknya Anisa.

“Tadi kamu ketemu sama Sandy?” Tanya ayah Anisa saat makan malam.

Mira terkejut dengan pertanyaan suaminya itu. ia mengambil minum di sebelah tangan kanannya lalu meminumnya dengan melirik Anisa.

“Hmm..ayah liat dimana?” Tanya Anisa gugup

“Tadi hanya lewat di depan kampus mu. Ayah liat kamu bersama Sandy?masih berhubungan dekat sama dia?” Tanya ayah dengan tegas.

“Ayah…Anisa benar benar tidak bisa melepaskan Sandy begitu saja yah” jawab Anisa jujur

“Liat anak kita mah. Dia telah berani bersandiwara atas nama cinta!” Ucap ayah Anisa saat itu melirik bola mata Mira istrinya

“Mari kita bicarakan lagi setelah makan siang ini yah” jawab Mira untuk menengahi pembicaraan Ali suaminya itu yang sudah mulai meninggi

“Ayah tidak selera makan malam ini. Silahkan kalian lanjutkan makan malam kalian malam ini. Jika telah selesai temui ayah di ruangan ayah” kata Ali tegas kepada anak satu satunya itu.

Bergegas Ali dari tempat duduknya dan melangkah keluar dari ruang makan tersebut.

Kini tinggal Anisa dan Mira dimeja makan menikmati makan malam tanpa keceriaan seperti hari hari biasa.
Dan Mira benar benar menyayangkan keceriaan itu hilang karena ulah Anisa Anak satu satunya itu.

Beberapa menit kemudian Mira selesai makan ia tampak membereskan sedikit tempat makan dan lalu melenggang menyusul Ali suaminya.
Sebelum meninggalkan Anisa .Mira berkata

“Tolong jangan kamu hilangkan kebahagiaan keluarga kecil kita hanya dengan memperjuangkan kebahagiaan kamu sendiri Anisa. Mama yakin kamu sudah dewasa. Dan apapun itu keputusan ayah kamu harus terima. Ayah sangat menyayangi kamu melebihi sayangnya mama dengan kamu sayang.” Lala Mira mencium puncak kepala Anisa lalu meninggalkan Anisa.

10 menit berlalu Anisa masih saja di meja makan. Ia takut untuk menemui ayahnya. Ia takut kepetusan ayah adalah memaksanya untuk mengakhiri hubungannya sama Sandy
Ia takut semua cintanya berakhir.
Akhirnya dengan langkah gontai

“Bismillah,,,aku harus bisa hadapi semuanya”

***

“Ayah mohon akhiri semuanya Anisa!” Ucap ayah saat Anisa menanyakan apa itu keputusan ayah .

“Tapi ayah. Apakah Anisa tidak berhak memperjuangkan cinta Anisa?” Jawab Anisa dengan suara pelan dan gugup

“Tidak berhak sayang. Kamu tidak boleh memperjuangkan cinta yang salah” jawab Ali

Anisa melihat wajah mamanya Mira. Tampak Mira kelihatan cemas sekali.

“Ayah benar sayang. Kamu harus fokus sama kuliah kamu. Kalau memang dia jodohnya kamu pasti akan kembali. Percayalah. Ayolah akhiri saja semuanya”
ucap Mira yang mendapati keadaan gusar diwajah Ali suaminya

Tidak bisakah mama berdoa minta dijauhkan dari jodoh orang seperti itu?” Ucap Ali spontan

“Itu rahasia ilahi ayah. Jika memang harus disitu jodohnya mama harus bilang apa. Tapi jika memang harus akhiri. Mama dengan senang hati.” Jawab Mira

“Ayah gak ngerti maksud mama sebenarnya apa?!” Tanya Ali dengan nada tinggi

“Ayah…. mama…Anisaa….hmmm…Anisaa….” belum sempat Anisa berkata.

“Kenapa!? Mau bilang Anisa cinta Sandy?,begitu? Sudahlah…!” Sambung Ali sedikit kecewa dan menepis tangan di depan wajahnya sendiri.

“Tapi ayah. Semua orang punya masa lalu” jawab anisa.

“Memang semua orang mempunyai masa lalu. Tak bisakakah kamu mencari calon imam yang mempunyai masa lalu yang baik. Bukan masa lalu yang hancur seperti dia!” ucap Ali dengan tinggi dan mulai emosi

“Ayah….bersabarlah…” sambung Mira sambil mengelus punggung Ali suaminya itu.

Terlihat Ali mengelus dadanya sendiri sambil mengucapkan istighfar berkali kali.

***

Dirumah Sandy

“Sandy, bagaimana hubungan kalian dengan Anisa? Apakah orang tua Anisa sudah menyetujui hubungan kalian?” Tanya mama Sandi tante Lia

“Baik ma. Selalu doain Sandy ya mah.biar mulus” jawab Sandy mantap

“Tapi sampai kapan kamu harus sembunyikan hubungan kalian. Sudahlah lebih baik kamu lupakan saja. Masih ada wanita yang mau sama kamu!” Jawab papa Sandy kecewa

“Banyak wanita tapi tidak untuk hati Sandy pah.” Jawab Sandi

“Apaan masih sempat ngomong hati hati segala. Emang selama ini hati kamu kemana?” Tanya papa Sandy ketus.

“Udah pah . biarkan saja lah keputusan Sandy. Sandy berubah lebih baik mesti kita syukuri itu” jawab Lia istrinya.

“Sandy yang dulu sama Sandy sekarang beda pah.” Jawab Sandy enteng menanggapi omongan papanya itu.

“Ya udah kalau begitu mama nanti kesana lagi sama papa mau lamar Anisa. Jangan kelamaan kamu juga nanti keburu nikah di usia kepala tiga nantinya loh” canda Lia kepada anak bungsunya itu.

“Heheheh…mama ” jawab Sandy.

“Hmmm…mau lamar lagi? Terus kalau di tolak bagaimana?” Tanya papa Sandy

“Kalau ditolak juga ya udah kamu mundur ganteng dia bukan jodohmu. Nanti mama usahain buat cari pengganti seperti Anisa untuk kamu” jawab Lia

“Apaan sih ma..gak bisa segampang itu ma.!” Ucap Sandy tegas dan kecewa.

“Terus kamu maunya apa? Menunggu Anisa sampai ayahnya merestui kalian. Sudahlah. Itu tidak mungkin ” jawab papa sandy

“Terus kalau papa yakin kami tidak jodoh kenapa papa mau di ajak mama melamar Anisa untuk kedua kalinya?”tanya Sandy cemas

“Ini hanya ikhtiar selebihnya kita pasrah , serahkan semuanya kepada sang pencipta. Kamu tidak boleh egois memaksakan kehendak kamu sendiri!” Jawab papa sandy

“Kapan pah kira kira bisa?” Tanya mama kemudian.

“Hari minggu ya mah nanti kita atur lagi kapan jam nya” jawab papa Sandy

“Minggu?? Berarti 5 hari ya pah. Ok Sandy jadikanlah 5 harimu dengan penuh doa. Dan mama akan selalu berdoa yang terbaik untuk kamu” jawab Lia tersenyum tulus.

“Makasih ma…pa…” jawab Sandy lemah

***

Sementara itu dirumah Anisa Nayla
Ia menelpon sepupu kesayangannya adiknya kak Shaleh “SAFIRA”

“Assalamu’alaikum fir..”

“Wa’alaikum salam Anisa”

“Anisa pengen kerumah kamu sekarang, bisa?”

“Sekarang? Bisa aja tau aja kamu hari ini aku lagi santai”

“Hehehe..mungkin udah tertulis taqdirnya aku harus bercerita sesuatu sama kamu”

“Hmmmm…curhat lagi tentang Sandy?”

“Boleh?”

“Masih berhubungan?”

“Iya,,hiks hiks hiks”

“Kok nangis? Kamu ada apa? Kamu diapain sama si Sandy? udah aku bilang jangan dilanjut Anisa……”

“Sedih fira aku gak bisa menjauh dari Sandy . Aku gak bisa pisah sama dia. Aku bisa hancur”

“Apa Kamu udah berhubungan kelewat batas sama dia? Itulah dosa dosa pacaran Anisa. Hentikanlah ”

“Gak kelewat batas fira. Maksud kamu apa. Intinya aku mau curhat aku gak bisa pisah sama Sandy Please bantu aku.!”

“Enggak!!!”

“Fira…..”

“Ayo kamu kerumah aku aja. Kita ngobrol dirumah aku aja.aku jemput”

“Ok deh kalo gitu aku tunggu”

“Sipp 15 menit ya insyaAllah aku udah disana”

25 menit telah berlalu tiba tiba pagar rumah Anisa bergeser. Dan Safira masuk dengan motor maticnya

“Huhhh…kelamaan 10 menit”

“Cuma 10 menit aja kok. Kalo ku gak jemput kamu bisa kemana”

“Ihhh bete banget denger jawaban kamu!”

“Hahahhaha”

“Bisanya tertawa saat melihat sepupu menderita”

“Enggak lah sayang. Heheheh.. tante Mira mana nih”

“Ada didalam lagi bikin brownies”

“Siang siang gini bikin brownies. Biasa santai”

“Iya lagi pengen maem brownies”

“Enak banget sih hidup kamu punya mama yang suka masak. ”

“Huhhhh”

***

15 menit telah berlalu Safira masih aja asyik bercanda sambil melihat tante Mira bikin brownies.

“Ini tinggal dipanggang”

“Waww..enak tuh harum yah tante bikin ngeces ini”

“Ya udah ditunggu aja 25 menit lagi selesai manggangnya kita makan bersama”

“Ihhh apaan sih fira. Aku tuh udah nungguin kamu 25 menit diperjalanan terus nungguin kamu bercanda disini 15 menit terus kamu mau nungguin manggang 25 menit. Oh tidak safira,,” jawab Anisa lantang

“Sabar dong aku pengen cicip aja kok.”

“Enggak..ayo!”

“Nanti dong”

“Kamu gak tau fira rasanya jadi aku. Udah di ujung taukkk!”

“Apanya udah di ujung?”

“Ihhh..safira kamu itu yah..hayoo sekarang!” Jawab Anisa meraih tangan Safira dan memaksanya berjalan kedepan meninggalkan tante Mira

“Mama Anisa berangkat dulu ya. ” teriak Anisa dari depan

“Iya hati hati yah kalian. Nanti kapan kapan tante bikin lagi brownies buat Safira ya” jawab tante Mira dengan berteriak juga

“Iya tante.. safira tunggu” jawab Safira juga dengan berteriak karen sudah di tarik Anisa

***

“Ihhh..gara gara kamu nih Nis gak kebagian cicip browniesnya mama kamu aku!”

“Sabarrrr”

“Banyak sabar emang punya sepupu kayak kamu”

“Kamu pikir aku gak banyak sabar ngadepin kamu”

“Ya udah kita berdua meski harus banyak sabar kayaknya”

Mereka pun tertawa diperjalanan.

***

“Udah Anisa lepasin ajah” komentar Safira saat Anisa menceritakan semua kisahnya tentang hubungannya bersama Sandy termasuk cerita Sandy yang pernah menciumnya saat keadaan mereka hanya duduk berdua di taman.

Yah Anisa sempat terhanyut rasa terbuai akan indah nya berpacaran. Hingga mau saja melakukan hal yang kotor itu.

“Enggak bisa Safira aku sulit melupakan dia”

“Kamu udah berani melakukan kesalahan besar Anisa. Tak harus kamu kotori hijabmu dengan berciuman dengan lawan jenis yang bukan pasangan halal kamu. Aku sebenarnya kecewa sama kamu kali ini Anisa.”

“Maafkan aku safira. Aku butuh kamu. Tolong bantu aku”

“Minta maaflah kepada Allah. Lupakan Sandy ia hanya mengajakmu berbuat dosa. Tinggalkanlahitu nafsu setan yang menyesatkan kamu harus melawannya.”

“Hiks hiks hiks”

“Kamu sepupu ku. Hari ini juga tolong selesai kan hubungan kamu dengan Sandy sebelum benar benar terlalu jauh”

“Jangan hari ini Fira”

“Aku bisa temanin kamu biar kamu enggak berduaan”

“Tidak aku perlu berpikir lagi”

“Apalagi yang harus kamu pikirkan”

“Tidak . Aku hanya perlu waktu saja”

“Ok . Aku tunggu keputusan kamu. Biar aku temanin ya jika kamu mau bertemu dengannya”

“Makasih fira udah mau mendengar semua curhatan aku. Sungguh tidak tau harus berbagi sama siapa saat ini”

Safira dan Anisa berpelukan erat
Dan mereka larut dalam pikirannya masing masing.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here