Tasbih Cinta – 08

0
194
views

Aku…
Aku mulai mencintai ia sepenuh hatiku.
Aku lihat ia seperti gadis yang sangat polos dan lugu. Dan sepertinya Anisa gadis yang tak ‘tersentuh’ Dan aku haraf bisa ku bujuk rayu.
Tapi setelah aku teringat ia sepupunya Shaleh sahabat ku. Aku harus menyeganinya. Shaleh pasti tidak suka tapi aku akan berusaha sekuat apapun itu pikirku
Kali ini aku meminta Shaleh untuk mengenalkan aku sama dia Anisa Nayla namanya.
Awalnya Shaleh enggan mengenalkan ku sama dia. Tapi tiap hari aku katakan kepadanya aku serius ingin mengenalnya.
Hanya mengenalnya tanpa maksud apapun.

“Percayalah aku takkan merusak sepupu kesayangan mu Shaleh”

Shaleh hanya mengangguk pelan. Dan ia pun mengenalkanku kepada Anisa.

Setelah mengenalnya
Setelah memacarinya
Setelah pertemuannya
Aku benar benar menikmati ini.
Meski ku lihat Shaleh seperti tidak suka hubungan ku dengan Anisa.
Yah aku bisa menghargai keputusannya.

Beberapa kali Anisa meminta ku melamarnya. Aku tidak bisa yakin apa aku akan diterima oleh keluarga itu. Karena mama aku juga bilang kepadaku

“Kamu telah merusak nama baik keluarga kita. Mama tidak menjamin kamu akan benar benar diterima oleh keluarga pak Ali” kata mama ku suatu saat setelah ku ceritakan hubunganku bersama Anisa.

“Aku serius ma” jawabku.

“Kamu emang serius sama setiap wanita yang ingin kamu miliki!” Ucap mama tegas

“Tapi kali ini beda ma” kataku

“Coba saja kalau kamu bisa. ” jawab mama datar.

Hari terus berlalu dan hubungan ku dengan Anisa semakin membaik. Aku sering bertemu saat ini bersama setelah sekian 1 tahun menjalani hubungan dengannya.
Entah mengapa aku semakin sangat mencintainya meski hobiku masih berjalan walau agak berkurang. Aku mulai membatasi pergaulan ku dengan para wanita wanita yang membuatku terhibur dulu.
Sekarang aku udah mulai terbiasa. Hatiku mulai penuh dengan bayang bayang anisa kekasihku.
Aku mencoba memperbaiki imanku. Memperbaiki shalatku yang sering tertinggal dan memperbaiki segalanya agar aku bisa menyakinkan kepada keluarga Anisa Nayla bahwa aku benar benar mau berubah menjadi lebih baik untuk menjadi imam Anisa.

***

Kemarin mama ku sudah menghubungi keluarga Anisa Nayla bahwa aku akan serius menjalankan hubunganku dengan anaknya.
Tampaknya ayah Anisa ragu. Dan mama ku sudah pasrah dan memakluminya. Karena jika saja mama ku adalah mama Anisa dia juga akan ragu melepaskan anaknya kepada orang yang nakal seperti aku.
Aku bersedih saat itu tapi mama ku menguatkan hatiku.

“Jika benar Anisa adalah jodohmu dia akan jatuh ke pelukan mu bagaimanapun itu. Tapi jika ia bukan jodohmu kamu jangan keras kepala tapi terimalah dengan lapang dada. Mungkin kamu takkan bahagia jika bersamanya”

Itu ucapan mama aku yang sungguh membuatku kecewa.
Sungguh aku tidak bisa berhenti mencintainya. Aku benar benar menginginkan Anisa sebagai pendampingku.

Mamaku mengangguk pelan sambil memeluk ku dengan sedikit berkata pelan.

“Teruslah berubah lebih baik. Mama yakin kamu akan kuat dengan segala keputusannya nanti. Apapun terjadi teruslah seperti ini . Ini sangat baik kamu berubah menjadi lebih baim itu sudah hati mama bangga.dan jangan berubah lebih buruk lagi. Mama senang kamu bisa jadi lebih baik sekarang. Dan mama akan ada disampingmu selalu”

Aku terharu mendengar ucapan yang sangat berarti untukku. Meski aku tahu mama pernah kecewa terhadap tingkah laku ku. Tapi tak pernah terlihat mama benci padaku.
Tidak seperti papaku dia seperti malu meski sudah membantu masalah yang aku hadapi tapi terlihat jelas papa kecewa berat saat bertemu denganku. Dan papa sekarang hanya lebih dekat kepada kakakku saja Andrian yang saat ini telah memberinya cucu untuknya.

***

Hari ini kuhabiskan waktu ku bersama Anisa setelah acara lamaran itu.
Kulihat Anisa sangat semangat sekali menata hidupnya.
Ahhh… andai ia ada disampingku dan halal untukku aku tak bisa berucap apapun selain alhamdulillah.
Sungguh aku benar benar berharap Anisa adalah jodohku dan aku akan memulai kehidupan ku yang baru bersamanya.

***

Hari ini mama mendapat kabar dari ayahnya Anisa.

“Kamu harus kuat sayang” kata mama sambil memelukku dengan lembut dan terasa hangat bagiku.

“Kamu harus menerima kepetusan ini..! Ini juga akibat kesalahan kamu dulu. Ini semua seperti pembalasan untuk kelakuan mu” kata papa ku terasa benar benar memojokkan ku.

Dalam raut wajah kedua orang tua ku itu. Kulihat ada sesuatu yang harus aku terima meski aku tak bisa. Aku yakin ini pasti keputusan lamaran ku itu.

Ternyata benar dugaanku…..

“Ayolah lebih semangat lagi. Anisa bukan jodoh untuk mu. Fokuslah beribadah lebih baik lagi. Semoga kamu nanti suatu saat akan mendapatkan yang lebib baik lagi dari Anisa.
“hibur mama
Aku tau itu hanya hiburan dari mama aku.

Papa beranjak dari tempat duduknya dan berkata tegas.

“Kamu laki laki kamu harus kuat. Jangan ada air mata untuk menumpah segala rasa ini. Papa tidak suka laki laki cengeng!”
Kata papa lantang kemudian meninggalkan aku dan mamaku berdua.

***

“Anisa…kenapa kamu lakukakn ini sayang?” Tanyaku saat bertemu dengannya di sela sela jam kuliahnya.

“Ayahku yang tidak suka. Anisa bisa apa? Anisa sudah melakukan sebaik mungkin untuk segalanya Sandy. Tapi ayah tetap tidak suka hubungan kita” jawab Anisa dengan kesedihan yang terdalam aku bisa rasakan hatinya yang terluka itu.
Ingin ku peluk dia tapi ku sadar ia pasti menolaknya karena aku tau Anisa benar benar menjaga sebelum halal tekadnya dulu.

“Sandy…” ucapnya begetar menahan tangisnya.

“Iya?” Jawabku lirih berusaha menetralkan perasaannya.

“Kita bisa berhubungan kan meski tanpa sepengetahuan ayah dan mama aku.” Kata Anisa

“Buat apa sayang jika hubungan ini harus berpisah?”
tanyaku dengan kesedihan yang luar biasa.

“Nisa gak bisa tanpa kamu sayangg…” jawab Anisa.

“Sama aku juga gak bisa. Tapi . .
Kita tidak bisa bersama jika ayahmu tetap tidak setuju padaku” jawabku.

“A..a..akuu…memutuskan akan terus menjalankan hubungan ini dengan kamu Sandy Biar ayah aku tau. Aku benar benar tidak bisa jauh dari kamu dan…dan aku benar benar serius dengan kamu” kata Anisa dengan sedikit sisa kesedihan yang ada.

“Iya sayang..begitu juga dengan ku” jawabku.

“Kita jalani lagi meski tanpa tau mereka” jawab ku lagi.

“Dan aku harus berjuang begitu juga kamu buat cinta kita” jawab Anisa kemudian aku balas anggukan kepala.

Pertemuan yang singkat hari ini meski di penuhi drama tangisan dan kesedihan kami sepakat untuk tetap menjalankan hubungan ini sampai ayahnya Anisa luluh dengan besarnya rasa Cinta yang kami miliki ini.

***


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here