Tasbih Cinta # 03

0
816
views

Bagian tiga


Tidak ada yang berbeda sore ini. Rutinitasku masih sama. Yaitu, melihat langit berwarna orange dan membiarkan hawa dingin menembus hijab. Lalu, kualihkan pandangan menatap benda pipih yang sedari tadi ku genggam.
Setiap saat aku selalu menanti akan kabar dari seorang Firdaus. Berulang kali aku membaca pesan terakhir yang dikirim olehnya, sebelum menghilang.

Rasa risau bercampur rindu selalu menyelimuti hati ini. Begitupula beragam pertanyaan selalu menghantui benakku.
Apakah dia dapat merasakan apa yang kurasa saat ini?
Apakah dia masih setia denganku?
Kemana dan mengapa dia harus menghilang?
Aku mendesah pelan saat semua pertanyaan ini muncul dan membebani pikiran.

“Allah, lindungi Firdaus. Jangan Engkau biarkan dia melalaikan perintah dan semua larangan-Mu. Amin.”

Matahari telah pulang keperaduannya, menandakan waktu telah memasuki maghrib. Aku segera beranjak dari teras, menuju ke dalam rumah untuk mengambil air wudhu.
Akan tetapi, aku melihat pemandangan aneh saat berada di ruang tamu dan membuat langkah kaki ini seketika terhenti.

Aku menatap lekat wajah wanita yang selalu ceria dan berseri, namun kini tampak pucat pasi. Perlahan aku mendekat ke arah Kak Jihan dan duduk di sampingnya.

“Kak, ada apa?” Suaraku membuatnya tersentak kaget.

“Tidak apa,” balasnya singkat.

“Aku sudah dewasa, Kak. Jangan menyimpan segala masalah sendirian, berbagilah padaku.”

“Sungguh tidak apa, Fifah. Suatu hari nanti, kakak akan menceritakannya padamu.”

Kak Jihan meninggalkanku sendirian di ruang tamu, dengan beragam pertanyaan bergelayut di otak ini. Aku beristighfar berulang kali, mencoba menenangkan hati dan pikiran. Tak berselang lama, suara adzan maghrib berkumandang begitu syahdunya. Rasa tenang mulai menyinggahi hati. Senyuman kecil pun, kini mulai terpampang di wajahku.

Setelah sang fajar menyingsing, aku dan Kak Jihan selalu memasak sarapan pagi bersama. Kami memilih nasi goreng dan telur dadar sebagai menu pagi ini.
Bersenda gurau saat memasak merupakan hal biasa. Tujuannya tidak lain, untuk senantiasa menyayangi satu sama lain.

“Tolong ambilkan kecap, Fah!” titah Kak Jihan.

Secara cepat tangan ini menyodorkan kecap yang sudah lama kupegang. Tangan Kak Jihan begitu lihai dalam menggoreng nasi tersebut.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara ketukan pintu yang sentak membuat kami berhenti sejenak dari aktivitas memasak.

“Biar kakak saja yang buka.” Kak Jihan langsung melenggang pergi. Sedang aku melanjutkan pekerjaannya.

Setelah semuanya matang, Kak Jihan datang dengan membawa sebuah paket berukuran sedang. Aku mengernyit heran ketika Kak Jihan memberikan paket itu kepadaku.

“Masih pagi sudah dapat paket. Dari pengagum rahasia pula,” ejek Kak Jihan.

Aku masih tidak mengerti apa maksud dari ucapan kakakku ini. Kuteliti dengan seksama paket tersebut. Manik mataku tertuju pada goresan tinta yang bertuliskan ‘Hanafi’ pada nama pengirim paket.

“Hanafi?” Aku mengernyit heran.

“Siapa itu Hanafi?” tanya Kak Jihan penasaran.

“Entahlah, Kak. Aku sendiri pun tidak kenal,” balasku apa adanya.

Karena rasa penasaranku begitu tinggi, perlahan namun pasti tanganku membuka paket itu.

“Novel?” Aku menyangga dagu. “Paket seperti ini hanya berisikan sebuah novel?”

“Lalu, kamu berharap isinya apa?”

“Gaun pengantin dari Firdaus.” Aku tersenyum lebar.

Kak Jihan hanya mendesah pelan setelah mendengar pernyataanku.
Dalam hatiku masih bertanya-tanya tentang pengirim paket tersebut. Aku berharap, semoga saja Firdaus yang mengirimkannya kepadaku.

 Update besok

Kembali ke bagian dua

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here