Tasbih Cinta # 02

0
595
views

Bagian Dua


Hawa sejuk khas pegunungan menembus setiap celah rumah kecil ini. Mentari pagi enggan menampakkan sinarnya karena tertutup oleh sang mendung.

Hari ini adalah jadwal kelas pagi bagiku. Aku mengenakan gamis berwarna merah maroon dengan kerudung hitam panjang. Entah mengapa dari sekian banyak gamis yang ku punya, aku lebih menyukai gamis ini. Gamis pemberian dari seseorang yang berarti dalam hidupku.
Setiap kali aku memakainya, otakku selalu memutar kejadian setahun lalu. Yaitu, di mana pertama kalinya dia datang ke rumahku bersama ayah dan ibunya untuk melamar diriku.

Siapa lagi jika bukan seorang Firdaus. Yang cintanya sudah ku tolak tiga puluh kali, namun dia tetap gigih dan mengingat perkataanku.

Rasa senang bercampur haru menyelimuti hatiku kala itu. Terlebih, hatiku berdetak kencang tatkala ibunda Firdaus memasangkan cincin di jari manisku, sebagai pengikat hubungan kami. Paman dan beberapa sanak saudaraku ikut menitihkan air mata bahagia.
Beribu rasa syukur aku panjatkan kepada Allah, dzat yang maha cinta.

Senyum bahagia selalu terukir di bibirku bila mengenang hari itu. Namun, sesaat kemudian senyuman itu pudar, dan berganti rasa khawatir.
Terhitung, sudah sebulan lamanya Firdaus tidak pernah memberiku kabar.
Aku mengelus lembut gamis ini dengan menggigit bibir bawahku untuk menahan air mata.

“Afifah, ayo berangkat. Sebentar lagi angkutannya datang.” Suara Kak Jihan dari balik pintu kamar, sukses membuatku tersentak kaget dan menoleh.

“Eh? Iya kak.” Aku bergegas meraih tasku yang berada di atas meja.

“Firdaus, aku berharap kepada Allah, semoga dirimu takkan pernah berkhianat.” Aku menghela napas panjang lalu beranjak dari kamar.

***

Suara bising dari para penumpang angkutan, sudah terbiasa olehku dan Kak Jihan. Sebab, kami berdua sering pula bersenda gurau di dalamnya. Namun, tidak untuk hari ini. Sepertinya suasana hati Kak Jihan sedang buruk. Dia lebih banyak diam dan melamun. Akupun hanya bisa terdiam dengan terus menatap lekat Kak Jihan yang duduk persis di sampingku.

“Sudah sampai kak,” ujarku dengan menepuk pelan bahunya.

“Oh benarkah?” balasnya kaget. “Ini uangnya, pak.” Kak Jihan memberi uang sepuluh ribuan kepada sopir tersebut.

Kamipun turun dan berjalan kaki sembari menunggu angkutan kedua datang. Jarak dari tempat kami turun hingga ke kampusku cukuplah jauh. Lain halnya dengan restoran tempat Kak Jihan berkerja, yang jaraknya hanya 500 meter dari sini.

“Kakaku, mengapa dikau murung begitu?” tanyaku dengan merangkulnya.

Kak Jihan menggelang pelan. “Sampai jumpa di rumah. Hati-hati ya di jalan. Assalamu’alaikum,” ujarnya ketika sampai di depan area restoran.

“Wa’alaikum salam.” Mataku terus melihat punggung kakaku hingga ia menghilang dari pandangan.

Rasanya tak tega bila melihat Kak Jihan pergi bekerja bersama masalah yang ia pendam sendirian.
Aku berjalan kembali menuju kampus, namun … sebuah mobil sedan putih tiba-tiba saja berhenti di depanku. Seketika aku berhenti dan mengernyit heran.

“Afifah ….” sapa pria berkemeja hitam itu dari balik mobilnya. Dia tak lain adalah Dimas Sanjaya, teman satu kampusku.

Dimas berjalan menghampiriku dengan senyum merekah di wajah orientalnya yang selalu bisa memikat hati para wanita. Namun, itu tidak berlaku untukku yang sudah terlanjur menjaga hati untuk Firdaus.

“Mari! Naik mobilku, kita berangkat bersama,” ajaknya.

Aku menggeleng. “Maaf Dim, sepertinya aku akan berja-” belum sempat perkataanku selesai, tiba-tiba hujan turun begitu derasnya.

“Ayo cepat, Fifah!” ajaknya kembali.

Dimas berlari ke mobil kemudian membuka pintu belakang. Tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung berlari menghampirinya.

 Baca selanjutnya

Kembali ke bagian satu

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here