Tabir Cinta #20

0
90
views

Ah … di mana aku? Entahlah mungkin saat ini diriku tengah kembali berkelana menjelajah dunia. Memetik hikmah dan mencari ketulusan yang dinamakan cinta.

Alawiyyah. Begitu telah lama tak kudengar kabarnya. Dadaku kembali terasa sesak. Ternyata … luka itu masih belum sembuh walau setelah sekian lama mencoba kucarikan obatnya.

Aku tak pernah menyesal atas rasa yang Allah berikan kepadaku. Mencintainya mengajariku arti sabar dan ikhlas sesungguhnya. Darinya aku belajar, bahwa niat adalah segalanya. Jujur, aku sempat salah niat datang kemari. Ya, ke sini, ke Mukalla.

Saat aku pergi ke sini, aku hanya ingin memperbaiki diri, menjadi pantas untuk sang pengisi hati. Kutinggalkan semua pekerjaanku, termasuk keluarga. Aku memohon kepada mereka tentang niatku memperdalam ilmu agama, walau dalam hati tertera niat agar bisa mendapatkan Alawiyyah.

Mereka memberiku izin. Hidup bertahun-tahun di Mukalla memberiku banyak ilmu. Aku tak menyangka berada di sini, dengan dukungan Malik yang menemaniku.

Karena tak ingin merepotkan kedua orang tua. Aku melamar bekerja di rumah sakit di Mukalla. Di sana fasilitas serta kebutuhan alat medis cukup minim. Tapi aku jauh lebih bersyukur hidup di sini. Karena aku masih bisa mengaji dalam kondisi berbagi dengan pekerjaan.

Di bantu Malik, aku menambah jam mengajiku. Terkadang sampai tidak tidur sekali pun aku masih bertahan untuk tetap terjaga. Beberapa kitab aku hafalkan, ditambah beberapa juz Al-Qur’an.

Sekitar hampir dua tahun, kemampuan membaca kitab serta berbicara bahasa Arab telah lancar. Dan tentu itu memudahkan diriku. Di sini tak terlalu sulit berbicara karena begitu banyak orang Indonesia bertebaran di mana-mana. Seperti kembali ke kampung halaman saja rasanya. Hanya, di sini mereka orang taat semua. Ah, dan, ya aku di sini tidak menemukan satu wanita pun yang membuka aurat. Mereka terjaga.

Jadi … tentu saja daya hafalanku kuat.  Toh, aku tak melihat hal yang haram. Karena melihat sesuatu yang haram memang membuat daya hafalan lemah dan tentu saja menambah dosa.

Rasa senangku semakin menggebu, saat mendengar Malik mengajakku pulang setelah hampir empat tahun kami di Mukalla. Setelah izin kepada Sayyid, kami pulang. Sepanjang perjalan aku merapalkan bait-bait doa untuk Alawiyyah. Semoga dia sehat, bahagia, dan tentunya mencintaiku.
Sebenarnya tak hanya saat ini aku mendoakannya. Namanya telah terpatri dalam lantunan doaku di sepanjang waktu.  Aku ingin dia yang berada di sampingku, menjadi ibu untuk anak-anakku.

Tapi harapan memang sangat membuat hatiku terpelintir. Sakitnya terasa menghunus ke ulu hati. Bahwa harapan kepada manusia hanyalah sebuah mimpi semata. Karena nyatanya, cintaku, dia, akan dipinang pria lain.
Dengan hati tak rela. Aku pulang ke rumah. Sekitar tiga bulan aku sakit dan dilarikan ke rumah sakit. Dirasa sembuh, aku kembali ke Mukalla. Kali ini sendiri, tak bersama Malik lagi.

Aku masih ingat, sebelumnya, aku memang telah melamar Alawiyyah lewat Abi Muhammad. Namun, dengan halus, Abi menolak. Alasannya karena aku akan pergi dan tentu saja dalam waktu empat tahun takdir tak bisa ditebak. Daripada menimbulkan kesakitan karena harapan, Abi memintaku fokus mencari ilmu. Menurutnya, jika memang jodoh, takdir tak akan memisahkan.

Namun, tetap saja, tatkala mengingat hal itu membuat ulu hatiku kembali nyeri. Sudut mataku berair. Ah, jangan, lagi!

Kini aku mengerti. Segala sesuatu yang diniatkan selain kepada Allah itu salah. Pengharapan kepada selain Allah itu salah. Walau dalam bentuk doa sekalipun. Karena tak jarang saat berdoa, pikiran masih tetap fokus kepada harapan bukan kepada Sang Maha Mengatur. Bahkan, doa yang terlantun seperti sebuah permintaan yang memaksa.

Ya Allah, maafkan hamba ….
Kesalahan di masa lalu mengajariku agar tak mengulangi hal yang sama. Jika aku mengulangi, tentu saja aku tak lebih bodoh dari seekor hewan. Aku mulai memperbaiki niat-niatku sebelum datang ke Mukalla kedua kalinya. Berniat mencari ridho Allah, mensyiarkan agama islam, menghilangkan kebodohan, dan niat-niat baik lainnya.

“Berangkat sekarang?”
Aku menoleh mendapati Dzaki – orang Sumedang yang menganyam ilmu di Mukalla.

“Iya. Sebentar, ayo.” Aku berdiri dari dudukku dan bergegas berjalan beriringan menuju majlis, tempat mengaji di kediaman Sayyid.
Setelah mengaji siang tadi. Malamnya, Sayyid memintaku datang ke kediamannya. Aku benar-benar gugup dan tegang. Mendatangi beliau sangat membuatku malu. Namun, siapa sangka, ucapan Sayyid benar-benar membuat duniaku seketika gelap.

Sayyid membicarakan perjodohanku dengan Dawiyah – seorang mubaligah besar di Arab. Nyaliku benar-benar menciut. Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan seorang Ustadzah Dawiyah, yang begitu MasyaAllah ceritanya kudengar dari Sayyid.

Tapi takdir memang seperti membuatku terlilit. Aku tak bisa menolak. Tepatnya hari minggu, Sayyid berserta Dzaki, Ahmad, Ibrahim, dan tentunya aku pergi ke Arab. Sepanjang perjalanan keringat terus merembas di pelipis dan sela-sela jari tanganku.

Setelah melakukan perjalanan jauh. Aku disambut dengan sebuah istana berwarna cream. Benar-benar sangat megah.

Di sampingku terdapat Dzaki. Aku berbisik pelan, “Rumah siapa ini, Ki? Katanya mau ke rumah Ustadzah Dawiyah.”
Dzaki mendelik, “Lah … ya memang ini rumahnya.”Aku melongo beberapa detik tak percaya. “Ini benar-benar rumah Ustadzah Dawiyah, Mi.”
Suara Sayyid membangunkan kesadaranku. Beliau mengajak kami masuk ke dalam istana itu. Begitu masuk, aku berdecak kagum melihat dekorasi rumah bak istana ini.

Lagi, takdir melilitku. Bahwa ternyata aku ke sini tak hanya ta’aruf saja. Melainkan Sayyid langsung menyuruh akad dilaksanakan. Sebagai murid, dan beliau sebagai guruku. Aku hanya mampu ‘sami’na wa’atona,’ aku mendengar aku mematuhi. Karena aku yakin segala sesuatu telah Sayyid pertimbangkan. Apalagi beliau adalah sosok ulama besar.
Dadaku gemuruh saat ikrar akad pernikahan itu berlangsung di lantai dua rumah ini. Dekorasi rumah telah siap, setiap sudut rumah telah terhiasi sebuket bunga.

Sesaat setelah akad, pesta berlangsung. Di sini, aku halnya seperti raja di giring ke sana ke mari, menari zapin. Kami makan-makan dengan suka cita. Walau, aku tak bisa menutupi, aku penasaran sosok istriku sekarang.
Malam menyapa dan pesta telah berakhir. Sayyid dan yang lainnya menginap di hotel yang telah diurus mertuaku. Ah, ya, aku bahkan belum memberitahu kedua orang tuaku mengenai pernikahan dadakan ini.
Tapi saat ingin merogoh ponsel di saku gamis. Seorang wanita paruh baya menyuruhku naik ke lantai tiga. Katanya, kamar Ustadzah Dawiyah.
Dengan lutut yang lemas, kakiku melangkah menaiki undakan tangga yang tinggi nan indah. Sesampainya di sana, perempuan tadi menunjuk ruangan yang terdapat dua daun pintu. Besar sekali bukan rumahnya?
Pelan, kudorong pintu itu. Mataku menyusuri setiap sudut ruangan yang terlihat bak dalam kerajaan. Setiap dinding terdapat ukiran berwarna emas. Dan di langit-langit kamar terdapat lampu seperti berlian yang menggantung.

Kakiku melangkah masuk dengan wajah bingung. Pasalnya, sampai saat ini aku tak melihat sosok Ustadzah Dawiyah. Kamarnya tampak sepi dan sangat rapi.

“Kamu di sini?”
Suara pertanyaan seseorang membuatku menoleh. Suara itu berasal dari balkon di luar. Aku bergegas menghampiri. Di sanalah, kudapati sosoknya.
Dia … membelakangiku. Dia duduk di kursi roda. Memakai gaun putih tulang yang membalut tubuhnya dengan indah. Kerudungnya diatur sedemikian rupa sehingga sangat terlihat cantik.

“Ya.” Dengan ragu aku menjawab pertanyaannya.
Kuperhatikan gerakannya yang mulai berbalik menghadapku. Ya … Rabb … selamatkan aku!

Wanita di depanku tak ayal seperti bidadari. Bulu matanya sangat lentik dan matanya bulat. Bibir kecil serta hidung mancung. Ada tahi lalat dekat alisnya. Alisnya tidak terlalu tebal dan tipis. Sangat pas. Ya, dia memang wanita Arab. Cantik.

“Kemarilah,” pintanya. Aku sempat bingung mendengar ucapannya yang fasih memakai bahasa Indonesia.

Aku menurut, berdiri tepat di depannya. Dia tersenyum. Membuatku refleks ikut tersenyum.

“Ulurkanlah tanganmu. Aku ingin menyalamimu,” pintanya lagi. Aku bagai orang dungu, menuruti semua permintaanya tanpa bertanya. Dia menyalamiku dengan takdzim. “Bolehkah saya meraba wajahmu?”
Aku mengangguk sebagai jawaban.

Dia tersenyum. Jari-jari lentiknya menelusuri setiap inci wajahku membuat debaran halus dalam benakku. Tapi, debaran itu pudar. Seiring air mata yang menetes dari sudut mata istriku.

“Kenapa?” tanyaku lembut.
Dia tersenyum simpul, “Aku yakin dirimu sangatlah tampan. Terima kasih telah menerimaku. Bimbinglah aku wahai suamiku.”

Aku mengerjap beberapa kali. Tunggu … tadi dia mengatakan seolah-olah dia tak melihatku. Apa jangan-jangan?

“Kamu tak bisa melihatku?” Aku mencoba menahan nafas menunggu jawaban darinya.

Dia mengangguk pelan. Senyuman itu masih terpatri di bibir manisnya, “Untuk itu, jika kau mundur, tidak apa-apa. Kau pantas bahagia dan mendapat selain dariku.”

Aku menggeleng. Jangankan mundur pergi, mundur selangkah saja aku tak mau. Walau rasa cinta itu belum tertanam, tapi pernikahan adalah sebuah ikrar di depan Allah yang tak ingin kupermainkan.

“Demi Allah, aku tak menyesal. Kekuranganmu adalah membuatkanku tugas untuk saling melengkapi.”

Dia tersenyum. Lagi, air matanya menetes. Bergegas aku menyeka pipinya dengan hati-hati. Dia laksana berlian, yang tak ingin kugores walau sekecil mungkin.

Kukecup keningnya dengan lama. Menyalurkan ketulusan yang kuberi dengan segenap jiwa, “Jika kamu tidak bisa melihat, jadikanlah aku tetap di sampingmu sebagai matamu. Jika kamu tidak bisa untuk berlari, bersender lah selalu di bahuku.”

Dia menggeleng, “Dengan butanya mataku, bukan berarti hatiku tak mampu melihat ketulusan di matamu. Dan … aku bahagia, kau menerimaku. Satu lagi … jangan membuat diriku terus berada di bahumu, tetapi buatlah aku berada di sejadah saat kau menjadi imamku setiap waktu.”

“InsyaAllah.”
Setelah masa mengharu biru, kami saling berbincang. Kedua orang tuanya berbeda negara. Ayahnya orang Arab. Sementara ibunya orang Indonesia. Dia juga sudah sudah sembilan tahun tinggal di Indonesia dan mondok di Jawa Timur. Saat akan memasuki SMA, dia pindah sekolah ke Tariem. Setelah lulus, dia kembali ke Arab. Kini aku tahu kenapa dia bisa fasih berbicara bahasa Indonesia.

Kami saling bercanda, bertukar pikiran, dan bahkan saling menasihati satu sama lain. Penyebab Dawiyah buta dan lumpuh karena kecelakaan saat ia akan pergi mengisi kajian. Naasnya mobilnya terguling karena bertabrakan dengan sebuah bis. Tapi, dia menjelaskan, bulan depan matanya akan dioperasi.

“Sudah mengantuk?” tanyaku saat mendapati wajahnya yang mulai lemas. Dia mengangguk. Kudorong kursi roda itu masuk sesampainya di depan ranjang, kubopong tubuhnya dan menidurkannya di ranjang. “Tidurlah,” perintahku.

Dia menurut. Matanya mulai terpejam. Saat mendengar deru nafas yang sudah teratur, aku kembali keluar lalu duduk di balkon.

Rentetan kejadian membuatku merenung. Inikah takdir Allah? Tapi ini layaknya sebuah film menurutku. Jika harus membandingkan kecantikan Alawiyyah dan Dawiyah, mungkin dia Dawiyah menang. Ya, wajar, dia toh orang Arab. Aku masih ingat paras Alawiyyah, karena saat mau pergi ke Mukalla waktu itu, Abi Muhammad memberikan sebuah photo Alawiyyah. Photo itu dulu kubawa-bawa, sampai akhirnya bulan lalu kusobek-sobek.
Ya Allah, inikah takdirmu? Ya Allah bukalah hatiku dan dirinya dalam rengkuhan cintamu.

Apakah aku bisa hidup bersama dengan orang yang sama sekali tak kucintai? Biarlah waktu yang menjawab. Semoga hati senantiasa tabah untukku bersamanya.

-Tamat-

Baca sebelumnya

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here