Tabir Cinta #18

0
175
views

Suara merdu Kyai Wildan membacakan wiridan subuh berhasil membius para santri. Walau sebagian, justru membuat para santri mengantuk seraya duduk di atas sejadah.

Aku sempat ingin tertawa, walau matian-matian menahannya tatkala melihat Santi mengantuk di atas sejadah dengan bibir yang terus merapalkan bacaan wirid.

Santriwati yang dikenal banyak bicara dan cantik itu selalu saja mengantuk setiap wiridan pagi. Aku masih ingat, dulu aku juga begitu. Walau jarang, karena mungkin di sana berbeda. Ada rasa takut jika sedikit saja mengantuk. Sehingga memaksakan kedua mata harus tetap terjaga.

Sehabis pembacaan wirid, Kyai Wildan menyambung dengan pengajian rutin pagi menghanca kitab Ihya Ulumuddin.

Sekitar pukul 09.00, pengajian rutinan telah selesai. Santri diperkenankan pergi ke kobong setelah menunaikan shalat dhuha berjamaah.

“Ustadzah Alawiyah.” Seorang santri memanggil namaku dari samping seraya menyalamiku dengan takzim.

“Siapa ini?” tanyaku sembari menelisiknya. Aku kurang dekat dengan santri-santri di sini. Karena jadwal tausiahku begitu padat di luar kota.

“Ismi Rasya, Ustadzah,” ¬†jawabnya seraya mengulum senyum.
Aku mengangguk sebagai jawaban.

“Afwan Ustadzah, ana di beri perintah oleh Ustadzah Zahra. Bahwa Ustadzah Alawiyyah di tunggu di beit.” Rasya menundukkan kepalanya seraya berucap dengan nada yang rendah.

“Benarkah? Oh iya terima kasih.” Aku bangkit lebih dulu dan berjalan keluar dari masjid menuju rumah Bunda Zahra.

Namun langkahku terhenti, saat melihat mobil hitam yang menurutku tak asing. Tapi aku juga lupa, siapa pemilik mobil itu. Pelan, kubuka sepatu dan membiarkannya tergeletak di teras lalu masuk ke dalam rumah.
Bagaikan dihadiahi sebuah bom atom. Jantungku seakan berhenti berdetak saat mendapati sosok yang telah kurindui. Sosok yang sudah lama tak lagi menemaniku jika pergi.

Wajahnya tampak lebih bercahaya. Auranya teras gagah. Segera kupeluk dirinya dengan erat dan ia membalas pelukanku.

“Bagaimana kabarnya, Kak?”
Aku terkekeh dengan bulir bening yang berlomba mendesak keluar. “Baik,” jawabku dengan serak.

“Malik kangen,” bisiknya. Aku tertawa geli. Dasar adik nakal. Selama mondok di Mukalla gak pernah hubungin kakaknya.

Aku merelai pelukan, menelisik setiap inci wajahnya. Tak menyangka hampir empat tahun tak bertemu. Malik telah jauh lebih dewasa.

Malik mulai menyalami satu persatu keluarga Bunda, termasuk Abi. Karena sejak dua minggu yang lalu. Abi memutuskan menginap di Tasik. Suasana mengharu biru. Kerinduan yang terpendam sejak lama akhirnya kini tersalurkan dengan sempurna.

***

“Masih ingat Kak Azmi, Kak?”
Aku melirik dari sudut mataku. Malik tampak sibuk membongkar isi tas nya di atas ranjang di sampingku.

Aku berdehem. Menetralkan degupan yang selalu tak normal jika menyebutkan namanya. Entahlah, aku tak yakin apakah rasa itu masih ada untuknya atau sekarang memudar. Karena sudah sejak lama, aku hampir kecewa dan putus asa oleh penantian.

Apalagi kini hadirnya orang baru yang semakin gencar mendekatiku. Dipandang dari agamanya, dia baik. Dipandang dari keluarga, harta, dan ketampanan juga memang baik. Tapi hatiku masih tak bisa berlabuh kepadanya.

“Sayangnya, Kak Azmi masih belum bisa pulang,” keluh Malik dengan pelan. Aku membisu. Walau sebenarnya sejuta tanya merayap di kepalaku. Rasa maluku terlalu mengubur semua tanya dalam pikiran.

“Sayyid meminta Kak Azmi tinggal lebih lama di sana. Dan kayaknya … Malik juga bulan depan mau ke sana lagi.”

Kuputar tubuhku agar dapat menghadap Malik. “Loh, kenapa?”

Malik terkekeh melihat raut wajahku yang cemberut. “Tenang saja. Cuman sebentar, Kak. Sayyid minta Malik ke sana lagi soalnya.”

Aku menghela nafas berat. Bagaimanapun seorang murid tidak boleh menentang perintah maupun permintaan sang guru. Aku tak bisa memaksa atau meminta Malik untuk tidak pergi. Justru, aku akan merasa sangat berdosa jika sampai aku merengek agar Malik tidak pergi.

Aku tahu, mungkin semua ini terlalu berlebihan. Tetapi, kedekatan aku dan Malik memang begitu adanya. Kami berdua hidup dan besar di pondok, jauh dari keluarga, dan saat pulang selalu berdua. Itu sebabnya perasaan kami selalu sama. Sama-sama hampir pernah merasa asing.

“Iya. Gak apa-apa, kok. Jaga diri baik-baik, ya. Do’ain, Kakak.”
Malik mengulas senyum lebar seraya mengangguk. “Iya di do’ain biar cepet nikah.”

Spontan kucubit punggung tangannya. Malik meringis merasakan nyeri diiringi gelak tawa.

“Kakak gak mau denger kisah Kak Azmi?”
Lagi. Aku membisu.

“Ah, nanti saja, ceritanya,” ucap Malik seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Nanti biar Kak Azmi saja yang langsung cerita, ya.”
Aku hanya tersenyum simpul sebagai jawaban.

***

Satu bulan telah berlalu, Malik telah kembali berangkat ke Mukalla. Begitu pun dengan Abi telah kembali ke Bandung. Selama itu pula, Ambu Azhar terus menanyai perihal lamaran yang telah diajukan minggu kemarin sehari setelah Malik pergi.

Ah, aku tak bisa membayangkan, jika Malik saat itu ada dan tahu perihal lamaran Kak Azhar kepadaku. Aku yakin dia pasti terluka, secara Malik dekat Kak Azmi.

Walau hatiku berkhianat karena memang tak ada secuil rasa pun kepada Kak Azhar. Tapi, apalah daya. Aku pun tak bisa menunggu lebih lama sosok yang kini tengah menganyam ilmu di Mukalla itu. Sudah empat tahun aku menunggu, dan hasilnya selalu sama. Yaitu tanpa kepastian.

Kuberingsut dari ranjang. Menggapai ponsel yang tergeletak di atas nakas. Mataku membulat sempurna, saat satu nama tertera memberi pesan.

Kak Azhar
Assalamualaikum. Bagaimana kabarnya Al? Sehat. Kakak besok akan pergi ke Madura. Mohon do’anya ya
Sibuk? Ya Kak Azhar memang lelaki yang sibuk. Selain mengajar di kampus, dia juga membuka usaha percetakan buku.

Bingung. Itulah yang terasa. Kembali kusimpan benda pipih itu diatas nakas lalu berbaring menatap langit-langit kamar tanpa membalas pesan darinya. Aku perlu waktu untuk merenungkan tentangnya dan hatiku.

Suara ketukan pintu membuyar lamunanku.

“Wa’alaikumssalam. Sebentar,” teriakku sembari bangkit menuju pintu. Pelan, kutarik daun pintu. “Bunda,” gumamku saat mendapati Bunda.

Bunda mengulas senyum manisnya. “Bunda boleh masuk?”
Aku mengangguk cepat lalu mempersilahkan Bunda masuk. Kami duduk bersisian di tepi ranjang dengan saling berhadapan. Beberapa menit terbuang dengan keheningan. Aku semakin panik dan was-was bila Bunda telah bersikap seperti ini. Seolah ada yang sesuatu yang besar tengah terjadi.

“Alawiyyah mau, kan, dengerin Bunda.”
Kutatap lekat-lekat manik mata Bunda. Ada keseriusan di kedua bola matanya. Aku mengangguk pelan walau sebenarnya aku sedikit takut dengan jawabanku barusan.

“Mau, kan, menikah sekarang-sekarang? Bunda harap kamu mengerti, Malik tidak mau menikah sebelum kamu menikah lebih dulu.”

Pernyataan itu sukses membuat degungan di telingaku. Ah, tidak, ini seperti mimpi. Jangan katakan Bunda benar-benar berharap agar aku menerima pinangan Kak Azhar.

“Al,” gumam Bunda.

Aku menunduk. Tak kuasa menatap iris mata Bunda. Aku juga baru mengetahui jika ternyata Malik menungguku untuk menikah lebih dulu sebelum dirinya. Padahal, jika Malik mau mendahului, aku tak apa. Jodoh, mati, celaka tidaklah ada yang tahu.

Bahkan jika seandainya umurku lebih dahulu terhenti dan aku belum menikah. Aku ridho. Sesungguhnya kewajiban seorang hamba ialah ikhlas atas apa takdir yang menyapa dirinya. Bagaimana pun takdir dari-Nya tak mungkin jelek. Itu hanya penilaian dari hamba itu sendiri.

Aku menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Bunda. “Boleh minta waktu, kan, Bun?” cicitku.

Bunda mengulas senyum tipis seraya mengusap puncuk kepalaku dengan lembut. Tak lama, Bunda izin pamit keluar meninggalkanku yang termangu di atas ranjang seraya menjelajah setiap memori bersama Kak Azhar.

Kucoba menelaah setiap sikapnya kepadaku. Aku hanya tak ingin, pernikahan ini akan berujung kepada perpisahan. Karena perkara halal yang di benci oleh Allah adalah talak. Sebagaimana yang di riwayatkan dalam sebuah hadist.

Kumelangkah menuju kamar mandi lalu mengambil air wudhu. Kuraih tasbih yang tergeletak di atas nakas dan memutarnya seiring dengan shalawat yang kubaca.

‘Ya Rabb … aku harus bagaimana. Sejujurnya hati hamba masihlah hambar. Baik ia ataupun dirinya. Namun, engkau lah penguasa hati ini. Ya Rabb … hamba mohon berikanlah hamba jalan yang terbaik,’ ¬†rintihku.

***

Langit tengah bersedih. Gemericik air menari-nari membasahi permukaan bumi. Kemana arah mata memandang hanyalah kesunyian yang tercipta.

Aku suka hujan. Di mana bulir bening itu seperti pasukan yang menyuburkan tanaman. Memberiku ruang untuk bisa muhasabah dalam kesendirian. Jari-jari lentikku mengetuk pelan meja kayu di teras rumah. Pandanganku lurus ke depan. Pikiranku tengah bergelut memikirkan perbincangan Bunda waktu itu yang sampai dua minggu ini masih setia bersemayam.

Satu sisi, aku memang tak bisa menolak. Lagi harapan kepadanya hanyalah angan-angan. Tak ada kepastian yang membuat hati ini tenang.

Kugigit bibir bagian bawah. Mencoba pasrah dan menguatkan hati atas pilihan yang kini kian tercipta. Biarlah semesta yang mentakdirkan apakah dia atau dirinya yang akan menjadi teman kehidupan.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here