Tabir Cinta #17

0
124
views

“Kenapa, Kak?”
Aku hanya menoleh tanpa langsung menjawab pertanyaan Salma. Pandanganku menerawang jauh melihat sudut pondok dari balik balkon kamar Malik.
Kemarin. Aku masih benar tak bisa percaya. Aku mengela nafas berat. Hatiku menari-nari sembilu melukis luka. Mungkin, inilah teguran untukku. Bahwa diriku sempat berharap sosoknya hidup di sampingku.
“Kakak gak bisa apa-apa, Sal. Kalau memang sudah jodoh. Pasti akan tetap bersama,” gumamku pelan.
Salma mengusap bahuku dengan lembut. Menyalurkan kekuatan yang aku butuhkan saat ini. Sejenak, anganku menerawang. Mengenai semua barang-barang pemberian Kak Azmi dan sepucuk surat yang selalu menebar pupuk untuk hati.
Aku rindu pemberian itu. Atau lebih tepatnya aku rindu pengirimnya. Dia membuatku terasa berharga dari sekedar yang ia punya. Masih ingat jelas terekam dalam memoriku, suaranya yang mengalun merdu, dan tatapannya teduh.
“Iya, Kak. Coba saja dulu menerima pinangan Kak Azhar. InsyaAllah dia menjadi terbaik suami, Kakak.”
Kutatap Salma. Mencari kebenaran di kedua bola matanya. Ya. Benar. Aku harus membuka sedikit kesempatan. Karena aku tak tahu, bisa saja harapanku telah tak ada lagi ruang.
“Makasih, Sal.” Aku mengulum senyum. Senyum yang penuh dengan luka dan duka di dalamnya.

***

Luka tak selalu dilukiskan dengan air mata. Karena, sebab adanya lukalah yang membuat diri berdiri dengan tegak.
Beberapa minggu ini, aku mencoba menepis sosok Kak Azmi. Mencoba menyibukkan diriku dengan berbagai hal termasuk, mengajar. Selain itu, aku beberapa kali di undang dalam kegiatan di universitas daerah Sumedang. Setidaknya, kesibukkan itu membuat diriku lupa tentangnya. Walau, mungkin itu tak bisa.
Pelan. Aku mencoba membuka hati untuk Azhar. Hampir satu bulan kami saling berkenalan, walau di bantu para keluarga. Kami tak pernah saling bertukar nomor ponsel, atau menjanjikan pertemuan di luar rumah. Azhar, selalu datang menemui keluargaku terlebih dahulu sebelum menyampaikan maksud jika ia ingin berbincang denganku.
Kuamati dirinya. Tak ada cela untuk dirinya. Tapi, hatiku masih selalu berpaling. Entah kenapa!
“Ngelamun Ustadzah?”
Aku mendongak. Mendapati Rara tengah duduk di kursi meja makan seraya mengulas senyuman. Aku menghela nafas panjang seraya mengangguk. “Iya,” jawabku.
“Kapan, ya, Ustadz Malik pulang?”
Aku mengangkat bahu acuh. Sementara pandanganku masih fokus kepada mangkuk yang tengah aku cuci.
Rara terus bercerita mengenai percakapannya dengan Malik minggu kemarin. Katanya, Malik tak pernah memberitahukan kepada Rara kapan ia akan pulang.
Kuacuhkan perbincangan Rara. Biarkan dia bersuara sampai puas dan lelah. Aku benar-benar kesal kepada Malik. Tapi, ya, sudahlah. Semua telah terjadi. Lagian, aku sudah memulai membuka hati untuk Azhar.

***

Keluarga besar Azhar datang ke rumah. Bersama keluarga Bunda Zahra. Abi menyambut mereka dengan hangat. Menyiapkan wejangan dan lainnya.
Ambu Azhar begitu antusias dalam menyambutku. Kini para kaum hawa tengah berkumpul di ruang keluarga. Sementara kaum adam di ruang tamu.
“Jadi mau kapan di lamar sama Azhar, Nak?” tanya Ambu Azhar seraya menggenggam sebelah tanganku.
Aku gugup. Jelas, aku tidak tahu sampai kapan membuat Azhar menunggu. Sebenarnya, sudah sejak lama, Azhar melamarku. Hanya aku selalu memintanya waktu lebih banyak untuk menjawab.
Dengan sabar. Dia menunggu. Tanpa marah padaku. Aku cukup menyukai sifatnya yang terkesan kalem. Selain itu, aku juga tak bisa terus menunggu kabar dari Kak Azmi. Aku juga tak yakin, perasaan dan hatinya masih tetap melabuhkan namaku.
Mungkin inilah yang dimaksud. Bahwasannya, cinta itu tak harus memiliki. Dan tak harus bersama.
Dengan gugup, aku menjawab, “Sebentar lagi, Ambu.”

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here