Tabir Cinta #16

0
127
views

Aku masih tak menyangka. Bahwa diriku kembali bertemu dengan bulan Juni di hari Sabtu. Namun, waktu terlalu bergulir dengan cepat. Dan begitupun dengan Malik yang tak kunjung kembali pulang.

Rinduku mulai menggeliat dalam dada. Sepiku mulai meronta meminta pergi. Tapi, aku masih sendiri dan ia tak ingat pulang lagi.

Aku masih ingat jika diriku mengirimnya pesan mengenai bersama siapa ia ke Mukalla. Tapi, Malik tak membalas pesanku. Dia benar-benar menghilang bagaikan di telan bumi.

Begitupun dengan akun Kak Azmi. Setelah dia mengupload photo waktu lalu. Kabarnya tak lagi terendus.

Sore ini, aku tengah menikmati pemandangan suasana pondok pesantren dari balik balkon kamar Malik di rumah Bunda Zahra. Sudah dua bulan, aku mengajar di pondok. Karena, jujur aku merasa kesepian tinggal di Bandung.

Hampir empat tahun telah berlalu. Semua tak lagi sama. Kabar bahagianya, Ulfah kini tengah mengandung anak kedua. Anak pertamanya berusia satu tahun lebih.

Kabar bahagia kembali menyusul, adikku, Salma telah ada yang mengkhitbah. Yang aku tahu, calonnya seorang anak pengusaha. Aku tak tahu pasti usaha apa yang ia rintis. Tapi yang aku lihat saat lelaki itu ke rumah Bunda. Parasnya sangat elok, badannya tegap, dan berambut sedikit pirang. Ya, cukup mirip bule.

Aku tertawa getir dalam hati. Adik-adikku telah lebih dulu melangkah. Sementara aku, yang sudah cukup umur, masih sendiri.
“Ngapain di sini, Sayang?”

Aku menoleh, mendapati Bunda tengah berdiri di belakangku. Senyuman indah tergambar di bibirnya. Aku tersenyum sembari menatapnya, “Tidak, Bun. Enak aja lihat pemandangan sore-sore gini.”

Bunda terkekeh, “Iya. Memang enak lihat pemandangan dari balkon kamar Malik.” Sejenak Bunda terdiam. “Sudah lama, ya, Malik tidak pulang.”
Aku menatap Bunda dengan sendu sembari mengangguk lemah.
“Bunda juga kangen sama Malik. Kemarin dia bilang katanya sebentar lagi akan pulang.”

Tunggu … aku mengerjap beberapa kali. Mencerna ucapan Bunda. Aku tak salah dengar jika Bunda mengucapkan tentang Malik. Apakah Malik memberi kabar kepada Bunda? Setahuku, dia bahkan tak membalas segala macam pesanku padanya.

“Malik menghubungi Bunda?” Aku menatap Bunda penuh tanda tanya.
Bunda mengangguk, “Iya. Sering, kok, sayang. Hampir setiap malam minggu selalu menghubungi bunda.”

Kini dadaku hampir meledak. Aku benar-benar marah kepadanya. Teganya ia membuatku khawatir siang dan malam. Dan itu berlangsung selama empat tahun lamanya. Aku menggeleng, mencoba menepis gemuruh di dadaku.

“Kamu kenapa nak?”
Aku menggeleng, “Tidak, Bun. Tidak apa-apa.” Aku berbohong. Sungguh, saat ini aku merasa tidak baik-baik saja. Aku merasa sesak. Seribu tanya dalam benakku. Mengapa ia memperlakukanku begitu?
“Bunda kembali ke dalam, ya. Bunda mau ke pondok.” Bunda mengulum senyum lalu berlenggang pergi. Sampai raganya tak terlihat lagi oleh netraku.

Seketika, air mataku menitik. Malik sungguh kejam. Teganya ia begitu kepadaku. Apakah aku berbuat salah kepadanya? Aku tersedu. Semilir angin menampar wajahku. Kugigit bibir bagian bawah untuk menahan rasa sakit.

***

Pintu kamarku terbuka. Sesosok wanita masuk seraya mengulum senyum. Wajahnya selalu tampak segar. Dan penampilannya sungguh sangat menawan.

Ia duduk bersisian di ranjangku. Menatapku dengan senyum yang masih tercetak jelas di bibirnya.

“Ada apa, Bun?” Iya. Dia adalah Bundaku. Tapi, tak bisanya Bunda datang ke kamarku malam-malam seperti ini.

“Ada pria yang mau mengenalmu.” Ucapan Bunda sontak membuat mataku membulat. Aku masih terdiam tak mengeluarkan sepatah katapun. “Dia anak Kyai Zainudin di Semarang. Keluaran pondok pesantren di Semarang. Ia kuliah di Kairo. Minggu kemarin baru pulang.”
Aku masih menyimak tak bersuara.

“Kamu, kan, masih sendiri, Al. Bunda harap kamu mau berkenalan dengannya. Nanti biar Bunda yang berbicara dengan Abi.”
Aku masih membisu. Bingung harus berucap apa. Tapi, aku tak bisa menepis. Ada rasa enggan dan ya … aku masih menunggu kabar seseorang yang dulu pernah mengetuk hatiku. Sesosok pria yang pernah merajai bait-bait do’aku. Sesosok pria yang selalu tampil maskulin di depanku. Walau, aku tak tahu kini bagaimana kabarnya.

“Ini photonya.” Bunda menyerahkan ponsel yang menampilkan sosok yang Bunda tadi ceritakan. Wajahnya cukup tampan, berkumis tipis, beriris mata hitam, berkulit putih. “Tampan, kan?”

Aku mendongak menatap Bunda setelah tadi menunduk melihat ponsel, “Mmm … lumayan, Bun.”

Dahi Bunda mengernyit, “Loh, kok, lumayan? Ini tampan Al.”
Aku menyengir. Menampilkan deretan gigiku yang rapi. Dalam pikiranku, segudang kata tengah aku rangkai untuk mengutarakan maksud diriku.
“Mmm … Bun. Saat ini aku masih belum memikirkan menikah,” ucapku pelan. Kutatap lamat-lamat manik mata Bunda yang tampak membesar setelah aku berucap demikian.

“Kapan lagi, Al? kamu sudah berumur.” Bunda menaikan volume bicaranya. Aku mengangguk menyetujui ucapan Bunda.
“Tolong beri Alawiyyah waktu, ya, Bun.” Aku mencoba selembut dan sepelan mungkin berbicara. Mencoba menarik hatinya, agar senantiasa mengerti diriku. Aku tak bisa memaksa hatiku. Aku takut hatiku kembali terluka. Walau selama empat tahun ini masih kosong tak berpenghuni.
Bunda menyetujui. Ia memberi aku waktu untuk berfikir. Tak lama, Bunda izin pamit dan meninggalkanku. Pelan. Aku berbaring. Memeluk guling. Menatap langit-langit seraya merenung sendiri.

***

“Ustadzah Aliyah?”
Aku menoleh saat mendengar suara seseorang memanggil namaku. Nada suaranya terdengar berat, dan aku yakini itu seperti suara laki-laki.
Aku berbalik, menghadap sosok lelaki berperawakan tinggi, bertubuh atletis, berkumis tipis, beralis tebal, dan iris mata hitam. Tunggu! Wajahnya tampak tak asing aku lihat. Di mana aku pernah melihatnya? Sejenak merenung. Akhirnya aku tahu siapa dia. Dia … orang yang di kenalkan Bunda, malam itu.

“Ustadzah Aliyah?” Dia kembali bertanya.

Aku mengangguk sebagai jawaban. Dia tersenyum puas. Dia melangkah mendekati. Sekitar lima langkah antara jarak diriku berdiri dengan dirinya.
“Saya Azhar. Kebetulan sedang ada perlu ke pondok.” Dia berkata lembut dan senyuman tak luntur tercetak dari bibirnya.

Aku kembali mengangguk sebagai jawaban. Nyatanya, aku mendadak seperti orang bodoh. Aku tak tahu harus berucap apa dan harus bagaimana. Aku harus kembali mengulang. Aku jarang dekat dengan lelaki kecuali, Malik dan Abi.

“Ustadzah Zahra sering bercerita kepada saya mengenai Ustadzah Alawiyyah. Dan … sepertinya hari ini beruntung, saya bertemu Ustadzah Alawiyyah di sini.”

Dahiku berkerut, “Kenapa kamu tahu saya? Maaf.”
Dia tersenyum. Kedua tangannya dilipat di dada, “Sepertinya Ustadzah Zahra belum bercerita.”

Bercerita? Tentang apa? Dalam benakku mulai banyak timbul tanya. Tunggu. Aku mendadak takut dan cemas. Aku tak ingin dijodohkan seperti Ulfah dan Salma. Aku tak ingin.

“Cerita apa?” Nada suaraku mendadak gemetar. Aku tak bisa menyembunyikan kecemasan yang bergelayut di benakku, yang membuat kedua tanganku mendadak basah.

“Sebenarnya, sejak saya masih kuliah di Kairo. Abah saya dan Kyai Wildan selalu berbincang dan bisa dikatakan dekat. Tapi … sewaktu-waktu Ustadzah Zahra bilang ke Abah saya, jika beliau punya anak perempuan yang sudah dewasa. Aku sempat tak percaya. Karena yang aku tahu, anaknya hanya Ulfah, Salma dan Ulfaz, “jelasnya dengan tenang.
“Lalu?” Aku kembali bertanya.

“Dari sana Ustadzah Zahra sering bercerita kepada Ambu saya mengenai Ustadzah Alawiyyah. Bahkan … Ambu saya sempat terkagum-kagum, ” ucapnya sembari mengulum senyum.

Aku semakin gusar. Ternyata, semua ini telah terjadi sejak lama. Sungguh. Aku tak berbohong. Azhar itu tampan. Tapi, aku tak menyukainya.
Aku berdehem. Lalu izin pamit meninggalkannya dan kembali berjalan menyusuri koridor menuju kelas empat santriwati. Ini masih pagi, dan aku masih ada jadwal kelas mengajar. Bagaimanapun, aku sangat tak enak karena meninggalkannya tanpa persetujuan. Baiklah, sejenak aku melupakan Azhar.

***

Semakin hari, aku semakin di buat gelisah dan berkecambuk marah. Aku mulai kesepian. Dan entahlah aku kesal terhadap Malik. Aku ingin bercerita. Bahwa keadaan di Indonesia sudah tak lagi sama.

Begitu pun dengan Bunda. Ia … semakin gencar membicarakan Azhar siang dan malam saat bertemu denganku. Aku mulai risi. Dan jujur aku tak suka dengan Azhar.

Malam ini, luka di hatiku kembali menganga. Nyatanya takdir menuntunku dalam lautan tangisan. Aku ingin teriak dan meminta hak. Tapi itu hanya nafsuku. Sementara ragaku selalu patuh, diam dan membisu.

Bunda memanggil Abi, dan kabar dukanya, Abi datang ke Tasik. Aku pikir. Ini hanya pertemuan keluarga biasa. Tapi … semua mulai tak terduga. Keluarga Kyai Zainudin, keluarga besarnya Azhar, datang ke Tasik.
Aku enggan keluar dan turun ke lantai dasar untuk bergabung dengan keluarga besar itu. Aku takut. Aku merasa belum siap kembali membuka hati. Tak dielak, ada secarik nama yang masih aku tata rapi dalam sanubari.

Pandanganku menerawang jauh ke depan. Kerlap-kerlip lampu penduduk menarik penglihatanku. Kubiarkan jendela kamarku terbuka dan wajahku dibiarkan ditampar belaian angin malam.

***

“Suka jadwal ke daerah mana Ustadzah?”
Aku diam. Seluruh tubuhku terasa membeku. Aku masih tak percaya sekarang aku duduk diantara mereka. Keluarga besar yang dari tadi aku hindari. Hatiku membengkak. Dudukku terasa tak nyaman. Pandanganku menunduk, menatap tautan antara kedua jari tanganku.

Usapan lembut di bahuku membuatku tersadar. Aku mendongak dan mengerjap beberapa kali.

“Ah, ada apa, Bun?” tanyaku pada Bunda yang duduk tepat di sampingku. Bunda memicing mata padaku.

“Kamu kenapa, Al? Di tanya sama Ambu Azhar, kok, diem?”
Aku mengalihkan pandanganku menatap sosok wanita paruh baya dengan balutan baju gamis warna hitam dengan kerudung yang bewarna senada. Aku tersenyum tipis, “Mmm … daerah Bandung ke banyakan, Ambu,” jawabku seraya meremas sebelah tanganku.

“MasyaAllah. Jaga kesehatan, ya, Ustadzah. Ambu semakin kagum. Apalagi kalau menantu ambu seperti Ustadzah Alawiyyah ini.” Ambu Azhar sedikit terkekeh bersama seorang wanita yang duduk disampingnya.
Aku hanya diam tak bersuara. Membiarkan kedua pihak keluarga berbincang. Sementara Abi bergabung dengan Kyai Zainudin dan Ayah Wildan di ruang tamu.

Aku semakin gusar saat Ambu Azhar memintaku dan Azhar saling berbincang di teras rumah. Benar-benar di luar dugaanku. Tapi, aku tak bisa menolak. Kedua keluarga tampak hanyut dalam obrolan.
Salma mengajakku keluar. Di teras rumah sudah ada Azhar duduk di kursi kayu. Dia memakai baju koko abu dipadukan dengan celana hitam. Dadaku semakin berdebar. Aku meremas sebelah tangan Salma untuk menyalurkan kegugupan.

“Assalamualaikum, Ustadzah.” Azhar bangkit dari duduknya untuk menyambutku.

“Waalaikumssalam.” Aku dan Salma duduk di hadapannya yang terhalang oleh meja bundar. Seperti biasa, senyuman selalu tercetak di bibirnya.

Aku menunduk dalam-dalam. Entahlah, aku mulai merasa tak tenang, gusar, dan cemas. Aku takut semua ini berujung kepada akad. Aku tahu percis bagaimana perjalanan kisah Ulfah dan Salma yang berawal dari pertemuan keluarga seperti ini.

“Bagaimana kabar Ustadzah?”
“Alhamdulillah.” Singkat. Itulah jawaban yang aku berikan. Sebenarnya aku memang merasa tak enak berbicara singkat seperti itu, tapi aku juga tak mempunyai keberanian untuk bertanya sebaliknya.

Azhar mengulas senyum, “Alhamdulillah. Senang jika Ustadzah sehat.” Sejenak Azhar terdiam. “Sudah berapa lama Ustadzah mengajar di pondok?”

“Sekitar dua bulan.”
“Saya juga sekarang-sekarang akan mengajar di salah satu Universitas di Malang. Alhamdulillah, bulan depan bisa langsung mengajar.”
Aku tersenyum. Walau mungkin senyumanku tak akan terlihat karena tertutup niqob.

Lama. Semakin lama. Azhar terus mengajakku berbincang. Dari gaya bicaranya, aku tahu Azhar bukanlah orang biasa. Tata bicaranya bagus dan tertata. Dia juga membicarakan bisnis yang tengah ia rintis. Sebuah percetakan buku di kota Surabaya.

Aku semakin minder. Dia bukanlah gayaku. Bahkan, katanya, dia sudah menghasilkan uang dalam sebulan sekitar sepuluh juta. Selain dari perusahaan percetakannya, dia juga tengah membuka toko buku dekat kampus-kampus wilayah Jakarta, Malang dan Bandung.

Aku tak menyangka. Ternyata sosok di depanku ini adalah pria pembisnis. Karena yang aku tahu, Azhar itu adalah santri dan anak Kyai.
“Tapi … semua itu tidak seperti dugaan Ustadzah.” Aku mengernyit. Bingung dengan ucapan Azhar. Seolah dia tahu tentang apa yang tengah aku pikirkan tentang dirinya.

Azhar menunduk, “Harta itu bukanlah menjadi jaminan manusia bisa berdiri di atas. Bukan pula menjadi jaminan kita selamat di dunia dan akhirat. Tetapi, kaya itu titipan. Seperti halnya, jika suatu hari Ustadzah menjadi istri saya. Maka itu adalah amanah dan titipan dari Allah.”

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here