Tabir Cinta #15

0
96
views

Hari demi hari, bulan demi bulan, namanya sudah tak lagi aku dengar. Aku beringsut dari tempat tidur. Menatap diri di pantulan cermin, sangat tampak wajahku yang mulai memucat.

Pelan. Aku melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air wudhu. Setelah puluh menit kuhabiskan untuk membersihkan diri, aku keluar. Menggelar sejadah lalu melaksanakan shalat sunnah tahajud.

Air mataku kembali menitik. Aku masih ingat, pertemuanku dengan Idris waktu itu. Masih jelas terbayang, wajahnya yang pucat, dan matanya yang sayu. Aku tak menyangka dua bulan tanpa kabar. Nyatanya Idris telah berpulang. Kuharap ia tenang di sana. Di sosok yang baik. Sangat baik sampai meninggalkan secercah rindu.

Walau rasa cintaku telah hilang. Tapi … setitik rasa rindu selalu menyusup. Mantan suamiku, ya, tepatnya aku rindu mantan suamiku.

Adzan subuh berkumandang. Aku kembali berdiri lalu melaksanakan shalat subuh. Setengah enam pagi, aku tak kunjung keluar kamar. Malah lebih asyik membaca Al-Qur’an. Sekitar pukul delapan pagi, aku kembali mengambil air wudhu lalu melaksanakan shalat sunnah dhuha.

Suara ketukan pintuku. Aku berjalan dan membuka pintu. Malik menyembul.

“Kakak, sarapan yuk.” Aku hanya menatapnya tanpa menyahutnya. Malik menatapku dengan telisik, “Kakak masih sedih? Itu sudah berlalu, Kak.”

Aku menghela nafas berat, lalu mengangguk setuju.

Malik memegang kedua bahuku dan menatapku lamat-lamat, “Besok … Malik akan pergi ke Yaman. Kakak harus sehat. InsyaAllah jodoh Kakak pasti lelaki yang terbaik.”

Aku tersenyum sebagai jawaban.

“Semua telah berubah, Kak. Tidak akan lagi sama. Kakak harus kuat. Semua lelaki yang pernah hadir dan sekarang pergi. Mungkin … itu sebagai jawaban do’a, Kakak.”

“Maksudnya?” Aku bergumam pelan.

“Semua orang selalu berdo’a ingin jodoh yang terbaik. Disaat seseorang pergi dari hidup kita. Itu tandanya dia bukanlah yang terbaik. Apa yang menurut kita baik belum baik menurut Allah,” ujar Malik dengan lembut.

Aku tersenyum menanggapi. Malik, adikku, yang selalu membuatku tenang. Temanku, sahabatku, dan tentunya keluargaku.

Kami beriringan menuju dapur untuk sarapan pagi. Ya, walaupun sedikit kesiangan. Karena sinar matahari sudah mulai terang.

Rumah tampak sepi. Mba Indah dan Rara izin pamit pulang ke kampung halaman, di Tasik. Biasanya jika ada mereka, rumah tak terlalu sepi. Aku selalu mengajak mengobrol atau terkadang membahas makanan.

“Besok jangan nganter Malik ke bandara, ya, Kak,”pinta Malik sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

Aku menatapnya, “Kenapa?”

“Rara, kan, pulang. Jadi … nggak ada yang nganter Kakak. Aku takut Kakak kenapa-napa.”

Aku mangut-mangut tanpa bertanya lagi. Ya. Dia memang posesif dan super perhatian. Tak ada alunan musik ataupun percakapan lainnya. Suasana pagi ini benar-benar hening.

Tapi … ada sesuatu yang mengganjal dadaku. Aku masih penasaran kabar Kak Azmi. Apakah dia telah menikah? Jika aku memikirkan itu, entah kenapa hatiku kembali terasa tercabik. Seperti ada luka yang menganga di ulu hatiku. Namun … hanya Malik yang tahu persis bagaimana kabar Kak Azmi, karena, ya, dia termasuk orang yang dekat dengan Kak Azmi.

Aku tak menepis. Rasa keinginan tahuku semakin besar. Apalagi akhir-akhir ini Malik sering keluar rumah dan entah apa terlihat sibuk. Aku tahu dia akan kuliah, tapi dari gelagatnya seperti ada yang ia sembunyikan.

“Kenapa Kak?” Pertanyaan Malik sukses membuyarkan lamunanku. Aku mendongak menatapnya lalu menggeleng lemah. Aku terlalu malu untuk bertanya mengenai Kak Azmi yang statusnya mungkin telah berkeluarga.

***

Kutatap lekat-lekat wajahnya. Hidung mancung, kulit putih, beriris mata hitam, berbadan kokoh, sukses membuat rembasan di kedua pelupuk mataku.

“Jangan menangis,” tegur Malik dengan lembut. Ibu jarinya menyeka air mata di pipiku dengan lembut. Pagi ini, aku merasakan kesedihan yang luar biasa. Adikku, Malik akan pergi ke Yaman.

Aku kembali terisak. Sementara Malik dengan telaten menyeka air mataku tanpa lelah.

“Jangan nangis terus, Alwi. Malik, kan, mau belajar ke Mukalla nya.” Abi ikut bersuara yang tengah berdiri tepat di sampingku.

Aku menggeleng lemah, “Enggak, mau. Alwi kesepian kalau nggak ada Malik.” Aku berucap dengan jujur. Ya, aku pasti rindu kepada Malik. Sahabatku, pendengar setiaku.

Aku masih ingat, kemarin setelah sarapan pagi. Kami menghabiskan waktu berdua. Di mulai bermain PS, jalan-jalan sore naik sepeda di komplek rumah lalu malamnya kami makan malam di restaurant.

Jika ada orang selain aku yang diperlakukan selembut mungkin oleh Malik mungkin akan meleleh dan ya … bisa dikatakan akan mudah jatuh hati.

Bahkan aku ingat, sewaktu di restaurant banyak mata dari kaum hawa yang menatapnya tanpa ragu. Malahan aku yang duduk bersamanya merasa malu. Selain itu, Malik sosok yang humoris. Dia sering melontarkan lelucon yang menurutnya sangat-sangat receh.

“Jangan nangis lagi, ah. Nggak cantik!” tegur Malik dengan ketus. Aku cemberut, benar-benar adik menyebalkan!

“Kalau Malik ada waktu, kapan-kapan Malik pulang.”

Aku hanya terdiam tak menanggapi. Sebenarnya kenapa dia harus kuliah, dia, kan sudah pintar. Aku kembali cemberut.

“Yasudah, diam di rumah, ya, Alwi. Abi mau nganterin Malik ke bandara.” Abi mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas meja.

“Aku ikut.” Kutatap keduanya dengan tatapan memohon sembari menangkupkan kedua tanganku, memohon.

Sejenak, Abi dan Malik saling melempar pandangan. Namun … jawabannya tak bisa aku terima. Abi tak mengizinkan aku ikut.

“Kenapa, Bi? Malik bilang kemarin karena Alwi nggak ada teman ke bandara. Sekarang ada Abi kenapa gak boleh?” Aku menatap keduanya penuh keheranan. Pasalnya, tak ada alasan kuat bagi keduanya tak mengizinkan aku ikut. Kecuali, jika ada yang tengah disembunyikan.

“Jangan, ya, Kak. Nanti Kakak nangis di sana.”

Apa? Aku masih tak salah dengar ejekan Malik barusan? Ya ampun mengapa adikku begitu menyebalkan. Sekarang.

Aku mencebik kesal. Sementara Malik terkekeh, puas. Tak berlama-lama, mereka akhirnya pamit dan berlenggang pergi meninggalkan aku sendiri.

Kumelangkah menuju ruang keluarga. Menyalakan televisi dan menonton siaran film kartun. Doraemon. Namun … sekelabat hal membuatku tak enak duduk. Aku yakin ada sesuatu yang Malik sembunyikan. Ini tak biasanya dia menolak permintaanku. Malik tak pernah begitu.

Aku semakin gusar. Tapi … walaupun aku tahu apa, sekarang tak ada gunanya. Mobil yang membawa Malik telah pergi membelah jalanan. Aku hanya berharap, semoga dia tak lama di Yaman.

***

Sabtu pagi di bulan Juni. Sudah hampir dua minggu Malik pergi. Mba Indah dan Rara telah kembali ke rumah. Mengerjakan pekerjaan seperti biasa.

Dan seperti biasa juga, aku kembali mengisi kajian dan jadwal tausiah di dalam dan luar kota. Semakin hari jadwalku semakin sibuk. Sampai-sampai aku jarang membuka ponsel.

Ah. Ya. Dimana ponselku? Tanganku terus bergerak menyibak selimbut, bantal, guling, untuk mencari benda pipih itu. Lama aku mencari. Namun … netraku tak sengaja melihat ke kolongan ranjang. Dan … ya, benda itu ada di sana.

Kuraih ponselku. Menyalakannya karena ponsel itu mati. Baterai ponsel masih penuh. Jari tanganku bergesekan dengan layar dan membuka aplikasi Instagram.

Banyak sekali orang-orang mengupload gambar diri, pemandangan, atau ya entahlah apapun itu. Jariku terus bergesekan dengan layar. Dan … sebuah photo dari akun Kak Azmi sukses membuat kedua mataku membulat.

Photo Kak Azmi dan Malik dengan memakai gamis putih, peci putih, dan tas selempang hitam yang tersampir di bahu. Dilihat dari pemandangannya, aku tahu pasti itu adalah Mukalla. Itu Yaman.

Tidak! Aku tak salah lihat? Jangan dikatakan jika Malik dan Kak Azmi ke Yaman? Kuliah bersama?

Lalu? Bagaimana dengan pernikahannya? Tunggu … ini terlalu membuatku pening. Kubaca caption di photo itu “Alhamdulillah rencana Allah selalu indah” . Benarkah semua ini?

Kucari nama akun Malik dan mengirimnya sebuah pesan. Tentunya aku bertanya dengan siapa ia pergi ke Yaman. Aku tak akan langsung bertanya mengenai Kak Azmi.

Aku terus bertanya-tanya dan menerka. Tentang dirinya dan segalanya yang berkaitan dengan dirinya.

‘Kak Azmi … apakah kamu belum menikah?’ gumamku dalam hati.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here