Tabir Cinta #08

0
83
views

“Assalamua’laikum Warohmatullahi Wabarakaatuh …
Maaf Ustadzah, saya Azmi anak Bu Aliyah. Bagaimana kabarnya? Saya harap Ustadzah selalu sehat. Ehm … maaf saya jadi kirim surat kepada Ustadzah. Dan … tolong diterima bunganya Ustadzah.

Wassalam.”

Aku tersentak mendapat sepucuk surat dari Kak Azmi. Apalah tujuannya sekarang mengirimku sebuah surat? Dahiku sedikit mengerut. Sebelah tangan kananku menggenggam surat dan sebelah kiri sebucket bunga mawar merah.

Ku simpan sepucuk surat dari Kak Azmi dan keluar dari kamar membawa sebucket bunga mawar pemberiannya. Berjalan ke dapur, mencari Rara. Netraku menoleh, mencari sosoknya yang kini tak ku dapati saat di dapur.

“Rara?” panggilku.

Selama beberapa menit, sosoknya masih tak muncul. Aku menghela nafas berat dan duduk sejenak di meja makan. Netraku memandang sebucket bunga mawar pemberian Kak Azmi. Tentunya indah dan wangi. Tanganku bergerak, meraba setiap kuncup bunga mawar seraya menyunggingkan senyuman.

Sayup-sayup, denger langkah kaki seseorang membuatku menoleh ke sumber suara. Rupanya, sosok yang tengah ku cari memunculkan jati diri.

“Dari mana kamu Ra?” spontan aku bertanya yang kini perlahan ia menarik kuris di meja makan dan duduk tepat didepanku.

“Habis dari Kak Malik Ustadzah. Tadi dia memintaku memotong buah mangga.”

Jawaban Rara langsung mendapat tatapan aneh dariku. Pasalnya, ada gelagat yang mencurigakan dari Malik kepada Rara. “Malik dimana?” tanyaku lagi.

“Kak Malik sedang ada di kamar atas Ustadzah,” jawab Rara dengan nada rendah.

“Gak ada apa-apakan sama Malik?”

Seketika Rara mendongak, menatapku. Dia menggeleng keras. “Tidak ada apa-apa Ustadzah.”

Aku hanya mangut-mangut mendengar jawaban Rara. Semburat keterkejutan nampak jelas di wajah Rara. Sungguh aku ingin terkekeh. Tapi, tentu aku menahannya.

“Bisa tolong rawat bunga ini,” ucapku seraya memberikan sebucket bunga mawar pada Rara. “Dan tolong masukin ke vase gitu ya, kasih air, biar gak layu,” lanjutku. Rara hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Saya ke kamar dulu ya,” ucapku seraya beranjak berjalan ke kamar. Mengingat hari semakin larut dan tubuhku yang semakin lelah. Tanganku terhenti memegang knop pintu saat mendengar suara Abi memanggil namaku dari balik kamarnya.

“Labaik,” seruku.

“Masuk Al, gak dikunci.” Perlahan, aku berjalan, memegang knop pintu kamar Abi dan membukanya. Setelah hampir satu minggu lebih, akhirnya aku bisa bertemu Abi. Ada rasa gugup yang menyelusup. Dengan hati-hati aku masuk dan mendapati Abi yang tengah duduk di bibir ranjang.

Bergegas aku menutup pintu dan berhambur mencium punggung tangan Abi takdzim. Tangan kekar Abi membelai kepalaku lembut.

“Gimana kabarnya Al? Baik?” Aku mendongak menatap Abi saat Abi bertanya. Ada binaran indah di netra Abi membuat dadaku menghangat.

“Alwi baik Bi.”

Aku beranjak duduk disebelah Abi seraya menunduk tak sanggup menangkat kepalaku.

“Jangan dekat-dekat dengan lelaki ya Al. Jangan pula kamu mikirin laki-laki. Hati-hati sebagai perempuan, Abi gak bisa terus mantau Alwi 24 jam.”

Aku hanya bisa tenggelam dalam lamunan seraya mencerna semua ucapan Abi yang lembut. Aku sudah bisa menyakini, jika Abi tau siapa yang mendekatiku dan siapa yang aku pikirkan.

Setelah cukup lama aku terdiam, Abi kembali melempar pertanyaan dan candaan kepadaku hingga larut malam mengetuk kami agar berhenti berbincang. Perasaanku cukup membaik, tatkala kini diri telah kembali ke kamarku.

Sepucuk surat menjadi perhatian netraku yang tergeletak diatas nakas. Sejenak terdiam. Namun, aku menepisnya hingga berbalik, memunggungi nakas yang terdapat sepucuk surat itu. Pandangku perlahan gelap hingga akhirnya terlelap.

***

Aku tak mengerti apa yang terjadi pada Kak Azmi. Malam kemarin ia memberikan sepucuk surat dan sebucket bunga mawar. Tapi sekarang, dia malah terlihat menghindar saat berpapasan denganku di koridor rumah sakit.

Setelah mengisi jadwal di rumah sakit tempat Kak Azmi bekerja, aku kembali mengisi jadwal di daerah Cimahi. Rasa lelah dan penat tentu terasa olehku, terlebih Rara yang mengemudi mobil.

Sepanjang perjalanan, aku terus menerka sikap Kak Azmi, aneh. Suara adzan berkumandang dengan merdu membangunkan dari lamunan. Suara itu membuat aku dan Rara harus berhenti dan beristirahat di masjid yang mengarah menuju rumah Kak Azmi.

Aku melirik arloji hitam kecil yang melingkar disebelah tanganku. Sebentar lagi, menuju rumah Kak Azmi. Setelah shalat ashar, aku dan Rara langsung melaju ke tempat. Seperti biasa, Liana, adik Kak Azmi telah menunggu di gerbang pintu rumahnya. Raut wajahnya selalu saja menyuguhkan kehangatan tatkala aku datang. Bergegas aku keluar saat Rara telah berhenti di pelataran rumah Bu Aliyah. Rara izin pamit. Seperti biasa, dia akan menjemputku jika telah pukul setengah enam sore.

“Assalamua’laikum.” Seraya melangkah menuju Liana aku berucap salam. Liana menyambutku dan menyalamiku dengan takdzim.

“Wa’alaikumssalam. Ayo Ustadzah masuk.” Rara berjalan lebih dulu masuk setelah menawariku. Setelah aku duduk di karpet beludru putih yang selalu menjadi tempat mengaji, Bu Aliyah datang dengan membawa nampan berisi minuman dan makanan ringan. Nampan itu disuguhkan kepadaku. Aku berucap terima kasih seraya mengulum senyuman.

“Ustadzah kemarin di Tasik ya?” tanya Liana dengan antusias.

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelah beberapa menit berbincang, akhirnya aku memulai pengajian bersama Liana dan Ibu Aliyah. Mereka tampak khusyuk mendengarkan penjelasannku.

Seusai pengajian, Liana menghampiriku tatkala aku tengah berjalan keluar rumah. “Ustadzah, ini ada titipan dari Kak Azmi.”

Aku menerima pemberian dari Liana. Sebuah kotak yang dibalut kertas kado berwarna biru dengan motif bear. Aku terus memperhatikan benda yang kini berpindah di tangaku. Sesaat aku teringat, sedari tadi Liana dan Ibu Aliyah mengaji Kak Azmi belum pulang. Walau aku ragu, namun tekad tak memberhentikanku untuk bertanya.

“Memang kemana Kak Azmi?”

“Kak Azmi ada operasi dadakan kak. Tadi sempet wa Liana, jadi gak bisa ikut ngaji.”

Aku hanya mangut-mangut mendengar penjelasan Liana. Waktu semakin menekanku untuk pulang. Tak lama, Rara datang. Ia menepikan mobil di pinggir jalan tepat di depan gerbang rumah Bu Aliyah. Ia memberi suara klakson yang menandakan dia telah menunggu. Tak menunggu lama, aku izin pami pada Liana.

Setelah menunaikan shalat magrib dan isya. Rasa penasarannku terus bertambah tatkala netra ini melihat kotak kado yang tergelak diatas ranjang. Aku bangkit, melangkah menuju almari dan membuka mukena yang tengah ku kenakan dan menyimpannya. Kakiku kembali melangkah, duduk diatas ranjang dengan kaki yang disilangkan.

Perlahan, tangaku bergerak, menyobekkan kertas kado dan membuka kotak itu. Seketika aku tersentak, mendapati isinya baju abaya hitam yang indah dengan sedikit manik-manik yang mengkilau, glamor. Seperti biasa, disana terdapat sepucuk surat dengan kertas warna cream.

“Assalamua’alaikum Warohmatullahi Wabarakaatuh,

Ustadzah bagaimana kabarnya? Ku harap Ustadzah selalu baik. Semoga suka hadiahnya, dan maaf tidak bisa memberikannya secara langsung.

Wassalam.”

Ah … kenapa Kak Azmi mengirimku ini? Aduh aku malu sekali jika nanti berhadapan dengannya. Aku langsung bergerak tidur terlentang seraya memandang langit-langit rumah yang bercat putih. Anganku melayang, memikirkan semua perlakuan Kak Azmi kepadaku.

Tak lama, ponselku berdering. Aku menoleh, mencari bendah pipih yang tengah mengeluarkan suara. Dapat, segera ku raih benda pipih yang tergeletak diatas nakas. Ulfah, dia mengirim pesan. Lagi-dia dia curhat mengenai Kak Idris, yang membuat diriku seketika terdiam membisu. Ada nyeri yang tak jelas dimana asalnya.

‘Ah … andai kau tau Ulfah, aku selalu terluka tatkala kau bercerita mengenainya, Idris.’

Hanya gumaman kecil dalam hati untuk membalas kejujuran dalam hati. Walau dalam keadaan tertatih, aku kembali membalas pesan dari Ulfah. Sekedar memberikan kekuatan agar terus semangat dalam memperjuangkan Kak Idris. Pesan terkirim, segera ku simpan benda pipih itu di tempat semula dan memaksa memejamkan mata untuk menenangkan luka yang tengah menganga.

***

Dua bulan berjalan tanpa kabar dari Idris yang ku dengar, baik dari Ulfah atau Malik. Begitupun dengan Kak Azmi. Setelah pemberian baju abaya waktu itu, Kak Azmi tak pernah lagi ikut mengaji bersamaku bahkan tak pernah berpapasan jika aku mengisi tausiah di rumah sakit. Namun, dalam kurun dua bulan itu juga, sepucuk surat dan tentunya hadiah tak pernah tertinggal. Liana, selalu menjadi perantara barang dan sepucuk surat itu sampai kepadaku. Tentunya Kak Azmi pemberinya. Mulai dari sepatu, tas, gamis abaya hitam sampai berwarna, kerudung fasmina, dan jam tangan mewah.

Netraku menatap setumpuk barang pemberian Kak Azmi yang berada di pojok kamar. Aku mendesah, harus ku apakan semua barang ini dan apa motifnya? Semua surat ia kirim selalu berisi sama. Mengenai kabar dan semoga barangnya diterima. Jika ia menyukaiku, mengapa tidak datang dengan maksud yang jelas.

Tak ingin berasumsi lebih jauh. Aku melangkah keluar kamar dan berjalan ke dapur, duduk di meja makan. Netraku menoleh, kesana kemari mencari orang yang tak ada satupun ku temukan.

Sejenak aku menidurkan kepalaku, dan tangan sebagai bantalan diatas meja makan. Pikiranku masih sibuk memikirkan Kak Azmi. Ada rasa bersalah menyusup hatiku, mengingat selama itu juga aku tak pernah membalas sepucuk suratnya.

Tepukan lembut di pundakku membuyarkan lamunanku. Aku beranjak, menegapkan punggungku dan menoleh seseorang yang berdiri dibelakangku. Malik, dengan wajah tanpa dosa sedang menampilkan deretan giginya yang putih, rapih.

“Ada apa?” tanyaku dengan datar.

Malik berjalan dan duduk di kursi meja makan tepat disebrangku. “Kakak ngapain disini. Udah malem loh kak sekarang.”

Aku mendengus kesal seraya menatapnya. “Akhir-akhir ini kamu sibuk terus, dari mana Malik?” tanyaku lagi.

“Ada deh. Biasa.”

Malik meraih buah apel diatas keranjang yang ada dihadapanku. Mulutnya membuka dan perlahan memakan buah apel.

“Awas kalau kamu pacaran de.”

“Kenal Kak Azmi?”

Seketika aku terdiam mendengar pertanyaan Malik. Apa Malik tau? Ah gawat. Aku menatap Malik sehingga pandangan kami beradu. Belum sempat aku menjawab, dia kembali membuka suara.

“Kak Azmi itu dokter. Dua bulan yang lalu, dia datang kesini. Dia minta Malik ajarin dia ngaji setiap abis magrib. Makannya Malik sibuk. Dia suka nanyain kakak. Kakak kenal?”

Jadi, Kak Azmi belajar sama Malik. Pantas saja dia tidak pernah ku lihat dalam dua bulan kebelakang. Aku menunduk seraya menatap jariku tengah mengetuk-ngetuk meja makan.

“Kakak deket sama Kak Azmi?”

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here