Tabir Cinta #07

0
88
views

Memenjarakan rasa didalam sebuah gumpalan daging, rasanya teramat mencabik-cabik, menyakitkan. Semburat cahaya mentari, menari-nari saat ku tatap. Udara yang panas nan sesak, mengingatkanku kepada dia yang kini telah pergi membawa seberkas rasa yang tak bisa diselesaikan.

Netraku menerawang, menatap jauh langit yang berhiaskan awan. Suara alunan musik mellow yang diputar Malik terasa seperti mengejek rasaku yang tengah sekarat. Seketika aku menoleh, Malik yang tengah asik menikmati irama musik dan netranya yang fokus menerawang ke depan.

Aku kembali berpaling, melihat keindahan sepanjang perjalanan seraya menata hati untuk melihat senyuman wanita yang tengah mengisi relung hati laki-laki yang aku cinta. Aku memang tidak bisa berkata dusta, setidaknya ada sepenggal rasa yang masih tertata rapih dalam dada.

Awalnya, aku ingin menolak pergi ke Tasik, bukan apa-apa. Hanya belum siap jika harus bergulat dengan rasa setiap saat kembali. Aku berdehem, menetralkan rasa yang tengah berkecambuk. Cukuplah aku, yang merasakan dan menderita saat mencintainya. Agenda ke Tasik masuk dalam jadwalku, tatkala Bunda memerintahkan agar aku menjadi pengajar santriwati. Mau tidak mau, aku tak bisa menolak. Apalagi jika alasannya karena terluka atas cinta, sungguh, itu hanya alasan bodoh.

“Alhamdulillah, sudah sampai.” Ucap Malik dengan raut wajah yang sumrigah seraya perlahan melajukan mobil ke pelataran pondok. Tak lama, ia mematikannya dan turun tanpa mengajakku.

Aku menggeleng pelan, membuka pintu mobil dan turun, mengikuti Malik yang perlahan berjalan menuju rumah Bunda. Seperti biasa, netraku akan disuguhkan keramaian di rumah Bunda. Banyak santri khidmah di luar rumah, terlebih terkadang ada yang sedang main bola di pelataran pondok.

Bergegas aku melangkah, masuk ke dalam rumah Bunda seraya mengucap salam, bersamaan dengan Malik yang kini berada didepanku. Salma seorang diri, tengah duduk santai di sofa seraya membaca novel. Wajahnya sumrigah tatkala melihatku dan Malik berdiri diambang pintu. Novel yang ia pegang langsung disimpan diatas meja dan menghampiri kami.

“Wa’alaikumssalam Warohmatullah. MasyaAllah, ada kak Malik sama Kak Alawiyyah, ayo masuk kak,” ucap Salma seraya mencium tanganku takdzim. Malik menjadi pengecualian salam dari Salma, karena ayah dari Malik dan Salma berbeda. Salma mengulum senyum seraya menangkupkan tangannya didepan dada kepada Malik.

“Bunda kemana de?” tanyaku seraya perlahan berjalan masuk dan duduk di sofa yang diikuti Malik.

“Bunda sedang sibuk kak mengatur pesanan di dapur, atau mau aku panggilkan,” ucapnya seraya menatapku.

“Memang mau ada acara apa de?” tanyaku penasaran seraya menatap Salma. Sementara sebelah tanganku bergerak, membuka cadar yang tengah ku kenakan.

“Itu loh kak, mau ada calon Kak Ulfah.” Seketika aku tersentak, bukannya calon Ulfah adalah Idris atau … apakah hari ini ia akan dilamar oleh Idris. Mengapa secepat ini? Mengapa pula saat aku datang kemari semua ini terjadi?

“Kakak kenapa? Kok wajahnya jadi pucat gitu?” Pertanyaan Salma sukses membuatku tersadar dari lamunan. Aku mengulas senyuman dan menggeleng pelan. Tak ingin membuat Salma curiga, aku kembali bersuara.

“Kalau Ulfah dimana?”

“Kak Ulfah dari kemarin gak mau keluar dari kamar. Aku kurang ngerti sih kak, dan … aku juga gak tau siapa calonnya Kak Ulfah. Soalnya, waktu kemarin Bunda sama Ayah bicara, Salma lagi di kobong.”

Aku hanya mangut-mangut mendengar jawaban Salma. Jika Idris yang melamarnya, mengapa Ulfah tidak ingin keluar kamar atau … ia tengah mempersiapkan diri. Tak lama, Bunda datang membawa nampan berisi makanan yang disusul oleh beberapa santri khidmah yang membawa nampan berisi makanan yang berbeda dari bunda. Meja hitam besar didepanku seketika penuh dengan jenis rupa-rupa makanan. Para santri khidmah, undur diri ke belakang. Seperti biasa, Bunda selalu hangat menyambutku dan Malik.

Aku dan Malik menyalami bunda dengan takdzim. “Bunda ini ada apa?” tanyaku penasaran seraya kembali duduk disofa yang diikuti Bunda dan Malik.

Wajah Bunda seketika berubah, seraya memeluk Salma dari samping. Karena kebetulan, Salma duduk bersama Bunda dan aku bersama Malik.

“Ada yang mau khidmah Ulfah Al.” Jawab Bunda dengan antusias. Senyuman manis terus merekah dari bibir ranumnya.

“Bukannya kelulusan Ulfah masih lama Bun. Sekitar tiga bulan lagi bukan?” tanya Malik tak kalah antusias. Sedari tadi ia hanya menyimak kini ia membuka suara dengan raut wajah yang begitu penasaran. Aku menoleh menatap Malik disampingku.

Netraku kembali berpaling menatap Bunda yang membuka suara. Suara bunda terdengar sangat mendayu-dayu, menggambarkan hatinya tengah berbahagia.

“Iya. Tapi gak ada salahnya taaruf sekarang-sekarang lagian Ulfah udah tujuh belas tahun.”

“Siapa calonnya Bun?” Akhirnya aku mampu membuka suara mengenai siapa calon Ulfah. Sedari tadi, aku terus menyimpan rasa penasaran. Membuat ulu hatiku terasa nyeri.

“Ada deh, sebentar lagi dia akan kesini.” Bunda yang nampak tenang nan bahagia berbanding terbalik dengan diriku yang langsung membisu tak bersuara. Terasa ada goresan luka yang kini tengah menyayat.

“Alhamdulillah, semoga lancar.” Ucapan Malik tat kalah membuat ulu hatiku nyeri. Namun, inilah takdir. Aku harus kuat, tanpa harus berucap.

“Al, coba kamu ajakin Ulfah ke bawah, bilangin juga agar dia bersiap-siap.” Aku tak bisa mengelek mendengar perintah Bunda. Aku mengangguk sebagai jawaban dan berlenggang menuju kamar Ulfah di lantai dua.

Netraku memanas tatkala kaki ini melangkah naik tangga satu persatu. Tanganku berkeringat, pelipisku tak kalah basah. Kakiku terus melangkah, mengantarkanku ke sebuah pintu berwarna cokelat. Perlahan ku ketuk, membuat sang pemilik kamar keluar.

Ulfah, nampak pucat. Kantung mata dan warna gelap melingar di daerah matanya. Apakah mungkin Ulfah tidak bahagia? Bagaimana bisa? Bukannya inilah yang ia nantikan.

“Boleh kakak masuk?” tanyaku yang langsung mendapat anggukkan oleh Ulfah dengan lemas. Perlahan aku masuk, sementara Ulfah kembali menutup pintu. Kakiku melangkah menuju ranjang dan duduk dibibir ranjang. Ulfah mengikutiku, seraya duduk disampingku.

“Kamu kenapa Fah?” tanyaku dengan lembut seraya menggenggam kedua tangannya. Ulfah menunduk lemas. Setetes buliran bening keluar menetes pada tanganku yang tengah menggenggam Ulfah.

“Bisa kakak tau ceritanya?” tanyaku lagi seraya menatapnya dengan telisik. Ulfah terisak dengan sendu. Sepertinya lukanya begitu menyakitkan membuat luka dalam hatiku ikut menganga.

“Kak … bagaimana … dengan Ulfah? Apa yang harus … Ulfah lakukan?” tanyanya dengan terbata-bata.

“Bukannya ini yang Ulfah inginkan? Di khitbah oleh Idris?” pertanyaanku sukses membuat Ulfah menoleh, menatapku dengan nanar.

“Bukan Idris Kak. Bukan Idris yang akan khitbah Ulfah.”

Seketika hatiku mencelos. Ulfah langsung berhambur memelukku. Menumpahkan segala kesakitan dan luka yang tengah ia rasakan. Tangisannya begitu menyayat kalbu. Membuat mataku ikut memanas. Apa aku tak salah dengar? Jadi … bukan Idris yang akan mengkhitbah Ulfah? Lantas siapa?

“Kak … bagaimana dengan Kak Idris? Dia pasti kecewa jika Ulfah mengkhianatinya. Idris janji akan melamar Ulfah setelah lulus.”

Tangaku bergerak mengusap punggung Ulfah yang bergetar. “Apakah Idris tau kamu akan di khitbah?”

“Sepertinya dia tahu kak. Sejak kemarin Ulfah berusaha menghubunginya namun nomornya tidak aktif.”

Suara Ulfah begitu parau membuatku ikut terhanyut merasakan luka. Walau kendati, aku juga turut terluka jika Ulfah bersama Idris. Tetapi, itu hanyalah angan-angan yang tak pernah bisa terwujud. Memilikinya, sama halnya seperti aku ingin bisa terbang, mimpi.

“Sabar Fah, inget semua takdir dari Allah itu baik. Coba kamu lihat dulu pilihan dari Bunda. Jangan sampai cintamu mengundang murka kedua orang tua.”

Ucapku lirih seraya mengulum senyuman yang tak mungkin Ulfah lihat karena masih terpengkur, terisak, dalam pekukanku.

“Aku gak yakin bisa jatuh cinta kepada dia Kak. Mengingat … hanya Kak Idris yang bisa membuatku jatuh cinta,” ucap Ulfah dengan suara parau.

“Dia akan mengerti Fah. Sabar, tolong bertahan ya,” ucapku seraya mengusap lembut punggungnya. Ulfah semakin terisak dalam tangisnya. Sementara diriki tengah berkecambuk memikirkan ungkapan cinta Ulfah. Aku bisa menjadi egois, jika terus menyimpan rasa untuk Idris. Anganku terbang, menekankan hati, agar aku harus merelakan dan membunuh rasa untuk Idris.

***

Aku berjalan gontai menghampiri Ulfah yang kini makin terisak di kamarnya setelah pertemuan dengan calonnya tadi siang. Aku tak menyangka, rupanya sudah dari jauh hari Bunda dan Ayah telah mempersiapkan semua ini. Senyuman merekah tergambar jelas kepada dua belah pihak, tatkala Ayah memutuskan untuk menikahkan Ghani dan Ulfah setelah Ulfah lulus. Rupanya, Ghani adalah anak seorang Kyai dari Garut. Mereka mungkin bahagia, tetapi tentu menjadi pengecualian untuk Ulfah dan Idris. Aku hanya terdiam membisu menyaksikan dua hati yang kini tengah rapuh. Sebesar apapun rasa yang tertata rapih dalam hati, akan kalah dengan rasa sayang kepada keduanya.

Aku menyayangi Ulfah, dan sebelah hati … aku tak menepisnya, aku mencintai Idris. Aku ingin sekali berkata.

‘Bahwa aku tak bisa lagi menguatmu Fah. Aku juga turut terluka tatkala Idris memilihmu dan meninggalkan aku.’

Namun tentu, aku tak akan mengatakan semua itu. Biarlah, lagi-lagi cukup aku yang merasa. Ulfah tersungkur diatas ranjang seraya memeluk guling putih. Isakannya semakin keras. Perlahan, aku duduk disampingnya dan membelai lembut kepalanya yang terbalut kerudung fasmina hitam.

“Maafin kakak gak bisa nolong Ulfah. Ulfah jangan terus sedih ya. Semua ini masih lama, kita tidak tau ke depannya mungkin saja akan berubah.”

Dalam lisan mungkin aku bisa berucap ikhlas, namun ucapan itu tentu berbanding terbalik dengan apa yang tersimpan dalam hatiku. Hanya kebisuan yang ku dapat dari Ulfah. Tak ingin membuatnya terganggu, aku beranjak dan keluar, bergabung bersama Salma dan Malik yang tengah asik bermain PS.

***

Mengisi waktu dengan mengajar para santriwati membuat hatiku sedikit membaik. Sudah hampir tiga aku hari disini dan tentunya menyaksikan banyak cerita. Dan tentu aku tak bisa memaksakan lagi hati untuk terus mengukir namanya. Masih ada masa depan sebagai harapan. Kitab Muroqil Ubudiyyah ku dekap seraya berjalan keluar dari kelas enam. Netraku terus menunduk hingga tak menyadari seseorang memanggil namaku.

Aku menoleh, mencari asal suara berat yang memanggil lirih namaku. Saat netraku menoleh ke sebelah kiri, ku dapati dia, yang dulu pernah, dalam baitan do’aku. Idris nampak pucat, kantung mata terlihat jelas dibawah matanya. Bibirnya kering dan nampak tidak fress. Aku kembali menundukkan pandanganku ke bawah.

“Bisa kita bicara sebentar?” tanyanya lirih.

Aku mengangguk pelan. “Disini saja bicaranya,” ucapku dengan nada rendah. Idris menghela nafas berat, hingga dapat terdengar oleh gendang telingaku.

“Bagaimana keadaan Ulfah? Semoga dia baik-baik saja dan tentunya … bahagia,” ucap Idris dengan sedikit penekanan. “Maaf Al. Aku selalu merepotkan dan menganggumu. Besok, aku akan pergi pulang ke Jakarta dan mungkin takan mengajar lagi disini.”

Ucapan Idris membuatku mendongak menatapnya. Semburat kesedihan tergambar jelas dari netranya yang mulai berkaca-kaca. Apakah sepedih ini hingga Idris harus pergi? Tak hanya meninggalkan Ulfah, tetapi aku?

“Jika aku pernah menyakitimu, tolong maafkan aku. Aku tak bisa terus disini Al. Terlalu berat.”

Seandainya aku bisa berteriak, aku ingin melakukan demikian. Apakah hanya Ulfah yang membuatmu berat? Justru disini Idris juga yang membuatku berat. Kenapa ia bercerita kepadaku? Sehingga membuat lukaku kembali mengangga.

“Oh ya, maaf aku menganggumu. Terima kasih waktunya dan … selamat tinggal Al. Semoga takdir baik bisa mempertemukan kita lagi.”

Ucapan Idris mengundang buliran beningku keluar bertepat dengan sosoknya yang kini perlahan menjauh menyusuri koridor. Kakiku melemas, ingin rasanya aku luruh. Namun nyatanya, aku hanya mampu terdiam menikmati deraian air mata yang terus keluar dibalik cadarku.

“Aamiin,” ucapku dengan lirih yang hampir tak terdengar. Perlahan kakiku bergerak, kembali ke rumah Bunda dengan membawa beban kesakitan yang selalu ku tahan. Sesampai di rumah, ku tatap Malik yang tengah duduk santai menikmati kue kering.

“Ada apa kak?” tanya Malik saat mendapatiku tengah berdiri menatapnya.

“Ayo pulang.”

Ucapku lirih seraya perlahan berjalan ke kamar tamu. Ku simpan kitab Muroqib Ubudiyah diatas nakas. Tangaku meraih tas hitam milikku dan mengemas handphone yang tengah tergelatak diatas ranjang.

Sejenak, aku merapihkan penampilanku di cermin yang menempel pada almari besar berwarna putih. Beranjak, aku keluar menemui Malik. Malik tampak telah siap. Ditangannya kunci mobil telah digenggam. Kakiku kembali berjalan, mencari Bunda yang tengah sibuk berkutat di dapur.

“Bunda Al mau izin pulang,” ucapku lembut seraya menatap menyalami Bunda dengan takdzim.

“Loh kok mau pulang? Baru pagi ini sayang.”

Aku terkekeh. “Tidak apa-apa Bun. Perjalanan jauh, jadi aku dan Malik akan pulang sekarang. Assalamu’laikum.”

Malik tak ketinggalan mencium punggung tangan Bunda dengan takdzim. Setelah mengucap salam, kami berlenggang keluar dan masuk ke dalam mobil tanpa pamit kepada penghuni rumah yang lain. Bahkan Malik tak berani bertanya, sebab apa aku ingin langsung pulang. Pikiranku berkecambuk, dan tak bisa lagi ditahan.

***

Sesampai dirumah sore tadi, aku langsung masuk ke dalam kamar menumpahkan segala rasa sakit yang menjerat diriku. Aku luruh dalam tangis tatkala shalat magrib dan isya. Arloji berwarna putih perak melingkar disebelah tanganku. Ternyata waktu telah cukup malam, 21.16.

Suara ketukan pintu menyadarkanku. Perlahan tanganku bergerak, membuka knop pintu. Netraku mendapati Rara telah berdiri di depan pintu.

“Ada apa Ra?” tanyaku seraya menatapnya.

Rara menyerahkan satu bucket bunga mawar merah. Dahiku mengernyit seraya menerima pemberian Rara. “Tadi ada seorang laki-laki kesini Ustadzah, dan langsung menyerahkan itu untuk Ustadzah.”

“Yaudah, terima kasih Ra.” Rara berlenggang meninggalkanku. Ku tutup kembali pintu kamar dan duduk diatas ranjang.

Netraku menelisik kepada satu bucket bunga mawar merah yang tengah ku pegang seraya terus bertanya dalam hati siapa pengirimnya. Tak lama, netraku menemukan satu satu surat dengan kertas berwarna cream. Perlahan tangaku bergerak, membuka dan membacanya.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here