Tabir Cinta #06

0
136
views

Alisku menaut tatkala menemukan sosok wanita berpakaian serba hitam, memakai cadar, sedang berdiri di ruang tunggu tempat para pasien mengantri untuk berobat. Tiba-tiba aku teringat, Ibu telah menemukan seorang Ustadzah yang mengisi tausiah di rumah sakit ini. Ya, aku mengusulkan kepada Pak Wandi selaku pengurus rumah sakit ini untuk diadakan siraman rohani walau hanya seminggu sekali, agar para perawat tidak hanya sibuk bekerja. Ideku diterima baik oleh Pak Wandi. Dengan cepat, aku bergerak dan menceritakan pada Ibu. Untungnya, sejak kemarin Ibu telah bercerita akan ada Ustadzah yang sanggup untuk mengisi. Tentu, aku bahagia.

Perlahan, aku berjalan mendekati dua orang wanita itu, sebelahnya sosok perempuan bergamis berwarna cream dengan kerudung fasmina yang senada. Dia sedikit mengulas senyum tatkala berpapasan denganku. Berbeda, dengan sosok wanita yang memakai cadar. Dia hanya menunduk. Namun, netraku selalu setia menelisiknya.

“Ustadzah Alawiyyah?” tanyaku yang diiringi anggukan kepala olehnya. Tentu, aku telah mengetahui namanya, karena ibu.

“Perkenalan Ustadzah, saya Azmi. Mungkin ibu saya telah menjelaskan. Oh iya, bagaimana jika kita langsung ke mushola rumah sakit. Saya akan mengantar Ustadzah.”

Lagi-lagi hanya anggukkan kepala yang menjadi jawaban. Ah, sungguh dia sangat misterius bagiku atau … karena aku tampan. Raihan, ayahku memang keturunan Arab. Hanya keturunan, bukan asli orang Arab. Kami berjalan beriringan menuju ke mushola. Ralat, aku jalan di depan dan mereka mengekor dari belakang.

Setelah sampai di mushola rumah sakit, aku izin pamit. Lagi-lagi dia tidak bersuara membuatku semakin penasaran bagaimana suaranya. Lembutkah atau serak-serak basah? Ah sudahlah, lebih baik aku segera beranjak ke ruanganku. Masih banyak pasien yang harus aku periksa.

***

Netraku menangkap Rani, Salsa, dan Feni yang tengah asik berbincang di loket pendaftaran. Aku beranjak, bergabung bersama mereka.

“MasyaAllah, aku terkejut loh, cantik banget itu Ustadzah? Pakai sceancare apa ya?” tanya Salsa antusias. Tangannya bergerak, memperagakan. Aku hanya mendengarkan mereka dengan seksama.

“Sama aku juga Sa. Aku sama Riri kan duduk berdampingan. Aduh, itu si Riri terus aja nyenggol tangan aku sambil berbisik muji Ustadzah tadi. Bener-benar bening itu wajah tanpa cela,” jelas Feni tak kalah heboh.

“Jangan lupa manis, banyak tahi lalatnya. Udah jadi Ustadzah, cantik pula, banyak yang kepincut itu kalau laki-laki liat wajahnya,” timpal Rani dengan riang.

Ah … sekarang aku tau siapa yang mereka bicarakan. Rupanya, Ustadzah Alawiyah. Tapi kenapa bisa mengetahui rupa Ustadzah? Tak ingin membuat ambigu, aku membuka suara untuk bertanya.

“Kenapa kalian bisa lihat wajah Ustadzah?”

Tangan Salsa bergerak menepuk pundakku. “Ya Allah Az, dia cantik banget. Dia buka cadarnya pas tausiah. Gila … Az, pasti kamu jatuh cinta kalau liat mukanya.”

Aku hanya terkekeh mendengar ucapan Rani yang antusias. Pipi cabbynya melambung saat melontarkan kalimat.

“Ah … aku yakin suaminya pasti ganteng. Terus pasti juga Ustadz.”

Entah apa, seketika aku terpengkur mendengar ucapan Salsa. Tetapi, apa yang dikatakannya memang tidak salah. Allah menjodohkan manusia sesuai dengan dirinya atau disebut cerminan dari diri. Aku ikut terhanyut dalam obrolan mereka. Hingga terkadang gelak tawa terlempar dari kami semua.

***

Kakiku terhenti saat mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an dari dalam rumah. Netraku menangkap sepasang sepatu berwarna hitam di teras. Ah .. pastinya ada tamu. Aku bergegas masuk seraya menenteng tas hitamku.

Aku terhenyak, mendapati Ibu, Liana adikku, dan seorang wanita bercadar tengah mengajarkan Al-Qur’an. Mereka nampak duduk lesehan diatas karpet beludru putih di ruang tamu. Dengan malu, aku menghampiri Ibu untuk menyalaminya.

“Udah pulang kamu Az? Yu ikut mengaji.”

Aku terdiam menimang ajakkan Ibu. Netraku mengedar, melihat Liana dan wanita itu.

“Ayo kak, ikut mengaji, kita bertiga sama-sama belajar,” timpal Liana dengan bersemangat. Aku hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Liana.

Belum sempat aku berucap untuk menyetujui usulan Ibu dan Liana. Ustadzah itu membuka suara. Suaranya pelan nan lembut.

“Maaf, saya tidak bisa mengajari laki-laki.”

Aku terdiam, rupanya penolakan yang aku dapatkan. Ibu dan Liana menatap Ustadzah itu dengan seksama.

“Kenapa Ustadzah Alawiyyah? Kan ada Liana sama Ibu disini,” sela Liana seraya memelas.

Aku semakin terhenyak, rupanya dia Ustadzah Alawiyyah yang tadi siang bertemu denganku di rumah sakit. Rupanya, dia mengajar juga di rumahku.

“Saya malu,” ucapnya seraya menunduk. Ada debaran halus yang terasa saat dia berucap. Nyatanya, dia begitu terjaga nan terpelihara.

“Tenang Ustadzah, ada Ibu yang menemani kalian. Lagian Azmi itu pasti terlambat kalau pulang, jadi mungkin sesekali dia akan absen belajar.”

Sesaat Ustadzah Alawiyyah terdiam. Netraku menatapnya. Sebenarnya aku ingin berbicara untuk menolak saja. Tetapi, ada hasrat aku ingin menunggu bagaimana keputusannya.

“Baiklah, InsyaAllah bisa. Hanya, saya ingin Kak Azmi duduknya sedikit dibelakang. Bisakan?”

Aku hampir terkekeh refleks didepannya. MasyaAllah … dia sungguh menarik dan unik. Tetapi, sepertinya dia telah bersuami. Jadi, mau tidak mau, hasrat suka hanya sebatas terpelihara dalam dada.

“Bu, Azmi ke kamar dulu ya. Gak enak, udah gerah badannya sama lengket,” ucapku memelas menatap Ibu.

Ibu mengulum senyum menatapku. “Iya sana Az. Kamu makan dulu ya, tenang aja, ngajinya baru dimulai kok.”

Aku hanya mangut-mangut mendengar penuturan Ibu. Dengan pelan, aku beranjak dan berjalan ke lantai atas, kamarku. Ya, rumah ini terdiri dari dua tingkat. Lantai atas menjadi kamarku dan Laila. Sayup-sayup ku dengar, mereka kembali melanjutkan bacaan Al-Qur’an.

Dengan cepat, aku bergegas meraih handuk putih yang dibalik pintu dan berlenggang ke kamar mandi. Ah … sungguh, nikmatnya saat sentuhan air mulai menetes, membasahi tubuhku.

***

Karena tadi aku harus mandi dan makan terlebih dahulu, jadinya ketinggalan membaca Al-Qur’an. Walau dalam hati, aku bersorak ria. Karena … ya, aku sedikit malu jika Ustadzah Alawiyyah mengetahui bacaanku yang tak begitu lancar. Sejak dulu, aku sibuk dengan sekolah, karena sejak SMP dan SMA aku mengikuti kelas Akselerasi. Di usiaku yang baru menginjak dua puluh dua tahun, aku berhasil lulus S2, jurusan Ahli Bedah. Sebab itulah, aku sibuk, sangat sibuk. Sehingga, aku jarang lagi mengaji atau menghadiri kajian.

Dengan seksama, seperti Ibu dan Liana, aku terdiam mendengar penjelasan Ustadzah Alawiyyah. Walau sayup-sayup aku mendengarnya, karena duduk dibelakang, tetapi alhasil aku dapat memahami penjelasan Ustadzah.

“Perintah shalat itu, wajib. Mau tidak mau, sibuk tidak sibuk, tetap harus dilakukan. Jangan jadikan shalat wajib itu seperti beban. Tetapi jadikanlah sebuah keperluan. Seperti halnya Liana, jika lapar, maka ia makan. Maka shalat itu seperti kebutuhan. Orang yang shalat masih bisa celaka, apalagi orang yang tidak shalat. Faham? Maka jangan sampai kita meninggalkan shalat. Sesibuk apapun, sebanyak apapun tugas. Ingat, tugas kita di dunia ialah untuk beribadah kepada Allah.”

Tanpa sadar, kedua sudut bibirku menarik, menggambarkan senyum simpul. Netraku tak berpaling menatap Ustadzah dari balik punggung Ibu dan Liana yang tengah duduk di depanku. Suaranya yang lembut, membuat debaran dalam dadaku. Rasanya, ya … aku cukup tertarik dengan dirinya.

Waktu berjalan tanpa terasa, suara deru mobil nyaring dari dalam rumah. Aku beranjak keluar rumah, rupanya sosok seorang perempuan memakai gamis hitam datang. Dia adalah sosok wanita yang bersama Ustadzah waktu siang tadi di rumah sakit.

“Assalamua’laikum, ada Ustadzahnya?” tanyanya yang tengah berdiri didekat mobil. Aku tersenyum simpul seraya menjawab salam dan mengangguk sebagai jawaban.

“Mau masuk dulu?” tanyaku yang langsung mendapat penolakan halus darinya.

“Baiklah, saya panggilin dulu Ustadzah.” Tepat saat aku berlenggang masuk, Ustadzah Alawiyyah telah berdiri di ambang pintu dengan Liana. Aku hanya dapat tersenyum simpul saat melihatnya. Rasa gugup dan canggung menyeruak seketika dalam rongga.

“Liana, ana pamit. Assalamua’laikum,” ucap Ustadzah seraya berjalan masuk ke mobil Alphard putih yang disusul oleh wanita tadi.

“Wa’alaikumssalam,” jawabku bersamaan dengan Liana. Raut wajah Liana sumringah, seraya melambaikan tangan kepada kedua orang tadi yang kini perlahan melaju pergi.

Tepat saat Liana mau masuk, aku mencekal pergelangan tangan kirinya. “Li, kakak mau tau siapa tadi?”

Alis Liana menaut seraya menatapku. “Dia Ustadzah Alawiyyah. Kan kakak sudah tau.”

Aku segera menggeleng keras. Maksudnya, bukan mengenai nama yang ingin aku ketahui. Melainkan, status kehidupannya. “Bukan Li. Apa dia sudah menikah?”

Liana nampak terdiam beberapa saat. Tak lama, senyuman manis terbit dari bibirnya. “Ah iya, kata Ibu, Ustadzah belum menikah. Coba kakak tanya-tanya sama Ibu.”

Dalam hati aku bersorak ria mendengar jawaban Liana. Mungkin statusnya yang masih sendiri memberi celah kepadaku untuk bergerak. Walau tak seratus persen aku tertarik, tetapi tak ada salahnya aku mencoba mendekat. Mengingat, aku belum pernah dekat atau bahkan berpacaran dengan siapapun. Dengan cepat, aku berlenggang masuk ke rumah menyusul Liana. Tak lupa menutup pintu rumah.

***

Sudah hampir empat hari ini, aku selalu mengusahakan diri untuk pulang lebih cepat. Untungnya aku tak pernah mendapat jadwal periksa pasien sore hari. Setiap hari, aku bergerak diantara ruang operasi. Kecepatan mobil tak begitu cepat, aku menikmati perjalanan sore ini seraya menyalakan alunan senandung musik mellow.

Rumah bernuasa minimalis berwarna cat putih dengan pagar hitam. Perlahan aku keluar mobil dan membuka pagar. Aku kembali masuk mobil dan mengendarainya masuk ke garasi. Seperti biasa, aku melepas sepatu hitamku tatkala masuk rumah. Disamping sepatuku, terdapat sepatu hitam. Ah … pasti milik Ustadzah.

Dengan langkah cepat, aku masuk dan memberi salam. Mereka yang tengah sibuk mengaji, seketika terhenti dan menjawab salamku. Aku sudah mulai terbiasa dengan situasi setiap sore di rumah. Terlebih … kehadiran Ustadzah yang membuat debaran tak menentu dalam hati. Aku menyalami Ibu dengan takdzim dan izin pamit ke kamar untuk membersihkan diri.

Seperti biasa, suara lembut Ustadzah Alawiyyah selalu bisa membuat hatiku berkedut. Kali ini, pembahasannya tak kalah menarik bagiku. Mengenai puasa, yang terkadang orang-orang sepelekan mengenai hal didalamnya.

‘Sepertinya, masih ada celahkah untuk bisa mendekatinya?’ tanyaku dalam hati.

***

Hariku terasa semakin berwarna. Sayangnya … sore ini aku tak bisa lagi melihat Ustadzah Alawiyyah. Kata Liana, Ustadzah tengah pergi ke Tasik. Rupanya, Ustadzah orang yang cukup sibuk. Seperti diriku saat ini. Memeriksa, membedah, dan mengobati para pasien. Pekerjaan kami sama, sama-sama menolong orang. Ustadzah menolong orang agar semakin dekat dan Allah, dan aku menolong orang agar para pasien sembuh. Namun, tentu wasilah hidayah dan kesembuhan dari Allah.

Lamunanku tersadar tatkala Salsa masuk ke ruanganku. Gadis berusia dua puluh tahun ini, memang cukup dekat denganku. Bukan sebab rasa atau cinta, tetapi kami memang telah cukup lama menjalin persahabat.

“Kenapa Az? Mukannya kok ditekuk?” tanya Salsa seraya duduk didepanku yang dibatasi meja kayu jati berwarna cokelat.

Aku mengela nafas gusar. Apakah aku harus bertanya mengenai tips-tips kepada Salsa?

“Sa, aku mau tanya. Kalau kita suka sama orang gimana sih ngedeketinnya?”

Salsa menatapku dengan telisik. Dahinya berkerut, kedua tangannya bersedekap. “Az, kamu suka sama orang?”

Pertanyaan Salsa langsung membuat pulpen diatas mejaku meluncur ke kepalanya.

“Oke … oke. Tapi aku kepo, kamu suka sama siapa?”

Aku mencebik kesal. Netraku beralih menatap langit-langit ruangan. “Gak usah kepo.”

Salsa menghela nafas sejenak. “Yaudah. Kamu tinggal deketin dia lah Az. Coba kamu minta nomor handphonenya dan-”

Belum sempat Salsa melanjutkan ucapannya aku segera bangkit dari duduk dan memberi jempol kepadanya. “Bagus, makasih Sa. Udah sana keluar.”

“Idih gila emang kamu Az.” Semburat kekesalan nampak jelas dari raut wajah Salsa. Ah, tak apalah. Dengan gontai, Salsa keluar ruanganku dan tak lupa menutup pintu.

***

Netraku mengedar, mencari sosok yang tengah dicari, Liana. Sehabis shalat isya, aku langsung berjalan masuk ke kamarnya. Saat aku tengah duduk di bibir ranjangnya, Liana keluar dari kamar mandi yang berada di kamarnya. Alisnya menaut, menatap heran keberadaanku.

“Ada apa kak?” tanya Liana seraya mengeringkan rambutnya yang nampak basah oleh handuk merah.

“Kamu abis keramas malem-malem gini?”

Liana memutar bola matanya, jengah. “Aku tanya, kakak suka balik tanya.”

Aku terkekeh mendengar jawaban Liana. Dengan lembut, aku menarik pergelangan tangannya agar duduk di ranjang disampingku.

“Punya nomor Ustadzah?” tanyaku hati-hati seraya menatap manik cokelat Liana.

Liana menyengir, menampilkan deretan gigi putihnya yang rapih. “Ah, aku tau. Rupanya kakak suka sama Ustadzah.”

Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Liana. Walau belum seratus persen aku yakini, bahwa aku menyukai Ustadzah.

Liana menghembuskan nafas kasar. ” Tapi, aku gak bisa kasih nomornya. Ustadzah gak mau nomornya diketahui laki-laki,” lanjut Liana dengan nada rendah.

Aku hanya mampu terdiam. Rupanya cara ini gagal dan langsung mendapat lampu merah. Pikiranku kembali menjelajah memikirkan cara selanjutnya. Belum sempat aku membuka suara, Liana kembali bersuara dengan raut wajah yang sumringah.

“Bagaimana kalau surat?”

“Surat?”

Liana spontan mengangguk seraya memejamkan mata.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here