Tabir Cinta #05

0
145
views

Sepanjang perjalanan, aku terus melontarkan beberapa pertanyaan kepada Rara. Ya, kali ini, Rara akan mengantarkanku ke salah satu universitas di Cibiru, Bandung. Sejenak, aku tersentak, rupanya aku baru mengetahui jika Rara adalah putri dari Mba Indah. Katanya lagi, Rara sejak kecil sudah tinggal di Tasik, pondok Bunda. Ayahnya bekerja di Kalimantan, namun … berita duka harus diterima Rara. Pasalnya, sang ayah harus kembali kepada pangkuan sang Tuhan, setelah mengalami insiden kecelaan saat kepulangan ke Tasik.

Aku merasa tak enak hati bertanya begitu banyak kepada Rara sehingga kini harus mengorek luka lama yang Rara telah rapat, tutupi.

“Maafkan ana ya Ra, ana gak sengaja bahas kesana,” ucapku lirih seraya memainkan tasbih kaokah dan melafadzkan kalimat dzikir.

Rara terkekeh, pandangannya fokus ke depan. “Tidak apa-apa Ustadzah, mengenai ayah … itu sudah seharusnya terjadi.”

Walau Rara berusaha tegar, namun saat aku menoleh menatapnya, ada embun dipelupuk matanya. Bagaimanapun, manusia tidak dituntun untuk melupakan, melainkan untuk mengikhlaskan.

Perbincangan kami tak terasa telah mengantarkan ke pelataran kampus. Perlahan Rara mengemudi sampai ke gedung aula. Disana telah ramai orang memasuki aulia, dan masih banyak orang diluar. Suara qosidah nyaring disetiap juru kampus. Teriakan “Ustadzah” nyaring, tatkala mobil Alphard putih yang aku naiki berhenti tepat di dekat pintu aulia. Belum sempat aku keluar, beberapa orang perempuan berjaga disetiap samping untuk menjagaku.

“Hati-hati Ustadzah, saya harus memakirkan mobil,” ucap Rara dengan nada rendah.

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Perlahan aku membuka pintu mobil, kepalaku menunduk untuk melihat pijakan. Terlebih aku memakai gamis abaya hitam yang ukurannya besar, membuatku harus extra hati-hati.

“Ustadzah, minta do’anya, Ustadzah,” itulah ucapan para jama’ah tatkala menyalamiku. Para panitia, meminta para jama’ah untuk membiarkan jalanku mulus, tanpa meminta salam terlebih dahulu. Dalam hati, aku terus membaca shalawat seraya ngaminkan do’a-do’a para jama’ah. Berharap, semoga langkah ini menjadi barokah dan diridhoi oleh-Nya.

Langkahku diiringi oleh pembacaan qosidah, mereka membacakan qosidah kesukaanku, yakni “Natawassal bil Hubabah.” Hatiku terenyuh, seraya perlahan berjalanan dan duduk ditempat yang telah disediakan. Netraku memanas, melihat lautan para muslimah yang memasuki aula. Ya, kajian ini memang khusus untuk muslimah. Sambutan, pembukaan, telah disampaikan terlebih dahulu sebelum aku datang. Jadi, sekarang giliran diriku sebagai inti dari acara. Sebagai pembukaan, aku menyuruh para grup qosidah untuk membacakan maulid, sebagai penganggungan dan pujian kepada Rasulullah. Pujian kepada seseorang kekasih bukanlah hal yang salah. Sebagaimana logikanya, tatkala kita mencintai seseorang, mau tidak mau, pujian kepada kekasih akan terus terlafadzkan oleh bibir kita.

Aku dan para jama’ah terhanyut dalam lantunan Mahlul Qiyam seraya berdiri, kami semua sibuk menata hati dan pikiran mengkhusyukkan kepada Rasulullah yang tak bisa dipungkiri, jika setiap pembacaan maulid Rasulullah selalu hadir. Aku tak ingin pikiranku tak khusyuk, betapa malunya aku, tatkala Rasul datang, pikiranku tengah gencar memikirkan yang lain. Tetesan kristal jatuh, dari pelupuk para jama’ah, mereka sama, merindui kekasih impian, kekasih pujian, kekasih Allah.

Setelah Mahlul Qiyam, kami kembali duduk. MC menyerahkan sebuah mic hitam kepadaku. Aku meraihnya dan mengulas senyum kepada seluruh jama’ah. Ucapan salam dan pembukaan telah aku bacakan. Perlahan tanganku bergerak, melepas cadar hitam yang ku kenakan, sontak para jama’ah terdengar ricuh tatkala melihat parasku. MC menghimbau para jama’ah untuk tidak mengambil gambar diriku. Aku melakukan demikian, karena ini kajian perempuan, memperlihatkan wajah saat mengaji memang diperbolehkan.

“Allah … Allah … Kaifa halukum? Bagaimana kabarnya tamu Allah? Bagaimana kabarnya tamu Rasulullah? Saya senang bisa berkumpul dengan antum semua yang saya muliakan. Disini, saya tak ingin menjadi pengajar, disini juga saya bukan sebagai guru, saya perjelas saya hanyalah penyampai yang faqirah, orang yang teramat butuh, seperti antum sekalian. Ibu-ibu, kakak-kakak, adik-adik, ana mau tanya, kata antum sekalian apakah sabar ada batasnya?”

Sontak para jama’ah menjawab, ada batasannya. Aku tersenyum mendengar serentak jawaban para jama’ah.

“MasyaAllah, betul. Sabar itu ada batasannya. Sampai kapan batasannya? Sampai liang lahat, sampai mati. Jadi batas sabar itu nanti kalau mati, nanti kalau diliang lahat, baru sabar kamu beres, selesai. Lantas kalau didunia gimana? Di dunia … kamu harus sabar nak, Sabar. Inget … inget … dunia itu tempatnya capek nak, tempat lelah, jangan istirahat di dunia. Perjalanan kita masih jauh, mau ngeluh tak akan berfungsi, mau istirahat tetap tidak akan berkurang, tempat ini bukan tempat kita. Laa! Tempat kita adalah tatkala kita berkumpul dengan selamat bersama Rasulullah. Gimana mau kumpul sama Rasul? Banyakin shalawat. Kita sekarang shalat belum tentu di terima, banyak salahnya. Kita shodakoh belum tentu di terima, banyak riya’nya. Apa yang selamat tanpa koreksi, shalawat,” terangku bersemangat.

Para jama’ah semakin larut mengenai pemabahasan kajianku kali ini. Hatiku menghangat, setidaknya mereka menerima kehadiran dan masukan dariku. Satu jam berlalu tanpa terasa, aku segera mengakhiri tausiahku siang ini setelah membacakan do’a dan salam.

Para jama’ah nampak ribut tatkala aku beranjak dan perlahan keluar. Ada yang menarik tanganku paksa, ada yang menyodorkan botol minuman untuk meminta do’a, ada pula yang sekedar meminta salam dan do’,a. Namun, tepat saat aku akan memasuki mobil. Seorang wanita berkisar usia empat puluh tahun meminta nomor ponselku. Dengan cepat, aku segera membuka pintu mobil dan duduk. Tanganku bergerak menuliskan nomor ponsel, memberi selembar kertas putih kecil yang berisi nomor ponselku kepada ibu tadi. Aku menyerahkannya dibalik jendela mobil.

“Terima kasih Ustadzah,” ucapnya yang beriringingan dengan mobilku yang mulai perlahan melaju. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban dan melaimbaikan tangan kepada para jama’ah.

***

Setelah saling berkirim pesan dengan ibu-ibu tadi yang meminta nomor ponselku di kampus. Dia meminta izin untuk berkunjung ke rumahku, tepat sore ini.

Aku mengizinkannya datang dan memberi alamat rumahku. Sepertinya memang ada yang penting, sampai beliau mau datang ke rumah. Sehabis shalat ashar, aku bersiap diri. Tepat pukul 16.00 sore, suara deru mobil nyaring di dalam rumahku. Mba Indah keluar, membuka pintu.

“Ustadzah ada tamu,” ucap Mba Indah seraya mengetuk pintu kamarku.

Bergegas aku keluar dan menemui beliau di ruang tamu. Beliau memakai gamis maroon dengan kerudung syar’i berwarna cream. Aku menyalaminya dan mempersilahkannya untuk duduk kembali.

“Mohon maaf ibu ada apa datang kemari? Sepertinya penting,” tanyaku lembut. Tak lama, Mba Indah datang membawa nampan berisi dua gelas teh manis dan cemilan kue kering, dan menyimpannya dimeja. Mba Indah, kembali izin pamit ke belakang, meninggalkan kami berdua.

“Mmm … benar Ustadzah. Saya Aliyah, sedang mencari guru mengaji untuk anak saya,” terangnya tak kalah lembut.

Alisku menaut, netraku tetap setia menatap Bu Aliyah. “Anaknya laki-laki atau perempuan? sebesar siapa?”

“Anaknya perempuan kelas tiga SMA. Dan, saya meminta Ustadzah juga mengisi kajian di rumah sakit tempat anak laki-laki saya bekerja. Disana Ustadzah hanya mengisi kajian untuk perawat perempuan. Setiap hari senin ba’da dzuhur, sementara mengajar anak saya yang perempuan senin sampai kamis, ba’da ashar. Bagaimana Ustadzah?”

Seketika aku termenung, pikiranku menjelejah, memikirkan jadwal. Dikhawatirkan, jadwalku ada yang bentrok dengan permintaan jadwal Bu Aliyah. Cukup lama aku berfikir, nyatanya tak ada jadwal yang bentrok dengan jadwal Bu Aliyah. Jum’at, sabtu, minggu, aku memang tak akan ada di Bandung karena harus ke Tasik.

“InsyaAllah, saya bisa bu. Kirimkan saja kedua alamat itu, dan nomor pengurusnya, biar Rara, santri khidmah saya menghubunginya.”

“Oh iya Ustadzah. Terima kasih banyak Ustadzah.”

Berulang kali Bu Aliyah berucap rasa terima kasih padaku. Akhirnya, setelah itu kami berbincang-bincang mengenai masing-masing. Ternyata nama anak Bu Aliyah adalah Liana dan Azmi. Azmi itulah seorang dokter spesialis bedah, anak Bu Aliyah yang tengah mencari pengisi tausiah di rumah sakit. Aku cukup salut, niatnya amatlah mulia. Tak sampai disitu, Bu Aliyah bertanya-tanya mengenai kedua orang tuaku dan kabar duka mengenai Umi.

“Innaalillahi, turut berduka Ustadzah. Kalau Abi disini?” tanya Bu Aliyah dengan nada rendah.

“Iya, Abi disini sedang khalawat,” ucapku seraya mengulas senyuman.

“Siapa namanya Ustadzah?”

“Nama Abi saya, Muhammad. Beliau dulu juga seorang pendakwah sama seperti Umi dan saya,” jawabku santai.

Bu Aliyah tersentak, tangannya meraih teh manis dimeja dan mereguknya perlahan. Kemudian, tehnya kembali ia simpan diatas meja membuat alisku menaut.

“Ustadz Muhammad, lulusan Malang?” tanyanya lagi yang langsung dianggukkan olehku.

Mulut Bu Aliyah melongo, matanya dengan sempurna membulat. “Aduh, saya gak nyangka ketemu sama putrinya Muhammad,” sahut Bu Aliyah seraya meraih kedua tanganku dan menggenggamnya. Aku masih tak bersuara untuk bertanya lebih lanjut.

“Saya Bu Aliyah, dulu mantan tunangan Ustadz Muhammad. Alhamdulillah, saya senang bertemu putrinya. MasyaAllah, cantik.”

Penuturan Bu Aliyah membuatku tak kalah tersentak. Pantas saja, gelagat aneh terus terlihat. Rupanya, beliau mantan Abi. Tak ingin merubah suasana tak nyaman, aku terkekeh sebagai jawaban.

***

Kali ini, aku memakai gamis abaya hitam dengan corak bunga-bunga berukuran besar berwarna merah, yang ku padukan dengan fasmina yang senada. Netraku, menatap pantulan diriku di cermin yang nampak indah. Tak lama, suara ketukan pintu kamarku nyaring ditelingaku. Bergegas, aku membukakannya. Rupanya, Malik yang datang ke kamarku. Aku mengizinkannya masuk. Malik di duduk dibibir ranjang, sementara aku kembali merapihkan diri di depan cermin.

“Mau jadwal kemana kak?” tanya Malik, netranya memperhatikanku dengan telisik.

“Kakak ada jadwal di rumah sakit,” jawabku santai. Tanganku terus bergerak merapihkan fasmina merah yang ku kenakan.

Malik hanya mangut-mangut mendengar jawabannku. “Mau diantar?” tanyanya lagi. Aku menoleh, menatapnya yang tengah terduduk.

“Gak usah de. Ada Rara yang anter kakak,” ucapku seraya meraih tasbih kaokah diatas ranjang.

“Oh yaudah, hati-hati dijalannya bersama Rara.”

Jawaban Malik langsung membuatku menatapnya. Ada gelagat yang mencurigakan pada diri Malik. Alisku menaut. Malik tak kalah, ia menatapku hingga kami pandangan beradu.

“Kayaknya ada yang perhatian gimana gitu sama Rara,” celotehku.

Malik sontak terkejut, ada semburat merah di wajah putihnya. Rasanya aku ingin tertawa, namun demi menjaga wibawa, itu tidak akan terjadi.

“Enggak,” jawab Malik seraya berlenggang keluar kamar. Dugaanku semakin kuat, melihat gerak-gerik dirinya nampak sangat mencurigakan. Aku menggeleng kepala seraya meraih tas hitam di lemari besar berwarna hitam di kamarku.

***

“Ustadzah Alawiyyah?” tanya seorang laki-laki berperawakan tinggi, rambutnya sedikit kecoklatan, dengan iris mata coklat, berkulit sawo matang, dagunya sedikit ditumbuhi rambut-rambut kecil. Ya, menurutku sedikit nampak orang Arab. Tak hanya itu, dia mengenakan jas berwarna putih, seperti seorang dokter.

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Perkenalan Ustadzah, saya Azmi. Mungkin ibu saya telah menjelaskan. Oh iya, bagaimana jika kita langsung ke mushola rumah sakit. Saya akan mengantar Ustadzah.”

Aku hanya mengangguk mendengar penjelasannya. Terlalu gugup, jika aku harus mengutarakan beberapa kata kepada laki-laki. Terlebih, dia adalah anaknya Bu Aliyah. Aku semakin di buat canggung dan gugup. Rupanya, anak Bu Aliyah terlihat cukup tampan. Ya, seperti laki-laki yang ku lihat di Mekkah.

Akhirnya, aku, Rara dan Azmi perlahan berjalan ke mushola. Tak ada perbincangan di dalam perjalanan kami ke mushola. Sesampai disana, Azmi langsung pamit pergi dan begitupun aku yang langsung masuk ke mushola.

Seperti pada umumnya, aku mengucapkan salam, pembukaan, dan isi dari tausiahku. Semua para perawat antusias mendengarkanku dengan seksama. Tak hanya itu, aku melakukan hal yang sama, membuka cadarku tatkala menyampaikan tausiah. Sedikit membuatku tak percaya diri, mereka nampak berbisik-bisik tatkala melihat parasku. Oh … please ada apa? Aku membuka cadar agar mereka tidak terlalu canggung dan menjadi kesan kaku jika aku terus menunggunakan cadar. Namun tak lama, suasana kembali kepada semula, bahkan mereka nampak asik dan terhanyut dalam penjelasannku.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here