Tabir Cinta #02

0
120
views

“Bi… kenapa mesti nikah segala sih?” tanyaku ketus seraya mengaduk kopi hitam yang masih mengepul asapnya. Setelah kemarin dari Tasik, mood ku entah kenapa begitu anjlok.

Abi meletakkan kitab tafsir jalalain yang sedang dibacanya di meja. Pandangan Abi menatapku, bibirnya melengkung. Memberi seutas senyuman yang manis.

“Jadi mau naik haji gak? Dengar Al, kalau kamu mau haji gak ada mahram maka haji kamu gak wajib. Karena yang lebih penting harus ada mahram. Jika tidak ada mahram mudhorotnya akan lebih banyak. Seperti gini, kalau Abi berangkat haji ninggalin kamu sendiri tanpa nafkah, maka haji Abi gak wajib. Karena lebih wajib nafkahin kamu,” jelas Abi.

Ku buang pandanganku ke kopi hitam yang sedang ku aduk. Seraya memikirkan, jika tidak naik haji, itukan penyempurna rukun islam untukku. Tapi, iya deh gak apa-apa. Hanya sekedar sementara juga pernikahannya.

“Hmmm… iya deh Bi. Gak apa-apa, toh cuman sementara,” ucapku santai yang masih menatap kopi hitam didepanku. “Tapi Abi ngapain mau ke Malang?” lanjutku seraya menatap Abi.

Abi menghela nafas sejenak. Netranya terpejam sesaat, kemudian kembali menatapku. “Abi pengen belajar lagi ke guru Abi. Abi pengen khalwat.”

“Hah?” seketika aku bangkit dari dudukku disofa. Mataku terbelalak, jantungku berdegup kencang. “Abi ini bohongkan?” tanyaku meyakinkan.

Aku tak bisa membayangkan jika Abi khalwat. Karena, jika itu terjadi Abi akan mengasingkan diri. Dan, tentunya aku akan jarang berjumpa dengan Abi. Abi akan terus berada di kamar. Siang dan malam, waktunya akan dihabiskan beribadah dan berdua dengan Allah. Aku belum sanggup ditinggal Abi.

Khalwat sangat berat aku terima. Karena nanti, derajat Abi akan jauh lebih tinggi. Dan, sebagai anak aku tak bisa menganggapnya sekedar orang tua. Ditinggal khalwat seperti ditinggal pergi. Akan jarang temu, jarang bercakap, jarang pula bisa dekat.

Akhirnya, embun dipelupuk mataku merembas. Tanganku mengepal kuat menahan sakit yang aku dapat. Tak lama, ku rasakan tangan kekar Abi menggenggam tanganku. Ia menatapku dengan sendu. Aku hanya bisa menunduk lemas tak berdaya.

“Jangan khawatir Alwi. Alwi pasti bisa. Abi sudah siapkan orang yang khidmah kepada kamu. Nganter jadwal dakwah kamu, nganter kamu ke pondok, nganter kamu kemanapun,” jelas Abi. “Alwi, Abi rindu sama Umi. Abi mau susul jejak-jejak Umi agar Abi bisa kembali bersatu sama Umi nanti,” lanjut Abi dengan suara yang parau.

Aku tertegun. Sedikitpun tak ada kata yang bisa aku utarakan.

“Bukan berarti semua ini demi mengerjar Umi. Laa! Tapi, Umi itu bukan orang sembarangan dan jejaknya patut Abi contoh. Hidup didunia takan lama Al. Jangan sia-siakan. Jika kita memfokuskan diri kita kepada Allah. Menyerahkan siang dan malam untuk Allah. Maka Allah akan ada untuk kita,” jelas Abi.

“Coba Al, Abi mau tanya. Kalau kamu punya ayam kesayangan sama ayam yang biasa. Terus kamu punya beras. Apakah kamu akan memperlakukan mereka dengan sama?” tanya Abi dengan lembut.

Aku mendongkang, menatap Abi seraya berfikir sejenak. “Ya, bedalah Abi,” jawabku penuh keyakinan.

“Begitulah Wali Allah, kekasih Allah. Setiap hari, Allah bagi manusia rezeki. Seperti orang melempar beras kepada ayam-ayamnya. Di tabur begitu saja, sehingga mereka harus berkerja keras dengan cepat mendapatkan itu beras. Tetapi, jika kepada ayam kesayangannya. Ia akan sediakan wadah dan memasukan beras di dalamnya. Lalu, ia sodorkan dengan rasa cinta. Sehingga, ayam kesayangannya tak perlu keras-keras berusaha dan bahkan kebagian banyak. Begitulah Wali Allah, mereka tidak takut kepada rezekinya hilang. Yang mereka takutkan, pandangan Allah berpaling darinya. Masalah rezeki Allah sendiri yang akan mengurusnya. Allah spesialkan mereka. Kamu tau, guru Abi? Beliau sedang khalwat. Tetapi, rezeki dan kebutuhannya selalu tercukupi. Anak istrinya baik-baik saja dan terjaga. Jadi Abi yakin kamu bisa.”

Aku mangut-mangut mendengar penjelasan Abi. Ya, benarlah memang begitu adanya. Bahwa di hati para kekasih Allah. Tidak ada yang lain, selain Allah dan Rasulullah. Namun… aku gak kuat kalau harus sendirian.

“Emang Alwi gak mau Abi deket sama Allah?”

Pertanyaan Abi spontan membuat aku mengangga. Tidak! Aku bahagia sekali Abi mau menempuh jalan mendekati Allah. Jalan para orang Salasuf Sholeh. Dengan berat, aku tak bisa egois demi diri sendiri.

“InsyaAllah, Alwi bisa, Alwi kuat kok Bi. Semoga Abi selalu sehat dan selalu berada dalam lindungan Allah,” ucapku seraya mengulum senyuman kepada Abi.

Abi membalas senyumanku, tangan kekarnya masih setia menggenggamku. “Alhamdulillah. Abi juga gak bisa sembarangan khalwat Al. Harus ada guru, dan gurunya, guru Mursyid. Alhamdulillah, guru Abi, guru Mursyid.”

“Kamu mau tau cerita Abi lagi gak?” tanya Abi yang diiringi anggukan kepala olehku.

“Dulu, setelah Umi meninggal. Abi putus asa banget. Indah dan Mba Lulu, Abi pulangkan. Mereka itulah yang selalu menemani Umi kalau Abi pergi. Bahkan, rasanya Abi gak sanggup ngurus Alwi. Tiap hari Abi nangis, rindu sama Umi. Sampai usia Alwi lima bulan, Abi bangkit. Abi kembali mengisi jadwal-jadwal kajian. Tau gak? Setiap Abi pergi, setiap itu juga Alwi ikut. Abi bawa Alwi kemana Abi pergi. Jadwal tausiah Abi pada jauh-jauh, tapi untungnya kamu kuat. Pada saat Abi bawa Alwi ke jadwal. Semua jama’ah tertawa melihat kelucuan Alwi, jadi kadang pas Abi dipanggung, Alwi ada yang gendongin sama ibu-ibu jama’ah. Mereka udah pada tau, Ustadz Muhammad suka bawa anak kalau kajian. Sampai usia kamu lima tahun, akhirnya Abi berenti. Abi gak kuat lagi di Bandung, gak kuat nyium aroma-aroma Umi setiap Abi pulang. Akhirnya, Abi bawa Alwi ke Tariem. Didik Alwi agar bisa seperti Umi. Terjaga dan terhormat. Jadi Abi ingin menapaki jejak Umi juga,” lanjut Abi dengan antusias.

Haru, tatkala mendengar perjuangan Abi membesarkan aku seorang diri. Terlebih, saat Abi akhirnya harus hijrah ke Tariem.
Aku tak ingin mengubah suasana menjadi haru dan sendu. Ku ganti, pembicaraan kali ini.

“Alhamdulillah kalau gitu Bi,” ucapku. “Bi, emang Abi gak mau punya penganti Umi?” tanyaku hati-hati. Sebenarnya, aku juga enggan punya Umi lagi. Tapi, apa salahnya untuk kebaikan Abi supaya punya teman hidup.

Abi sontak terkekeh, tangan kekarnya melepaskan gengaman ditanganku. “Kamu ada-ada aja ya Al. Ya, gak mungkin lah. Udah ada Alwi temen hidup Abi.”

“Kalau Alwi nanti menikah gimana? Nantikan dibawa sama suami?”

Abi mengulum senyuman menatapku. “Jangan memikirkan sesuatu yang belum terjadi Al. Belum tentu umur kita sampai. Udah, Abi mau ke kamar dulu, sudah malam kamu tidur, jangan begadang. Dan… jangan dekat-dekat dengan lelaki ya Al. Gak baik,” ucap Abi seraya beranjak dari duduknya dan melenggeng berjalan ke kamar.

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Ada benarnya kata Abi, bisa aja umurku pendek dan gak keburu nikah.

***

Hari-hari terasa cepat berlalu. Ku tatap pantulan diriku dicermin. Wajahku sedikit ku poleskan lisptic dan bedak, tak lupa aku memakai cela. Ku pakai abaya hitam dengan motif bunga berwarna pink, ku padukan dengan fasmina yang senada dengan motif bunga. Aku tersenyum, menatap diriku yang nampak cantik. Walau hanya feeling-ku.

Ku raih cadar Tariem yang telah ku setrika tadi. Cadar Tariem menjadi cadar kesukaanku. Bahannya yang nyaman serta ukurannya yang besar. Hingga, tak jarang tak keliatan sedikitpun warna kerudungku.

Cadar Tariem, nampak indah aku kenakan. Netraku mendongkang, mencari kacamata hitam yang akan aku kenakan. Tara… kacamata hitam ternyata tergeletak diatas nakas. Ku raih dan ku kenakan kacamata hitam. Akhirnya, semua warna hitam melekat pada diriku. Tak hanya itu, ku oleskan parfum Al-Haramain dari Mekah. Wanginya segar dan tak menyeruak.

Tanganku kembali bergerak mencari tasbih kaokah bulat berwarna coklat kesayanganku. Tak lama, aku telah menemukannya tergeletak diatas ranjang.

Hari ini, persiapan telah sempurna. Barang dan keperluanku telah ku masukan dalam koper. Hari ini, aku akan menikah dan bahagianya… hari ini aku akan pergi naik haji. Sejak semalam, aku tak bisa tidur. Hingga aku putuskan untuk khatamin beberapa juz Al-Qur’an sampai waktu tahajjud tiba.

Suara ketukan pintu menyadarkan aku dari lamunan. Aku bergegas membuka pintu, rupanya Abi yang datang ke kamarku. Aku mempersilahkan Abi masuk kamar, tapi beliau enggan.

“Ada apa Bi?” tanyaku.

Abi tersenyum seraya mengecup keningku yang tertutup kain cadar. “Semoga lancar ya nak disana. Setelah kamu berangkat, Abi dan Malik akan pergi juga ke Malang.”

Rasa haru menyeruak dalam hatiku. Pelupuk mataku telah basah oleh embun. Aku menghela nafas sejenak. “Aamiin. Semoga abi juga lancar. Do’ain Alwi ya Bi.”

“InsyaAllah sayang. Namamu selalu terlantun dalam baitan do’a Abi.”

Aku tersenyum tipis mendengar ucapan lembut Abi. Tanpa izin, aku memeluk Abi dan menenggelamkan kepalaku di dada bidang Abi.

“Makasih Abi. Alwi sayang banget sama Abi dan Umi. Semoga kita bisa kumpul sama Umi,” lirihku.

“Aamiin.”

Aku yakin, kepergian Umi adalah takdir terbaik. Baik aku atau Abi, kami akan sama-sama pulang kepada-Nya. Walau masih dirahasiakan kapan waktu dan tempatnya. Umi adalah cinta pertama Abi. Dan Abi adalah cinta pertamaku.

Dalam pelukan, aku merasakan degupan jantung yang masih bertalu. Yang artinya, aku masih diberi kesempatan hidup untuk bisa mensejajarkan diriku mengejar Umi dan Abi dalam ketaatannya.

***

“Qabiltu nikahaha wa tazwijaha Alawiyyah bintu Muhammad Rasyid Asyfi’i alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq,” ucapnya lantang dengan satu kali hembusan nafas.

Penghulu menoleh ke kanan dan kiri, mencari jawaban dari ijab yang telah diucapkan.

“Sah.”

Ucap keluarga Bunda dan beberapa orang saksi.

“Alhamdulillah,” semua berucap hamdallah dengan sorak.

“Alhamdulillah,” ku ucapkan seraya mengusap wajahku. Walau keberadaanku tak terlihat, karena di halangi oleh bunda. Tapi aku, tau bagaimana keadannya. Kini, Idris telah menjadi suamiku. Laki-laki asing yang tak ku kenal. Bahkan parasnya, baru ku lihat sekarang saat ijab. Tapi… dia sedikit tampan. Kulitnya putih, hidungnya mancung, ada bulu tipis didagunya, manik matanya beriris cokelat, tubuhnya tegap dan tinggi standar.

Dari cerita yang ku dengar dari bunda, Idris sama-sama lulusan Malang. Dia tinggal di Jakarta dan mengajar di pondok bunda. Katanya, dia pintar dan juga cerdas. Sudah banyak hafalannya. Lebih utamanya, dia orang yang baik.

Aku menatap Bunda yang tepat didepanku. Ia berbalik, hingga berhadapan denganku.

“Pakai cincinya ya sayang. Ini mas kawinnya, indahkan?” tanya Bunda yang dibalas anggukan olehku.

Perlahan, jari Bunda bergerak memasukan benda kecil berlubang itu, agar masuk dijari lentik manisku. Aku tersenyum getir saat merasakan benda itu kini tersemat indah di jari tanganku. Dengan lembut, bergegas aku menyalami Bunda dan mencium punggung tangannya.

“Hati-hati di sana ya Al. Jaga diri,” titah Bunda yang dibalas senyuman olehku.

Netraku kembali berpaling menatap Idris. Setelah selesai akad, Idris bangkit dari duduknya dan pergi keluar bersama para keluarga. Tak ingin ketinggalan, aku pun ikut.

“Al, mending kamu duduk di bis lebih dulu. Mualim Idris masih lama, mengatur dulu para jama’ah,” ucap Bunda tepat saat aku beranjak mau keluar rumah.

“Yaudah Bun, Alwi pergi ya. Do’ain Alwi.”.

“Pastinya sayang,” ucap Bunda seraya mengulum senyuman.

Tak lama, Abi datang memberiku seulas senyuman. Abi mendekat kepadaku dengan netra yang menelisik, menatapku. “Jaga diri-baik disana. Semoga jadi haji mabrur ya sayang.”

“Aamiin,” ucapku seraya menyalami dan mencium punggung tangan Abi.

***

Aku mendengus kesal. Idris begitu lama mengatur jama’ah. Aku menoleh ke luar jendela bis. Aku tak ingin menunggu di pelataran pondok dan mengikuti do’a bersamadisana, karena pelataran sangat penuh oleh lautan manusia. Sepertinya, mereka keluarga para jama’ah yang akan berangkat.

Hingga akhirnya, ucapan alhamdulillah terdengar sayup-sayup ditelingaku. Sepertinya mereka telah selesai. Kini, para jama’ah berhambur masuk ke dalam bis. Ada dua bis yang akan mengantar kami ke bandara. Sesi pengabsenan telah dilakukan tadi sebelum do’a bersama.

Tepat saat aku sedang menoleh ke luar jendela. Seseorang berdehem, membuatku menoleh ke arahnya. Deg, jantungku berdegup kencang. Netraku menangkap sosok yang kini menyandang gelar, suami Alawiyyah. Ya, itu suamiku.

“Assalamua’alaikum,” ucap Idris mengulas senyuman.

Aku tergagap. “Wa’alaikumssalam Warohmatullah.”

“Gak mau salam?” tanyanya.

Aku menunduk malu. Maksud salam? Salam? Salam apa? Sekelebat benang melintas dalam pikiranku. Ah, iya, maksudnya pasti menyalami tangannya.

Aku mendongkap menatapnya. Idris mengulurkan sebelah tangannya. Tanganku bergetar, dengan malu-malu, ku raih tangannya dan menyalaminya.

“Boleh aku duduk?” tanyanya setelah merelai salaman denganku.

“Ah, iya, silahkan,” ucapku gugup.

Aku kembali melempar pandanganku ke jendela luar. Para keluarga melambaikan tangan tatkala bis bergerak. Rasa haru menyeruak dalam dada. Akhirnya, bulir bening lolos diiringi dengan senyuman getirku. Ada Abi, Bunda, Malik, dan tentunya anak-anak Bunda ikut serta melambaikan tangan padaku. Aku membalas mereka dengan kegirangan.

Sementara, Idris bangkit dari duduk tepat saat bis kini melaju. “Seperti biasa, kita akan berdo’a bersama. Untuk para jama’ah mohon membuka auradnya dan tolong mari kita lakukan secara sama-sama,” ucap Idris.

Setelah itu, Idris kembali duduk disampingku. Kami duduk di kursi paling depan. Tangan Idris, memegang satu mic dan mendekatkan barang itu ke bibirnya. Aku tersadar. Aku juga harus mengeluarkan aurad ditas hitam gendongku.

Kini, kami semua membaca bacaan surat, dzikir, shalawat dan do’a sepanjang jalan. Hingga tak terasa saat sore ini kami telah sampai di bandara. Sebelumnya, kami melakukan shalat ashar terlebih dahulu dengan para jama’ah di mushola. Degup jantungku semakin beririma, sebentar lagi aku akan pergi ke tanah suci, BaituLLaah.

***

Aku tertegun, menatap sinar mentari yang menusuk kulit putih dibalik kain hitam yang ku kenakan. Akhirnya, aku, Idris, dan para jama’ah telah sampai di Mekkah setelah memakan waktu yang cukup lama selama diperjalanan. Sejenak, aku memandang Idris di balik punggungnya yang sedang memberikan arah kepada jama’ah.

Dia menempati janjinya tak berbuat apa-apa padaku. Bahkan pada saat di pesawat, Idris hanya bertanya-tanya sejenak mengenai kehidupanku di Tariem. Sepertinya, dia laki-laki baik dan dewasa. Tak banyak bicara, tapi enak diajak diskusi.

***

Setelah mengatur para jama’ah untuk masuk hotel. Akhirnya hari ini aku telah sampai menapaki kamar hotel untuku dan Idris istirahat. Rasa lelah tak bisa aku tepis, aku benar-benar lelah sekarang.

Saat diriku sedang terjatuh dalam ranjang, untuh menghempas rasa lelah. Pintu kamar terbuka, aku tersentak. Segera aku bangkit dan duduk dibibir ranjang.

Ternyata Idris yang masuk, seperti biasa, dia mengulum senyuman untukku. Setelah Idris meletakan koper hitamnya sudut kamar, Idris berjalan menghampiriku. Membuat jantungku berdegup lebih kencang, aku menunduk malu, tak kuasa menatapnya yang kini berdiri dihadapanku.

“Aku belum melihatmu, Alawiyyah,” ucapnya pelan. Aku langsung mendongkang menatapnya. Apa aku tak salah dengar, dia ingin melihatku?

Oh… tidak… tidak. Aku tidak mau! Malu! Plis… lagian dia kan…. Belum sempat aku melanjukan pikirannku yang tengah menjelajah Idris kembali membuka suara.

“Boleh aku lihat wajahmu, Alawiyyah?”

Deg…

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here