Suka Duka Dunia Ojol

0
108
views

“Pernahkah merasa serba salah?” Saya pernah. Ketika mendapat penumpang seorang Bumil (ibu hamil Red). Sampai ban motor saya kurangin tekanan ainginnya. Karena dia tidak mau merasakan guncangan ketika ban motor kena lubang.

“Pernahkah merasa seperti orang ketiga yang merusak sebuah hubungan?” Saya pernah. Ketika mengantar seorang ibu muda. Sesampai di rumahnya. Tanpa saya kira, suaminya membanting pitu pagar rumah. Setelah saya mendengar perdebatan mereka. ‘Kok lama amat ngapain saja, dengan tukang ojek itu? “Tanya seorang lelaki tadi kepada istrinya,” yang padahal istrinya meminta saya untuk mampir dulu, hanya sekedar membeli nasi goreng. Kebetulan antre. Sesaat etelah huja reda.

“Pernahkah merasa dituntut seperti seorang pembalap, karena setiap detik yang terlewati baginya sangatlah berharga?” Saya pernah. Pada saat itu saya mendapat costumer, yang akan menghadiri sebuah acara yang sangat penting dan dia butuh kecpatan yang lebih. Mengingat kondisi jalanan yang lumayan padat.

“Pernahkah merasa seperti seorang pencuri yang diintrograsi. Sesaat setelah tertangkap ‘kering’ (baca basah) ketika sedang melakukan pencurian?” Saya pernah. Saat itu saya mendapatkan pekerjaan mengantarkan sebuah paket. Sebelumnya sudah saya tanyakan perihal isi paket tersebut. Pengirim mengatakan sesuai aplikasi. Tertera di aplikasi saya adalah sebuah patung, ukuran 10×20 cm (centi meter). Sesampainya ditempat yang dituju setelah serah terima. Pikir saya mau langsung pulang. Tapi malah ditahan. Pletrark! Terdengar suara pintu dikunci. Saya tanya ada apa ini? Kok pake kunci pintu segala. “Jangan pergi, kita periksa dulu. Ini barang mahal!” Jawab seorang perempuan. Setelah dibuka. Ternyata bukanlah sebuah patung, melainkan sebuah iphone. Kok iphone, katanya patung? Tanyaku, heran. Mereka hanya ketawa sinis.

“Pernahkah merasa dikerjain?” Saya, pernah. Saat itu saya mendapatkan job. Membelikan sesuatu. Setelah sampai dialamat pengantar sesuai yang tertera diaplikasi. Ternyata almat itu tidak ada. Saya telpon ponselnya pun sudah tidak aktif. Saya menunggu hampir satu jam lamanya di tempat itu. Pikiran saya mulai kacau, dilema mulai berkecamuk memenuhi ruang yang ada di kepalaku. Waktu sudah larut malam dan yang membuat kepalaku sekan mau pecah, mengingat uang yang saya belanjakan. Itu uang hanya segitu-gitunya … untuk bisa dibawa pulang hari ini. Setelah lama saya menimbang. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang dengan membawa belanjaan, yang sebenarnya tidak kami butuhkan dan menceritakan apa yang telah saya alami kepada Sang istri di rumah. Tapi taktidr berkata lain. Baru saja saya menyalakan kendaraan saya. “Mas… mas… tunggu…! Teriak seorang ibu paruh baya. Mas, yang membelanjakan pesanan saya kan? Iya, jawab saya. “Sorry, tadi saya ketiduran” Mengenai alamat, Rt/RW nya saya minta maaf salah ketik. Ini ongkos beserta uang belanjanya. Kembaliannya ambil saja.

Dan dari kisah di atas, saya tutup dengan kisah … dibawah.

“Jam, menunjukan pukul 23:15. Dreetttt … hape saya bergetar sengaja suaranya saya silent. Suka merasa tidak enak dengan teman satu perjuangan mengingat mereka lebih lama berada di tempat itu. Dan saya baru saja 5 menit sudah mendapat orderan. Goride tertera dilayar ponsel saya.

“Selamat malam, Kak Gebby.” Langsung saya chat namanya, Gebby. Sudah lumrah di dunia perojolan memangil dengan pangilan ‘Kakak.’

“Malam, bang. Lo dimana? Gue di Lobby yang menghadap pinggir kali, ya.” Etdah, dalem hati ini bocah kok absrud, ngomongnya gue elu.

“Oke, saya persis di pinggir kali’nya.” Kebetulan saya memang biasa nongkrong disitu.

“Oke, gue kesana. pelat sama?” (nopol kendaraan maksunya)

“Sama,” jawabku singkat.

Selang beberapa menit datanglah seorang gadis remaja cantik wajah oval, rambut agak keriting-keriting lurus (entahlah disebutnya apa). Penampilannya kekinian Dengan kaos ketat dan celana jeans robek-robek di ke-dua atas lututnya.

“Kak, Gebby ya? Sambutku datar.

“Iya” jawabnya.

“Ayo, naik sesaat setelah kunyalakan sepeda motor.

Kira-kira baru berjalan 20 meter. “Setop bang” Gebby menepuk pundak.

“Ada, yang ketinggalan ya,”coba menebak.

“Bukan, Bang. Lo, mau enggak temenin gue makan lagi bete nih butuh temen. Terserah lo mau makan di mana. Apa mau balik lagi, makan di mall?

“Mall? jam segini udah mau tutup kaali.” jawabku.

“Terserah, lo. Mau dimana, pokonya please temenin gue, tenang aja gue yang traktir kok, jangan takut.” katanya.

“Enggak, ah. Udah malam, kebetulan saya juga udah makan.” Jawabku lirih.

“Baru, setengah dua belas, Bang. Inikan weekend, ayo lah.” Gebby masih belum menyerah.

“Maaf, Sebenarnya dari jam sepuluh tadi. Istri saya sudah whatsapp terus minta saya cepet pulang.” Dia, tidak menjawab mendengar penjelasanku.

“Abang antar kamu pulang aja, ya? Kulihat dari kaca sepion, Dia cuma mengangguk.

○○○

Prinsip saya:

Apakah, saya marah dengan perlakuan di atas? Manusiawi. Jelas saya marah! Tapi hanya sesaat.
Apakah saya dendam? Oh, tidak! Kenapa? Karena, setiap pekerjaan ada resiko yang harus kita hadapi.
Apakah, saya membenci orang-orang seperti itu …?” Tidak! Kenapa? Karena saya tahu. Setiap isi kepala pasti berbeda.
Apakah, saya kapok mengingat seringnya mendapat perlakuan yang tidak wajar. Dan memutuskan untuk hengkang dari dunia perojolan? Tidak! Kenapa? Karena saya mencintai pekerjaan saya.

by : Siddiq Al Bantanny

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here