Suami Selingkuh dan Aku Mendua #01

- Advertisement -
- Advertisement -

Naomi, perempuan cantik berusia 25 tahun itu sengaja pulang lebih cepat dari kantor hari ini. Ia mampir ke toko kue langganannya untuk mengambil pesanan kue miliknya, kue tart dengan hiasan indah sebagai pelengkap perayaan anniversary ke 1 pernikahannya, pernikahannya dengan Raihan, suaminya.

Perempuan dengan tubuh semampai berdagu tirus dengan bulu mata serta alis hitam pekat itu memarkirkan mobilnya tepat di depan toko kue tujuannya. Baru saja ia hendak melepaskan sabuk pengaman, namun tiba-tiba gerakan tangannya terhenti saat matanya menangkap sosok tak asing, bahkan sangat tak asing baginya.

Di sana, Raihan baru saja keluar dari toko yang sama bersama seorang perempuan muda dengan rambut pirang sebahu. Tangan kanan Raihan menenteng bungkusan cukup besar, sedang tangan kirinya merangkul mesra perempuan di sampingnya.

Keduanya berjalan menuju mobil Raihan yang terparkir di jalan berlawanan dengan mobil Naomi.

Naomi merasakan seluruh tubuhnya gemetar. Emosi di dadanya membuncah dengan jari-jemari yang terasa memanas karena tanpa sadar tangannya meremas kuat sabuk pengaman yang masih melekat di tangannya. Dada dengan kemeja berenda di bagian kancing tengah itu terlihat naik turun, seiring jantung yang berdetak kian cepat.

“Apa ini yang disebut meeting penting?” Naomi bergumam dengan satu sudut bibir terangkat. Kepala yang tertutup pashmina warna putih susu itu terlihat menggeleng pelan.

Istri mana yang tak hancur saat melihat suaminya berlaku demikian? Itu pula yang dirasakan Naomi. Ia merasakan detik ini hatinya berkeping. Luka yang tak berdarah itu kembali diciptakan Raihan untuknya.

Perlahan kedua matanya menghangat, sesaat kemudian mengkristal dan mengalir pelan di wajah cantiknya. Cepat Naomi mengusap kasar bulir yang jatuh. Ia tak ingin menyia-nyiakan air matanya untuk menangisi pengkhianatan Raihan untuk kedua kalinya. Ya, ini untuk kedua kalinya ia mendapati Raihan berkhianat.

Masih melekat di ingatannya bagaimana dua bulan lalu Raihan bersujud sambil tersedu di kakinya saat ia menggeret koper miliknya untuk pergi dari kehidupan Raihan saat laki-laki itu ketahuan selingkuh untuk pertama kalinya.

“Abang mohon jangan pergi, Sayang. Abang khilaf. Maafkan kesalahan Abang untuk kali ini, Abang janji tak akan mengulangi kesalahan serupa.” Raihan berucap dengan suara serak karena tangis pilunya.

Naomi bergeming. Baginya perselingkuhan adalah salah satu kesalahan terbesar dalam berumah tangga. Dan tak akan ada obatnya selain taubat.

“Aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup, tapi jika begini kenyataannya, aku rela menyandang status yang perempuan manapun tak pernah menginginkannya.” Naomi berucap tegas dengan suara bergetar. Tak ada lagi air mata karena bulir bening hangat itu telah mengering sejak dua hari lalu saat mengetahui Raihan keluar kota dengan selingkuhannya.

Tangan Raihan kukuh memegang kedua betis perempuan itu sambil tersedu-sedan. Ia sangat mencintai istrinya, namun ia pun tak ingin menyia-nyiakan Sena, mahasiswi semester akhir yang selalu mampu membuat dirinya terpuaskan.

“Apa kau tak memikirkan kesehatan Mama? Mama sangat menyayangimu, Na. Abang tak ingin gara-gara kejadian ini Mama kenapa-napa. Abang mohon, demi Mama kau jangan pergi. Abang akan melakukan apa pun asalkan kau tetap tinggal. Abang khilaf, Na. Tolong maafkan!” Raihan mengiba.

Sesaat Naomi memejamkan mata. Bayangan Mama Maya, Mama Raihan mengawang di kepalanya. Wajah teduh perempuan paruh baya itu mampu meredam emosi di hati Naomi yang tengah memuncak.

Ya, Mama Maya menderita penyakit jantung. Tapi bukan itu yang membuat Naomi berusaha keras berdamai dengan hatinya melainkan kebaikan Mama Maya pada keluarganya lah yang masih menjadi pertimbangan Naomi saat ini. Mama Maya bahkan membiayai Naomi untuk kuliah hingga ia bisa menyandang gelar sarjana.

Lamunan Naomi buyar kala mobil Raihan mulai bergerak meninggalkan tempat itu. Cepat Naomi menstarter mobilnya, mengikuti arah ke mana mobil sang suami melaju, hingga sepuluh menit berselang mobil Raihan berhenti di depan rumah berpagar besi.

Raihan turun terlebih dulu, lalu membuka pintu bagian penumpang. Merangkul bahu gadis belia dengan tinggi sebahunya itu.

Naomi memelankan kendaraannya ketika jarak antara mobilnya dengan mobil Raihan tinggal belasan meter. Kali ini tak ada lagi air mata yang ke luar, melainkan rasa muak yang memenuhi rongga dada perempuan dengan gigi kelinci itu setelah melihat kejadian menyakitkan di depan matanya.

Perlahan ia menghentikan kendaraannya tepat di depan mobil Raihan, lalu segera turun. Raihan yang melihat kedatangan mobil yang begitu ia kenal segera melepas rangkulan tangannya di bahu Sena.

Naomi meraih ponsel yang sejak dua menit yang lalu ia gunakan untuk merekam kejadian menyakitkan di hadapannya yang mungkin suatu saat ia perlukan. Kali ini ia mengarahkan benda pipih itu ke arah dia manusia tanpa nurani di depannya.

“Ini yang kau sebut Meeting penting?” Naomi bertanya dengan santainya meski di relung sana hatinya terasa hancur berkeping.

“Na—Nana, aku akan jelas ….” Kalimat Raihan terputus karena tangan Naomi cepat terangkat di depan wajahnya.

“Tolong jangan mengatakan sesuatu yang semakin membuatku muak!” ucapnya dengan suara bergetar. Matanya menatap nyalang laki-laki di hadapannya, membuat wajah Raihan terlihat salah tingkah. Sedangkan Sena, perempuan di samping Raihan itu menyungging senyum sinis.

Bibir tipis berdagu lancip milik Naomi tersenyum lembut, seolah tak ada amarah ataupun gurat kecewa di sana, meski pada kenyataannya hatinya seperti tak lagi berbentuk.

Susah payah ia berdamai dengan segumpal daging di dalam sana, berharap kali ini ia tak lagi menampakkan wajah cengengnya sebagai perempuan.

“Tak perlu khawatir, aku hanya ingin memastikan jika suamiku yang tampan ini menjalin hubungan dengan wanita baik-baik. Upss, salah, mana ada perempuan baik-baik jadi maling.” Naomi terkekeh sambil menatap Raihan dan Sena bergantian. Perempuan itu terlalu pandai menyembunyikan rasa sakitnya.

Jika menuruti emosi yang tengah membuncah di dadanya ingin rasanya ia mencakar wajah laki-laki tampan berhati busuk di hadapannya kini. Atau mungkin meraih sepatu dengan heels 5 cm yang kini melekat di kakinya dan menghajarnya pada perempuan jal*ng yang sejak tadi bersama suaminya. Namun itu tidak ia lakukan. Ia lebih memilih caranya sendiri untuk membuat Raihan bisa menyesal karena telah menoreh luka di hatinya.

“Jaga ucapanmu! Harusnya kau sadar apa kekuranganmu sampai-sampai suamimu memilihku.” Dengan sombongnya Sena berucap. Padahal jauh di relung hatinya mengatakan jika Naomi jauh lebih segalanya dibandingkan dirinya.

Mendengar kalimat Sena, tawa Naomi semakin kencang. Sedang Raihan merasa semakin gusar. Laki-laki itu sama sekali tak pernah melihat sang istri bersikap setegas ini meski watak keras kepala Naomi sudah sejak lama ia ketahui.

Raihan mulai merasa semakin merasa tak nyaman. Ia sadar untuk meminta maaf kembali seperti cara pertama yang ia lakukan pada Naomi mungkin akan sulit diterima istrinya itu. Ia pun sadar jika Naomi bertindak kemungkinan keluarganya akan membencinya, lebih-lebih sang Mama.

Raihan berusaha mendekati Naomi, dipeluknya pinggang sang istri, namun dengan cepat Naomi menepisnya.

“Jangan menyentuhku! Atau aku akan semakin membencimu!” Naomi menatap nyalang pada Raihan yang kini mematung di depannya dengan wajah semakin gusar.

“Dan kau, kau bilang aku yang harus sadar? Apa kau lupa, jika laki-laki buaya tak akan pernah merasa puas dengan satu perempuan saja? Apalagi dengan perempuan bermodal nafsu sepertimu?” Naomi menatap nanar pada Sena kemudian kembali terkekeh. Sedangkan Sena menampakkan wajah memerah karena menahan marah.

“Perempuan gil*!” hardik Sena. Telunjuknya teracung ke arah wajah Naomi. Perempuan itu tak sanggup lagi untuk lebih lama meledakkan amarahnya. Sayangnya kalimat Naomi selanjutnya membuat Sena semakin murka.

Sena melangkah cepat mendekat hendak memberi perhitungan pada Naomi, sayangnya Raihan dengan sigap mencegahnya. Ia tak ingin ulah Sena membuat suasana semakin kacau, lebih lagi Naomi adalah menantu kesayangan mamanya.

“Apa cermin di rumahmu masih tak cukup untuk kau berkaca? Ah, sudahlah, aku tak ingin menghabiskan waktuku yang berharga hanya untuk meladeni manusia tak punya nurani seperti kalian berdua.”

Naomi melangkah pergi sambil tersenyum manis, meninggalkan Raihan yang menatapnya dengan wajah pias, serta Sena yang menampakkan wajah merah padam. Beberapa langkah setelahnya perempuan dengan tubuh semampai itu kembali menghentikan langkahnya lalu menoleh.

“Oh, ya, aku tunggu Abang di rumah dua puluh menit lagi. Jika tak datang, Abang akan tau risikonya!” Naomi mengerlingkan sebelah mata ke arah Raihan membuat jantung laki-laki itu kini menciut.

Bersambung

- Advertisement -

Latest news

Related news

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here