Suami Pelit

0
208
views

“Dek, masak napa jangan hp terus.” Mas Tomi menaruh tudung saji kasar ke meja setelah melihat isinya.

“Kan udah masak, Mas. Itu cah kangkung sama bakwan jagung, ada sambelnya juga.” ucapku sambil menaruh ponsel, padahal baru saja aku memegangnya, itupun karena membalas pesan dari pelanggan yang membeli gamis daganganku.

“Ya sama daging apa ayam gitu kek, Dek. Bosen makan sayur terus.”

“Mana uangnya buat beli daging?” Aku menodongkan tangan setengah bercanda, tidak mungkin juga beli daging malam-malam begini.

“Ahh kamu ini uang terus. Kemarin minta uang, sekarang minta lagi. Kamu pikir cari uang gampang apa? Perempuan ngerti apa sih? Bisanya cuma minta!” jawab Mas Tomi sambil menampik tanganku.

Sakit sekali rasanya, bukan tangan yang sakit, tapi hati.

Padahal Mas Tomi hanya memberi uang belanja sehari lima belas ribu, itupun kadang ada hari saat ikan hias dagangannya tidak ramai, ia tidak memberi uang sama sekali.

Jadilah aku harus menambal dulu pengeluaran dengan uang hasil berjualan gamis dan pulsa, kadang juga dengan sisa uang belanja yang kusisihkan sedikit demi sedikit. Mas Tomi juga tidak mengizinkanku untuk bekerja. Pengeluaran rumah, jajan anak, dan lain-lain sulit sekali rasanya mengatur keuangan. Belum lagi selalu disalahkan kalau uang habis.

**

“Mas nggak dagang?” tanyaku saat melihat ia duduk bersantai di teras sambil menyetel musik dangdut keras sekali.

“Ah males, anak sekolah paling juga pada pulang cepat, kan hari Jumat.” Jawabnya enteng.

“Gas habis, Mas. Minta uangnya ya.”

“Uang terus kamu itu, udah tahu aku lagi nggak kerja. Nggak lihat apa?” bentaknya kasar. Anakku Zio yang berumur lima tahun sampai menengok ke arah kami saat sedang bermain.

“Ya udah nanti nggak usah minum kopi, nggak ada gas.”

Mas Tomi hanya diam, sekilas kulihat bibirnya dimanyun-manyunkan mengejek.

“Mbak Isti, ada pulsa?” Sinta, tetangga kami yang baru masuk SMA tiba-tiba datang. Dia memang sering beli pulsa kepadaku.

“Ada, Sin. Berapa?”

“Lima belas ribu.” Jawabnya ramah. Setelah ia mendikte nomor, kuterima uang sebesar tujuh belas ribu rupiah, lalu ia pamit pulang dan berterimakasih.

“Itu aja dulu buat beli gas kan pas.” Perintah Mas Tomi santai.

“Ini uang Isti Cuma dua ribu Mas, yang lima belas kan harus muter buat beli pulsa lagi.”

“Halah pinjam dulu, nanti aku ganti.” Jawabnya seperti biasa. Dan bahkan ia sudah lupa, kalau yang sebelum-sebelumnya tidak pernah ia ganti.

Daripada harus ribut di depan Zio, aku ke warung untuk membeli gas. Nasib, ternyata harga gas melon naik menjadi sembilan belas ribu rupiah. Belum lagi Zio ternyata menyusulku ke warung dan meminta permen kenyal kesukaannya.

“Berapa, Bu?”

“Dua puluh ribu Isti, sama permen satu ya?” jawab Mak Tun cekatan.

“Iya, Mak. Mak tapi uang saya kurang tiga ribu.” sahutku sambil menyodorkan uang tujuh belas ribu hasil pulsa yang laku tadi.

“Besok enggak apa-apa.” ujarnya ramah.

Saat akan menuntun Zio pulang, Mas Tomi terlihat menuju ke arah Mak Tun juga. Kupikir ia menyusul kami.

“M*rlboro merah satu, Mak.” Mas Tomi menyodorkan uang tiga puluh ribu rupiah. Dalam hati aku cuma menggumam, kok dia punya uang padahal tadi saat kuminta bilang tidak ada.

“Rokoknya dua puluh lima ribu, kembali lima ribu ya.” Mak Tun membuka kotak penyimpanan uangnya, mencari kembalian.

“Mas uangku kurang tiga ribu bayarin dulu ya?” ucapku semangat, merasa bahwa Mas Tomi tepat datang di saat-saat yang dibutuhkan.

“Ogah amat, itu kan utangmu. Bayar aja sendiri.” jawab Mas Tomi.

“Loh tapi kan Mas?-” Belum selesai aku bicara, ia sudah melenggang pergi sambil membawa sisa uang lima ribu tadi.

Mak Tun geleng-geleng kepala, sementara aku hanya bisa mengelus dada dan beristighfar.

**

Malam hari setelah Zio tidur dan semua pekerjaan rumah selesai, aku membuka Facebook untuk melihat barangkali ada yang mengirim pesan dan memesan gamis. Ternyata kosong, akhirnya aku memutuskan untuk terus promosi, memikirkan kata-kata yang sekiranya bisa menarik perhatian pelanggan.

“HP terus. Enak ya perempuan kerjanya Cuma main hp.” Mas Tomi menyindir dari luar bilik, aku sendiri sedang menemani Zio tidur dan meluruskan kaki yang pegal.

“Aku main HP juga kerja lo Mas ini. Baru juga selesai nyeterika, tadi nyuci, ngepel, momong Zio, apa nggak kerja?”

“Kerja apa? Facebookan? Perempuan kalau main Facebook paling upload foto biar dilihat suami orang. Alay!” Katanya tanpa tedeng aling-aling.

“Astaghfirullah, Mas. Siapa yang kayak gitu? Aku cuma pernah upload barang dagangan. Upload foto Zio aja aku nggak berani.” balasku geram. Mas Tomi seperti biasa hanya mengejek dengan memainkan bibirnya. “Tadi siang kenapa Mas nggak mau bayar kekurangan di warung? Kan malu sama Mak Tun.”

“Ya kamu aneh, orang uang mau kubuat beli cilok kok diminta, enak aja.”

Aku mengelus dada lagi. Sudahlah percuma berdebat dengan Mas Tomi yang pelit, hanya akan menambah emosi di hati.

“Apa itu Mas?” tanyaku saat ia menutup bungkusan kresek hitam.

“Kenapa? Mau? Gorengan enak nih, tapi maaf ya udah pas jumlahnya buat aku.”

“Kok aku nggak dikasih?”

“Ya siapa juga yang tahu kalau kamu mau. Beli sendiri sana.”

“Mas, mas, pelit.” jawabku sambil masuk lagi ke kamar. Kalau sudah bilang tidak boleh berbagi, ya sampai habis akan ia makan sendiri. Aku melihat wajah anakku yang tertidur dengan nelangsa. Zio, semoga ia besar tidak menjadi seperti Ayahnya. Tidak apa-apa Ibu sengsara, tapi jangan sampai anakku ikut merasa susah. Tidak terasa air mataku jatuh saat mengamati Zio kecil yang serba kekurangan. Bajunya yang sudah sobek di bagian ketiak dan celana yang sudah cingkrang masih melekat di tubuh mungilnya. Aku janji akan bekerja keras untuk Zio. Karena entah kapan suamiku tidak pelit lagi.

by: Pitray

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here