Student Is Mafia #03

0
204
views

Siswa berpenampilan urakan itu pergi. Bibirnya terluka dan wajahnya yang lebam. Pukulan Pak Devan memang kuat. Sedangkan Zafia yang dari tadi menawarkan untuk mengobatinya enggan untuk bersuara. Tatapan yang tajam, sinis dan datar membuat sang ibu guru kadang gugup menendangi siswa tersebut. Benar-benar menakutkan.

Seketika ia mengingat pesan dari kakak Kasim. Ia mengatakan bahwasanya, cucunya Zay itu memang sangat memilukan, dalam artian ia anak yang sangat kasar, brutal bahkan bisa membunuh.
“Nak Fia harus hati-hati dengan Zay, sebab anaknya sangat keras, susah diatur,” ucap Kakek Kasim waktu Zay sebelum masuk sekolah di MAN Nuril Kembang Lembang.

“Dan Nak Fia, sebagai gurunya di sekolah mohon himbauannya, tolong buat Zay menjadi baik. Setidaknya, dia tidak bisa terlepas dari barang-barang tajam.”
“Semoga saja Zay bisa berubah. Selama kita bisa memberi dia nasehat yang positif, insyaallah Zay bisa berubah.”

“Amin.” Kakek Kasim ingin anak cucunya itu bisa berubah.
“Maaf, kek, Zay menjadi anak nakal itu apa sebabnya ya?” tanya Zafia.
“Sebab dulu Zay selalu menyaksikan ke dua orang tuanya bertengkar setiap hari, karena perusahaan ayahnya Zay bangkrut. Di kalah itu Zay tidak terurus dengan baik. Ayahnya sibuk dengan dunianya sendiri begitupun sebaliknya dengan ibunya.” Kakek Kasim bercerita.
“Zay, saat sekolah SMA sudah banyak kasus-kasus yang terlibat. Entah apa sebab dan musababnya. Kami keluarganya tidak tahu. Ibunya pergi entah ke mana, kami tidak tahu, setelah mereka usai bercerai,” lanjut Kakek Kasim bercerita.

Hati Zafia ikut prihatin dengan Zay. Sifatnya yang keras ternyata kurang didikan dari orang tua. Ayahnya yang sibuk bekerja sedangkan ibunya pergi entah ke mana.

Zay menatap foto kekasihnya di layar lebar handponenya. Sudah satu tahun mereka dekat, namun cinta mereka berakhir dengan stragis.

“Cuman, kamu yang ngertiin saya Fit,” gumamnya.
Tiba-tiba benda pipih yang ia genggam berbunyi.
“Hallo, Bos, penyelidikan pencarian koin-koin emas sudah terideteksi, tetapi musuh masih banyak mengintai,” ucap penelpon disebrang sana.

“Bajingan!” Zay langsung emosi.
“Suruh semua pengikut, harus hati-hati. Usahakan koin-koin tersebut harus kita yang dapat. Paham!!” gertak Zay, menekan kata-katanya.

“Baik,” ucap pria kepercayaan Zay.
“Ingat! Lakukan taktik seperti biasa. Siapkan senjata kalian, jangan hanya pistol tapi benda-benda tajam yang lainnya. Lokasinya di mana?”
“Di gua Lawa, di bawa gunung.”

“Oke, hari Minggu saya akan ke sana. Ingat hati-hati dengan musuh!” ucap Zay mematikan sambungan telpon.

Zay, sang ketua mafia memang sangat cerdik. Taktik kejahatannya sangat misterius. Apabila semua kejahatannya terbongkar pasti sudah lama akan membusuk dalam jeruji besi.

Pasti ada yang bertanya, kok, masih sekolah sudah jadi geng mafia? Kerena geng besar sudah meninggal. Kepercayaan geng mafia pertama dinobatkan kepada Zaidan, sebab kelincahannya dalam memainkan berbagai alat senjata dan amunisi taktik permainannya dalam mengadang musuh sangat lincah sehingga Zay dipercayakan untuk menggantikan posisinya geng terbesar.

Zay mengikuti kompolotan geng mafia, dulu sebenarnya hanya ingin mencoba atau sekedar iseng-iseng, kerena mengingat dirinya tak ada yang perduli dengannya. Ayahnya, ah entah sibuk sendiri dengan pekerjanya. Sedangkan sang ibunda pergi dengan laki-laki yang menurutnya kaya.

Perceraian orang tua adalah korban terbesarnya adalah anak. Anak yang sebenarnya membutuhkan kasih sayang dari orang tuanya, kini berubah menjadi keras, brutal dan tak mau dinasehati dengan baik.
Zay mencari kesenangan sendiri, bebas kemana saja ia pergi, berkelana tanpa tujuan sudah menjadi hidupnya. Apalagi ayahnya tak ambil pusing. Hanya kejadian tempo kemarin kasus prasngka pembunuhan yang hampir beberapa perusahan Suryo gulung tikar. Maka dari itu, Suryo langsung turun tangan untung menyelamatkan perusahaanya yang bangkrut.

….

Pagi seperti biasa, Zafia akan mengajar di kelas bimbingannya yakni kelas 12 IPS 1. Di mana kelas tersebut, kemarin membuat semua orang hampir jantungan, sebab perbuatan siswa baru.
“Fia, hari ini jangan masuk dulu di kelas 12 IPS 1, pasti masih syok dengan kejadian kemarin,” tegur Devan.

Devan adalah guru matematika. Guru dengan perawakan tinggi berkulit sawo matang dan kata orang jika tersenyum terlihat manis. Devan sudah lama menaruh hati kepada Zafia. Jatuh cinta pada pandangan pertama pada saat Zafia masuk mengajar. Namun, saat ini ia belum menyatakan cinta. Zafia dan Devan masih akrab sebagai sahabat. Kadang, Devan membagikan perhatian khusu, membuat guru-guru lain menjadi bahan cibiran manja di sekolah.

“Sudalah, Pak Dev halalin saja Bu Fia. Keburu ditikung lho sama siswa-siswa ganteng.” Itulah kadang ledekan dari guru lain.

“Ngga kok, Pak Dev. Hari ini saya harus ngajar,” balas Fia sambil mengambil buku-buku hasil ulangan.

“Tapi Fia, jangan sampai siswa brutal itu melakukan hal yang nekat melebihi yang kemarin.” Devan yang duduk di kursinya berdiri menghela nafas kasar.
“Ah, santai saja. Pasti akan baik-baik saja,” ucap Fia santai.
“Duh, pasangan satu ini kenapa sih, masih pagi-pagi sudah pada debat!” Tiba-tiba suara cemprengan Bu Rere memenuhi ruangan kantor.

“Ya, elah. Sudahlah Pak Dev lamar Fia, supaya kita makan kue gratis,” celetuk lagi wanita yang sudah memiliki dua anak itu.

“Bu Rere, sudah sana ngajar. Siswanya sudah pada keliaran sana,” ucap Dev cengar-cengir.

Zafia masuk ke ruangan, sesampainya di sana ia mencari sosok Zay, akan tetapi di kursi belakang yang ia tempati kosong.

Beberapa menit pelajaran berlangsung. Seorang siswa masuk, tanpa permisi mengucapakan sala pun enggan.

“Eh, kenapa ngga ucapkan salam?” tegur sang ibu guru mengehentikan aktivitas menjelaskan mata pelajaran.
Yang ditegur malah, menatap Zafia dengan tatapan tajam.
“Perlu?” tanya Zay datar.
“Iya. Kenapa terlambat?”
“Bukan urusan ibu guru.” Dasar siswa ngga ada akhlak. Ditanya baik-baik malah jawabnya ngga sopan. Jangan ditiru.

Zay tanpa basa-basi langsung menuju kursi di belakang. Siswa-siswi yang tadinya aktif dan antusias belajar, kini menjadi diam dan tegang.

Usai duduk dengan posisi kedua kakinya di atas meja, satu tangan kirinya dijadikan sebagai tempat  sandaran di dinding kursi. Siswa tersebut, mengambil rokok.

Asap rokok memenuhi ruangan. Baunya menyengat, membuat semua penghuni ruangan ingin batuk.
“Zaidan tolong jangan merokok, ini masih waktunya belajar,” tegur Zafia lembut.
Salah satu yang ada di samping empunya perokok, ia langsung batuk. Mungkin siswi perempuan tersebut, tidak bisa menghirup asap rokok.

“Kalau bisa jangan merokok di dalam ruangan,” ucap siswa yang bernama Desi.
“Apa kamu? Kalau ngga suka sana keluar!” teriaknya.
Zafia mendekat. “Jangan merokok. Merokok membunuhmu,” ucap Zafia.
“Terserah saya. Mau mati juga ngga nyusahin ibu guru.”
Astagfirullah

Jawaban yang sangat luar binasa.

Jam pelajaran selesai Zafia tak beranjak dari kursinya, ia memperhatikan Zay yang tengah asyik merokok. Tumpukan rokoknya ia buang disembarangan tempat.
“Ngapain ibu guru ngga keluar? Mau ikutan merokok?”

Cih

Pengen dibuang di tengah laut biru yang paling dalam. Sungguh terlalu.
“Zaidan, saya hanya mau bilang jangan merokok dalam ruangan pada saat jam pelajaran. Apalagi asap rokoknya akan membahayakan orang lain.”

“Yang penting tidak membahayakan nyawa ibu guru,” jawabnya santai.
“Kalau bisa, tolong jangan merokok …”
Zafia belum selesai berbicara, Zay sudah mulai sewot dan emosi.
“Jangan sok nasehatin saya. Mau merokok dengan tidaknya itu adalah hak saya. Jadi, ibu guru tidak punya hak untuk melarang. Camkan itu.”

Zafia hanya terdiam. Menghela nafas panjang, untuk menghilangkan rasa jenuhnya.
Lalu berkata, “Orang-orang yang melakukan kejahatan, kemudian bertaubat dan beriman. Sesungguhnya Tuhan kamu sesudah taubat yang disertai dengan iman adalah Maha Pengampun lagi Maha penyanyang. (Q.S. Al-A’raf ayat 153).

Setelah mendengar nasehat Zaidan malah menatap Zafia dengan tatapan tak suka.
“Emang ibu guru siapa, yang hendak suka mau menasehati saya. Ibuku juga bukan?”
“Saya ingatkan kembali jangan pernah menasehati saya dengan ceramahmu itu,” ucap Zay sembari melangkah keluar dari ruangan.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here