Sisi Lain Cinta

0
195
views

“Kamu kenapa lagi?” Aldi langsung duduk di samping Asya yang tengah terisak seorang diri. Buru-buru gadis itu menghapus air mata yang sukses membasahi pipinya sejak lima menit yang lalu.

“Orang tuamu bertengkar lagi?” tebaknya. Namun Asya tak kunjung menjawab. Ia sibuk menyeka air mata dengan sapuan jemari lentiknya. Sungguh, Aldi tak kuasa melihat perempuan di hadapannya ini sering menangis. Selalu dengan masalah yang sama, yaitu pertengkaran kedua orang tuanya.

Aldi memegang kedua bahu Asya, membuat gadis itu harus memutar tubuhnya sedikit, sehingga kini dengan leluasa lelaki itu bisa menatap mata bening milik Asya. Lembut, ia usap sudut mata Asya yang kembali basah.

“Mau sampai kapan air mata ini harus selalu hadir membasahi pipimu?” tanyanya lembut.

Asya tak juga bersuara.

Suasana taman belakang kampus yang sedikit sepi membuat Aldi leluasa untuk bisa berbicara dengan Asya. Seorang gadis manis yang merupakan adik tingkat dua tahun di bawahnya. Mereka akrab sejak SMU. Pertama kali bertemu saat ospek. Asya yang waktu itu datang telat kena hukuman lari keliling lapangan sebanyak sepuluh kali. Namun ia pingsan di putaran ke lima. Aldi yang merupakan ketua OSIS kala itu begitu panik. Ia sampai memarahi teman-temannya yang ia anggap keterlaluan dalam memperlakukan Asya.

Sejak itulah Aldi sangat intens sekali menjaga Asya. Kenapa? Apa yang dirasakan Aldi pada Asya? Entahlah, yang jelas hingga detik ini, mereka bukanlah sepasang kekasih. Hanya seperti teman akrab, tapi … lebih!

Mereka sepakat memilih kampus yang sama pun atas usulan Aldi. Ia ingin selalu menjaga Asya di mana pun ia berada. Tak sudi rasanya membiarkan Asya seorang diri tanpa dirinya.

“Sya, cerita dong sama Abang! Kalau kamu diam begini gimana Abang bisa tahu apa yang terjadi?”

“Aku capek, Bang, aku capek!” Suara Asya terdengar serak.

“Masalah itu lagi?”

Asya mengangguk. “Andai aku ketemu dengan istri kedua papa itu, pasti akan kubunuh dia!” geramnya dengan mata memerah. Aldi sedikit tersentak, namun itu bukanlah kalimat baru di telinganya. Sudah seringkali Asya mengatakan hal itu. Lalu seperti biasa, Aldi hanya mendengarkan kata demi kata umpatan yang keluar dari bibir mungil Asya tentang wanita yang ia anggap sebagai penyebab orang tuanya bertengkar.

Sesekali Aldi tersenyum, melihat betapa kekanakannya gadis ini dalam menghadapi masalah. Namun ia maklum, karena Asya anak tunggal dan mungkin saja tak ada teman tempatnya berbagi kecuali Aldi.

“Sudah selesai marahnya?” tanya Aldi begitu dilihatnya Asya puas melampiaskan sesak yang menyiksa batin.

Asya bergeming. Embusan angin yang sedikit kencang membuat jilbabnya sedikit berantakan. Dengan sabar, Aldi merapikan beberapa helai rambut yang keluar menjuntai di dahi Asya.

“Sudah abang bilang, pakai daleman jilbab biar rambutmu nggak keluar seperti ini. Sehelai rambut yang terlihat oleh non mahram itu dosa lho, Dek. Tetap namanya aurat dan harus bentul-betul dijaga,” ucap Aldi penuh perhatian.

Asya menatap Aldi dengan dahi berkerut. “Abang selalu bicara non mahram, lalu apakah abang itu mahramku? Kenapa seenaknya saja pegang-pegang aku? Rio saja tak berani menyentuhku sedikit pun.”

Aldi tergugup. Segera ia menurunkan tangannya dari kepala Asya.

Gadis itu terlihat menahan tawa. “Mukanya nggak usah jadi kaku begitu, Bang! Aku paham kok, itu semua karena abang sudah menganggapku adik sendiri bukan?”

Ragu, Aldi mengangguk dan tersenyum getir.

“Ya sudah, karena aku sudah sedikit lega, sekarang aku mau makan. Temani ya, Bang?” pintanya dengan mata membulat.

Aldi menghela napas. Tak ada jawaban selain sebuah anggukan dan senyum yang begitu tulus. Asya selalu begini, bawaannya ingin makan kalau habis nangis dan meluapkan emosi. Aldi sangat hapal sifat Asya ini.

“Ayoooo!” Asya bangkit, menarik paksa tangan Aldi untuk membuat lelaki itu ikut berdiri dan mengikuti kemauannya.

‘Sya, andai kamu tahu siapa aku, akankah kamu masih ingin bermanja-manja denganku? Andai kamu tahu bahwa sesungguhnya mamamu yang merebut suami mamaku, akankah kamu masih bisa menatap wajah abangmu ini? Entahlah, Sya! Seharusnya aku membencimu, karena kamu anak dari perempuan yang membuat mamaku sakit hati. Tapi aku tak bisa. Rasa sayangku terhadapmu yang notabene adalah adik kandungku mengalahkan segala bentuk ego. Kalau aku menjauh, siapa yang bisa menjamin kalau pacarmu yang bernama Rio itu adalah lelaki baik dan takkan menyentuhmu walau seujung kuku?’

Penulis : Leny Khan

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here