Seputih Hatimu Kartini #14

0
264
views

“Assalamualaikum.”

Aku mendengar sebuah suara. Ah, tapi tak mungkin. Kuteruskan bacaan Alquranku di dalam kamar Bu Nyai sambil membuka jendela di samping kamar. Tadi, sebelum meminum obatnya Bu Nyai berpesan agar aku membacakan satu juz Alquran untuknya.

“Sst ….”

Benar, seseorang ada di belakangku. Jika aku di dalam kamar Bu Nyai, maka tak mungkin itu orang lain.

Deg-degan hatiku dibuatnya. Tepat sesaat setelah kuselesaikan satu ayat terakhir, aku berbalik ke belakang dan melihat sosok tampannya di sana.

“Nggih, Gus. Jenengan manggil saya?” tanyaku kemudian diinterupsinya dengan gerakan satu jari di depan mulutnya. Artinya, aku harus memelankan suara karena Bu Nyai telah tertidur.

Aku mengangguk lalu mendekat ke arahnya.

“Ada apa, Gus?” tanyaku lirih.

Namun, menyebalkan sekali ketika Gus Azam menjawab, “gak papa. Ngetes aja.”

Lalu, dia berlalu ke arah kamarnya. Dari belakang kulihat pundaknya bergerak naik turun tanda tertawa tergelak.

Sudrun.

Semprul.

Eits, Kartini. Kamu jangan mau terpesona lagi sama Gus Azam. Ingat! Bu Nyai memintamu jual mahal. Sekali lagi kugumamkan kata-kata peringatan itu dalam hati.

Biar sekali-kali Gus Azam nyahok. Senyum di pipiku kemudian mengembang.

****

“Assalamualaikum, Ustadzah.”

Seorang santri lelaki dengan tubuh mungil dan sarungnya yang terbalik tiba-tiba datang menghampiriku sesaat setelah aku turun dari mushola pondok putri. Biasanya anak putra tidak punya akses untuk masuk kecuali diizinkan Abah Kyai, Bu Nyai atau … Siapa lagi kalau bukan Gus Azam.

“Waalaikum salam. Iya, Nang. Ada apa?” tanyaku sambil menahan tawa melihat ekspresinya yang lucu.

Tanpa menjawab dengan banyak kata, dia mengulurkan sebuah surat dengan amplop putih panjang dengan kop pondok di amplop itu.

“Surat izin, kah? Apa pengumuman, apa undangan ini?”

Anak lelaki tadi membuka kopyahnya lalu menggaruk kepalanya. Keringat dinginnya keluar semua.

“Ya, Allah … Nang. Ustadzah cuma nanya gitu aja kok kayak mau ditakzir berat.”

Kemudian suratnya kuambil dan dia langsung pamit kembali ke lokasi pondok putra. Sementara aku kemudian menaruh surat undangan itu ke sela-sela kitab bulughul maromku.

Seminggu kemudian, kulihat wajah Gus Azam tertekuk di depanku. Suara pedasnya membuatku seolah kembali ke masa lalu. Saat Gus Azam membenciku setengah mati.

“Kalau gak mau ketemu ya, setidaknya membalas pesannya. Bukan diam seribu bahasa.”

Sungguh aku kebingungan hendak menjawabnya bagaimana. Karena aku sama sekali tak tahu apa yang dimaksud Gus Azam. Sadar kalau kami berada di ndalem dan Bu Nyai bisa mendengarkan percakapan kami maka dia memelankan suaranya.

“Setidaknya, kalau kau sudah membacanya. Tolong dibalas suratku. Jangan didiamkan saja.”

“Ngapunten, Gus. Surat yang mana?”

“Astaghfirullah, Kartini. Surat yang diberikan Ahmad. Kemarin itu.”

Aku mengingat sebentar. Ahmad … Ahmad siapa? Lalu bayangan bocah laki-laki bersarung kebalik kemarin singgah di ingatan.

“Wow. Kukira kemarin itu surat undangan rapat, Gus.”

Aku tersenyum malu-malu menjawabnya.

“Undangan rapat? Dasar Oneng.” Semprot Gus Azam, lalu dia berlalu ke luar ndalem.

Malam itu, setelah semua kebutuhan Bu Nyai selesai kusiapkan aku berjalan menuju kamarku dengan hati berdebar. Surat undangan kemarin itu ternyata surat Gus Azam. Koplak. Siapa suruh pakai amplop dengan kop surat atas nama pondok.

Astaghfirullah. Aku yang kurang update apa Gus Azam yang tidak berpengalaman.

Setelah kubuka surat itu, wajah ini tak berhenti tersenyum. Dia menyapa seseorang yang disuratinya dengan gaya orang mau ceramah.

Assalamualaikum.

Alhamdulillah Alhamdulillahirobbilalamin wabihi nasta’in alaa umuuriddunya waddiin. Washsholaatu wassalam ala asrofil anbiya’ walmursalin sayyidina wamaulana Muhammadin wa’alaa alihi waashhabihi ajmain.

Pass. Dia mengajakku muhadloroh.

Astaghfirullah, Gus Azam … Gus Azam. Besok akan kutunjukkan bagaimana cara menyurati seorang wanita yang baik dan benar.

Bersambung

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here