Seputih Hatimu Kartini #13

0
290
views

Waktu berlalu begitu cepat sejak kedatanganku kembali ke pondok. Pertemuan demi pertemuan dengan Gus Azam memulihkan lukaku dengan cepat, terlebih lagi setelah aku tahu apa alasan Gus Azam membenciku. Sungguh, seandainya aku tahu dari dulu, aku akan lebih gigih mendukungnya dan tak berpikir macam-macam terhadapnya. Taoi, nasi sudah menjadi bubur dan tak akan mungkin lagi menjadi nasi, kan? Yang terpenting sekarang adalah Gus Azam sudah mau duduk satu ruangan denganku. Dia juga mulai mau berdiskusi denganku tentang perkembangan kesehatan Bu Nyai.

Namun, satu perkembangan hidupnya yang baru adalah, dia mulai mencukur bulu halus di dagunya kemudian memotong rambutnya yang tadinya memanjang tak terurus. Beberapa kali aku mencuri-curi pandang atas ketampanannya. Duh, malunya aku.

Bukan hanya aku yang bahagia atas perubahannya, Bu Nyai juga memperlihatkan progres yang baik atasnya, Kyai juga sudah mulai percaya diri mendelegasikan tugas kepada Gus Azam. Beliau memilih menemani Bu Nyai meminum obatnya, jalan-jalan sore dan pagi sebentar di dekat ndalem dan bercengkrama bersama ditemani secangkir teh hangat dan sepiring biskuit kelapa sambil mengingat kisah cinta mereka ketika muda. Di balik dinding tembok taman depan kuperhatikan beliau berdua saling tertawa sambil berpegangan tangan.

“Alangkah indahnya memiliki cinta seperti mereka.”

Aku mengangguk, lalu terkesiap. Eh, siapa yang berkata tadi. Ketika kubalikkan wajahku ternyata Gus Azam sudah di belakangku dengan wajah cerahnya dan senyumnya yang menawan. Dia memakai baju koko coklat muda dengan sarung batik berwarna senada sudah bersiap menuju masjid untuk kultum sebentar sebelum Maghrib.

“Semoga kita juga kelak bisa seperti mereka.” Lantas dia berlalu sementara tubuhku membeku, hatiku kembali berdebar. Untuk siapa ucapannya tadi ditujukan?

Aargh. Husah husah. Bayangan nakalku harus enyah sekarang juga. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk memulai pertemanan dengan Gus Azam, bukan yang lainnya.

****

“Nduk, Kartini. Coba kau pilih kain yang mana?”

Sembilan bulan sudah berlalu, kondisi Bu Nyai sudah mulai berangsur normal hanya saja sebagai orang yang bertanggung jawab atas kesehatannya, kularang beliau oergi ke luar untuk beraktifitas terlalu banyak. Termasuk untuk tidak pergi ke pasar. Tapi, dilarang begitupun beliau malah mendatangkan pemilik toko kain ke rumah dan membawa banyak barang. Beliau memintaku memilih tidak hanya satu kain tapi lima.

“Ehm, kainnya mahal Bu Nyai. Sutranya lembut begini.”

Mata Bu Nyai membulat lalu mencubit pipiku.

“Kau masih sama dengan Kartini yang dulu. Ini hadiah Nduk, karena kau telah merawat Ibuk dengan baik. Sutra ini hadiah dariku dan Kyai.” Beliau berkata sambil menunjuk tumpukan kain sutra yang indah di dekat encik pemilik toko yang tersenyum bahagia karena sebentar lagi akan diborong Bu Nyai.

Setelah memilihkan untukku karena aku tak kunjung memilih karena malu, Bu Nyai segera menotal belanjaannya. Entah habis berapa karena Bu Nyai hanya berbisik-bisik dengan encik dan mereka sepakat mentransfer pembayarannya. Tapi, masih ada satu kain lagi berbahahan brukat halus yang juga dibungkus Bu Nyai dengan rapi lalu disodorkan kepadaku.

“Lho, Bu Nyai yang tadi sampun banyak.”

“Hush! Diam. Terima saja. Ini dari Azam, katanya … untuk seseorang yang spesial,” ucap Bu Nyai dengan lugas dan jelas. Membuatku malu dihadapannya.

“Eh, tapi, kalau dia memintamu menikah dengannya jangan mau dulu, Kartini. Kau harus jual mahal. Salah sendiri, dulu sudah kupilihkan baik-baik tapi ndak mau nurut. Syukurin aja dalam hati,” lanjut Bu Nyai yang segera kusambut dengan tawa.

“Bu Nyai, Gus Azam niku putro panjenengan.” Aku berkelakar di depan beliau.

“Biar saja. Ben kapok. Dia baru tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sudah sayang padanya demi seorang kekasih yang tak layak.”

Aku melongo. Sejelas itukah perasaanku kepada Gus Azam di mata Bu Nyai. Duh, isin kulo, Gusti.

Part selanjuntnya akan terbit pada tanggal 26 Mei 2020

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here