Seputih Hatimu Kartini #12

0
297
views

“Ibuk, Bu Nyai kedah sehat,” ucapku saat menyuapi Bu Nyai yang kedua kalinya. Menjelang isya, Kyai datang sambil membawa bawaan banyak dari shohibul hajat dengan lesu. Biasanya wajah beliau sumringah begitu memberikan hasil pengajian kepada para santri. Tapi tidak dengan sekarang, saat Bu Nyai sakit dan anak-anak libur sekolah.

Namun, begitu beliau melihatku dan aku duduk di depan beliau dengan takdzim, air mata beliau luruh. Bahkan kyai terisak. Bersamaan dengan gelegar petir di atas langit, Abah Kyai menitahkan agar aku tak lagi pergi meninggalkan pondok.

Hingga tanpa terasa, sebulan berlalu. Hiruk pikuk santri kembali terdengar dan Bu Nyai kian membaik. Suasana pesantren kembali cerah.

Ramai anak-anak berduyun datang ke kamar lamaku, menyambut haru kedatanganku.

“Bu Kartini, kami kangen.”

“Ustadzah, jangan pergi lagi.”

Banyak lagi ucapan lainnya. Tapi, ada satu ucapan berbeda dari gadis nyentrik bernama Amina. Dia berkata, “Bu Kartini. Nikah saja dengan Gus Azam. Dan hidup bahagia bersama.”

****

Ah, iya. Sudah sebulan ini aku tak pernah bisa bertukar pikiran dengan Gus Azam terkait dengan kesehatan Bu Nyai yang berangsur-angsur membaik. Niat hati ingin mengajaknya untuk membawa Bu Nyai kontrol. Tapi apa daya, bertemu dengannya hanya saling bertatap mata sebentar. Gus Azam kian menjauh dariku. Bahkan kata anak-anak semenjak kejadian larinya calon istri Gus Azam, beliau mundur dari sekolah dan tak lagi mengajar.

Namun, nampaknya Gusti Allah berpihak padaku. Malam itu lampu mati dan semua anak perempuan menjerit histeris, sedangkan ahli pelistrikan yaitu Kang Somad sedang tidak ada di pesantren karena nderek Abah Kyai tindak pengajian.

“Kenapa harus aku?” tanya Gus Azam kepadaku. Wajahnya sedikit enggan tapi dia masih memiliki rasa kasihan.

“Kalau bukan jenengan siapa lagi Gus?” Aku tak mau kalah darinya. Dengan segala keengganan, diturunkannya harga dirinya dan mengekorku ke pondok putri.

Aku menungguinya di bawah tangga yang membawanya ke kolong langit-langit membenahi kabel yang bermasalah.

“Darimana kau tahu kalau aku bisa membenarkan listrik?”

Ya Allah, rasanya adem bisa mendengar suaranya lagi. Aku mendongak ke atas melihatnya yang dengan gesit mencabut kabel-kabel tak berguna.

“Bu Nyai, Gus yang cerita.”

“Ah, benar. Kau memang putri kesayangannya.”

Hatiku kesal. Dia mulai lagi.

“Gus, kenapa sih jenengan benci sekali kepadaku?”

Tangannya berhenti memeriksa kabel ketika mendengar kata demi kata yang kuutarakan padanya.

“Pertanyaan ini kusimpan sejak dua tahun lalu. Bolehkan, aku meminta jawabannya sekarang?”

Dia tersenyum getir lalu melanjutkan lagi aktivitasnya. Di luar bayanganku, gus Azam menawab tanyaku.

“Karena, kau adalah segalanya bagi Abah juga, bagi Ibu.”

Astaghfirullah. Hatiku seakan tak percaya mendengar jawaban lugasnya.

“Terkadang, aku berpikir kepulangan ku dari universitas sebenarnya tidak membuat mereka bahagia. Jika saja kau lelaki, pasti aku sudah tersingkir lebih dulu.”

Air mata di ujung mataku sudah mengendap, lalu sedetik kemudian sudah berlinang di pipi. Jadi selama ini Gus Azam membenciku karena cemburu akan kasih sayang Kyai dan Bu Nyai kepadaku. Sesuatu yang sangat tak bisa kubayangkan.

“Kau tak akan tahu rasanya, karena kau selalu unggul di mata mereka.”

“Tidak, aku tahu rasanya. Saat jenengan membawa Mbak Ratna ke sini.”

“Stop!” teriak Gus Azam.

“Jangan sebut namanya. Dia bahkan tak tahu bagaimana usahaku memperjuangkannya. Tapi, dia pergi meninggalkanku demi sebuah kesempatan yang katanya tak akan datang ke dua kali.”

Gus Azam turun dari loteng lalu mencoba saklar listrik di dekat gudang.

Tepat ketika lampu itu menyala, punggungnya menjauh dariku dan aku tak tahu kapan bisa bercakap-cakap dengannya lagi.

Duh, gus Azam, ternyata hidupmu lebih malang dariku. Maaf, jika selama ini aku tak tahu kalau rasa dengki itu merasukimu.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here