Seputih Hatimu Kartini #11

3
364
views

Pukul enam pagi, saat gerimis hujan menangis bersamaku diantara sepinya suasana pondok. Seperti halnya masa libur sekolah di desaku, pondok Bu Nyai juga memasuki musim yang sama yakni musim liburan. Setiap pojok berubah sunyi hanya tersisa beberapa santri yang memang berkhidmah di ndalem. Diantaranya Mbak Rohimah, anak kelas satu Madrasah Aliyah. Ah, sekarang bahkan mungkin sudah lulus. Begitu melihatku berjalan di area pondok dia menghampiriku sambil berlari kemudian mencium tanganku.

“Bu Kartini.” Dia kemudian menangis sambil terisak di depanku, tanganku dipegangnya dengan erat.

“Ibu, jangan pergi lagi,” katanya di sela tangisnya. Lalu dengan pelan kuelus puncak kepalanya yang tertutup kerudung putih.

“Bu Nyai sare nopo mboten, Mbak?” tanyaku padanya, kemudian dia dengan sigap mengambil tas jinjingku dan membawaku ke arah ndalem.

“Abah Kyai tindak rutinan di desa tetangga sejak shubuh, ustadzah. Bu Nyai wonten ten kamar. Monggo kulo antar,” kata Mbak Rohimah dengan wajah yang terlihat lebih sumringah.

****

Kamar itu masih sama. Bau pengharum ruangan dengan aroma melati pun masih tidak berubah, bahkan setiap sudutnya meninggalkan kenangan yang sama yang langsung teringat dalam memori. Tapi, hanya satu yang kemudian membuyarkan kenangan manisku. Tubuh kurus beliau dan tatapan mata yang tak lagi bersemangat. Air mataku luruh, dadaku sesak. Aku duduk di samping beliau sambil mencium tangannya yang lemah dan terisak.

Bu Nyai menampakkan binar bahagia, sudut-sudut mata beliau berair, akhirnya beliau pun ikut terisak bersamaku. Kami saling mencurahkan rindu dan sekian curahan hati lewat air mata.

“Kar-ti-ni … ” Suara Bu Nyai terbata, genggaman tangan beliau erat seperti simpul tali yang tak bisa dilepaskan. Beliau berusaha bangun lalu kududukkan bersandar dinding ranjang di atas beliau. Kemudian kubiarkan beliau memelukku menyalurkan segala rasa.

Lama … Sekali … Hingga tak terasa waktu kian bergulir. Jika saja bukan karena suara perut kami yang berdendang mungkin aku tak akan keluar dari kamar beliau.

Aku segera bergegas melangkah keluar, kumasakkan di dapur menu kesukaan beliau dengan rasa yang tak lagi sama. Daun singkong di oseng campur ebi yang sudah kucuci bersih hingga mengurangi rasa asinnya, dengan campuran sedikit gula dengan satu ruas jahe yang kemudian kubiarkan menyusut airnya. Telur setengah matang kurebuskan untuk beliau lalu kusuapi sedikit demi sedikit beliau yang menangis tersedu. Bukaan mulutnya sedikit kaku karena stroke, bahkan ejaan beliau sering terbata. Aku ikut menangis dalam hati.

Biarlah, meskipun nanti aku harus bertemu dengan Gus Azam setiap hari dan menghadapi semua kekesalannya. Aku rela. Demi untuk bisa merawat Bu Nyai dengan baik. Aku percaya Bu Nyai pasti bisa sembuh lagi, bangkit lagi dan menjadi pelindung hati kami lagi.

Tepat ketika kakiku keluar dari kamar beliau mataku bersirobok dengan mata seorang lelaki yang benar-benar di luar bayanganku. Rambut panjang sebahu tak terawat, jambang lebat di dekat dagunya menambah lesu wajah yang dulu tampan itu. Gus Azam terbelalak melihatku lalu dia kembali masuk ke dalam kamarnya, entah segan menyapaku atau malu? Aku tak tahu.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here