Seputih Hatimu Kartini #10

0
227
views

Hamparan sawah menghijau di ujung kampung menyambutku saat tangis air mata mulai kering. Bayangan masa kecilku berlarian di depan mata. Bagaimana Bapak menggendongku di belakang punggungnya kemudian membawa cabutan pohon singkong di tangan kanannya membuat Emak di rumah menyambut kami dengan ceria. Kemudian singkong besar-besar hasil panen sendiri tadi akan di potong-potong Emak menjadi seukuran jari-jari lalu dikukus dalam kukusan di atas pawon. Setelah melunak singkong tadi dipindah dalam panci kemudian direbus dengan larutan gula hingga surut setengahnya. Kamipun akan menyantapnya dengan gembira ditemani teh hangat sedikit pahit.

Air mataku sekali lagi meluncur ke pipi. Bersamaan dengan terpaan angin air mataku mengering tepat saat becak yang kunaiki berhenti di depan rumah lamaku.

Ya Allah, keadaan rumah ini sangat mengenaskan. Lama tidak dihuni bangunannya menjadi lapuk dan hampir roboh. Untunglah pakde Sardi tanggap hingga mendapatkan banyak bantuan untuk memperbaiki.

“Nduk, Kartini.” Suara Pakde Sardi langsung menyapaku dari balik bangunan belakang rumah Bapak.

Aku menyalaminya kemudian Pakde mengelus lembut kerudungku.

“Kok cepet. Pak de kira nanti malaman baru datang.”

Aku menggeleng pelan lalu tersenyum.

“Wis, ke rumah bude dulu. Dua hari lagi bangunan ini baru bisa ditempati. Pas dengan selamatan bapak dan Emakmu.” Pak de mengarahkanku ke rumahnya dan aku sejenak beristirahat di sana hingga rumah ini siap huni.

****

“Kamu yakin, mau menetap, Nduk?” Pak de Sardi bertanya kepadaku selepas acara selamatan Bapak dan Emak malam itu. Matanya menyelidikiku.

Aku mengangguk kemudian memberikan sekian alasan.

“Lalu, ngajarmu bagaimana?”

“Saya sudah mundur Pakde. Tapi ijazah saya ada. Saya bisa ngelamar kerja di sini.” Bude Sardi kemudian menepuk pundakku pelan.

“Jangan mikir aneh-aneh, Kartini. Jangan terburu-buru, toh kami tak akan dengan serta merta mengabaikanmu.”

Aku tahu bude merasa pikiranku tentang pekerjaan karena takut membebani mereka. Itu benar, hanya nomor sekian. Aku hanya ingin beraktivitas lagi. Setidaknya jika dengan aktif aku tak akan lama terpuruk karena memikirkan Gus Azam.

Entahlah, jauh darinya kenapa ada rasa kehilangan. Padahal aku sudah berusaha membencinya. Lelaki pembenci sungguh tak pantas untuk diingat.

Ah, tapi misteri hati … siapa yang tahu.

Satu lagi, aku rindu belaian dan siraman hati dari Bu Nyai. Aku menerawang langit-langit rumahku sambil mengingat wajah Bu Nyai yang meneduhkan.

Hingga seminggu kemudian aku berhasil mendapatkan pekerjaan, juga sebagai guru di salah satu sekolah swasta di kampung. Dan bersamaan dengan aktivitasku hari-hari yang kulalui mulai berjalan. Lalu … hari berganti, minggu bergulir dan tahun baru menyapa dunia. Semua begitu cepat. Aku tak lagi berhubungan dengan Bu Nyai dan keluarga selama dua tahun, meskipun secara rohani doa-doa selalu kupanjatkan kepada Allah agar menjaga Bu Nyai, kyai dan Gus Azam.

***

Dua tahun kemudian ….

“Ayolah, Nduk. Sudah berapa banyak lelaki yang kau tolak?”

Pak de Sardi menanyakan lagi dan lagi alasan kenapa aku menolak beberapa lelaki yang datang ke rumah untuk melamar. Sembari menjemur baju di belakang rumah kudengarkan kata-kata Pakde Sardi melalui telinga kanan hikang lewat telinga kiri. Sungguh tidak sopan.

“Jangan hanya mengangguk saja. Ngomong coba. Karepmu yang bagaimana?”

Aku cengar-cengir mendengar jawaban Pak de yang sangat tepat menyindirku. Dasar aku.

“Sudahlah Pak de. Nanti kalau sudah masanya, pasti akan terbuka sendiri hatiku.” Aku nyelonong masuk ke rumah meninggalkan beliau. Tapi saat aku baru sampai ambang pintu Pak de nyeletuk.

“Jangan-jangan kamu masih menunggu Gus Azam.”

Makdeg. Ngomong apa sih Pak de barusan. Pas sekali menusuk ulu hati.

“Pak de. Ampun ngoten. Gus Azam niku sudah nikah.”

“Ladalah. Dua tahun ini kamu kemana saja sih, Nduk?”

“Gak pernah nggosip sama Bude mu ya?” tanya Pakde berkelakar.

“Gus Azam itu ditinggal ceweknya pergi sehari sebelum akad nikah.”

Astaghfirullahaladzim.

“Dan … Peristiwa ini sudah berlalu setahun lalu, Nduk.”

Makdeg. Sekali lagi aku merasa duniaku hanya setempurung kelapa.

“Lho, waktu Budemu menjenguk Bu Nyai yang jatuh sakit stroke kamu kemana sih?”

Lalu aku segera berlari ke dalam kamar. Mengepak beberapa baju dan segera berpamitan kepada Pak de Sardi. Ya Allah, kenapa aku bisa durhaka begini. Aku bahkan tak tahu kalau Bu Nyai, orang yang sangat menyayangiku jatuh sakit.

Ya Allah ya Rabbi. Tolong jangan catat aku sebagai murid yang durhaka.

Bu Nyai, tunggu Kartini. Kartini akan merawat Bu Nyai lagi …

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here