Seputih Hatimu Kartini #09

0
252
views

“Nduk, ada saatnya nanti kau mengalah. Seperti Emak sekarang yang mengalah dengan merelakanmu mondok di pesantren. Demi masa depanmu, meski Emak tenang jika tidur memelukmu.”

***

Malam itu aku kembali mengingat ucapan Emak sebelum berangkat ke pesantren. Mata ini kemudian berair, sekali lagi aku kembali merasakan kesepian yang sangat.

Apalagi sudah seminggu ini aku mulai agak tersingkirkan dari keseharian Bu Nyai. Meskipun tidak setiap hari gadis cantik pujaan hati Gus Azam datang ke ndalem tapi, setiap saat Gus Azam mulai memperhatikan Ibunya. Meskipun hatiku pedih, selalu … berusaha tersenyum adalah satu-satunya jalan saat kulihat bakti Gus Azam yang mulai mau mendekat kepada Bu Nyai.

Tidak, ternyata sangat tidak mudah mengatur emosi, rasa iri dan rasa diabaikan dalam hati. Diantara sebab itu adalah bisikan setan yang kian mendayu meskipun kita sudah berusaha membentenginya dengan sholat dan mengaji. Mendekat kepada Tuhanlah jalan satu-satunya.

Hingga hari itu, Gus Azam menagih janjiku.

“Kau lihat, aku mulai mendekatkan Ibu dengan Ratna,” kata Gus Azam hari itu di dekat kantin. Tanganku bergetar saat memegang buku pelajaran matematika, akhirnya aku menangkupkan buku itu di dada.

“Baik, Gus.” jawabku pasrah. Ternyata nama gadis itu adalah Ratna. Nama yang cantik.

“Insyaallah minggu depan saya akan pamit. Kebetulan di rumah Pakde ada haul Bapak dan Emak. Biasanya saya akan izin tiga hari kepada Bu Nyai. Kali ini, mungkin ….”

“Baiklah! Aku tak ingin mendengar laporanmu. Aku hanya mengingatkan janjimu.”

Lalu Gus Azam berlalu dengan meninggalkan aura dingin untukku.

****

“Gak bisa ditunda, kah?” Bu Nyai bertanya dengan pelan sambil rebahan di kasur, saat aku masuk untuk berpamitan. Punggung beliau masih sering sakit, maka berbaring menjadi posisi paling tepat untuk beliau.

“Besok sudah acara haul Bapak dan Emak, Ibuk,” jawabku sambil memijt tangan Bu Nyai.

“Berapa lama di sana? Koyo biasae?” tanya Bu Nyai lagi. Aku menggeleng.

“Lho, kok?”

“Nggeh, dereng saget mastikan. Rencana Pak De juga mau merenovasi rumah Bapak, biar bisa disewakan atau diapakan. Soalnya hanya itu satu-satunya peninggalan Bapak buat saya, Bu Nyai.”

Beliau terdiam.

“Kau yakin mau lama di sana, Kartini?”

Aku mengangguk pasrah. Air mataku tertahan di pelupuk mata.

“Kembalilah, jika hatimu dan pikiranmu sudah mulai seirama.”

Selalu … Bu Nyai selalu bisa membaca pikiran dalam hatiku. Bersamaan dengan ciumanku di tangan beliau aku mengharapkan segala doa.

Sore hari, saat burung camar kecil berarak ke barat, aku melangkah menjauh dari pesantren. Entah untuk berapa lama.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here