Seputih Hatimu Kartini #08

0
229
views

Air keran dalam kamar mandi pondok sengaja kunyalakan semua, berharap bunyi gemericiknya menenangkan hatiku, membawa rasa sedihku pergi jauh hingga ke laut tak bertepi. Untunglah anak-anak semua masih di madrasah, jadi … tidak terlalu malu aku menangis sekeras-kerasnya di sini. Hanya cicak-cicak kecil yang mengintip dari balik gantungan jemuran anak-anak menjadi saksi.

Kalimat demi kalimat Gus Azam tadi sama sekali tak bisa enyah dari pikiranku. Keinginannya agar aku pergi dari sisi Bu Nyai memberikan setumpuk beban berat di dada, membuatnya sesak dan sakit. Meskipun hanya sementara katanya, tapi … Apakah aku punya wajah jika kembali lagi ke sini saat sudah pergi?

Sejak aku ditinggal kedua orang tua kembali kepada Yang Kuasa, hanya Bu Nyai dan Kyai yang menjadi keluargaku. Sekarang, aku baru tahu bagaimana rasanya tidak memiliki keluarga. Sebatangkara, tidak memiliki pegangan. Tentu saja masih ada Tuhan dalam hati.

Lama aku terpaku dalam kesendirian, merasakan kesepian dan merasa tersingkirkan.

Ketegasanku dalam mengajar memang membuat banyak anak murid tidak dekat, tapi beberapa diantara mereka suka bercengkrama denganku, main ke kamarku dan kami berbagi atap yang sama. Haruskah itu semua sekarang kutinggalkan?

Satu sisi hatiku kukuh memintaku tetap tinggal dan persetan dengan Gus Azam, tapi … Sisi yang lain mengatakan bahwa apakah aku akan tetap tinggal dan membuat Gus Azam bernasib sama denganku? Memiliki keluarga tapi tidak memiliki dukungan dari mereka. Lebih mengenaskan.

Arggghhh.

****

Seminggu sudah aku menyimpan segala pikiran dalam hati. Akupun masih membantu Bu Nyai dengan segala kemampuanku. Semua terlihat sama seperti yang telah terjadi selama ini. Hal itu membuat Gus Azam malas menatapku. Di sekolah tak jarang dia memilih berjalan memutar jika berpapasan denganku.

Hingga kesempatan itu datang. Saat kami terdesak harus duduk bersama terkait proses pemulihan Bu Nyai yang harus dirujuk ke rumah sakit besar di kota.

“Gus ….”

“Lima menit,” jawabnya malas.

“Baik, saya akan bicara lima menit. Jika Gus Azam setuju bagaimana jika Bu Nyai dirujuk ke rumah sakit Apollo? Bukankah kekasih Gus dekat dengan rumah sakit itu?”

Wajahnya seketika berubah. Ada senyum di sana, tapi bukan untukku.

“Jadi ….”

“Iya, saya akan beralasan agar tidak ikut Bu Nyai ke kota. Jadi … usahakan saat itu Gus Azam mendekatkan mereka.”

Wajahnya semakin cerah.

“Biasanya orang tua lebih bisa tersentuh saat ada usaha manis saat mereka sakit.” Aku berkata setelah menganalisa sebentar.

“Saya akan pergi dari sini dengan perlahan. Jika Bu Nyai mulai bisa tidak tergantung kepadaku.”

Gus Azam terdiam sebentar berusaha mencerna maksud kalimatku. Kopyah hitam di kepalanya ikut bergoyang saat dia mengangguk.

“Baiklah ….” Gus Azam memandangku sebentar.

“Terima kasih,” ucapnya pelan.

Jujur dalam hati aku iri, terhadap perempuan yang diperjuangkannya, yang karenanya lelaki dingin ini mau mengucapkan terima kasih.

Oh, Kartini. Bagaimanapun kau akhirnya akan kalah, kan?

****

Hujan kali ini mengguyur pesantren. Mobil Kyai sudah bersedia di halaman depan saat Bu Nyai enggan masuk ke dalamnya.

“Nduk, ikut ya?”

Aku menggeleng pelan.

“Mboten saget, Bu Nyai. Ingat sebentar lagi anak-anak ujian. Jika saya pergi nderek, artinya saya lalai pada tanggungjawab. Bukankah Bu Nyai ndak suka kalau saya seperti itu?”

Merasa terpojok dengan wejangannya sendiri yang harus kuikuti, akhirnya beliau menurut dan mau memasuki mobil. Kyai melihatku dengan bangga sedangkan Gus Azam memandangku dengan wajah yang sukar diartikan. Lalu dia mengangguk ke arahku seolah-olah mengucapkan terima kasih.

Hingga satu minggu berlalu berubah menjadi sepuluh hari dan akhirnya Bu Nyai rawuh kembali ke rumah.

Sosok pertama yang terlihat turun dari mobil Kyai saat Bu Nyai rawuh adalah wanita itu, berjilbab ungu dengan baju gamis sutra yang cantik warna senada, dia memapah Bu Nyai dengan lembut. Senyum Gus Azam merekah di belakangnya. Lalu Bu Nyai melihatku yang menyalaminya kemudian beliau memelukku erat.

Ya Allah, aku sungguh takut jika rencanaku gagal. Tapi, melihat Bu Nyai yang tak lagi keras kepada wanita itu ada senyum kelegaan di wajah.

Semoga … Gus Azam memang bisa bahagia pada waktunya.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here