Seputih Hatimu Kartini #07

0
248
views

“Bu, saya tidak bisa mengerjakan lho ini,” kata Ratni murid kelas dua IPA tiga sambil menyodorkan buku pekerjaan rumahnya kepadaku.

Aku melihat sekilas kemudian mengangguk.

“Ibu, yakin? Gak mau menghukumku?” tanyanya. Dahiku mengernyit. Baru kali ini ada murid sukarela kena hukuman. Aku menggeleng pelan.

“Duduklah,” kataku menyuruhnya kembali ke tempatnya.

Aku masih termenung di atas kitab Ta’lim yang kubawa. Tak lama datang lagi Rahayu dari kelas yang sama. Dia berlari tergopoh-gopoh.

“Maaf, Bu. Saya agak sakit perut jadi terlambat.”

Aku mengangguk kemudian menyuruhnya duduk setelah melihat jam tanganku dengan angka pukul setengah sembilan pagi. Lumayan telat sekali anak ini.

Sudahlah.

“Ibu yakin?” tanyanya.

“Mboten dihukum, Bu?”

Pertanyaan yang sama dua kali.

Brakk.

“Kalian pikir saya hanya tukang menghukum. Tahukah kalian, kalau bukan kalian yang berulah … Ibu juga tidak akan sembarang main hukum.” Aku menceramahi mereka setelah menggebrak meja.

Menyebalkan. Seperti itukah pandangan mereka kepadaku?

Sunyi. Semua diam. Lalu aku putuskan pamit mengajar hari itu. Belum lagi kata-kata Gus Azam yang pedas, membuat kepalaku hampir copot, darahku mendidih.

Tepat saat aku meninggalkan kelas kulihat punggung Gus Azam mengarah ke kantin. Dengan cepat kususul jenjang langkahnya kemudian memanggilnya.

“Gus!”

Dia berhenti. Tapi tidak memandangku.

“Kalau saya batalkan pernikahan ini, jenengan bisa menjamin jika Bu Nyai legowo?”

“Saya anaknya. Insyaallah setidak sukanya seorang Ibu, beliau akan luluh,” katanya. Dia mulai mau memandang wajahku.

“Baik, Gus. Masuk di akal. Wong saya sudah lupa rasanya memiliki Ibu.”

Gus Azam terdiam. Matanya menyelidik.

“Baiklah, Gus. Hanya itu saja. Jika jenengan bisa memastikan Bu Nyai ridlo. Saya mundur.”

Karena sejatinya aku tak pernah menginginkan pertarungan ini. Kusimpan semua kata ini dalam hati.

“Baik.”

Aku hendak berbalik meninggalkan Gus Azam, saat dia menghentikan langkahku.

“Tapi, jika kau selalu di sisi Ibu,” katanya ragu.

“Apakah mungkin perasaannya bisa berpaling?” lanjutnya terbata.

Mak deg. Hatiku sakit. Gus Azam menyiratkan maksudnya agar aku pergi dari sisi Bu Nyai. Berarti juga pergi dari pondok ini.

“Jadi, maksud Gus Azam.”

“Ya. Kurasa kau cukup faham. Sementara saja hingga semua kembali dalam kondisi stabil.”

Lalu dia berlalu.

Saat punggungnya menjauh, tangis di mataku tak lagi terbendung. Semua luruh bersamaan gelegar petir yang mengundang hujan pagi ini.

Benarkah semua ini?

Lima belas tahun pondok menjadi rumahku. Siapkah aku untuk pergi?

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here