Seputih Hatimu Kartini #06

0
282
views

Aku duduk di samping kamar Bu Nyai sambil menunggu dokter Burhan, sekaligus keponakan Bu Nyai selesai memeriksa. Di dalam kamar sudah terdapat Gus Azam dan Abah kyai. Suara percakapan di dalam kamar hanya terdengar bagai desahan nafas di udara.

Sungguh, tiada niatan untuk menguping, tapi … hati ini sangat khawatir. Semoga Bu Nyai masih diberikan Allah kesembuhan. Kuamini doaku dalam hati.

Lalu, sepuluh menit berikutnya Dokter Burhan berjalan keluar. Matanya bersitatap denganku.

“Kartini,” sapanya yang kujawab dengan anggukan. Ada rasa enggan di matanya tapi dia memaksa untuk menatapku. Mungkin dia hanya tak enak mengingat kisah lalu. Saat dia mengutarakan rasa cinta di ujung sebuah dermaga dekat rumahku yang akhirnya berujung penolakan.

Setiap lelaki yang melangkah ke arahku selalu kutolak karena aku teringat kata Bu Nyai.

“Kamu adalah menantuku. Kartini.”

Selalu itu yang diucapkan beliau. Ketika aku menyuguhkan teh, ketika membantu melepaskan kerudung beliau, hingga saat menemani beliau tidur jika Abah Kyai pergi berceramah ke luar kota.

Titah Bu Nyai itu kuanggap seperti sebuah rantai tak terlihat. Hanya Bu Nyai lah yang berhak mencabutnya.

Sebulan setelah penolakan itu, dokter Burhan pergi bersekolah ke luar negeri. Ah, kisah itu telah berlalu. Dia beristri sekarang, sangat cantik dan dikaruniai anak perempuan yang lucu.

Pernah suatu waktu, aku menyesali keputusan itu. Jika saja dulu aku lebih berani. Tapi, kupikir … berbakti kepada Bu Nyai jauh lebih penting.

“Nitip Bulek ya Kartini. Bulek kondisinya lemah sekali.” Dokter Burhan kemudian bercerita sambil berjalan ke arah luar.

Saat itulah aku tahu bahwa Bu Nyai memiliki darah tinggi yang sering naik dengan cepat jika sedang memikirkan sesuatu.

Ya Rabbi. Aku merasa bersalah, bukankah sebelumnya aku mengutarakan kepada beliau penolakan Gus Azam atasku?

Bu Nyai, maafkan daku.

***

“Ingat! Ibuk jangan terlalu dibebani masalah. Selama ini permasalahan santri selalu kau laporkan padanya. Detik ini, semua laporkan padaku.”

Lelaki itu duduk di atas kursi yang tidak terlalu tinggi, berkata memerintah kepadaku.

“Ada lagi, segala perizinan yang selama ini kau pegang, berikan kepadaku.”

Aku memandang wajahnya. Kenapa lelaki ini masih saja menaruh dendam kepadaku.

“Baik, Gus.”

Aku hendak berbalik saat dia memanggilku lagi.

“Satu lagi. Jangan bilang kepada Ibu kalau aku menolakmu.”

Duh, hatiku geregetan.

“Maksudnya apa, Gus?”

“Itu, sementara ini. Simpan cincin itu sampai Ibu membaik.” Dia berbicara dengan ragu.

“Jika memang Ibu menghendaki dirimu sebagai istriku, sementara ini aku akan menerima. Bukankah dalam setiap kerajaan boleh ada permaisuri dan selir?”

Sialan. Jika dia bukan Gus-ku sudah kulabrak tak karuan.

“Jadi, meskipun nanti Gus Azam menerima pernikahan ini, Gus Azam juga masih akan menikahi kekasih jenengan?”

“Be ….”

“Maaf! Saya masih punya harga diri!” Aku menatap tajam matanya, menawarkan perlawanan.

“Satu lagi. Bu Nyai sudah tahu penolakan Gus Azam terhadapku. Silahkan Gus Azam bicarakan dengan beliau. Jika Bu Nyai masih menginginkan pernikahan ini dengan adanya poligami, maka aku akan memilih pergi.”

Aku berlari ke luar, rasanya dadaku sesak, amarahku membuncah.

Maaf, Bu Nyai. Jika tanpa poligami aku mungkin akan bisa menaklukkan Gus Azam, tapi jika harus ada wanita lain di dalam pernikahan maka aku mundur teratur. Bukankah tidak ada satupun wanita yang mau dibandingkan dengan wanita lain dalam perahu yang sama dengannya?

Hanya wanita yang berambisi lah yang mau dan siap. Aku? Sama sekali tak memiliki ambisi itu. Kartini yang ini hanya terbiasa hidup menerima segala kesederhanaan bukan pertarungan.

****

Sudah seminggu ini Bu Nyai terbaring lemah di ranjangnya. Meskipun beliau sudah mulai mau makan tapi wajah lesu dan kurang semangat terlihat jelas di sana.

Setiap kali beliau ingin menggenggam tanganku yang dengan segera kugapai dan kugenggam. Air mata beliau turun perlahan, entah untuk siapa ditujukan.

Agaknya hal itu terlihat selalu di mata Gus Azam. Dia pun mulai melunak kepadaku. Sapaan yang digunakannya mulai tidak bernada keras.

Jangan terlena, Kartini. Mungkin ini hanya tipuan saja. Kau sudah pernah kan ditipunya. Saat dia menyuruhku mengantar seorang wanita cantik dengan satu teman lelakinya untuk melihat kondisi Bu Nyai.

Aku … Sangat tidak peka saat itu. Selepas kepulangan dua tamu Gus Azam itu Bu Nyai menurun kembali kondisinya. Setelahnya aku tahu kalau wanita itu adalah wanita pilihan Gus Azam yang sengaja diperkenalkan kepada Bu Nyai. Tanpa sengaja aku mendengar Abah Kyai marah besar kepada Gus Azam.

“Jangan kau taruh otakmu di dalam dengkul. Apa salahnya sih mwnuruti perintah Ibumu?” Abah Kyai marah. Gus Azam hanya menunduk di depan beliau.

“Sudah tahu waktunya tidak tepat, masih juga kau bawa wanita itu kesini.” Gus Azam hendak menjawab tapi diurungkannya kembali. Dia memilih menunduk.

Sejak hari itu Gus Azam terlihat murung, dia lebih banyak terdiam dan menatap kosong apa yang ada di depannya.

****

Sebulan kemudian, kondisi Bu Nyai mulai normal kembali. Aktivitas mengaji dan mengajar anak santri sudah bisa beliau jalani. Saat itulah aku berpikir bahwa ini saat yang tepat untuk berbicara dengan Gus Azam dari hati ke hati.

“Gus, apakah anda tersiksa dengan perjodohan ini,” tanyaku saat sengaja menghentikan langkahnya sebelum sampai ndalem.

“Jika memang ini menyiksa, akan kucoba merayu Bu Nyai untuk membatalkan. Tapi perlahan.” Aku menawarkan perdamaian. Sungguh, hatiku tak nyaman melihat mendung di wajah Gus Azam.

“Apakah kau bisa dipercaya?” tanyanya melirikku.

Aku mengangguk.

“Aku capek Gus, menjadi musuh jenengan. Padahal tak pernah satu pikiranpun membenci gus Azam.”

Ada senyum di wajahnya saat kukatakan itu. Senyum yang manis sekali.

Akhirnya, wajah itu mau melihat kepadaku, mau memberi senyum kepadaku.

Namun, saat rayuanku masih ditolak Bu Nyai, sebuah surat undangan siap edar tertumpuk rapi di atas meja kantor sekolah. Begitu aku memegangnya tanganku bergetar, dadaku berdetak kencang. Di ujung bagian lain, Gus Azam melakukan hal yang sama. Sambil membawa undangan itu dia mendekat ke arahku lalu mengulurkannya dengan ekspresi yang tak bisa kubaca.

“Ini, hasil bujukanmu kepada Ibu,” katanya lirih tapi berhasil menebar perih di hatiku.

Aku, tidak berhasil memegang kepercayaannya.

Lelaki itu kemudian keluar dengan semangat yang padam. Punggungnya yang lesu menjauh dari area kantor, dia juga memaksakan senyuman saat beberapa guru berpapasan dengannya untuk memberikan selamat.

Duh, Gusti Allah. Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana?

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here