Seputih Hatimu Kartini #03

0
99
views

“Kartini! Jangan ndablek!” seru Mbak Fariza saat mendapatiku menaiki tiang jemuran.

“Nama Kartini itu anggun, enggak blakraan macam dirimu,” lanjutnya sambil berteriak dari bawah. Sedangkan aku masih mencoba meraih layangan putus yang hendak terbang entah kemana.

“Cepat turun!” teriaknya lagi.

Begitu aku turun dia berteriak gaduh karena kesakitan. Tubuhku mendarat sempurna di atasnya.

****

“Maaf! Jenengan siapa?” kataku menghentikan langkah guru baru yang tadi membubarkan anak-anak yang kuhukum.

Lelaki itu berhenti kemudian menengok ke arahku.

“Aku tak akan mentolerir lagi adanya hukuman fisik di sini.”

“Terlebih dari wanita yang selalu digaungkan namanya oleh para sesepuh pesantren.”

Entah apa maksud dari ucapannya, karena belum sempat aku mengajukan keberatan lelaki itu sudah berjalan dengan cepat dengan langkah-langkah kakinya yang lebar.

Tanganku berkeringat, jantungku terasa sakit. Lelaki itu begitu angkuh dan menyebalkan. Tetapi melihat dari garis wajahnya yang tegas sepertinya dia bukan orang sembarangan.

Siapa dia?

Aku menggelengkan kepala menepis semua bayanganku sendiri. Beberapa anak-anak sudah mengintipku dari jendela kelas. Mereka segera menempati tempat duduk masing-masing saat aku datang, tanpa kata, tanpa tolah-toleh dan tanpa kegaduhan.

“Buka halaman sebelas, tulis di buku kalian. Nanti saya terangkan!” perintahku.

Ada wajah lega di antara mereka, karena tiba-tiba saja kepalaku terasa pusing. Ulangan hari ini kubatalkan. Sesekali memenangkan hati anak-anak tidak apa, kan?

Tepat saat jam pelajaran usai, Pak Kepala Madrasah memanggilku ke ruangannya.

“Bu Guru Kartini, bisa ke kantor sebentar?”

Aku mengangguk takzim mematuhinya. Bagaimanapun beliau adalah guru yang telah mengajarku dulu semasa kecil.

“Duduklah. Sebentar lagi Gus Azzam akan mengevaluasi kinerjamu.” Beliau berkata sambil memijat pelipisnya.

Siapa Gus Azzam?

Menilai kinerjaku?

Sungguh, sebuah hal yang tak kupahami. Tapi, aku duduk diam menunggunya. Hingga wajah lelaki tadi masuk melewati pintu kantor kepala madrasah setelah mengucap salam sebelumnya.

“Assalamualaikum, Pak Taufik.”

“Waalaikumsalam, Gus Azzam. Monggo masuk.”

Dia?

Lelaki tadi adalah Gus Azzam yang dimaksud kepala madrasah.

“Kenalkan, beliau Bu guru Kartini,” kata Kepala Madrasah.

“Dan … Bu Kartini. Beliau Gus Azzam, putra tertua Kyai Abdullah.”

Skak matt.

Jadi, ini putra tertua beliau. Putra kebanggaan Kyai yang digadang-gadang menggantikan estafet kepemimpinan beliau.

Aku mengangguk hormat, meskipun hatiku masih sakit atas perlakuannya tadi.

“Monggo Gus. Silahkan dievaluasi kinerja Bu Kartini,” kata Pak Taufik dengan sangat sopan.

Namun, apa yang muncul dari mulut Gus Azzam sungguh di luar pikiranku.

“Nanti malam saya akan ajukan pemecatan kepada Abah Kyai terkait Bu Kartini.”

Tanganku menggenggam erat ballpoint hitam yang biasanya kupakai menulis. Hatiku dipenuhi amarah.

“Dia, bukan seorang guru yang layak dipertahankan. Guru pemarah hanya akan menghasilkan murid pembangkang.”

Lalu dia berlalu meninggalkan diriku yang masih kebingungan, pun Pak Taufik yang merasa serba salah.

***

“Tunggu!” teriakku di lorong menuju ruangan guru. Beberapa mata guru yang sedang beristirahat memandang kami dengan wajah ketakutan.

“Maksud jenengan apa?”

“Sudah jelas, kan maksud saya?” tanyanya dengan nada tak kalah sengit.

“Aku tahu jenengan Gus yang terhormat di sini. Tapi, bukan begitu cara memperlakukan sesama manusia. Tunjukkan lebih dari satu kesalahan saya sebelum jenengan mengajukan pemecatan.”

Lelaki itu terdiam. Wajah tegasnya semakin bersinar.

“Jangan seenaknya menuduhku memanfaatkan kedudukan.”

Dia mengambil nafas.

“Baik, akan kucari sepuluh kesalahanmu. Jika sudah komplit maka akan kuminta kesediaanmu untuk mengundurkan diri dari sini,” jawabnya penuh optimisme.

“Bukan karena jenengan dijodohkan dengan saya lantas jenengan marah, kan Gus?” tanyaku tebak-tebak berhadiah.

Wajahnya memerah, mulutnya terkunci. Lalu dia pergi dan tak menoleh lagi.

Iya, aku tahu niat awal Bu Nyai dan Kyai Abdullah. Mereka berniat menjodohkan putra tertuanya dengan gadis tanpa orang tua ini, yaitu aku. Jelas hal itu akan membuatnya terluka bukan?

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here