Secret Wedding #07

0
833
views
Secret Wedding

Lia tidak ada henti-hentinya, untuk tersenyum bahagia. Saat Fahri menyetujui untuk menginap, di rumah orang tuanya. Lia tentunya sangat bersyukur, Fahri memberikannya kesempatan untuk bisa bersama dengan kedua orang tuanya. Walaupun mereka berdua belum bisa menjadi suami istri pada umumnya, namun Fahri tetaplah berusaha memberikan yang terbaik untuk Lia. Fahri berusaha, menjadi suami yang baik. Ya, walaupun masih dengan sifat dinginnya. Hal itulah yang diakui Lia, walaupun suaminya kadang-kadang menyeramkan, apalagi kalau sedang di kantor.

Fahri dan Lia sekarang keluar dari kamar, mereka berdua berjalan menuju meja makan. Mereka berdua menghampiri kedua orang tuanya, yang sedang menunggu untuk makan malam. Tomi dan Lusi tersenyum, ke arah anak dan menantunya. Menurut mereka, Fahri dan Lia sebenarnya pasangan yang sangat cocok. Hanya saja, mereka dipertemukan dengan waktu yang tidak tepat. Yang menjadikan mereka seperti ini, status suami istri tetapi seperti orang lain.

“Malam, Ayah, Bunda!” sapa Lia.

“Malam juga, Sayang,” sahut Lusi. “Ya sudah. Kalian duduk saja, biar kita langsung makan!” sambungnya lagi.

Fahri dan Lia hanya mengangguk, dan langsung duduk. Mereka semua menikmati makan malam bersama, lagi-lagi Fahri merasakan kehangatan keluarga saat berada di tengah-tengah Lia dan keluarganya. Ini semua yang Fahri suka, kehangatan keluarga yang tidak bisa lagi ia dapatkan.

“Bagaimana pekerjaan kamu, Fahri? Apakah semuanya lancar-lancar saja?” tanya Tomi, di sela-sela makannya.

Fahri tersenyum. “Alhamdulillah baik, Yah. Semuanya lancar, dan tidak ada kendala apa pun,” jawabnya.

Tomi mengangguk. “Syukurlah kalau begitu. Bagaimana dengan pekerjaannya Lia? Apakah dia membuat kamu susah?”

Fahri lagi-lagi tersenyum, ia menoleh ke arah sang istri yang hanya fokus makan. “Pekerjaannya Lia juga bagus, Yah. Dia sama sekali, tidak pernah membuat saya susah.”

“Kalau Lia ada berbuat salah, kamu tegur saja dia. Tapi jangan sampai dibentak, ataupun dimarahi. Cukup kamu nasehati saja, dan beri dia pengertian.”

Fahri mengangguk. “Iya, Yah.”

“Ayah percayakan Lia sama kamu, Ayah harap kamu bisa menjaga dia. Jangan pernah sakiti dia, karena dia harta paling berharga yang kami miliki.”

Fahri hanya bisa tersenyum, dan lagi-lagi mengangguk. “Insya Allah, Yah. Saya akan menjaga Lia, seperti apa yang Ayah katakan.”

“Kalau Lia merepotkan kamu, cukup jewer saja telinganya,” ujar Tomi seraya terkekeh kecil.

Lia langsung mengerucutkan bibirnya, saat mendengar sang ayah berkata seperti itu. “Kok gitu sih, Yah?” protesnya tidak terima.

“Lho Ayah benar kan? Kamu kadang-kadang memang suka merepotkan, jadi Ayah bilang itu ke Fahri, biar dia tidak kaget lagi.”

“Tapikan, Yah. Nggak dijewer juga.” Lia semakin menampakkan ekspresi kesalnya.

Sementara Fahri hanya tersenyum melihat itu semua, ternyata istrinya itu kalau lagi bersama kedua orang tuanya. Ia adalah anak yang manja, satu fakta yang Fahri ketahui tentang istrinya itu.

“Oh, iya. Ayah sih berharapnya, kalian berdua semoga secepatnya memberikan kami cucu,” ujar Tomi lagi.

Mendengar hal itu, sontak saja membuat Fahri maupun Lia tersedak bersamaan. Mereka berdua saling pandang, mana mungkin memberikan seorang cucu. Mereka saja bahkan, tidak pernah berhubungan seperti suami istri pada umumnya.

“Kalian berdua pelan-pelan makannya,” ujar Lusi, memberikan minum untuk anak dan menantunya.

“Ya sudah. Kita lanjutkan lagi makan saja, biar nanti bicaranya dilanjutkan lagi,” suruh Tomi.

Mereka semua mengangguk, dan kembali menyantap makan malam lagi.

***

Setelah selesai makan malam, kini Fahri dan Lia tengah berada di dalam kamar. Mereka berdua sama-sama diam, seolah masih ada kecanggungan di antara keduanya.

Lia tengah sibuk membersihkan kamarnya, yang sudah seminggu tidak ditempati. Sebenarnya kamar memang sudah bersih, namun Lia hanya merapikan sedikit barang-barang yang tidak tertata rapi. Lia sangat rindu dengan kamar ini, biasanya di kamar ini bisa menumpahkan rasa lelahnya setelah seharian melakukan aktivitas.

Sedangkan Fahri, laki-laki terus saja menatap kamar ini. Matanya terus saja, melihat semua isi yang ada di kamar ini. Entahlah, apa yang dalam pikirannya sekarang, yang jelas ini merupakan pertama kalinya ia masuk ke kamar Lia. Setelah seminggu lebih, menjadi suami perempuan itu.

“Ternyata kamu masih seperti anak-anak, ya,” ujar Fahri, matanya masih saja melihat kamar ini.

Lia seketika menoleh. “Maksudnya apa, Mas?” tanyanya tidak mengerti.

“Kamar kamu penuh dengan hello kitty, sama seperti kamar anak-anak,” ledeknya.

Lia mengerucutkan bibirnya, sekarang ia mengerti apa yang suaminya ini katakan. “Emangnya kenapa, kalau penuh dengan hello kitty? Apa ada masalah?” tanyanya sedikit kesal.

Fahri terkekeh, dan mengangkat bahunya. “Tidak ada masalah! Tapi saya hanya kaget, saya kira kamu itu sudah dewasa, namun ternyata tidak.”

Aku mendengkus kesal. “Aku memang masih muda, ya! Emangnya Mas Fahri, yang sudah tua.”

Seketika mata Fahri membuat mendengar semua itu. “Tarik ucapan kamu! Saya tidak tua, seperti yang kamu katakan.”

Lia mengabaikan ucapan Fahri, ia lebih memilih berbaring di atas kasur seraya memeluk boneka hello kitty miliknya. “Sudah deh, Mas! Jangan banyak bicara, lebih baik tidur. Ini sudah malam, kalau ngomong terus nanti malah ganggu Ayah dan Bunda.”

Fahri masih tidak terima, dengan apa yang dikatakan oleh istrinya itu. Selama ini, tidak ada yang berani mengatakannya tua. Namun sekarang, istrinya sendiri yang berani mengatakan ia tua. Istrinya itu juga tidak terlihat takut sama sekali, ya … walaupun Fahri akui bahwa umumnya sekarang hampir menginjak kepala tiga.

Fahri bahkan tidak habis pikir, istrinya itu sekarang malam enak-enakan tidur, saat dirinya masih terlihat kesal. Memang Lia itu sangat berbeda dari yang lain, dari banyaknya perempuan yang selama ini ia kenal.

Fahri ikut membaringkan tubuhnya di kasur, dan akhirnya juga ikut menyusul Lia pergi ke alam mimpi.

***

Sayup-sayup terdengar suara azan Subuh berkumandang, Lia bangun dari tidurnya. Ia juga membangunkan Fahri, yang berada di sebelahnya.

“Mas Fahri bangun!” ucapnya, seraya menggoyangkan lengan suaminya itu.

Merasa tidurnya terganggu, Fahri mulai membuka matanya. “Kamu bisa nggak sih, nggak usah berisik?” Suara Fahri khas orang bangun tidur.

“Bangun, Mas! Salat Subuh dulu, ikut berjamaah gih sana sama Ayah di masjid,” suruhnya.

“Kamu bisa nggak sih, banguninnya yang lembut?

Lia menggeleng. “Tidak, Mas! Lebih baik sekarang Mas Fahri mandi, yang langsung ikut Ayah ke masjid.”

“Hem … iya.” Fahri bangkit, dan langsung menuju kamar mandi.

Sekarang Fahri sudah pergi ke masjid, Lia pun kini juga langsung melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim. Dua rakaat telah terlaksana, setelah itu Lia langsung membantu bundanya yang berada di dapur, yang tengah membuat sarapan untuk mereka semua.

Sarapan kini sudah tertata di meja makan, kebetulan juga Fahri dan ayahnya sudah kembali dari masjid.

Mereka semua kini sudah mulai menikmati sarapan bersama, semuanya dengan khidmat menikmati sarapan yang dibuat oleh Lia dan juga bundanya.

“Kalian jadi pulang pagi ini?” tanya Lusi, di tengah-tengah makan mereka.

Fahri dan Lia mengangguk. “Iya, Bunda,” jawab keduanya.

“Padahal Bunda masih ingin kalian tinggal di sini, Bunda masih kangen sama kalian,” ujarnya.

“Nggak bisa, Bunda. Mas Fahri kan harus kerja, Lia juga harus masuk kerja.” Lia mencoba menjelaskan semuanya, walaupun dalam hatinya terdalam ia juga masih ingin berada di sini.

“Iya, Bunda. Tapi nanti, saya akan sering-sering mengajak Lia untuk ke sini. Biar bisa bertemu dengan kalian.” Kali ini Fahri yang berbicara.

Mata Lia berbinar mendengar itu semuanya. Ia tahu, sebenarnya suaminya ini baik, ya … cuma sedikit menyeramkan saja kalau lagi marah.

“Ya, Bunda juga mengerti. Yang terpenting, kalian jaga diri baik-baik, dan yang akur jangan bertengkar.”

“Iya, Bunda.”

Bersambung

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here