Secret Wedding #06

0
786
views
Secret Wedding

Lia tidak bisa menutupi rasa bahagianya, senyum pun tidak pernah lepas dari bibirnya. Lia begitu tidak menyangka, bahwa suaminya akan mengajaknya untuk pergi ke rumah kedua orang tuanya. Ah, sepertinya Lia harus berterima kasih, kepada laki-laki yang telah resmi menjadi suaminya itu.

Lia tengah duduk di sofa, sambil membaca majalah. Namun tiba-tiba saja, Fahri datang menghampirinya. Laki-laki itu, langsung duduk di sebelahnya.

“Kamu tidak ada jadwal hari ini?” tanyanya.

Lia menoleh. “Tidak ada! Hari kan libur, jadi di rumah saja,” jawabnya.

“Apakah tidak ada jadwal lain? Misalnya kamu ingin jalan-jalan kemana gitu.”

Lia menggeleng. “Tidak ada juga!”

Fahri menghela nafas. “Bagaimana kalau kita pergi, ke rumah kedua orang tua kamu?” tawarnya.

“Ke rumah orang tuaku? Maksud Mas Fahri, ingin mengajak aku ke rumah Ayah dan Bunda?” tanyanya memastikan.

Fahri mengangguk. “Iya. Anggap saja, ini sebagai permintaan maaf dari saya. Karena kemarin, sudah menghukum kamu,” jawabnya seraya mengulas senyum.

Lia akhirnya tersenyum. “Terima kasih, Mas. Ya sudah, sekarang aku siap-siap dulu,” ujarnya.

“Sama-sama,” balasnya.

Di sinilah mereka sekarang, tengah berada dalam mobil yang akan menuju rumah kedua orang tuanya Lia. Lia terus saja tersenyum, karena ia akan bertemu dengan kedua orang tuanya. Terhitung sudah satu minggu lebih, ia tidak bertemu dengan kedua orang tuanya. Semenjak ia menikah dengan Fahri, ia sama sekali tidak bisa bertemu dengan kedua orang tuanya itu. Bukan karena Fahri tidak mengizinkan, namun memang banyaknya pekerjaan yang menyita waktunya.

Namun sekarang, ini seperti mimpi saja. Laki-laki yang selama ini selalu irit bicara, bersikap dingin terhadap siapa pun. Kini malah mengajaknya untuk pergi, sungguh kalau bisa Lia berteriak ia akan melakukan itu. Hari ini begitu bahagia, rasa kesal yang kemarin ada terhadap laki-laki itu seketika hilang.

“Kamu kenapa senyum-senyum begitu?” tanya Fahri.

Lia menggeleng. “Tidak apa-apa! Aku hanya bahagia, bisa ke rumah Ayah dan Bunda,” sahutnya.

“Oh. Saya kira kamu kesurupan, senyum-senyum seperti itu,” ujarnya.

Mata Lia melorot mendengar itu. “Sembarangan banget sih kalau ngomong.” Lia mengerucutkan bibirnya kesal.

Fahri terkekeh kecil. “Ya, siapa tahu aja kan.”

“Tau, ah.” Lia memalingkan wajahnya, ia lebih memilih melihat keluar jendela.

Sementara Fahri, ia hanya tersenyum saat melihat wajah istrinya itu terlihat kesal.

Setelah itu, tidak ada obrolan lagi antara keduanya. Mereka sama-sama diam, dengan pikiran masing-masing. Hanya bunyi deru mesin mobil yang terdengar, menemani perjalanan mereka berdua.

Sekarang mereka sudah sampai, di rumah kedua orang tuanya Lia. Fahri memarkirkan mobilnya, dan langsung turun dari mobil. Lia pun sama, ia mengikuti Fahri untuk keluar dari mobil.

Di depan pintu sudah ada kedua orang tuanya Lia, yang menunggu kedatangan anak dan menantunya. Sebelum pergi ke sini Lia memang sudah memberitahu kedua orang tuanya, tentang mereka yang akan berkunjung ke rumah ini.

“Ayah, Bunda!” Lia langsung berlari menghampiri kedua orang tuanya.

“Lia rindu sama kalian,” ujarnya seraya memeluk erat kedua orang tuanya.

“Kita juga rindu dengan kamu, Li,” sahut Tomi ayahnya Lia.

Fahri juga ikut menghampiri kedua orang tua Lia, yang kini juga menjadi kedua orang tuanya. “Assalamualaikum, Yah, Bun,” salamnya seraya mencium tangan mereka dengan takzim.

“Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh,” jawab mereka bersamaan.

“Kalian berdua apa kabar?” tanya Lusi.

“Kita berdua baik, Bun,” jawab Fahri.

“Kalau begitu, lebih baik sekarang kita masuk! Sekalian kita makan siang bersama, kebetulan Bunda juga sudah masak,” ajaknya.

Fahri dan Lia hanya mengangguk, dan mengikuti keduanya orang tuanya untuk masuk ke dalam rumah.

Untuk pertama kalinya, mereka menikmati makan bersama. Tentunya ada rasa bahagia, di hati semuanya. Terlebih lagi dengan Lia, perempuan tidak ada henti-hentinya untuk tersenyum, karena seminggu lebih ia tidak menikmati masakan dari bundanya.

Fahri juga terlihat nyaman saat berada di keluarga Lia, bersama kedua orang tua Lia ia kembali merasakan kasih sayang dari orang tua. Selama ini Fahri hidup sendirian, setelah kedua orang tuanya pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.

***

Setelah acara makan siang, Lia langsung menghampiri bundanya yang sedang berada di belakang rumah. Sedangkan Fahri laki-laki itu, sedang berada di depan yang terlihat sedang mengobrol dengan sang ayah.

Lia mulai melangkahkan kakinya menuju belakang rumah, di sana sudah ada sang bunda yang terlihat merapikan kebun. Di belakang rumah orang tua Lia, memang terdapat kebun untuk berbagai macam sayuran. Ada bayam, sawi, wortel, kentang, kacang, cabai dan masih banyak lagi.

Lusi bundanya Lia memang terkenal suka berkebun, begitu juga dengan anaknya Lia. Kalau ada waktu senggang, Lia selalu membantu bundanya untuk mengurus kebun ini. Namun sudah seminggu lebih, Lia tidak pernah ikut membantu mengurus kebun ini. Semenjak ia menikah dengan Fahri, dan tidak lagi tinggal di rumah ini.

“Bunda!” panggilnya.

Lusi menoleh. “Eh, Sayang. Sini bantuin Bunda!”

Lia mengangguk, dan mulai membantu bundanya. Lia memang mahir dalam hal seperti ini, mengurus kebun memang kegemarannya dari dulu.

“Semuanya masih terawat ya, Bun,” ujarnya.

“Iya. Tapi Bunda sempat kerepotan, karena nggak ada kamu. Biasanya kan enak kalau ada kamu, di rumah juga Bunda merasakan kesepian karena nggak ada kamu,” sahutnya.

Lia tersenyum, ia pun merasakan apa yang bundanya itu rasakan. “Iya, Bun. Lia juga sama, Lia kesepian nggak ada Bunda di samping Lia.”

“Gimana hubungan kamu sama Fahri?”

Lia mengerutkan keningnya. “Gimana apanya, Bun?” tanyanya tidak mengerti.

“Ya, gimana hubungan kalian? Apakah baik-baik saja? Secara kan, kalian menikah bukan karena dasar cinta. Melainkan atas dasar tidak sengaja.”

Lia mengembuskan nafas berat. “Ya, begitulah, Bunda.”

“Fahri baik sama kamu, Li?”

Lia kembali mengangguk. “Baik kok, Bun. Malah tadi, Mas Fahri yang mengajak Lia ke sini.”

Lusi mengehela nafas lega. “Syukurlah kalau begitu. Bunda cuma pesan satu sama kamu, Li. Walaupun kalian menikah bukan karena cinta, tapi kamu harus bisa menjadi istri yang baik. Kamu harus nurut dengan apa yang dikatakan Fahri, sekarang surga kamu sudah ada dengan dia.”

Lia kembali mengangguk. “Insya Allah, Bunda. Lia akan selalu berusaha menjadi istri yang baik, yang seperti Bunda katakan.”

Lusi tersenyum, mendengar ucapan sang anak. Lia memang dewasa, kalau menanggapi suatu hal. “Oh, ya, Li. Kalian menginap di sini kan?” tanyanya.

Lia menggeleng. “Belum tahu, Bunda! Nanti Lia tanya ke Mas Fahri dulu, apa dia mau menginap di sini.”

“Ya sudah, Bunda ke dalam dulu. Kamu lanjutkan saja!”

“Siap, Bunda!”

Lia kembali melanjutkan mengurus kebunnya, namun tiba-tiba saja Fahri datang menghampirinya. Sontak saja, hal itu membuat Lia terlonjak kaget.

“Astaghfirullah, Mas. Ngagetin aja sih!” ujarnya seraya mengelus dada, saat menyadari Fahri sudah berada di sebelahnya.

“Kamu kenapa? Seperti melihat hantu saja.”

Lia menghela nafas. “Mas Fahri kenapa tiba-tiba ada di sini? Bikin aku orang kaget aja.”

Fahri tersenyum. “Saya cari kamu dari tadi, tapi ternyata kamu berada di sini.”

“Ah, iya, Mas. Aku lagi bantuin Bunda berkebun, sudah lama aku nggak seperti ini.”

Fahri mengangguk tanda mengerti. “Boleh saya bantu?” tawarnya.

“Mas Fahri mau bantu?”

“Ya, itu pun kalau kamu mau.”

“Boleh kok, Mas. Bahkan sangat boleh.”

Kini mereka berdua berkebun bersama-sama, ada rasa lucu bagi Lia. Saat melihat Fahri, yang dikenal sebagai seseorang yang tegas dan juga dingin. Bisa juga berkebun seperti ini, bahkan terlihat sangat mahir.

Namun seketika Lia teringat ucapan bundanya tadi, yang menginginkan mereka untuk menginap di sini. “Mas!” panggilnya.

Fahri menoleh. “Kenapa?”

Lia sedikit ragu bicara dengan Fahri. “Begini, Mas. Kata Bunda tadi, beliau ingin kita menginap di sini.”

“Oh itu. Baiklah!”

Lia melongo tidak percaya. Benarkah suaminya ini, mengizinkan mereka menginap di sini?

“Kamu serius, Mas?” tanyanya memastikan.

Dia mengangguk. “Iya. Saya serius!”

“Terima kasih, Mas.” Tanpa sadar Lia memegang tangan Fahri, dan itu sontak saja menimbulkan rasa aneh di antara keduanya.

“Hem … sama-sama.”

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Jika kalian punya tulisan, baik cerpen/cerbung, quotes, puisi dan ingin karya kalian tampil di befren.com, Silahkan daftar diri kalian di: KLIK DAFTAR
Setelah terdaftar, lakukan verifikasi di fanspage befrenmedia: KIRIM VERIFIKASI
kirim pesan dengan format: DAFTAR

Karena ada program seru buat kalian yang terpilih, yaitu karya akan dijadikan versi cetak/fisik berupa buku, yang nantinya akan diberikan kepada author buat portofolio kalian.

Keuntungan yang didapat:

  1. Mudah terindek di pencarian google
  2. Tak hanya bisa dibaca di media sosial tapi, bisa dibaca secara global diseluruh dunia
  3. Dapat menginspirasi orang banyak
  4. dan terakhir, tulisan dapat dijadikan versi cetak/buku sesuai kebijakan
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here