Secret Wedding #05

0
705
views
Secret Wedding

Fahri terbangun dari tidurnya, ia melihat ke arah jam di dinding yang menunjukkan pukul 04:30, yang berarti sebentar lagi sebentar lagi akan terdengar azan Subuh. Akhir-akhir ini memang, Fahri sering menunaikan salat. Ia yang dulunya jarang untuk salat, dan bahkan sering melupakannya. Namun setelah menikah dengan Lia, ia jadi rajin menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim. Seminggu lebih tinggal dengan perempuan itu, membuat Fahri paham betul kebiasaan istrinya itu. Walaupun hubungan mereka masih terbilang kaku, tetapi kalau masalah salat Lia selalu mengingatkan Fahri.

Awalnya Fahri merasa terbebani dengan apa yang dikatakan Lia, namun lama kelamaan ia jadi terbiasa. Bahkan beberapa hari ini, Fahri salat sendiri tanpa menunggu disuruh Lia. Ah, Fahri sebenarnya bersyukur, perempuan itu bisa membawa dampak positif bagi dirinya. Ia yang selama ini jauh dari Allah Swt, kini ia bisa berubah jadi manusia lebih baik lagi.

Fahri kini beralih menoleh Lia yang berada di sampingnya, perempuan itu masih nyenyak tertidur. Lia begitu damai dalam tidurnya, wajah perempuan itu begitu polos tanpa make up sedikit pun. Lia tidur masih menggunakan jilbab, entah Fahri juga tidak tahu kenapa istrinya itu masih menggunakan jilbab saat di depannya. Padahal mereka adalah pasangan suami istri yang sah, pastinya tidak apa-apa kalau Fahri melihat rambut Lia. Karena memang itu sudah haknya.

Namun Fahri juga tidak akan memaksa, ia tidak akan meminta Lia membuka jilbabnya, sampai istrinya itu bersedia membukanya sendiri. Hanya sekali Fahri melihat rambut Lia, itu pun saat tidak sengaja waktu ia masuk ke kamar. Ah, Fahri jelas sangat mengingat itu, Lia begitu terlihat cantik saat itu.

“Kamu itu memang berbeda, Lia. Saya tidak pernah menemukan perempuan seperti dirimu, saya tidak menyesal menikah dengan kamu.” Tanda sadar tangan Fahri mengusap lembut pipi Lia.

Fahri juga sadar, bahwa Lia sebenarnya masih marah dengannya. Sebenarnya juga, Fahri tidak ingin memberikan hukuman terhadap Lia. Namun ia juga tidak mau, nantinya akan dikira pilih kasih. Semua pegawai yang ada di kantornya itu, tidak ada yang tahu kalau Lia sebenarnya istrinya.

“Maafkan saya, Lia!” Kemarin itu sebenarnya, Lia setelah salat Subuh tertidur lagi. Tidurnya begitu pulas, sampai-sampai Fahri tidak tega untuk membangunkannya. Fahri berpikiran bahwa, sebenarnya Lia tidak perlu pergi bekerja. Biar Lia libur saja hari itu, namun Fahri juga tidak tahu kenapa tiba-tiba Lia sudah ada di kantor. Yang menjadikannya, jadi bahan pembicaraan para pegawai.

Fahri terus saja memandangi wajah Lia yang damai dalam tidurnya, wajahnya yang polos menjadi daya tarik tersendiri yang dimilikinya. Lagi-lagi tangan Fahri mengusap lembut pipi Lia, entahlah ia merasa saat tertidur seperti ini Lia semakin cantik saja.

Merasa tidurnya terganggu, Lia menggeliat dan perlahan membuka matanya. Matanya seketika membulat, saat jarak dirinya antara Fahri sangatlah dekat.

“Aaaa! Mas Fahri ngapain?” teriaknya yang langsung bangun dari tidurnya.

Fahri mendengkus kesal. “Kamu bisa nggak sih, tidak usah teriak-teriak seperti itu? Bikin kuping saya sakit aja!” ujarnya.

“La-gian, Mas Fahri, kenapa bisa sedekat itu sama aku?”

“Emangnya kenapa? Ada yang salah?”

“Bu-kan begitu—-” Duh, Lia bingung harus bicara seperti apa.

Fahri langsung turun dari tempat tidur, dan meninggalkan Lia masih dengan wajah bingungnya. “Mas Fahri mau kemana?” tanya Lia.

“Saya mau salat. Bukan kah itu yang kamu mau, ingin memiliki imam yang bisa salat,” sahutnya.

Lia hanya bisa tersenyum, saat mendengar Fahri berucap seperti itu. Ia bersyukur, akhirnya suaminya itu bisa salat tanpa disuruh lagi.

Tidak berselang lama, Lia juga membersihkan dirinya. Ia juga tidak lupa mengambil wudu, untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim.

***

Setelah kejadian bangun tidur tadi, kini mereka berdua sama-sama menikmati sarapan. Walaupun dalam satu meja yang sama, tetap lah hanya keheningan yang ada. Keduanya lagi-lagi sama-sama diam, sangat jauh dari suami istri pada umumnya. Yang selalu hangat saat makan berdua seperti ini, entah apa yang dalam pikiran mereka berdua. Seminggu sudah berumah tangga, namun sikap mereka masih seperti ini saja.

Setelah selesai sarapan, kini Fahri mulai menghampiri Lia. Ia ingin meminta maaf soal kejadian kemarin, waktu Lia mendapatkan hukuman darinya. Ia tahu Lia masih marah dengannya, walaupun istrinya tidak bicara apa-apa. Lia lebih banyak diam, dan bicaranya cuma seperlunya saja. Hal itu lah yang mendorong Fahri, untuk meminta maaf kepada istrinya itu. Ia tidak ingin masalah ini berlarut-larut, dan entahlah melihat lihat diam seperti itu ada yang aneh di hatinya.

Dari jarak beberapa meter, Fahri melihat istrinya sedang melakukan pekerjaan rumah. Dia menyapu, dan juga mengepel lantai. Fahri hanya bisa menggelengkan kepalanya, padahal di rumah ini banyak asisten rumah tangga. Seharusnya Lia tidak perlu seperti itu, di sini statusnya sebagai istri bukan pembantu. Meskipun mereka belum bisa jadi suami istri seutuhnya, namun Fahri tetap lah berusaha memperlakukan Lia layaknya seorang istri. Ya, walaupun tidak bisa dipungkiri, masih ada canggung di antara mereka berdua.

Lia memang terkenal sebagai perempuan yang rajin, terbukti selama ia tinggal di rumah ini. Rumah ini jadi lebih rapi, dan lebih tertata indah. Fahri mengakui itu, meskipun tidak pernah diungkapkannya.

Dia masih terlihat asyik melakukan pekerjaannya, namun tiba-tiba saja kakinya tersandung dan membuatnya langsung jatuh ke lantai yang licin.

“Aduh—” Terdengar suara kesakitan dari Lia.

Melihat hal itu, sontak saja Fahri panik. Ia langsung menghampiri Lia, dan membawa perempuan itu langsung duduk di sofa.

“Sakit—-” Lia terus saja meringis kesakitan.

“Kamu tahan, ya! Saya ambil obat dulu, kamu tunggu di sini!” Fahri berlari mengambil kotak obat, dan setelah itu langsung menghampiri Lia kembali.

“Sini biar saya obati!” Fahri menarik kaki Lia kepangkuannya, dan mulai mengobati luka istrinya itu.

Sementara Lia, ia hanya diam. Menyaksikan Fahri mengobati lukanya, tidak disangka ternyata laki-laki itu perhatian juga.

“Lain kali hati-hati!” ucap Fahri.

“Iya,” sahut Lia.

“Bikin repot saja! Kamu selalu bertindak ceroboh, kemarin juga kaki kamu kesandung! Hari ini kesandung lagi, untung ada saya. Kalau tidak bagaimana?”

Lia menunduk. “Maaf,” lirihnya.

Fahri menghela nafas panjang. “Kamu tidak tahu, betapa khawatirnya saya.”

“Maaf.” Hanya itu yang bisa Lia ucapkan, ia bingung harus bicara apa.

Fahri tertegun, bukan maksud ia untuk memarahi Lia. Fahri hanya memperingatkan, agar istrinya berhati-hati. Ia hanya khawatir, kalau terjadi apa-apa dengan istrinya itu.

“Sudahlah! Ini sudah selesai saya obati, lain kali kamu tidak boleh melakukan pekerjaan seperti itu lagi. Biarkan saja, asisten rumah tangga yang melakukannya.”

Lia menarik kakinya dari pangkuan Fahri. “Iya. Terima kasih,” ujarnya seraya bangkit dari duduknya.

Lia hendak melangkahkan kakinya pergi, namun Fahri langsung menahannya. “Bisa bicara sebentar?” tanyanya.

“Bicara apa?”

“Duduklah kembali!” suruhnya.

Lia mengangguk, dan kembali duduk di samping Fahri. “Mau bicara apa?” tanya Lia akhirnya.

Fahri menghela nafas panjang, dan menatap Lia lekat. Sampai-sampai membuat perempuan itu, menjadi salah tingkah.

“Untuk yang kemarin, saya minta maaf! Saya tidak bermaksud menghukum kamu, tapi kamu juga tahu saya harus adil kepada semua pegawai,” ucapnya begitu tulus.

Lia mengangguk. “Aku tidak apa-apa! Aku juga tidak marah, memang aku yang salah. Tidak perlu minta maaf seperti itu, Mas Fahri tidak salah,” sahutnya.

Fahri mengulas senyum. “Syukurlah kalau seperti itu. Saya bahagia mendengarnya, kalau kamu tidak marah dengan saya.”

Lia juga tersenyum. “Ya sudah. Aku mau ke kamar dulu,” pamitnya.

“Silahkan saja!”

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Jika kalian punya tulisan, baik cerpen/cerbung, quotes, puisi dan ingin karya kalian tampil di befren.com, Silahkan daftar diri kalian di: KLIK DAFTAR
Setelah terdaftar, lakukan verifikasi di fanspage befrenmedia: KIRIM VERIFIKASI
kirim pesan dengan format: DAFTAR

Karena ada program seru buat kalian yang terpilih, yaitu karya akan dijadikan versi cetak/fisik berupa buku, yang nantinya akan diberikan kepada author buat portofolio kalian.

Keuntungan yang didapat:

  1. Mudah terindek di pencarian google
  2. Tak hanya bisa dibaca di media sosial tapi, bisa dibaca secara global diseluruh dunia
  3. Dapat menginspirasi orang banyak
  4. dan terakhir, tulisan dapat dijadikan versi cetak/buku sesuai kebijakan befren.com
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here