Secret Wedding #04

0
461
views
Secret Wedding

Lia baru saja sampai di rumah, ia sedikit bingung karena di garasi rumahnya sudah ada mobil suaminya. Biasanya laki-laki tidak pernah pulang secepat ini, tetapi entahlah untuk hari ini Lia juga tidak tahu alasannya. Tidak mau memikirkan itu terlalu jauh, Lia langsung masuk ke dalam rumah. Ingin sekali rasanya Lia langsung berbaring di tempat tidur, karena rasanya badannya sakit semua, gara-gara membersihkan kamar mandi di kantor tadi.

Lia membuka pintu rumah, ia mulai melangkahkan kakinya masuk. Di dalam sana sudah ada Fahri yang tengah duduk di sofa, entahlah laki-laki itu sedang menunggu siapa. Fahri menyadari kedatangan Lia, ia meletakkan hp yang dari tadi dipegangnya di atas meja. Fahri melihat ke arah Lia, laki-laki itu tidak bicara sedikit pun. Ia terus saja memandang Lia, dengan tatapan entahlah Lia juga tidak bisa mengartikannya.

Tidak ingin terlalu lama berada di sini, Lia langsung melangkahkan kakinya menuju kamar. Perlu diingat, bahwa Lia masih kesal dengan laki-laki yang sedari tadi menatapnya. Kejadian di kantor tadi, sukses membangkitkan rasa sesak di hatinya. Ya, walaupun ia yang salah, tapi setidaknya Fahri tidak memberikan hukuman yang berlebihan seperti itu. Kamar mandi yang ada di kantor itu sungguh banyak, bayangkan saja Lia harus membersihkan itu semua.

“Lia!” panggil Fahri. Lia tidak merespon, ia terus melangkahkan kakinya menuju kamar.

Sesampainya di kamar, Lia langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

Kurang lebih 15 menit, Lia selesai mandi. Ia keluar dari kamar mandi, tapi ia terlonjak kaget saat Fahri sudah ada di sana. Lia bahkan panik, ia sama sekali tidak memakai penutup kepala. Itu berarti Fahri sudah melihat rambutnya, dan selama ini ia jaga. Ah, tetapi Fahri kan suaminya. Jadi rasanya tidak apa-apa memperlihatkan mahkotanya, namun masih ada rasa keraguan di hatinya. Lia hanya takut, pernikahan ini terjadi bukan kehendak mereka berdua.

Lia pun langsung menyambar jilbab instan yang ada di lemari, untuk menutupi rambutnya.

“Seharusnya kamu tidak perlu seperti itu. Saya ini suami kamu, jadi rasanya tidak apa-apa melihat rambut kamu. Bukan kah itu memang hak saya?”

Lia tidak memperdulikan ucapan Fahri, perlu diingat dia masih kesal terhadap laki-laki itu. Lia lebih memilih memasukkan baju kantornya ke keranjang, untuk dicuci nanti. Sama sekali tidak mendengarkan ucapan laki-laki itu.

Merasa ucapannya tidak diperdulikan, Fahri mulai mendekati Lia. Laki-laki itu semakin mendekat, sampai tidak ada jarak di antara mereka.

“Kamu mau apa?” Lia tidak bisa menutup rasa gugupnya, saat jarak Fahri sangat dekat dengan dirinya. Bahkan Lia bisa merasakan, aroma mint dari mulutnya suaminya itu.

“Ma-s Fahri mau apa?” Lia semakin gugup, apalagi saat wajah Fahri sudah mulai mendekat dengan dirinya.

“Mas Fahri jangan dekat-dekat!” Sekuat tenaga, Lia mendorong tubuh Fahri agar menjauh darinya.

Terdengar Fahri membuang nafas kasar, wajah Fahri terlihat kesal saat Lia mendorong tubuhnya. “Untuk yang tadi di kantor, saya minta maaf!” Fahri akhirnya bicara.

Tiba-tiba saja mata Lia memanas, saat mengingat kejadian di kantor tadi. Entahlah, kenapa rasanya begitu menyakitkan. Padahal cuma disuruh membersihkan kamar mandi, apa ini karena suaminya sendir yang memberi hukuman?

“Tidak ada yang perlu minta maaf! Ini semua memang salah aku,” sahutnya.

“Lia, dengarkan saya dulu!”

“Aku cape, Mas. Aku ingin istirahat, jangan ganggu aku.” Sekuat tenaga Lia menahan, agar air matanya tidak tumpah.

“Lia—-”

“Aku ingin istirahat, Mas. Tolong tinggalkan aku sendiri!” Mata Lia sudah berkaca-kaca, sekuat tenaga ia menahan air mata ini namun tetap saja tidak bisa.

Lagi-lagi Fahri menghembuskan nafas kasar. “Baiklah! Kamu istirahat saja, nanti saja kita bicaranya.”

Fahri keluar dari kamar, sedangkan Lia hanya bisa duduk di ranjang. Kini air matanya sudah mengalir, ia tidak tahu kenapa sesakit ini. Andai saja bukan Fahri yang memberinya hukuman, mungkin tidak jadi masalah baginya.

“Kenapa rasanya sesakit ini, padahal aku yang salah. Tapi kenapa, saat melihat Mas Fahri marah itu rasanya sakit sekali?”

Lia terus saja menangis sesenggukan, sampai akhirnya ia tertidur kerena kelelahan.

 

***

Sayup-sayup terdengar suara azan berkumandang, Lia perlahan membuka matanya. Dilihat jam di dinding, sudah menunjukkan waktu salat Magrib. Lia segera bangun dari tidurnya, dan langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk mengambil wudu.

Lia sudah keluar dari kamar mandi, wajahnya kini sudah terlihat lebih fresh karena air wudu. Lia langsung menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim, dengan salat juga Lia berharap hatinya bisa sedikit lebih tenang. Atas kejadian yang menimpanya hari ini, kerena hanya kepada Allah Swt lah tempat kita untuk mengadu.

Tiga rakaat telah terlaksana, setelah melepas mukena yang ia pakai dan tidak lupa memakai jilbab. Lia langsung keluar kamar, dan menuju dapur. Namun Lia sedikit heran, rumah ini begitu sepi seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan. Kemana Fahri? Apa yang sedang ia lakukan? Lia menggeleng, kenapa juga ia harus memikirkan Fahri. Laki-laki itu saja, belum tentu memikirkan dia.

Di dapur sudah ada asisten rumah tangga yang sedang menata makanan di meja makan, Lia merasa sedikit bersalah karena tidak membantunya memasak. Karena biasanya, setelah pulang bekerja Lia langsung membantu Bi Mirna untuk memasak.

Lia menghampiri Bi Mirna. “Maaf ya, Bi. Aku nggak bantuin masak tadi, aku ketiduran soalnya,” ujarnya sedikit tidak enak.

Biar Mirna tersenyum. “Tidak apa-apa, Non. Bibi mengerti, Non Lia pasti lelah habis pulang bekerja,” sahutnya.

“Ya sudah, Bi. Sekarang apa yang bisa aku bantu, apa ada yang belum dimasak?”

Bi Mirna menggeleng. “Tidak ada, Non. Semuanya sudah siap, Non Lia tinggal makan saja.”

“Oh, ya, Bi. Mas Fahri mana, ya? Kok aku nggak lihat dia dari tadi.” Entahlah, apa yang ada dalam pikirannya Lia, ia tiba-tiba saja bertanya tentang Fahri. Bukannya ia tadi bilang, tidak perduli dengan laki-laki itu.

“Tuan Fahri ada di ruang kerjanya, Non. Katanya Non Lia lagi istirahat, jadi dia tidak ingin menganggu.”

Lia mengangguk tanda mengerti. Namun tidak berselang lama, orang yang mereka bicarakan tadi tiba-tiba saja sudah ada di meja makan.

“Silahkan dimakan, Tuan Fahri, dan Non Lia!”

“Terima kasih, Bi,” ucap Lia.

“Sama-sama, Non,” balasnya.

Fahri dan Lia makan dalam keheningan, meskipun sudah sering seperti ini, namun tetap saja kali ini rasanya ada berbeda. Mungkin masih ada rasa kesal di hatinya Lia, terhadap suaminya itu. Yang membuat makan malam yang seharusnya nikmat, menjadi seperti tidak ada rasanya sama sekali.

Setelah selesai makan, Lia langsung meninggalkan Fahri yang masih di meja makan. Lia terpaksa, kali ini ia tidak membantu Bi Mirna untuk mencuci piring. Lia masih tidak bisa berhadapan dengan Fahri, masih ada rasa sesak yang melanda hatinya.

Lia kembali masuk ke dalam kamar, ia sekarang tengah duduk di balkon kamar, sambil memandang langit yang dipenuhi bintang-bintang. Entah berapa ia hanyut dalam indahnya langit di malam hari, sampai satu suara membuyarkan lamunannya.

“Lia!” panggilnya.

Lia mengelus dadanya, ia kaget tiba-tiba saja Fahri sudah berada di sebelahnya.

“Maaf saya membuat kamu kaget,” ujarnya.

Lia hanya berdehem, untuk menjawab ucapan Fahri.

“Saya minta maaf, Lia. Soal kejadian di kantor tadi, saya seharusnya tidak menghukum kamu seperti itu. Tapi di sini kamu juga harus tahu, saya juga harus profesional. Saya tidak ingin dikatakan pilih kasih terhadap pegawai, bukan kah kamu yang tidak ingin pernikahan ini diumumkan.”

Lia yang tadinya memalingkan wajahnya, akhirnya melihat ke arah Fahri. Setelah mendengar ucapan suaminya tadi, ia langsung tersadar. Bahwa apa yang ia lakukan juga salah, dan tadi juga salahnya.

“Maafkan saya, Lia!” pintanya.

“Baiklah!” sahutnya. Setelah itu, Fahri duduk di samping Lia. Mereka berdua sama-sama diam, dan hanya menatap langit di malam hari.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Jika kalian punya tulisan, baik cerpen/cerbung, quotes, puisi dan ingin karya kalian tampil di befren.com, Silahkan daftar diri kalian di: KLIK DAFTAR
Setelah terdaftar, lakukan verifikasi di fanspage befrenmedia: KIRIM VERIFIKASI
kirim pesan dengan format: DAFTAR

Karena ada program seru buat kalian yang terpilih, yaitu karya akan dijadikan versi cetak/fisik berupa buku, yang nantinya akan diberikan kepada author buat portofolio kalian.

Keuntungan yang didapat:

  1. Mudah terindek di pencarian google
  2. Tak hanya bisa dibaca di media sosial tapi, bisa dibaca secara global diseluruh dunia
  3. Dapat menginspirasi orang banyak
  4. dan terakhir, tulisan dapat dijadikan versi cetak/buku sesuai kebijakan befren.com
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here