Secret Wedding #03

0
550
views
Secret Wedding

Setelah memarkirkan mobilnya, Lia langsung berlari menuju kantor. Dengan sekuat tenaga Lia berlari, karena ia sudah terlambat untuk masuk bekerja. Lia merutuki kebodohannya sendiri, bisa-bisanya ia terlambat hari ini. Ini semua gara-gara ia terlambat bangun, sesudah salat Subuh entah mengapa Lia merasakan pusing. Ia lalu membaringkan tubuhnya di kasur, berharap agar pusing yang dirasakannya sedikit berkurang. Tapi ia malah ketiduran, dan berujung sekarang terlambat masuk kerja.

Lia juga kesal dengan suaminya, laki-laki itu sama sekali tidak mencoba untuk membangunkannya. Andai saja suaminya itu berbaik hati sedikit saja untuk membangunkannya, tidak mungkin ia terlambat seperti sekarang. Tapi Lia juga sedikit bersyukur, karena suaminya itu meninggalkan mobil untuknya. Jadi Lia tidak perlu repot-repot lagi untuk menunggu taksi, tetapi walaupun begitu tetap saja Lia kesal terhadap suaminya itu.

Ketika kaki mulai memasuki kantor, semua pegawai di sini menatapnya dengan tatapan berbeda-beda. Ada yang seperti mengejek, ada juga yang kasihan dengan Lia. Karena sekarang jujur saja, posisi Lia sebagai pegawai di sini terancam. Kerena ia merupakan pegawai baru, yang masih dalam masa training.

Ternyata bukan hanya pegawai, yang memperhatikan kedatangan Lia. Tapi juga sang pemilik perusahaan ini, bosnya itu juga ikut memperhatikannya. Bukan hanya memperhatikan Lia, tapi bosnya itu juga menghampiri Lia.

“Kamu terlambat,” ujar Fahri, yang sekarang sudah berada di hadapan Lia.

Ingin sekali rasanya Lia memukul laki-laki yang berada di hadapan ini, kalau saja itu tidak termasuk dosa. Bukan kah laki-laki itu sudah tahu, kalau tadi ia sempat ketiduran. “Maaf, Pak.” Hanya itu yang bisa dia ucapkan.

Lia hanya bisa menunduk, apalagi saat semua mata pegawai di sini tertuju pada dirinya.

“Lain kali, jangan terlambat lagi. Sekarang kamu boleh bekerja, kali ini kamu saya maafkan.”

Lia kini mengangkat kepalanya, dan beberapa detik tatapan mereka beradu sebelum akhirnya saling membuat pandangan. “Bapak serius?” tanyanya memastikan.

Fahri mengangguk. “Ya, sekarang kamu kembali bekerja!” Fahri berlalu meninggalkan semua pegawai, yang menatap ia masih tidak percaya.

Mereka semua hanya bingung, beberapa kali sudah Fahri memberi toleransi kepada Lia. Biasanya bos mereka itu, akan memberikan saksi tegas kepada para pegawai yang tidak disiplin seperti dia.

“Enak banget sih, dapat toleransi terus dari Pak Fahri.”

“Iya. Aku juga sedikit curiga, kalau dia ada apa-apa dengan Pak Fahri.”

“Wajah doang sok polos. Apa jangan-jangan dia yang menggoda Pak Fahri, sampai-sampai selalu terbebas dari hukuman.”

Lia hanya bisa mengelus dada, mendengar cibiran pegawai di sini terhadap dirinya. Lia harus ekstra sabar, bukan kah ia tidak bersalah. Jadi tidak perlu takut, dengan apa yang mereka semua tuduhkan.

***

Waktu terus berjalan, Lia juga sudah bekerja seperti pegawai yang lainnya. Gara-gara terlambat tadi, pekerjaannya jadi lebih banyak dari pada pada biasanya. Tapi Lia harus berusaha ikhlas menjalaninya, baginya setiap sesuatu yang dijalankan dengan ikhlas pasti akan menjadi berkah.

Saking banyaknya pekerjaan yang Lia kerjakan, sampai-sampai ia tidak sadar kalau jam makan siang sudah tiba. Semua pegawai di sini juga sudah berbondong-bondong pergi ke kantin, untuk menikmati makan siang.

“Kamu tidak mau makan siang, Li?” tanya Lala, ia juga ingin pergi kantin.

Lia menggeleng. “Tidak, La! Pekerjaan aku masih banyak, tidak bisa ditinggal,” jawabnya.

“Tapi kamu bisa sakit, Li. Kalau tidak ada istirahat, pekerjaan bisa nanti dilanjutkan.”

Lia lagi-lagi menggeleng. “Tidak, La! Kalau aku tidak menyelesaikan pekerjaan ini, nanti aku bisa kena masalah lagi.”

Terdengar Lala menghela nafas, ia tahu kalau sahabatnya keras kepala. Jadi kalau sudah mengambil keputusan, tidak bisa diganggu gugat lagi. “Ya sudah. Aku ke kantin dulu, tapi nanti kalau kamu lapar kamu harus nyusul aku ke kantin.”

Lia mengangguk. “Iya, Lala. Sudah sana, kamu pergi aja ke kantin. Nanti keburu jam Istirahatnya habis.”

“Yakin nih, Li, kamu nggak mau pergi ke kantin?” Lala memastikan sekali lagi.

“Yakin, La.”

“Ya sudah. Aku pergi dulu, ya!”

Setelah kepergian Lala ke kantin, Lia kembali melanjutkan pekerjaannya. Berkali-kali ia memijat pelipisnya, karena kepalanya sedikit pusing. Namun tiba-tiba saja, ada seorang office boy datang menghampirinya.

“Ada apa ya, Mas?” tanyanya.

“Ini.” Office boy itu memberikan Lia kotak makanan.

“Ini untuk saya?” tanyanya lagi.

“Iya, Mbak. Itu untuk Mbak Lia, dari Pak Fahri,” jawabnya.

“Pak Fahri?” Lia bahkan tidak percaya, bahwa laki-laki itu memberikan makanan untuknya.

“Iya, Mbak. Saya pamit dulu, ya!”

“Ah, iya. Silahkan saja!”

Lia hanya memandang kotak makanan itu, ia tersenyum ternyata Fahri perhatian dengan dirinya. Tapi secepatnya ia menggeleng, mungkin saja Fahri hanya kasihan dengan dia karena sedari tadi tidak makan. Lia bukannya tidak berterima kasih, atas perhatian yang Fahri berikan. Tapi ia cuma tidak ingin, terbawa perasaan yang akan membuat ia terluka sendiri.

Karena perutnya juga merasakan lapar, Lia pun akhirnya memakan makanan yang diberikan Fahri tadi. Lia hanya bisa tersenyum, saat makanan itu masuk ke dalam mulutnya. Setidaknya dengan adanya makanan ini, perutnya bisa terisi.

“Kamu bawa bekal, Li?” tanya Lala, kini ia sudah kembali dari kantin.

“Eh, iya, La,” jawab Lia sedikit gugup. Sekarang ia sudah menyelesaikan makanannya.

“Pantesan kamu tidak ke kantin, ternyata sudah bawa makanan.”

Lia hanya tersenyum menanggapinya. Ia juga bingung harus bicara apa, takut salah jawab yang berakhir akan terbongkar semua rahasianya.

Lia kembali melanjutkan pekerjaannya, namun tiba-tiba saja ia merasakan mengantuk. Lia bangkit dari duduknya, dan langsung menuju kantin untuk membeli kopi. Agar rasa kantuk yang dirasakannya segera hilang, dan ia bisa kembali bekerja lagi.

Setelah selesai membeli kopi, Lia kembali melangkahkan kaki ke mejanya. Namun sebelum sampai di meja, tiba-tiba saja kakinya tersandung dan menabrak seseorang.

Lagi-lagi Lia hanya bisa menunduk, saat tahu ia menabrak siapa. Apalagi kopi yang ia bawa, tumpah di baju seseorang itu. Lia tidak mampu berkata apa-apa lagi, rasanya hari ini begitu kacau.

“Ma-af, Pak. Saya tidak sengaja,” ujarnya yang masih menunduk. Fahri, orang itu yang telah ditabraknya. Semua mata pegawai di sini lagi-lagi tertuju padanya, pasalnya lagi-lagi Lia membuat masalah dengan pemilik perusahaan ini.

“Dasar ceroboh! Harus di hukum tuh, kalau tidak dihukum bisa-bisa semakin ngelunjak.”

“Hukum aja Pak Fahri, biar tahu rasa.”

“Kalau perlu dipecat sekalian! Biar nggak buat masalah lagi.”

Lia lagi-lagi hanya bisa beristighfar, saat mendengar ucapan pegawai di sini terhadap dirinya. Air matanya kini sudah mengalir, Lia bahkan pasrah kalau ia dipecat sekarang.

“Kalian semua diam! Di sini saya bosnya, kalian tidak berhak untuk memerintah saya!” Terdengar amarah yang besar dari Fahri.

“Cuma saya berhak, untuk memecat atau tidaknya pegawai! Kalian semua diam, atau kalian yang saya pecat!”

Sekarang Fahri kembali menatap Lia, yang dari tadi hanya menunduk. Dadanya terasa sesak, saat melihat ekspresi wajah dari Fahri.

“Dan kamu, sepertinya kamu harus mendapatkan hukuman! Saya tidak ingin, ada yang di anak emaskan di sini. Semua pegawai sama, jadi jika ia ada salah pastinya akan saya berikan hukuman.”

Lia mengangkat kepalanya, air matanya tidak berhenti mengalir. Ia begitu takut, saat melihat Fahri seperti itu.

Fahri memalingkan wajahnya. “Kamu bersihkan semua toilet yang ada di kantor ini! Jangan pulang, sebelum semuanya selesai!” Fahri melangkahkan kakinya pergi dari sini.

Dengan air mata yang terus mengalir, Lia akhirnya menuju toilet untuk melaksanakan hukumannya. Lia mulai membersihkan semua itu, walaupun air matanya tidak berhenti untuk mengalir.

Sekitar satu jama lebih, Lia membersihkan semua ini. Namun pekerjaannya belum juga selesai, karena toilet yang ada di kantor itu sangat lah banyak.

Lia menyapu keringat yang membasahi wajahnya, namun tiba-tiba saja ada seorang office boy lagi yang memberinya sebotol minuman.

“Ini untuk, Mbak Lia.” Dia menyodorkan minuman itu.

“Untuk saya lagi?” tanya Lia. Pasalnya office boy yang memberinya minuman itu, sama yang memberinya kotak makan tadi.

“Iya. Untuk, Mbak Lia. Dari Pak Fahri, dan katanya nggak usah dilanjutkan lagi pekerjaannya.”

“Hah?”

“Kata Pak Fahri, lebih baik Mbak Lia pulang saja. Ini sudah jam pulang kantor, pekerjaan ini biar saya yang lanjutkan.”

“Tapi—-”

“Kata Pak Fahri, Mbak Lia jangan membantah. Mbak Lia harus pulang sekarang, ini kerjaan biar saya yang lanjutkan.”

Lia akhirnya pasrah, jujur saja ia juga merasa lelah.

“Ya sudah. Saya pulang dulu, assalamualaikum,” pamitnya dan pergi dari situ.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Jika kalian punya tulisan, baik cerpen/cerbung, quotes, puisi dan ingin karya kalian tampil di befren.com, Silahkan daftar diri kalian di: KLIK DAFTAR
Setelah terdaftar, lakukan verifikasi di fanspage befrenmedia: KIRIM VERIFIKASI
kirim pesan dengan format: DAFTAR

Karena ada program seru buat kalian yang terpilih, yaitu karya akan dijadikan versi cetak/fisik berupa buku, yang nantinya akan diberikan kepada author buat portofolio kalian.

Keuntungan yang didapat:

  1. Mudah terindek di pencarian google
  2. Tak hanya bisa dibaca di media sosial tapi, bisa dibaca secara global diseluruh dunia
  3. Dapat menginspirasi orang banyak
  4. dan terakhir, tulisan dapat dijadikan versi cetak/buku sesuai kebijakan befren.com
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here