Secret Wedding #02

0
1007
views
Secret Wedding

Waktu begitu cepat berlalu, kini jam menunjukkan pukul 16:00 yang berarti sudah masuk jam pulang kerja. Semua pegawai yang ada di kantor ini, tengah bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing. Begitu juga dengan Lia dan Lala, kedua perempuan itu juga bersiap untuk pulang.

“Gimana, Li? Pekerjaan kamu sudah selesai?” tanya Lala, seraya memasukkan barang-barang ke dalam tasnya.

Lia mengangguk. “Sudah selesaikan semua. Ayo kita pulang!”

Lia dan Lala melangkahkan kakinya menuju ke luar dari kantor, mereka berdua tengah menunggu taksi lewat di sekitar sini.

“Kamu tadi beruntung banget, Li. Bisa bebas dari amarahnya Pak Fahri,” ujar Lala.

Lia tersenyum canggung, mendengar ucapan sahabatnya ini. “Ya, alhamdulilah kalau begitu,” sahutnya.

“Tapi ya, Al. Aku pernah dengar nih, katanya beberapa waktu yang lalu ada pegawai yang ceroboh seperti kamu. Dia langsung dipecat, hari itu juga.”

Sebisa mungkin Lia mengatur ekspresi wajahnya, agar sahabatnya ini tidak menaruh curiga. Kalau sebenarnya ia mempunyai hubungan lebih dari pada sekedar bos dan pegawai. “Ya, mungkin saja. Dia lagi berbaik hati, jadi tidak marah dengan aku.” Lia berucap itu setenang mungkin.

“Tapi ya, Li. Aneh aja gitu, dia juga beberapa hari ini terlihat memperhatikan kamu terus. Apa jangan-jangan, Pak Fahri suka sama kamu?” Lala mulai menebak-nebak.

“Kamu nih ada-ada saja, La. Ma-na mungkin Pak Fahri suka sama aku, jangan kebanyakan halu.” Maaf saja, kalau Lia harus berbohong. Ia masih belum bisa, menceritakan ini semua.

“Tapi kan, Li. Sikapnya itu ke kamu seperti—-”

“Sudah! Jangan berpikir macam-macam.” Lia sengaja memotong ucapan sahabatnya ini, ia tidak ingin sahabatnya ini mempunyai pikiran terlalu jauh. Yang pasti akan, membuat rahasia yang ia simpan itu terbongkar. Sebenarnya Lia juga tidak ingin berbohong, tapi karena keadaan lah yang memaksa ia seperti ini.

“Iya, iya, Li. Aku nggak bakalan bahas itu lagi. Tapi ngomong-ngomong, aku sudah lama nggak main ke rumah kamu. Nanti hari libur, aku ke rumah kamu, ya!”

Badan Lia seketika menegangkan, mendengar itu semua. Lala tidak tahu, kalau dia sudah pindah ke rumah Fahri. Bagaimana nanti kalaunya sahabatnya itu pergi ke rumah? Pasti kedua orang tuanya mengatakan hal yang sejujurnya. Ya, Allah, tolong Lia. Ia masih tidak sanggup, untuk mengakui semuanya.

“Kamu jangan ke rumah aku, La. Soalnya hari libur ini, aku sedang tidak ada di rumah. Aku lagi menghadiri acara keluarga gitu, jadi mungkin sore baru pulang.” Lagi-lagi Lia harus terpaksa berbohong.

Lala membuang nafas kasar. “Yah, padahal aku sudah lama nggak main ke rumah kamu.”

“Ya, gimana dong. Aku kan lagi ada acara, kapan-kapan aja deh kamu ke rumah aku.”

“Oke, baiklah!”

Tidak berselang lama, taksi yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Tapi Lala sepertinya dijemput oleh kakaknya, dan hanya Lia yang akan pulang naik taksi itu.

“Maaf ya, Li. Aku nggak bisa pulang bareng kamu,” ucap Lala.

“Nggak papa, La. Kamu santai saja, aku bisa pulang sendiri,” sahutnya.

“Hati-hati ya, Li.”

Lia mengangguk. “Ya sudah. Aku pulang dulu, ya! Assalamualaikum,” pamitnya.

“Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh.” Lia langsung masuk ke dalam taksi, seraya melambaikan tangan ke arah Lala.

***

Sesampainya di rumah, Lia langsung masuk ke dalam kamar. Rumah ini masih terlihat sepi, pasti bos yang sekarang jadi suaminya itu belum pulang dari kantor. Maklum lah orang sibuk, jadi tidak usah ditanya lagi.

Lia masuk ke kamar mandi, dan langsung membersihkan dirinya. Setelah membersihkan diri, Lia juga mengambil wudu kebetulan ia belum melaksanakan salat Asar sebagai kewajiban seorang muslim.

Empat rakaat telah terlaksana, setelah selesai semua itu. Lia langsung menuju dapur, mulai memasak untuk makan malam. Hanya masakan sederhana yang Lia buat kali ini, tidak perlu waktu lama masakan itu pun sudah jadi dan sudah terhidang sempurna di meja makan.

Sudah hampir malam, namun Fahri belum juga pulang ke rumah. Tapi biasanya laki-laki itu akan pulang, ketika mendekati azan Magrib atau sesudah salat Magrib. Selama seminggu menikah dengan Fahri, Lia juga belum pernah sekalipun untuk menghubungi laki-laki itu. Entahlah, masih ada rasa canggung di dalam dirinya.

Tidak berselang lama, terdengar azan Magrib berkumandang. Lia segera masuk ke kamar, dan segera melaksanakan salat Magrib.

Salat Magrib juga telah selesai dilaksanakan, Lia keluar dari kamar. Berharap suaminya itu sudah pulang ke rumah, namun sayang tidak ada tanda-tanda laki-laki datang.

“Mas Fahri kemana sih? Sudah jam segini, kenapa tidak pulang-pulang?” Lia terus saja gelisah, jujur saja ia juga mulai khawatir dengan suaminya itu.

Senyum terbit di bibir Lia, saat mendengar suara mobil dari luar. Fahri masuk ke rumah, dengan wajah yang begitu lelah. Lia segera menghampiri Fahri, dan mencium tangannya dengan takzim.

“Assalamualaikum, Mas,” sapanya.

“Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh,” jawabnya.

“Kenapa baru pulang, Mas? Apakah Mas Fahri sudah salat?” tanyanya. Walaupun, masih belum percaya dengan pernikahan ini. Lia tetap lah berusaha menjadi istri yang baik, ia tidak ingin dicap sebagai istri yang durhaka. Karena tidak melayani suaminya dengan baik.

Bukannya menjawab, Fahri malah langsung masuk menuju kamar. Lia hanya bisa menghela nafas panjang, saat melihat sikap suaminya itu. Ya, begitulah kondisi rumah tangga mereka. Selama seminggu menikah, mereka jarang sekali bicara. Hanya sesekali saja, mereka terlibat pembicaraan setelah itu sibuk dengan urusan masing-masing. Lia sudah berusaha menjadi istri yang baik, tapi sepertinya suaminya itu tidak pernah menganggapnya. Jadi sudah lah, setidaknya dia sudah berusaha menjadi istri yang baik.

Lia juga mengikuti Fahri masuk ke kamar, tapi sebelum itu ia membuatkan teh hangat untuk suaminya itu. Lia membuka pintu kamar, tapi seketika ia berbalik saat melihat Fahri hanya memakai handuk.

“Kalau lagi ganti baju itu, pintunya dikunci dong, Mas! Biar aku nggak jadi masuk.” Lia terus saja menutup wajahnya dengan tangan, pipinya pasti sekarang sudah memerah.

Fahri sedikit terkekeh geli, melihat tingkah perempuan yang sekarang sudah sah menjadi istrinya itu. Ia hanya heran, dengan respon yang diberikan Lia saat melihat ia tidak menggunakan baju. Memangnya ada yang salah? Bukan kah mereka sudah halal? Jadi tidak masalah, kalau Lia melihat itu semua.

Fahri menghampiri Lia, yang masih berdiri membelakanginya. “Kami tidak perlu menutup wajah seperti itu! Pemandangan ini, sudah halal untuk kamu.” Fahri terus saja menahan senyum, dari awal istrinya ini memang sedikit menggemaskan.

“Mas Fahri, aku tunggu di meja makan.” Setelah meletakkan teh yang ia bawa tadi, Lia lebih memilih keluar kamar. Dari pada di sini, jantungnya terus berdetak tidak normal saat berada di sisi Fahri.

***

Lia sekarang berada di meja makan, ia masih menunggu suaminya berganti baju. Terlihat laki-laki itu, sudah menuruni tangga. Lia segera memalingkan wajahnya, tiba-tiba saja ia teringat kejadian di kamar tadi.

Fahri lagi-lagi hanya bisa menahan senyum, saat melihat wajah Lia yang sudah memerah. Mereka menikmati makan malam hanya ditemani keheningan, tidak ada suara atau pembicaraan lainnya. Hanya bunyi denting sendok yang terdengar.

Setelah selesai makan malam, mereka sama-sama memasuki kamar. Namun tiba-tiba, Fahri menyodorkan jas yang tadi ia pakai kepada Lia.

Kening Lia berkerut melihat itu. “Maksudnya apa, Mas?” tanyanya kebingungan.

“Kamu bersihkan ini! Tadi bukannya kamu, yang membuat jas saya kotor,” jawabnya.

Ya, Lia ingat sekarang. Itu jas yang tadi ketumpahan air miliknya, tapi bukan kah tadi Fahri berkata ia ingin membersihkan sendiri. “Tapi, Mas, katanya tadi tidak apa-apa. Tapi, kenapa sekarang malah minta dibersihkan?”

“Itu tadi, bukan sekarang. Enak saja, saya disuruh membersihkan ini. Padahal kamu yang membuatnya kotor, anggap saja ini hukuman untuk kamu.”

Lia mengehela nafas pasrah. “Iya, Mas. Aku akan bersihkan jas kamu, tapi besok saja, ya! Hari ini aku cape, aku mau langsung istirahat.” Setelah mengucapkan itu, Lia langsung merebahkan tubuhnya.

Lia berbaring di atas kasur, masih menunggu jilbab di kepalanya. Walaupun Fahri adalah suaminya, tapi Lia tetap saja masih merasa malu untuk memperlihatkan rambutnya kepada Fahri. Tapi juga sepertinya, laki-laki itu tidak ada masalah. Mau dia membuka jilbab, atau apapun tidak berpengaruh buat dirinya.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Jika kalian punya tulisan, baik cerpen/cerbung, quotes, puisi dan ingin karya kalian tampil di befren.com, Silahkan daftar diri kalian di: KLIK DAFTAR
Setelah terdaftar, lakukan verifikasi di fanspage befrenmedia: KIRIM VERIFIKASI
kirim pesan dengan format: DAFTAR

Karena ada program seru buat kalian yang terpilih, yaitu karya akan dijadikan versi cetak/fisik berupa buku, yang nantinya akan diberikan kepada author buat portofolio kalian.

Keuntungan yang didapat:

  1. Mudah terindek di pencarian google
  2. Tak hanya bisa dibaca di media sosial tapi, bisa dibaca secara global diseluruh dunia
  3. Dapat menginspirasi orang banyak
  4. dan terakhir, tulisan dapat dijadikan versi cetak/buku sesuai kebijakan befren.com
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here