Secret Wedding #01

0
251
views
Secret Wedding

“Lia, coba lihat deh! Pak Fahri itu, ganteng banget, ya?” ucap Lala sangat antusias, memberitahu sahabatnya.

Namun sayang, sahabat yang ia beritahu seperti tidak perduli. Dari tadi, sahabatnya itu cuma sibuk melamun sambil memegang pulpen. Ia sama sekali tidak mendengar ucapan Lala, entah apa yang sedang ada dalam pikirannya.

“Lia! Kamu dengar aku ngomong nggak sih?” Lala menggoncang tubuh Lia, yang sedari tadi hanya diam saja.

“Apa sih, La? Teriak-teriak seperti itu, bikin kuping aku sakit aja.”

“Siapa suruh dari tadi diam aja. Aku itu lagi ngajak kamu bicara, tapi kamu malah diam saja.”

Lia memutar bola mata jengah, ia bosen dengan topik pembahasan sahabatnya ini. Pasti tidak jauh dari pemilik perusahaan ini, siapa lagi kalau bukan Fahri Hasan seorang Ceo yang terkenal mempunyai banyak penggemar itu. “Aku itu bosen, La. Setiap hari kamu selalu bahas Pak Fahri, apa tidak ada yang lain lagi?”

Lala menggeleng. “Tidak ada, Li. Aku itu bersyukur, bisa bekerja di sini. Apalagi bosnya Pak Fahri, bikin semangat untuk bekerja.”

Lia hanya bisa menghela nafas. “Awas, jangan dilihatin terus, La. Nanti bisa zina mata.”

“Iya iya, Ustazah Lia. Kamu memang paling bisa, menasehati aku,” ujarnya.

Lia tersenyum. “Bukan begitu, La. Aku sebagai sahabat, cuma ingin kamu terhindar dari perbuatan zina. Karena terus memperhatikan, yang bukan mahram.”

“Iya iya, Lia. Aku mengerti.”

Tanpa mereka sadari, pemilik perusahaan ini sudah berada tepat di depan mereka. Dia terus menatap dua pegawainya, yang sedang asyik berbicara. “Saya tidak menggaji kalian untuk berbicara, kalau ingin berbicara nanti jam istirahat bukan sekarang.”

Lia dan Lala gelagapan, mereka ketangkap basah bicara saat jam kerja. “Maaf, Pak. Kita janji, tidak ada melakukan hal seperti ini lagi,” ujar Lala.

“Kamu saya maafkan!” Fahri menatap Lala, namun setelah itu ia beralih menatap Lia yang sedang menunduk. “Tapi sepertinya teman kamu itu, tidak berniat untuk meminta maaf? Dari tadi cuma menunduk saja.”

Lia mengangkat kepalanya, ia juga menatap Fahri. Sejenak tatapannya mereka bertemu, tapi dengan cepat Lia memutusnya. “Maaf, Pak. Lain kali, saya tidak melakukan seperti ini lagi.”

Fahri bahkan masih menatap Lia, membuat perempuan itu jadi salah tingkah sendiri. “Ya, saya maafkan semua kesalahan kalian. Tapi lain kali, jangan lakukan itu lagi. Bekerja lah yang benar, karena itu tujuan kalian berada di sini.”

Lia dan Lala mengangguk, tanda mematuhi ucapan bosnya itu.

Setelah itu, Fahri pergi meninggalkan kedua perempuan itu. Lala bersyukur, karena bosnya itu tidak marah. Apalagi sampai memecat mereka berdua, karena tidak disiplin dalam bekerja. Tetapi berbeda halnya dengan Lia, perempuan itu terus saja menatap punggung Fahri yang mulai menjauh.

“Ternyata kamu baik juga,” batinnya berucap.

Tanpa Lia sadari, sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Ia terus saja menatap punggung Fahri yang semakin menjauh, menatap laki-laki yang telah menjabat tangan ayahnya itu. Laki-laki yang sudah berikrar, menjadikannya seorang istri. Laki-laki yang seminggu yang lalu, resmi menjadi suaminya.

Laki-laki itu memang mempunyai daya pikat yang luar biasa, banyak perempuan-perempuan di luar sana ingin mendapatkan cintanya. Lia tidak tahu, apakah ia beruntung bisa menikah dengan bosnya itu. Yang jelas sekarang, ia hanya menjalani takdir yang sudah dituliskan kepadanya.

“Kamu kenapa, Li? Lihat Pak Bos, sampai begitu. Pakai senyum-senyum segala lagi.”

Sebisa mungkin Lia mengatur mimik wajahnya, agar tidak terlihat gugup. Pernikahan antara dirinya, dan Fahri memang tidak ada yang mengetahui selain keluarga terdekat. Pernikahan itu terjadi secara tiba-tiba, dan tanpa disangka-sangka. Jangankan memberi tahu orang lain, Lia sendiri juga masih belum percaya bahwa sekarang dirinya sudah menikah.

“Aku nggak papa, La.”

“Masa sih, Li. Kalau nggak papa, tapi kenapa lihat Pak Bos sampai begitu? Apa jangan-jangan, kamu ikut-ikutan suka sama Pak Bos.”

“Apaan sih, La. Kamu jangan ngaco deh, mending kita lanjut kerja. Dari pada kena marah lagi, bisa-bisa kita benaran dipecat lagi.”

“Benar juga, ya! Baru juga diterima kerja, masa sudah dipecat. Kan nggak lucu ceritanya.”

“Makanya jangan ngobrol lagi! Kerja yang benar, Lala. Jangan lihatin laki-laki terus, semangat!”

“Semangat juga, Lia.”

***

Kini jam istirahat telah tiba, semua pegawai di kantor ini berbondong-bondong menuju ke kantin untuk makan siang. Begitu juga dengan Lia dan Lala, kedua perempuan itu juga tengah bersiap untuk pergi ke kantin.

“Gimana, Li? Sudah selesai semuanya?”

Lia mengangguk. “Sudah selesai. Sekarang kita bisa ke kantin.”

“Ya sudah. Ayo kita pergi, perut aku juga sudah lapar.”

“Ayo!” Lia dan Lala melangkahkan kakinya menuju kantin, untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan.

Sekarang mereka sudah sampai di kantin, Lia dan Lala sekarang tengah mencari tempat duduk yang kosong untuk mereka. Seperti biasa, setiap jam makan siang pasti kantin dipenuhi oleh para pegawai.

Lia dan Lala menuju tempat duduk yang ada di paling pojok, karena tempat yang lain semuanya sudah penuh. Sekarang mereka sudah duduk manis, dan tengah menunggu makanan yang mereka pesan.

Makanan mereka berdua sekarang sudah datang, Lia dan Lala mulai menyantap makanan yang ada di hadapan mereka. “Akhirnya bisa makan juga, perut aku benar-benar sudah keroncongan,” ujar Lala.

Lia tersenyum mendengar ucapannya sahabatnya itu. “Alhamdulillah, La. Sekarang kita bisa makan, setelah itu baru fokus lagi kerja.”

“Kamu benar banget, Li. Kalau perut keroncong, mana bisa fokus bekerja.”

“Ya sudah. Habiskan saja makanan kamu!”

Di tengah asyiknya mereka makan, tiba-tiba saja suasana yang ramai tadi jadi sepi. Saat sang pemilik perusahaan ini datang ke kantin, sebenarnya para pegawai di sini tampak bingung. Kenapa bos mereka bisa berada di kantin? Biasanya bos mereka itu, tidak bisa menginjakkan kakinya di tempat ini. Dia kalau mau makan siang, pasti menyuruh asistennya untuk membeli dan membawakan ke ruangannya.

Kedatangan pemilik perusahaan ini, tentu saja menjadi pusat perhatian. Apalagi para pegawai perempuan, yang banyak mengidolakan bosnya itu. Laki-laki itu terlihat dengan santai memasuki kantin, dia duduk di salah satu bangku dan memanggil pelayan untuk membawakannya makanan.

“Tumben banget ya, Li. Pak Fahri ke kantin, biasanya mana bisa pergi ke sini,” ujar Lala.

Lia menghentikan makannya. “Iya,” sahutnya sedikit acuh.

“Kamu tuh ya, Li. Malah asyik makan, coba lihat tuh teman-teman yang lain sudah heboh sendiri.”

Lia menghela nafas panjang. “Aku lagi lapar, La. Nggak sempat lihat-lihat yang lain, nanti jam istirahatnya malah habis.” Lia kembali melanjutkan makannya.

Air minum yang Lia pesan tadi sudah habis, ia bangkit dari duduknya dan berniat untuk membelinya lagi.

“Kamu mau kemana, Li?” tanya Lala, ia baru saja menyadari bahwa sahabatnya ini sudah berdiri.

“Aku mau beli minum lagi,” jawabnya.

Lala mengangguk tanda mengerti.

“Aku ke sana dulu ya, La,” ujarnya.

“Oke, Li,” sahutnya.

Lia melangkahkan kakinya untuk mengambil minuman, ketika ia berbalik namun tiba-tiba saja kakinya tersandung. Semua orang yang berada di situ langsung kaget, dan langsung membuat Lia jadi pusat perhatian semua orang.

Lia bahkan baru saja menyadari, kalau ia telah menabrak sang pemilik perusahaan ini. Apalagi air yang dibawanya, tumpah di baju Fahri. Membuat semua orang yang berada di sini jadi diam, entahlah apa yang ada dalam pikiran mereka semua. Yang pasti satu hal, Lia akan terkena masalah karena sikap cerobohnya.

“Ma-af, Pak.” Perempuan berjilbab coklat itu masih saja menunduk.

Fahri bangkit dari duduknya, dan menatap tajam ke arah Lia. “Baju saya basah.”

Tangan Lia rasanya sudah berkeringat dingin, bibirnya terasa kelu tidak dapat bicara.

“Jangan menunduk saja! Saya lagi bicara sama kamu.” Suara dinginnya Fahri, mampu membuat bulu kuduknya Lia merinding.

Lia memberanikan diri menatap Fahri. “Maaf, Pak. Saya tidak sengaja, sekali lagi saya mohon maaf.” Kali ini mata Lia sudah berkaca-kaca, ia sangat takut dengan tatapan tajam yang dimiliki Fahri.

Fahri mengusap wajahnya. “Pergilah! Lain kali, hati-hati,” ujarnya.

“Serius, Pak? Tapi bajunya gimana? Apa saya bersihkan saja,” tawarnya.

“Tidak perlu! Saya bisa membersihkannya sendiri, kamu lanjutkan saja lagi makannya.”

Lia mengangguk. “Terima kasih, Pak.” Setelah mengucapkan itu, ia langsung menghampiri sahabatnya yang menatapnya penuh rasa khawatir.

Sebenarnya para pegawai di sini sedikit bingung, biasanya bos mereka itu langsung memecat pegawai yang ceroboh seperti Lia. Tetapi kali ini, entah mengapa dia memaafkan Lia. Itu lah yang saat ini, menjadi pertanyaan semua pegawai. Apalagi saat ini, status Lia masih pegawai baru.

Baca selanjutnya

Jika kalian punya tulisan, baik cerpen/cerbung, quotes, puisi dan ingin karya kalian tampil di befren.com, Silahkan daftar diri kalian di: KLIK DAFTAR
Setelah terdaftar, lakukan verifikasi di fanspage befrenmedia: KIRIM VERIFIKASI
kirim pesan dengan format: DAFTAR

Karena ada program seru buat kalian yang terpilih, yaitu karya akan dijadikan versi cetak/fisik berupa buku, yang nantinya akan diberikan kepada author buat portofolio kalian.

Keuntungan yang didapat:

  1. Mudah terindek di pencarian google
  2. Tak hanya bisa dibaca di media sosial tapi, bisa dibaca secara global diseluruh dunia
  3. Dapat menginspirasi orang banyak
  4. dan terakhir, tulisan dapat dijadikan versi cetak/buku sesuai kebijakan befren.com
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here