Satria Aderald #06

0
65
views
SATRIA ADERALD

Minta maaf?


“Jaga baik-baik lisan mu. Karena sekali kamu berucap dan melukai hati  seorang. Maka itu akan membekas walau dia berkata memafkanmu.”

___________AureliaJovanda___________

 

“ASSALAMU’ALAIKUM SAHABAT!”

Hidan, Erik, Genta, dan Leon menggelengkan kepalanya saat Yusuf datang ke kelas orang teriak-teriak. Walau sambil mengucapkan salam, tetap saja

membuat mereka malu karena sekelas menatap aneh pada mereka berlima.

“Wa’alaikumsalam,” jawab mereka serempak.

“AAAA MY BABY HIDAN!”

Hidan meringis sendiri saat Caramel, sigadis centil, cerewet dan suka cari sensasi itu  menghampirinya dengan heboh. Dengan tidak tahu malunya, gadis itu bergelayut manja di lengan bisep Hidan. Membuat teman-temanya menahan tawa melihat Hidan yang memasang wajah kesal.

“Si Hidan mukannya kecut amat,” kata Genta berbisik pada Leon.

“Gimana nggak gitu? Itu lihat si Caramel kayak monyet gitu,” jawab Leon dengan kurang ajarnya.

Pletak!

Leon meringis sendiri saat Erik menjitak kepalanya cukup keras.”Ngapain lo jitak gue?!”

“Nggak sopan banget lo nyebut anak orang monyet! Si Caramel itu cantik, bening!” Erik membela.

“Semua aja lo sebut bening,” kata Genta.

“Emang kenyataanya bego!” jawab Erik tidak mau kalah.

“Siapa yang monyet? Lo, Rik?” tanya Yusuf seperti orang linglung.

Erik geleng-geleng kepala.”Ck, ck, ck. Orang kayak gini lo sebut monyet? Emang perlu di operasi mata lo!”

“Ya terus siapa? Lo semua gibahin orang nggak ajak-ajak gue!” Yusuf kesal sendiri, membuat ketiga orang itu menatap aneh pada Yusuf.

“Si Ucup kalau udah elor minta ditabok emang,” guman Genta.

“Lepas, Car,” kata Hidan dingin sambil melepaskan lengan Caramel.

Caramel cemberut mendengar itu.”Kok baby Hidan gitu si? Kan Cara kangen sama baby,” ucap Caramel seperti anak kecil.

“Baby, baby, Babi kaliah.”

“HUSS! LEON NGGAK BOLEH GITU YA SAMA BABY HIDAN!”

Leon yang disentak Caramel sontak sedikit terlonjak. Dia hanya menatap Caramel dengan pandangan ngeri sambil bergeser ke arah Yusuf dan bersembunyi di balik badan Yusuf yang besar.

“Cepet bawa si Aurel,” ucap Hidan. Malas lama-lama di kelas ini.

“KOK AUREL SI?!”

Aurel dan Kesya yang sedari tadi mengabaikan anak Legister itu menoleh pada Caramel yang menyebutkan namanya. Beberapa cewek dan cowok yang masih di kelas sontak menatap Aurel dengan pandangan sulit diartikan. Aurel benci melihat itu.

Dahi Aurel semakin berkerut saat keempat orang inti Legister itu menghampiri mejanya. Hidan masih menunggu di ambang pintu, mengabaikan Caramel yang  sibuk mengoceh tidak jelas.

Aurel melirik Kesya. Seolah bertanya kenapa mereka kesini. Kesya hanya mengedikan bahunya pertanda tidak tahu. Matanya tadi sempat beradu dengan Leon, namun Kesya lebih dulu memutuskan kontak mata tersebut. Enggan berlama-lama.

“Lo Aurel ya?” tanya Genta sambil menunjuk Aurel.

“Iya? Kenapa emangnya?” tanya Aurel datar.

Keempat orang itu menarik sudut bibirnya mendengar perkataan Aurel yang terkesan songong.

“Neng cantik ikut sama kita, ya?”

Satu kelas langsung berbisik-bisik mendengar ucapan Yusuf. Murid baru, langsung dekat dengan anak Legister? Sungguh keajaiban.

Aurel menaikan sebelah halisnya.”Mau ngapain?” tanya Aurel ketus. Pasalnya dia malas berurusan dengan geng ini. Baru beberapa minggu sekolah saja dia sudah kena bully akibat berani melawan Satria. Lalu bagaimana jika dirinya berdekatan dengan mereka? Bisa dipastikan hidupnya tidak akan pernah tenang.

“Ikut aja dulu,” jawab Leon.

“Gue perlu alasan kenapa gue harus ikut sama lo berempat,” kata Aurel masih berusaha untuk tidak ikut dengan mereka.

“Ada yang mau ketemu lo,” ucap Genta, membuat Aurel menatapnya.

“Siapa?” tanya Aurel.

“Ya ampun gemes banget gue sama lo. Pengen di karungin,” ucap Erik merasa gemas karena Aurel susah di ajak agar mau ikut.

“Satria pengen ketemu sama lo!”

“OMG!”

“BENCANA APA INI?!”

“NGGAK! NGGAK MUNGKIN SATRIA PENGEN KETEMU CEWEK BURIK KAYAK DIA!”

“KENAPA NGGAK KETEMU GUE AJA SI?”

“AAA MAMI! GUE KALAH SAMA CEWEK CUPU!”

Leon, Genta, Erik dan Yusuf sontak menatap horor pada cewek-cewek kelas ini setelah Yusuf berujar demikian kelas ini langsung heboh.  Aurel yang kesal karena mereka terus mencaci maki dirinya lantas berdiri dengan tangan terkepal kuat.

BRAK!

“BERISIK LO SEMUA!

MEMANGNYA GUE PENGEN KETEMU SAMA COWOK KAYAK DIA?! NGGAK SAMA SEKALI! LO

SEMUA DI SEKOLAHIN! TAPI PUNYA MULUT KAYAK ORANG NGGAK PUNYA

PENDIDIKAN! LANCAR BANGET KALAU HINA SAMA RENDAHIN ORANG!” Aurel lepas kendali. Sudah cukup dia selama ini di jadikan bahan caci makian teman sekelasnya. Ralat, bahkan mungkin satu sekolah.

“Rel,” lirik Kesya.

Keempat cowok itu langsung dibuat mematung melihat Aurel yang marah. Gadis itu kini diam dengan tangan terkepal kuat, namun matanya sudah mulai memerah pertanda ingin menangis. Aurel kini keluar dari mejanya, lalu berlari entah ke mana yang membuat satu kelas  menyorakinya.

“Rel?! Aurel!” Kesya memanggil-manggil Aurel namun gadis itu tetap pergi.

Saat hendak menyusul Aurel. Lengan Kesya dicekal oleh Leon.”Nggak untuk sekarang,” ucap Leon.

 Kesya mengerti ucapan Leon. Mungkin Aurel memang harus dibiarkan sendiri agar lebih tenang.

***

Satria yang memang sedari tadi mendengarkan dari luar kelas Aurel sambil duduk di depan kelas itu menghembuskan napas pelan. Hidan juga tahu kalau Satria ada di situ, namun dia hanya diam.

Satria beranjak berdiri, dia segera berlari menyusul Aurel.

Aurel yang berlari di koridor dengan mata yang sudah berkaca-kaca itu harus terpaksa berhenti dan berbalik saat tangan seorang mencekal dan menarik lengannya agar berbalik.

Aurel menatap tajam pada orang yang mencekal pergelangan tangannya itu.”Lepasin!” ucap Aurel penuh penekanan.

Satria terdiam sejenak saat melihat mata Aurel yang sedikit lagi akan menumpahkan air mata.”Ikut gue!” tekan Satria, pertanda tidak ingin dibantah.

Aurel menggeleng keras sambil berusaha melepaskan cekalan Satria.”Nggak! Gue nggak mau ikut lo!”

“Ikut. Gue. Aurelia Jovanda!” ucap Satria penuh penekanan dan menarik paksa Aurel agat ikut dengannya. Satria tidak peduli walau Aurel terus meronta dan memukul tangannya. Aurel kembali benci saat orang-orang menatapnya dengan pandangan permusuhan.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here