Satria Aderald #04

0
110
views
SATRIA ADERALD

Si Ceroboh


“Astagfirullah!” Aurel mengatur napas karena saking kagetnya melihat Satria yang tiba-tiba ada di hadapannya.

“Dasar setan!” gumam Aurel.

“Lo yang setan!”

Aurel langsung kembali menatap cowok menyebalkan ini dengan pandangan permusuhan.”Minggir lo! Ganggu banget!” Satria masih tidak ingin menyingkir dari hadapan Aurel.

Aurel melangkah ke kiri, dia ikut ke kiri, Aurel ke kanan dia ikut ke kanan.
Membuat Aurel rasanya ingin mengusir lelaki ini dengan jurus rasengan milik Naruto kalau saja dia punya.

“Lo tuh kenapa si?! Lo nggak punya jalan?! Halangin jalan orang aja!” kesal Aurel. Pasalnya, beberapa orang di koridor pagi ini memperhatikan mereka berdua, membuat Aurel risih melihatnya. Mata mereka rasanya ingin Aurel sentil satu-satu agar tidak melihatnya dengan pandangan seperti itu.

Aurel kembali melangkah karena Satria masih bergeming di hadapannya. Baru satu langkah Satria sudah kembali menghalangi jalannya, alhasil Aurel menubruk dada bidang cowok itu.”IH! PENGGANGGU LO!” ujar Aurel saking
kesalnya.

Mungkin jika cewek lain akan langsung baper dan salting saat berhadapan dengan jarak sedekat ini dengan seorang Satria Aderald. Namun bagi Aurel tidak sama sekali! Baginya, Satria hanyalah mahluk Tuhan yang paling tidak punya perasaan.

“Minggir, nggak?!”

“Lo budek, huh?!” Namun tetap saja, Satria masih tutup mulut dengan wajah datarnya. Sialnya! Kenapa masih datar saja bisa seganteng ini? bagaimana kalau senyum!

“SATRIA ADERALD! LO BISA ENYAH DARI HADAPAN GUE?!” teriak Aurel tepat di depan wajah Satria. Kalau saja dia punya kekuatan, mungkin dari tadi kepalan tangannya ini sudah dia daratkan dengan mulus di wajah cowok ini.

Satria yang mendengar Aurel menyerukan nama lengkapnya menarik sudut bibirnya, hanya sedikit, bahkan sampai tidak terlihat oleh siapa pun.”Nama lo?”

Aurel menatap tidak percaya pada cowok di hadapannya ini? Hanya untuk menanyakan sebuah nama dia sampai seperti ini? Seharusnya dari tadi dia bilang, jadi tidak perlu sampai membuat dirinya kesal.

Aurel memalingkan wajah juteknya ke samping dengan bersidekap dada.”Buat apa lo tanya nama cewek burik kayak gue?!” ucap Aurel judes sambil kembali beralih menatap Satria.

Kalau saja bukan karena rasa penasaran ini. Satria mana sudi susah, susah menghadapi cewek menyebalkan seperti dia. Ini semua gara-gara kelima temannya yang minim ahlak itu. Sekarang saja dia ada di hadapan gadis
ini karena kelakuan teman-temannya yang mendorong-dorong dirinya.
Baginya cewek itu ribet, banyak maunya, susah di mengerti, bilangnya itu, tapi nyatanya ini. Sungguh merepotkan, pikir Satria.

Sementara itu, dari pertigaan koridor, teman-temannya sudah mengompori Satria agar lebih gencar terhadap Aurel jika ingin menjawab semua rasa penasarannya. Sejujurnya Erik tahu namanya, namun Erik tidak ingin
memberitahukannya pada Satria. Biar Satria yang mencari tahunya sendiri.

Kapan lagi coba? Satria mau berdekatan dengan yang namanya perempuan jika bukan hal yang mendesak seperti ini? Mungkin mereka akan menjadi mak comblang untuk Satria dan Aurel.

“Ayo bos! Ngomong dong ah!” gemas Erik karena Satria tidak kunjung membuka mulut.

Leon yang ditumpu oleh Hidan di atasnya, dilanjut Genta, Erik, dan Yusuf.
Sehingga mereka saling bertumpukan bagai karung beras.

“Pepet terus, bos!” seru Leon.

“Ayo desak terus!” sorak Genta.

“Tanya baik-baik aja,” kata Hidan.

“Cium aja, bos!”

“Goblok!” keempat cowok itu ramai-ramai menghakimi Yusuf karena berbicara seenaknya.

Yusuf meringis sendiri karena kepalanya kena jitak empat orang sekaligus.”Kenapa gue dijitak? Aing salah naon, huh?!” tanyanya dengan bahasa Sunda. Yusuf aseli orang Bandung tapi pindah ke Jakarta, jadi
tidak heran jika dia bisa berbahasa Sunda.

Genta mengkerutkan dahinya tidak mengerti.”Lo ngomong apa si? Nggak ngerti gue.”

Erik, Leon dan Yusuf saling lempar pandangan penuh arti. Sementara Hidan hanya acuh, dia lalu beralih duduk di kursi koridor.

“Dia bilang. Lo itu gantenggggg banget,” ucap Erik dilebih-lebihkan. Mereka memang mengerti bahasa Sunda, hanya Genta seorang diri yang tidak mengerti bahasa tersebut.

“Seriusan?” tanya Genta mulai PD.

“Oh jelas! Lo gantengnya melebihi Le Min Ho,” tambah Leon dengan kurang ajarnya. Dalam hati Leon berseru gantengan juga gue kali!

Hidan menyandarkan dirinya di tembok. Merasa teman-temanya itu tidak ada yang beres, Hidan lantas memejamkan matanya sejenak sembari menghafal rumus-rumus yang belum dia hafal.

“Lo puji dia pake bahasa lo, Cup!” ujar Leon semangat empat lima.

Yusuf mengangguk lalu mulai berdeham.”Maneh kawas nugelo di sisi jalan,” ucap Yusuf dengan cengiran lebar. Leon dan Erik mati-matian menahan tawanya mendengar itu.

“Apa artinya tuh?” tanya Genta tidak sabar.

“Artinya. Lo itu orang yang paling dermawan,” jawab Yusuf dengan mengigit bibir bawahnya menahan tawa.

Genta langsung menyugar rambutnya sok ganteng.”Gue memang orang yang paling dermawan.”

“BHAHAHAHA!” Erik dan Leon tidak sanggup untuk menahan tawanya lagi. Mereka sudah tertawa terbahak-bahak saking tidak kuatnya yang melihat Genta begitu mudah dibohongi. Yusuf, dia masih bisa menahan tawannya.

Genta menaikan sebelah halisnya heran.”Kenapa lo pada ketawa?”

“Huh?! Nggak, nggak. Itu tadi gue lihat si Alista kesandung,” jawab Leon berbohong.

“Iya ngga, Rik?”

Erik refleks mengangguk setelah tawanya reda.

“Alista? Mana si Alista?” tanya Genta sambil melirik segala arah.

“Yang bening aja langsung gercep,” timpal Yusuf nyinyir.

“HAI ALISTA?!” sontak cewek tersebut yang berada di lapangan langsung menoleh saat Erik memanggilnya. Ketua cheerleaders itu tersenyum kearahnya.

“Anjay, senyumnya bikin meleleh,” ucap Erik tidak habis pikir.

“Semua aja lo gituin,” kata Leon.

“Dia kan fakboi sejati,” timpal Yusuf.

Hidan memutar bola matanya melihat kelakuan teman-temanya itu. Kumpulan otak udang dasar, pikirnya.

Aurel berdecak sebal karena Satria yang tidak kunjung berkutik.”ARGHH! GANGGU BANGET LO!”
Dengan berani, Aurel mendorong tubuh Satria yang mana membuat Satria sedikit mundur ke belakang. Namum saat Aurel hendak pergi, tangan Satria lebih dulu mencekalnya.

“Lepasin!”

“Nama lo?” tanya Satria lagi. Tidak menggubris ucapan Aurel.

“PENTING BUAT LO?!” Aurel nyolot pada Satria.

“Penting!” jawab Satria gamblang.

Aurel terdiam mendengarnya. Namun dia tidak peduli, dia tidak ingin memberitahukan namannya pada cowok tidak punya hati seperti dia.”Tapi bagi gue nggak penting lo tahu!” ketus Aurel lalu mengigit tangan Satria. Refleks Satria melepaskan cekalannya.

Satria terdiam sambil melihat Aurel yang pergi dan semakin menjauh dari hadapannya.

“Ara. Lo itu ceroboh banget, jangan jauh-jauh dari gue. Gue nggak mau lo kenapa-napa.”

Kepingan itu, kembali Satria dapatkan ketika melihat punggung Aurel yang berjalan di koridor sendirian. Namun yang sekilas Satria lihat, dua orang sepasang remaja yang saling berjalan berdampingan. Satria mengerjapkan matanya, bayangan itu kembali hilang.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan dirinya? Kenapa semua kepingan-kepingan itu selalu hinggap diingatan atau mimpinya. Kalau begini terus, bisa-bisa dia mati penasaran.

***

Aurel berjalan sendirian. Sore sehabis pulang sekolah dia mencari pekerjaan yang bisa dilakukan setelah pulang sekolah. Namun sudah beberapa tempat ia kunjungi, mereka tidak mau menerima dirinya.

Aurel menghela napas lelah. Dia menengadahkan kepalanya ke atas untuk melihat langit.
Bodohnya, dia melakukan itu sambil berjalan, membuatnya tersandung dan terjatuh.”Kenapa harus jatuh sih?” gumamnya sambil sedikit meringis.
Terlanjur lelah, Aurel tidak beranjak berdiri, tetapi dia malah duduk di pinggir terotoar, lagi pula disini jalanannya sepi.

“Kayak gembel lo!”

Aurel menengadahkan kepalanya untuk melihat siapa orang yang berbicara. Cowok menyebalkan ini. Kenapa dia harus disini?

“Iya gue memang gembel. Puas lo?” kata Aurel tidak mau melihat Satria yang berdiri di hadapannya.

“Ceroboh!”

“Bodoh!”

“Lanjut. Ayo hina gue lagi ayo.” Aurel terlanjur kesal. Tidak dapat pekerjaan, uang saku habis tandas tidak tersisa, kepala juga pusing akibat tadi, mana lapar lagi.
Di hina pula oleh cowok ini. Kelihatannya penderitaan Aurel lengkap hari ini. Ah ralat, penderitaan Aurel memang selalu lengkap setiap harinya.

Aurel melirik tangan yang ada di hadapannya.”Gue nggak minta sumbangan nggak!”

“Gue masih punya kaki sama tangan. Gue nggak mau minta-minta walau gue jadi gembel beneran sekali pun,” lanjut Aurel.

Satria memutar bola matanya mendengar itu. Apa-apaan cewek ini? Berbicara seperti itu? Dia
hanya akan menolongnya, kok dia jadi sensi seperti ini?

“Ikut gue.”

Aurel masih enggan menatap Satria.”Dih. Ngapain? Kenal aja nggak sama lo!”

“Jauh-jauh dari gue! Nanti gue kena masalah lagi deket sama lo!” Aurel mengusir Satria. Namun
Satria masih diam ditempatnya dengan tangan yang masih terulur.

Satria sedikit mencodongkam tubuhnya. Aurel terkejut karena tangan cowok itu yang terulur mengangkat wajahnya sehingga matanya bertemu dengan mata tajam mikik Satria.”Lo di bully?” tanya Satria saat melihat dahi gadis itu yang lebam juga pipi gadis itu yang sedikit membiru.

Aurel yang enggan disentuh menepis kasar tangan Satria.”Apa peduli lo?!”

Satria menghela napas.
Kenapa melihat gadis ini yang terluka seperti itu membuat dirinya merasa marah dan kesal.”Siapa yang lakuin ini sama lo?” tanya Satria dingin.

“Gue bilang apa peduli lo?!” ketus Aurel sambil beranjak berdiri.

Aurel pergi berjalan meninggalkan Satria. Namun baru dua langkah, gadis itu kembali terjatuh dan mengaduh.

Aduh Aurel, malu-maluin banget si?!” batin Aurel berseru.

“Kok gue terbang?”

“EH WOI TURUNIN GUE?!” teriak Aurel karena Satria malah mengendongnya.

“Lo memang ceroboh banget. Aurelia Jovanda.”

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

 

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here