Satria Aderald #02

0
105
views
SATRIA ADERALD

Pertemuan kurang berkenan


Seorang  gadis cantik dengan rambut panjang tergerai indah itu menatap  sekeliling sekolahnya yang baru itu. Beberapa pasang mata menatapnya dengan sorot berbeda-beda. Ada yang memuja, ada yang… entahlah, diapun  sulit menjelaskannya bagaimana.             

Dia sedang mencari ruang kepala sekolah. Ish! Sekolah ini sangat luas dibandingkan dengan sekolahnya yang dulu, jadi dia bingung dan pusing mencari ruangan tersebut.

Di lapangan, ada anak basket yang sedang bermain basket. Dia tipe cewek yang bodo amat dengan yang namanya cogan? Oh jelas bukan, mana mungkin dia melewatkan pemadangan yang menyejukan dipagi hari ini. Rupanya disini banyak cowok ganteng ya. Gadis itu masing memusatkan pandanganya kearah lapangan dengan senyum yang sangat tipis dan langkah pelan.

Saat  dia melirik kearah depan untuk menanyakan ruang kepala sekolah pada seorang perempuan yang berdiri di mading, tiba-tiba. “AWAS WOI!!”            

Bruk!

“Aduh!”ringis gadis itu saat bola basket mengenai dahinya. Tidak sampai pingsan, hanya gadis itu sampai terjatuh dengan kepala yang sedikit berkunang-kunang.

Satria, cowok yang tadi tidak sengaja melempar bola basket tepat mengenai dahi gadis itu segera berlari menghampirinya. Guna meminta maaf atas perbuatanya. Ya, Satria juga anak basket di SMA Permata. Selain jago gambar dan melukis, dia juga jago dalam olahraga basket. Hidan juga Leon termasuk anak basket SMA Permata.

“Pertama  masuk gini amat! Tabrakan sama cogan kek! Lah ini kena lempar bola! Nggak elit banget!” gerutunya sambil berusaha berdiri dengan masih  sedikit meringis.

Sorry.

Sontak gadis itu melihat kearah sumber suara karena dirasa ucapan itu untuknya. Detik itu juga, keduanya sama-sama terdiam kaku dengan mata yang seolah terkunci dengan saling pandang. Seolah waktu ikut berhenti berputar.

                      

Pikiran Satria seolah buntu untuk berfikir jernih. Ribuan pertanyaan seolah muncul begitu saja di dalam kepalanya, deru nafasnya mulai sedikit memburu saat melihat gadis di hadapanya benar-benar mirip dengan gadis yang selalu hinggap diingatan dan mimpinya. Mungkin gadis ini gadis yang sempat Satria temui di lampu merah kemarin.

Teman-temanya pun yang ikut melihat itu sama-sama terdiam kaku. Mereka tahu kebiasaan Satria yang selalu menggambar seorang gadis disebuah buku. Dan itu, gadis itu benar-benar mirip dengan gadis yang selalu Satria gambar.

Bedanya, rambutnya lebih panjang dari yang Satria gambar. Juga sekarang mereka tahu tentang rasa penasaran Satria pada gadis itu karena baru kemarin Satria menceritakannya setelah sekian lama mereka penasaran dengan gadis yang selalu Satria gambar itu.

Gadis itu memicingkan matanya saat melihat cowok yang di depanya ini hanya diam sambil menatapnya dengan pandangan yang dia sendiri pun sulit menjelaskanya. Dia mendekat, tetapi Satria masih tetap diam dengan pikiran yang berkecamuk.

Semua orang yang melihat itu bertanya-tanya. Siapa gadis itu? Berani sekali mendekati seorang Satria Aderald si cowok dingin dan ketus namun selalu menjadi incaran para cewek-cewek SMA Permata. Hati Satria pun bisa dibilang beku, karena selama dia hidup, dia tidak pernah merasakan apa yang namanya pacaran. Bagi Satria, dirinya hanya tidak mau membuang-buang waktu dengan orang yang salah.

Walau mereka berlomba-lomba mendapatkan hati Satria, nyatanya mereka hanya dianggap angin lalu oleh Satria. Bahkan setelah mendapat ucapan pedas dati mulut Satria pun mereka tetap mau berusaha. Loker cowok itu tiap hari penuh dengan, surat, bunga, coklat, atau makanan dan barang-barang lainya dari para ciwi-ciwi SMA Permata yang menyukai cowok ini.

Ya tapi dasarnya itu hati Satria terlalu sulit disentuh. Mau bagaimana pun mereka berusaha tetap hasilnya percuma.

“Kenapa lo lihatin gue kayak gitu?! Gue tahu gue cantik!” kata gadis itu. PD sekali dia.

Satria tersadar dari perang batin dan pikirannya.”Nggak. Lo burik!” ucapnya dingin dan ketus.

Gadis itu dibuat menganga atas ucapan cowok di hadapanya ini. Mereka yang mendengar itu menahan tawanya. Satria Aderald, selain dingin dan ketus, mulutnya juga selalu pedas dan tajam.

Leon menghembuskan nafasnya melihat kelakuan temanya itu.”Nggak sama cowok atau cewek. Tuh anak mulutnya kayaknya emang boncabe banget.”

“Ck! Gimana dia mau dapetin cewek kalau sama cewek aja mulutnya nggak bisa lemes dikit,” gerutu Erik merasa kesal dengan kelakuan Satria. Fakboi cap jahe!

“Kayaknya kita perlu suruh si bos makan gula satu ton,” ujar Yusuf dengan tiba-tiba, membuat keempat cowok itu langsung serempak menoleh pada Yusuf.

“Buat apaan?” tanya Hidan heran.

“Biar manis dikit tuh mulut,” jawab Yusuf ngaco. Rasa-rasanya Erik, Leon, Genta dan Hidan ingin menceburkan Yusuf ke empang.

Genta yang ada di sebelah kiri Yusuf langsung memiting leher cowok itu.”UCUP! WAKTU PEMBAGIAN OTAK LO KEMANA? HUH?!” kesal Genta dengan kelakuan temanya itu.

“APA LO BILANG?!” tanya gadis itu galak sambil berkacak pinggang dan mengangkat dagunya tinggi-tinggi.

Satria bersidekap dada, wajah dinginnya itu masih tetap dia perlihatkan walau rasanya dia ingin melempari berbagai macam pertanyaan pada gadis di hadapanya.”Gue bilang. Lo. Burik!” ujar Satria penuh penekanan sambil memajukan wajahnya pada gadis itu sehingga gadis itu dibuat memundurkan wajahnya dengan perasaan yang mulai takut karena pandangan Satria yang tajam.

Namun seberusaha mungkin gadis itu mengembalikan keberanianya dengan sedikit berdeham.”ENAK BANGET KALAU NGOMONG!” Sontak Satria dia buat memejamkan maranya karena suara gadis itu yang kelewat nyaring.

Cowok di hadapanya ini memang tampan dan mempesona. Tetapi saat mendengar ucapannya yang kelewat pedas sampai menusuk hatinya. Gadis itu kembali menarik

kata-katanya.”INGET YA LO! SUATU SAAT LO PASTI AKAN BILANG GUE CANTIK! DAN LEBIH CANTIK DARI SIAPA PUN!” ujarnya emosi dengan nafas yang mulai memburu.

Satria tersenyum kecil mendengarnya. Senyum yang bahkan tidak terlihat oleh siapa pun.”Nggak akan,” ujar Satria masih tetap ketus.

“HALAH SOK GANTENG BANGET LO!”

Semua yang mendengar itu dibuat tercengang mendengar perkataan gadis itu.

“Wuih! Keren lah tu cewek,” ujar Yusuf heboh sendiri.

Leon terkekeh pelan mendengarnya.”Baru kali ini ada yang berali bilang Satria sok ganteng.”

Genta mengangguk membenarkan.”Barang langka tuh cewek.”

“KU SUKA GAYAMU CANTIK!”

 teriak Erik membuat kedua mahluk yang sedang perang lewat tatapan mata itu menoleh secara serempak pada cowok itu.

Apa banget deh tuh cowok?”Kesal gadis itu dalam hati sambil menatap Erik dengan mata memicing.

Ganteng, tapi gue nggak minat,” kata gadis itu dalam hatinya lagi.

Satu tangan Hidan bertumpu pada pundak Yusuf yang ada di sebelah kanannya.”Kayaknya bakal ada kisah baru nih.” Mereka yang mendengar itu ada yang mengangguk

membanarkan, ada pun yang hanya bergumam tidak jelas.

Gadis itu kembali menatap Satria dengan tatapan tajamnya.”Minta maaf!” ujarnya sambil kembali mengangkat dagunya tinggi-tinggi.

Satria menaikan sebalah halisnya mendengar itu. Apa yang salah?

 Gadis  itu dibuat mengkerutkan dahinya saat Satria hanya menatapnya datar dengan satu halis terangkat.”Kenapa diam aja?! Nggak ngerasa salah lo?!”

“Nggak,” jawab Satria enteng, membuat gadis itu lagi-lagi dibuat menganga. Ini cowok watados banget ya!

Emosi gadis itu seketika semakin terkumpul. Rasa-rasanya udara disekitarnya menjadi mendadak panas. Pasokan oksigen juga kenapa rasanya jadi ikut panas seperti ini?

Murid-murid yang melihat kejadian itu langsung ramai berbisik-bisik. Membicarakan seorang Siswi yang baru mereka lihat sudah berani pada seorang Satria Aderald sang ketua geng besar di sekolahnya.

“Carmuk banget tuh cewek!”

“Berani banget bilang Satria sok ganteng!”

“Satria emang ganteng woi!”

“Caper lo!”

“Lo memang burik kali!”

“Ck! Siapa sih lo?! Nyolot banget jadi cewek! Cantik juga nggak!”

Gadis itu dibuat mengkerutkan dahinya saat mendengar kaum netizen berbicara seperti itu padanya. Hey! Memangnya cowok ini segitu gantengnya? Sampai-sampai mereka bilang seperti itu? Ck! Siapa sih dia? Kok sepertinya cewek-cewek disini ingin memiliki cowok di hadapanya ini. Ganteng tapi nggak punya hati, buat apa coba?

 

“Gue bilang minta maaf!” ujar gadis itu lagi, nadanya kembali naik satu oktaf.

“Apa yang salah? Ucapan gue memang benar,” kata Satria tenang, seolah ucapanya tadi itu memang bukan hal yang bermasalah.

Gadis itu terdiam untuk beberapa saat sambil menatap sekeliling, tatapanya tertuju pada setiap perempuan yang menatapnya dengan sorot permusuhan . Dia akui dia tidak secantik cewek-cewek disini, namun apakah harus lelaki di hadapanya ini berkata demikian? Setidaknya, pahami perasaan perempuan sedikit bisa bukan?

Satria dibuat sedikit mengkerutkan dahinya saat melihat tatapan gadis itu yang semula menantang dan berkilat penuh amarah menjadi meredup dan sedih. Kenapa

hati Satria merasa tercubit melihat itu?

“Kenapa nama lo Satria?”

“Karena seorang kesatria itu tugasnya melindungi. Dan gue dikasih nama ini agar bisa melindungi, bukan malah nyakitin.”

Kuping Satria tiba-tiba berdengung saat mendengar ucapan itu, saat dia menutup mata, sekilas bayangan sepasang remaja SMA tengah duduk disebuah bangku taman terlintas begitu saja. Namun Satria tidak bisa melihat dengan jelas wajah keduanya seperti apa.

“Cowok nggak punya hati!”

Deg!

Kenapa? Kenapa Satria begitu sakit mendengarnya? Kenapa dirinya seolah tidak ingin gadis itu marah padanya? Kenapa dirinya seolah takut gadis itu membencinya. Gadis itu melewati Satria begitu saja setelah berucap demikian.

Satria masih diam mematung, dia kembali berperang dengan batin dan juga pikiranya. Kelima temanya itu menghampiri Satria.

Erik menghembuskan nafasnya kasar dengan gelengan pelan sambil menepuk pundak Satria sebanyak dua kali.”Sama cewek lembut dikit dong, Sat.” Satria tidak mengindahkan ucapan Erik. Dia hanya fokus memperhatikan punggung gadis itu yang kini sudah hilang ditelan tikungan.

Genta memijat pelipisnya sambil menggeleng pelan.”Punya teman, gini amat ya Allah.”

  “Untung bos, kalau nggak udah gue hakimi,” kata Leon kesal.

  “MULUT LO! ASTAGFIRULLAH BANGET, BANG!” ujar Yusuf heboh sendiri sambil menatap Satria tidak percaya. Namun Satria hanya mendelik tajam meresponya.

Hidan menghembuskan nafasnya.”Minta maaf sama tuh cewek. Nggak seharusnya lo gituin dia,” ujar Hidan memberi tahu.

“Tapi btw. Itu cewek mirip banget sama yang lo gambar, Sat.”

“Bukan mirip, tapi sama persis,” jawab Satria atas ucapan Leon.

Genta mengangguk sambil bersidekap dada dengan mengelus dagunya seolah sedang mengelus jenggot.”Perkiraan saya mengatakan, kalau perempuan itu memang perempuan yang anda cari selama ini.”

Tak!

“Gaya lo! Kayak cenayang aja,” ujar Erik setelah menjitak kepala Genta.“Biar nggak tegang bego!” Erik, Leon dan Yusuf sontak tertawa mendengarnya. Tidak kecuali Hidan dan Satria.“Gue tahu lo penasaran sama dia. Kenapa lo nggak coba deketin dia?”

Perkataan Hidan membuat Satria mengalihkan pandanganya pada cowok itu.”Maksud lo, gue deketin dia cuma buat jawab semua pertanyaan dan rasa penasaran gue selama ini?”

“Memangnya lo mau lebih dari itu?” kata Hidan sambil sedikit terkekeh lalu cowok itu berjalan meningalkan teman-temanya.

Satria mengumpat dalam hati. Sial! Dia jadi bingung sendiri bagaimana menjawab semua pertanya dan rasa penasaranya selama ini. Gadis itu kuncinya. Tapi, bagaimana caranya agar Satria bisa mendapatkan jawaban dari gadis itu? Apa memang harus Satria mendekatinya?

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here