Salah Siapa?

0
81
views

“Bu, saya mau pesan set gamis anak yang ini ya. Yang no 10.” Sambil menyertakan foto sebuah set gamis anak yang pernah aku publikasikan di sebuah grup WA.

Bunyi WA yang masuk menjadi kabar gembira bagiku. Alhamdulillah. Sejak jadi reseller baju gamis anak ini, sudah ada 2 pesanan untuknya. Dan pesanan terakhir ini pemesannya membeli 2 set sekaligus.

Setelah pembicaraan masalah warna yang diinginkan, saya memberikan nomor rekening agen. Tak lama kemudian, konsumen sudah menunjukkan bukti tranfernya. Saya mentransfer semua transaksi tersebut ke agen. Beres, barang siap dikirim.

Dua hari kemudian..

“Assalamu’alaikum.. Bu, bajunya dah sampe. Tapi kayaknya yang datang no 9. Karena panjang gamisnya 105. Sedangkan yang saya pesen no 10. Pg nya 110. Gimana ya?’

Pesan WA masuk dari pembeli gamis.

“Waaalaikumsalam ya Allah maaf ya Bu,,saya konfirmasi dulu ya bu minta di kirim ulang” Balas saya dengan perasaan mulai tak enak.
Saya coba konfirmasi pada admin agen, diperlukan beberapa hal yang harus saya konfirmasi balik pada konsumen. Saya coba hubungi kembali konsumen.

“Assalamu’alaikum Bu maaf di gamis nya ada size nya ga ya?

” Wa’alaikumsalam.. Ada, no 10.. Tapi ukurannya ga sesuai dengan yg di spek produk”

“Bu maaf dari agennya mau ngecek dulu ukuran gamisnya ya, mau dicek ulang size 9,10 antosan nya hari Senin insyallah di kabarin lagi ya bu” Aku coba menenangkan konsumen.

Bolak balik aku minta kepastian pada admin, namun sayang, admin agen justru menekankan untuk tidak memperdulikan komplain konsumen. Intinya aku harus menyakinkan konsumen bahwa resiko barang tak sesuai spek, biasa dalam jual beli online.

Aku merasa ada yang salah disini. Kok penjual yang salah, malah konsumen yang harus menanggung. Akhirnya aku hubungi kembali konsumen melalui WA.

“Assalamu’alaikum Bu mohon maaf ya ini kesalahan dari pihak pabriknya,,agen ngecek semua size, baru kali ini gamis nya kurang beberapa cm, sekali lagi mohon maaf ya bu” Aku coba meminta pengertian konsumen.

“Wa’alaikumsalam, Trus urusannya gimana? Kalau kependekan kan bajunya ga bisa dipake” Jawab konsumen bingung.

“Dikembalikan lagi aja bu” Jawabku sekenanya.

“Kemana saya kembalikannya?”

“Bentar Bu, saya mau konfirmasikan dulu ke agennya nanti saya ambil ke rumah”

Saya coba hubungi kembali admin menyambungkan masalah ini. Tapi rupanya saya dianggap sebagai reseller yang tak becus menangani komplain konsumen, sehingga jika saya masih melanjutkan masalah ini, saya diputus sebagai reseller. Ya Allah😢

“Maaf Bu imbasnya saya dpt ancaman dari agennya Bu,,saya ga di respon lagi jadi reseller. Ga apa-apa saya ambil ibrohnya aja,, mudah-mudahan Ada riqzi nya lain” Saya kabari konsumen berharap beliau mengerti.

“Kok gitu ya.. Sebenernya ini salah siapa? Spek produk dari agenkan? Atau dari pabrik?, harusnya mereka yang tanggung.
Agennya mengerti ajaran Islamkan? Secara hukum, harusnya kalau jual beli ga sesuai, memang bisa dikomplain.” Balas konsumen kecewa.

Saya tak dapat berkata banyak. Sedih rasanya. Komisi penjualan yang tak seberapa, harus mengganti dua set gamis yang tak sesuai pesanan konsumen. Padahal tabungan yang sedikit ini untuk persiapan lebaran anak-anak. Itupun baru setengah dari harga dua set gamis tersebut. Moga konsumen mau mengerti.

Tak hanya masalah uang yang jadi pikiranku. Tapi juga hubungan baik yang selama ini sudah terjalin. Gara-gara masalah ini, aku khawatir akan mempengaruhi hal tersebut. Tapi sudahlah, mungkin ini memang resiko berjualan online.

“Ga apa-apa bu,,siang ini saya ke rumah ibu ya ngambil gamis sekalian kembalikan uangnya. Saya harus banyak belajar lagi tentang jualan online ya bu” Balasku sedih.

“Intinya produk yg kita jual sesuai dengan yg kita publikasikan supaya ga ada unsur penipuan di dalamnya.
Bu, bajunya diambil aja dulu. semoga bisa dijual ke yang lain. Nanti uangnya bisa dikasih ke saya kalau dah dijual barangnya” Balas konsumen membuat saya sedikit lega.

Pelajaran untuk saya, agar lebih paham aturan Islam sebelum melakukan suatu aktifitas. Karena jika kita tak paham, dapat menyebabkan kerugian pada pihak lain. Iya kalau bisa diselesaikan di dunia. Kalau tidak?, hisabnya bisa sampai akhirat. Na’udzubillahi min dzalik.

Penulis : Lia Herasusanti

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here