Rumah di Tengah Hutan #01

0
232
views

Mencari musuh


Wanita cantik bermata indah bagai boneka dan rambutnya panjang sepunggung dibiarkan tergerai indah. Bergaun malam berwarna merah maron dengan paduan manik-manik berbentuk berlian di seputaran dadanya, melangkah gemulai menuju Diskotik di tengah kota yang terlihat masih ramai hilir mudik kendaraan. Padahal waktu malam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB.

Kakinya yang jenjang serasi dipadu dengan highhell warna yang senada. Dengan mengapit tas tangan kulit berwarna putih, berjalan bak peragawati melenggak-lenggok di atas catwalk. Begitu Anggun dan mempesona, membuat beberapa pasang mata lelaki yang berada di pelataran gedung Diskotik, melihat tak berkedip padanya juga berdecak kagum. Tapi, dengan cueknya ia terus melangkah memasuki Diskotik megah itu.

Sesampainya di dalam, ia disambut dengan dentuman musik keras dan ramainya pengunjung di malam minggu. Suasana yang remang-remang, membuat dirinya agak payah mencari tempat duduk kosong. Akhirnya wanita itu kebagian di ruang pojok dekat ruang operator. Ia pun dengan manis duduk santai di sofa dengan menyilangkan sebelah kaki, begitu putih dan mulus kulit pahanya. Terlihat dari kilauan lampu berwarna warni yang berputar di atas ruangan tersebut.

Seorang waiters berpakaian seksi datang mendekat, lalu siap dengan nota dan pulpen di tangannya. Wanita itu hanya memesan soft drink saja pada waiters. Kemudian pelayan seksi itu berlalu. Pandangan ia edarkan disekelilingnya, tak ada satu pun yang dikenal. Beralih pada kerumunan orang-orang yang sedang jojing di depannya. Dia menghela napas berat, bukan tanpa sebab datang kemari. Ada suatu misi yang segera di selesaikan.

Wanita itu bernama Angelina seorang gadis yang hidupnya telah dirusak oleh beberapa orang lelaki biadab. Diambil paksa kehormatannya dan disiksa, kini dia akan mencari perhitungan pada orang-orang yang membuat hidupnya hancur.

Waiters itu pun datang membawa pesanan Angel. Bersamaan dengan bunyi suara ponsel yang di dalam tas. Angel mengangguk pada waiters, kemudian meraih soft drink dari tangannya. Setelah itu waiters meninggalkan Angel. Dengan santai wanita itu mengambil ponselnya dan menerima panggilan.

[Ya, Om. Aku sudah menunggu di meja nomor 27.]

Kemudian ia masukkan kembali benda pipih berwarna putih itu ke dalam tas. Ia ambil sebatang rokok mild putih, menyulutnya kemudian ia hisap dengan seksama. Sepuluh menit kemudian, datang seorang pria bertubuh agak gemuk dengan penampilan seperti Bos, berkepala botak tengahnya. Buru-buru pria itu menghampiri dan duduk dekat Angelina.

“Sudah lama di sini? Maaf, agak telat. Tadi mobilku mogok,” ujarnya tanpa diminta. Angelina menatap sekilas pada wajah lelaki Cina itu.

“Enggak apa, Om. Ani juga barusan datang, kok.” Angelina yang menyamar bernama Ani itu, tersenyum manja.

“Okey, kalau begitu mau minum apa, nih? Tawarnya mesra seraya menggenggam erat jemari Angelina.

“Enggak usah, Om Abas. Kita langsung aja check-in. Panas di sini, berisik lagi.” Angelina menyandarkan punggung ke sofa, seraya menyeruput soft drink menggunakan pipet. Om Abas hanya diam menatap Angelina yang sangat cantik sekali dari foto profilnya di Facebook. Jakun lelaki mata keranjang itu pun naik turun melihat betapa besar dada wanita ini. Dia hanya manggut-manggut saja.

“Okey, lah kalau begitu. Ayok!” Om bernama Abas itu menarik pelan lengan Angelina yang baru dikenal kemarin lewat Facebook. Sepertinya dia pun menahan sesuatu yang ingin segera dilampiaskan. Angelina pun menurut saja, saat Om Abas merangkulnya untuk meninggalkan Diskotik.

Angelina menyeringai, target pertama sudah masuk perangkap.

****

“Aaarrgghh!”

Terdengar suara jeritan dari dalam kamar hotel berbintang sepuluh itu, kamar nomor 313. Wanita yang bernama Angelina, cepat melesat terbang menembus kaca jendela kamar hotel lalu menghilang dalam kegelapan. Meninggalkan tubuh bugil Om Abas di atas pembaringan dengan bersimbah darah dan isi perut terburai.

Tentu kejadian ini sangat mengejutkan petugas kebersihan saat itu terpaksa pintu di dobrak beramai-ramai, sebab waktu check-out sudah beberapa jam berlalu namun pintu masih saja tertutup kemudian setelah pintu terbuka mendapati jenazah yang mengerikan terbujur di atas tempat tidur busa itu. Pengurus hotel pun kelabakan dibuatnya. Menggemparkan seisi hotel yang menginap pada keesokan harinya.

Beberapa jam kemudian, hotel ramai oleh petugas kepolisian dan para wartawan. Kamar kejadian di beri cross line. Berita kematian Om Abas yang ternyata adalah Bos perusahaan minyak kelapa sawit itu, menyebar ke penjuru kota tersebut.

Selama satu minggu, beritanya masih santer saja. Dengan Kematian yang tidak wajar dan menjadi misteri, karena sampai saat ini jajaran kepolisian kesulitan untuk melacak jejak si pelaku. Akan tetapi pihak kepolisian berjanji akan segera mengusut sampai tuntas tindakan kriminal ini.

Pihak keluarga Om Abas pun, mengutuk pembunuhan sadis ini yang entah dilatar belakangi apa. Tentunya membuat kedua istri Om Abas yaitu Sania dan juga Eliya menjadi shock. Pria itu meninggalkan enam orang anak dan dua orang istri. Salah seorang puteranya dari istri pertama yaitu Denis nekat ingin melacak sendiri. Siapa orangnya yang telah tega membunuh Papinya.

*****

Sore yang mendung. Jalanan kota Tanjung Karang Bandar Lampung, begitu ramai kendaraan yang berseliweran. Apalagi dekat pasar Bambu kuning, jangan di tanya lagi. Pagi dan sore masih saja ramai dengan aktifitas perdagangan, sampai susah kendaraan ingin lewat. Menunjukan betapa besar dan padatnya penduduk kota Bandar Lampung.

Denis memacu motor Vixion-nya dengan kecepatan 80km/jam, ia harus memburu waktu agar tidak kehujanan di jalan. Tujuannya ia ingin ke tempat Diskotik itu, untuk mencari tahu siapa wanita bernama Angelina yang ia tahu lewat akun Facebook Papinya. Sementara percakapan mereka di dalam WhatsApp hilang begitu saja tanpa jejak.

Denis tahunya Angelina bekerja di Diskotik Star dari akun Facebook -nya. Sebab itu akan coba ia telusuri.

Penulis : Menahmadan Regar

Bersambung

 

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here