Ritual Sebelum Nyalon (Kisah nyata)

0
67
views

Pagi setelah pulang dari mengantar si sulung berangkat sekolah, aku dibuat lemas melihat isi rumah begitu berantakan. Mulai dari dapur dengan empat galon berserakan, serbet yang menyampir dikursi, setumpuk piring kotor juga penggorengan yang masih ada sisa-sisa nasi diatasnya. Sangat miris dan berhasil membuat kepalaku pusing. Belum lagi kamar tidur, sprei yang tersibak kesana-kemari, bantal yang tergeletak di lantai, juga handuk yang sedikit basah masih teronggok diatas kasur. Oh…inikah yang namanya kapal pecah? Kupijat pelipisku, bingung harus memulai dari mana.

Tak biasanya suamiku semalas ini, mungkin karena efek jenuhkah? Bisa saja. Sejak ia melanjutkan studinya lalu cuti dari pekerjaannya sepertinya dia merasa jenuh berada dirumah dan hanya bermain ponsel serta sesekali mengasuh putranya yang kedua.

Belum selesai mengganti baju kebesaran alias daster, si bungsu teriak. “Mahhhh….e.ek…”

Tanpa peduli aku terus melanjutkan mengganti pakaianku. Aku pikir tidak masalah ada suami yang standby di sampingnya.

Namun tidak kusangka, setelah keluar kamar lalu pergi menuju dapur, betapa shock mata ini dibuatnya. Cairan kuning bercecer dimana-mana, dan si bapak sudah dalam keadaan membersihkan si bungsu di kamar mandi.

“Ya Allah, papah…..! Kok bisa sampe bercecer-cecer begini?”

“Lha mau gimana lagi adik mencret mah. Ini aja udah tak bopong tangan papah belepotan e-ek,” teriak papah dari arah kamar mandi disertai tangisan si bungsu yang menggelegar mungkin karena tidak nyaman dengan cara papahnya membersihkan sisa-sisa pupnya. Ah sudahlah.

Aku menghela nafas, lalu membersihkan sisa-sisa pup yang tercecer di lantai. Selang dua menit, bersih. “Alhamdulillah…”

Si bungsu nampak rewel, aku berniat mengambil alih untuk membersihkannya, “Pah, biar mamah saja yang bersihin?” pintaku sembari teriak. Merasa tak yakin pada hasil kerja suamiku. Pernah suatu ketika, si bungsu pup dan aku meraihnya setelah dibersihkan ternyata bajuku terkena pup yang masih terselip di selangkangan. Oh My God…baunya sungguh luar biasa. Maka dari itu sekarang kapok jika suamiku yang menghandle anak ketika selesai pup.

Tak cukup sampai disitu, mungkin niat suami baik ingin membantu istrinya. Tapi, untuk yang kedua kalinya aku merasa tak percaya. Setelah melihat papah memegang sapu lalu hendak menyapu dapur sembari mengomel, lagi aku menawarkan diri untuk aku saja yang menyapu nantinya.

“Halah kelamaan. Biar papah pel sekalian!” sahut suamiku dongkol. Sepertinya dia lupa bahwa selama ini dialah yang selalu malas untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Entah kesamber setan darimana tetiba pagi ini dia ngomel kotorlah, baulah, dan lah-lah lainnya.

Sembari menggendong si bungsu dengan tubuhnya yang telanjang setelah berhasil kumandikan dengan air dingin. Tidak tega rasanya tapi mau bagaimana lagi. “Biar mamah saja yang ngepel pah, rutenya itu ngepel dari depan ke belakang,” pelan aku meminta.

“Halah mbuh mah, sak karepmu.” Kembalilah dia dengan ponselnya. Aku pikir dia inisiatif meminta si bungsu untuk di dandani ternyata tidak. Ya salam…parengono kuat…!

Dengan telaten kuoleskan telon juga bedak lalu memakaikannya pakaian. Merasa sudah ganteng kupasrahkan si bungsu pada papahnya.

Tak lama, aku memintanya untuk menyuapinya makan, “Pah, coba deh adik disuapin, barangkali mau?” perintahku.

“Halah mah, males. Kalau adik disuapin tuh gak mau, mending kalau anaknya mau makan. Udah cape nyuapin anaknya gak mau makan. Udah gitu belepotan, kotor juga lantainya.” Mendengar alasannya yang panjang lebar benar-benar membuat kepalaku rasanya mau pecah. Biasanya dia yang nomer satu nyuruh anak-anak makan. Mungkin dia baru sadar betapa repot dan sangat butuh perjuangan kalau nyuapin anak balita makan. Harus ikut lari, sambil bercerita, belepotan sana-sini. Mungkin dia pernah merasakan dan kali ini malas. Bukan, lebih tepatnya kapok.

Aku membiarkan anakku melihat youtube sejenak, demi membuatnya diam dari tangisannya. Sedang aku sibuk merapikan kamar tidur lalu menyapu ruangan depan dilanjut kebalakang. Sungguh luar binasa hari ini. Bukan cuma capek, hatikupun dongkol dibuatnya. Kalau bukan karena ingin nyalon, potong rambut juga crembath mungkin sudah aku tinggal semua perkakas yang kotor.

Sembari ngepel dari ujung ruangan hingga dapur, aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan lainnya. Sambil menyelam minum air, begitukah istilahnya? Ah mbuh. Aku memutar kran di atas mesin cuci lalu kembali mengisi mesin cuci itu yang sudah dari kemaren sore cucian kutinggal. Setelah airnya dirasa cukup kumatikan kran airnya lalu memutar tombol wash kemudian kulanjutkan mengepel.

Tak cukup sampai disitu, setelah 20 menit berlalu, rumah terlihat rapi, aku mengambil setengah centong nasi beserta soto ayam untuk kusuapkan pada balitaku.

“Nyam…nyam…” suara khas balita ketika mengunyah benar-benar membuatku lega, tak biasanya anakku mau makan. Syukurlah.

“Mah, kalau udah selesai nyuapin buruan ke salon, barangkali papah ada panggilan mendadak jadi papah sudah siap.” Ya Salam… Belum juga berangkat nyalon sudah dapat wejangan tak mnegenakan.

“Iya pah,” ucapku datar seraya memasukan satu sendok kecil ke mulut buah hatiku.

15 menit kemudian, setelah mandi juga berhias sebentar aku bersiap berangkat ke salon. “Pah, mamah berangkat dulu ya,” pamitku seraya mencium punggung tangannya dengan takzim.

“Ya,” balasnya tak menoleh. Kedua matanya sibuk melihat ponsel dengan suara adegan berkelahi seperti kungfu ala film mandarin. Pasti bisa dipahami kan suaranya seperti apa?

Si bungsupun tak lupa kuberikan satu botol susu agar segera tidur. Dari semua kedongkolan yang suamiku lakukan, ada satu hal yang memang aku sendiri salut padanya. Dia mau memberi waktu untukku berleha-leha, tidur atau nyalon dan diapun bisa kupercaya ketika balitaku kutinggalkan padanya. Mungkin itu yang membuatnya berbeda dari suami-suami lainnya. Ah entahlah.

“Dadah adik…” Tak lupa kucium pipinya yang putih montok seperti bakpao.

Setelah pamit, aku menstater motorku lalu dengan pelan aku mengendarainya. Kebetulan salonnya dekat, jadi tidak butuh waktu lama untuk sampai kesana.

Setelah motor terparkir, mataku membulat sempurna setelah melihat tulisan yang menempel di kaca salon itu.

‘Tutup’

Tubuh ini lemas seraya menatap tulisan itu.

“Allahurobbi…kenapa apes nian diriku ini. Sudah bela-belain pekerjaan rumah kurampungkan demi crembath dan merasakan pijatan dari mbak salon itu. Ternyata malah tutup.”

Dengan badan yang kurasa mulai remek akibat kerja rodi dadakan tadi, kunyalakan kendaraanku lalu melaju dengan pelan kearah pulang.

Sesampainya dirumah.

“Lhoh mah, kok cepet banget creambathnya?” dengan tanpa dosa suamiku nyeletuk.

“Cepet mbahmu, salonnya tutup!”

Tanpa sadar gelak tawa teramat renyah keluar dari mulut suamiku. Nampak bungsu sudah tidur terlelap dengan cepat aku menutup mulutnya dengan satu tanganku. Takut dia terbangun. “Ssssstttt…!”

“Daripada dongkol gak dapet pijitan mbaknya, mending papah yang mijitin, gimana mah?” rayu suamiku dengan tubuhnya mendekapku erat dari belakang. “Mumpung adik bobo, mah.” lanjutnya. Kini bibirnya mulai menciumi tengkuk hingga bulu kudukku berdiri, sesaat rasanya seperti melayang. Tapi…aku tak mau terbuai dengan rayuan suamiku saat itu karena pekerjaan yang masih menumpuk akhirnya kutolak dan perlahan aku melepas pelukannya.

“Nanti malam saja, Pah.” Sepertinya aku sudah dosa besar pada suamiku karena menolak hokya-hokya disiang bolong. Ah sudahlah bodo amat. Cucianku masih numpuk kalau tidak diselesaikan sekarang mau kapan lagi? Acara hokya hokya toh bisa nanti malam. Sontak auto ngacir dari serangan si papah.

T i m i t……😁🙏🙏🙏

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here