Reuni

1
213
views

Beep beep..
Bunyi notifikasi dari handphoneku membuatku menghentikan aktifitasku sejenak, rupanya salah satu teman SMPku dulu memasukan aku ke dalam grup chat WhatsApp yang berisikan hampir semua teman sekelasku waktu SMP dulu.
Seketika senyum menghiasi wajahku, kenangan waktu sekolah dulu tiba-tiba terlintas di benakku, ah, masa yang indah memang, dimana aku masih merupakan seorang gadis kecil bagi Ibu dan Ayahku.
Aku pun segera menggerakan jari-jariku di atas handphoneku, kusapa semua orang yang ada disana, “Halo semuanya,” ujarku.
Rupanya tak banyak orang yang begitu mengingatku, 29 tahun memang bukan waktu yang pendek untuk sekedar mengingat-ngingat siapa aku si hitam berkacamata ini, mungkin juga karena aku bukan anak yang populer pada masa SMPku dulu walaupun ingatanku sendiri cukup kuat mengingat semua temanku dari sekolah dasar sekalipun dan aku cukup mengerti kalau mereka tidak ingat sama sekali karena pada masa SMP dulu masih ada yang sering kubu-kubuan dan geng-gengan sementara aku hanyalah penonton dan tidak memiliki banyak teman karena memang sekolahku dulu itu adalah sekolah elit pada masanya, orang-orang masuk kesana pasti orang-orang dari kalangan menengah ke atas dan memiliki kehidupan serba wah sementara aku hanyalah anak seorang penjaga sekolah yang kadang untuk mencari bekal ongkos sekolah saja orang tuaku harus pontang panting kesana kemari. Kebetulan saja aku bisa masuk ke sekolah favorit ini dengan NEM besar yang kumiliki karena pada masaku dulu masuk ke SMP ataupun SMA favorit harus memiliki NEM yang tinggi.

Setelah mereka akhirnya mengenaliku lewat foto masa lalu dari seorang teman yang masih memilikinya mereka dapat juga mengenaliku. Sejauh yang aku lihat sih tidak banyak berubah pandangan mereka terhadap aku, masih menganggapku sebagai remahan rengginang yang tidak berguna seperti 29 tahun yang lalu. Terlebih saat mereka memperkenalkan diri secara utuh, “ini loh keluargaku”, “ini loh pekerjaanku”, sementara tidak banyak yang mereka tanya apa kegiatanku saat ini, mungkin mereka memang masih menganggap aku tidak ada karena aku memang selalu dikucilkan dari lingkunganku.

“Hai, Nadia, selamat datang ke grup.”, sapa seorang temanku pada anggota baru yang masuk grup.
Aku tahu Nadia adalah bintang kelas yang membuat semua anak anak kelas terpesona padanya.
“Wah, Nadia sudah jadi ibu pejabat sekarang”, sapa yang lain.

Lalu akupun memberanikan diri untuk menyapa Nadia.
“Hai, Nadia masih ingat gak ke Aku?”, sapaku sok akrab.
Kemudian Nadia membalas chatku “Siapa ya? Maaf kalau lupa.”
“Ini Wanti, Nad. Yang dulu pakai kacamata dan orangnya item.”, balasku sambil memberikan emoticon tertawa pada komentarku.
“Wanti..heiii aku kangen kamu banget lho, ini aku ada foto kamu lho.”, katanya sembari memberi emoticon peluk dan cium.
Sebenarnya aku tahu bukan Wanti yang ini yang dirindukan Nadia karena dulu Nadia berteman baik dengan Wanti Tiara. Di kelas kami memang ada dua Wanti dan itu yang membedakan
Wanti Tiara anak populer sedangkan Aku adalah Wanti anak yang biasa-biasa saja bahkan cenderung dikucilkan karena kemiskinanku.
“Mana coba?”, kataku membalas pesan Nadia.
Dua menit kemudian Nadia memberikan foto dirinya dan Wanti Tiara sedang berpelukan di grup kami.
“Bukan Wanti yang itu.”, emoticonku tertawa.
“Lho Wanti yang mana?”, emoticon Nadia bingung.
“Ini lho,” tiba tiba ketua kelasku, Yusuf mengirimkan fotoku di masa lalu yang sudah dicrop.
“Oh i see.”, balas Nadia.

Setelah itu setiap aku memberikan komentar di grup Nadia tidak pernah membalas semua komentarku dan Aku seperti kambing congek yang berjalan sendirian berkomentar sendirian.
Terlebih setelah Wanti Tiara masuk ke grup dan aku hanya jadi penyimak obrolan grup saja.

Kemudian mereka terlibat obrolan seputar domisili mereka, apa pekerjaan mereka sekarang dan kemudian saling mengirimkan foto terbaru mereka. Wah, hampir semua foto-foto mereka saat mengenakan seragam kerja, foto mereka saat di mobil atau di rumah mereka yang kelihatannya mewah-mewah.
Mungkin mereka sedang pamer kekayaan seperti yang biasa mereka lakukan, aku dan teman-teman penyimak hanyalah menjadi pembaca dan penikmat komentar mereka.
Kasta memang menjadi pembeda kami dan itu tidak berubah hingga saat ini.
“Sebelum reuni akbar SMP kita tercinta, kita buat data diri kita masing masing di grup ini, misal nama kita, pekerjaan beserta foto terbaru masing masing, gimana pada setuju gak?”, celoteh Wina si putih tinggi langsing ikonnya kelas kami saat itu.
“Setujuuuu”, tulis Ajeng sesaat kemudian.
“Yess, Aku sih oke.”, timpal Sandy dengan emoticon jempol.
“Ayo aku mulai duluan yaa.” ujar Nadia sambil memulai mengirimkan foto terbarunya dengan foto dirinya yang terlihat cantik didalam mobil sambil pegang stir disertai data dirinya, Nadia Almeera, profesi pengacara.

Hmmm..

“Wih Alphard terbaru nih.”, komentar Septi dengan emoticon amazenya. Setelah itu bermunculan komentar-komentar lain dan juga bermunculan foto-foto dari anak-anak yang lain. Hampir semuanya hebat-hebat ada yang jadi dokter anak, ASN, anggota DPR dan berbagai profesi lain yang membuat decak kagum apalagi disertai foto diri mereka dan keluaga.

Saat mereka sedang asyik saling komentar atas pamer foto dan pekerjaan mereka tiba-tiba Yusuf sang ketua kelas memberikan tag atas namaku.
“Dari tadi tidak melihat komentar Wanti Hermawati, ayo dong Wanti keluarkan foto terbaru dirimu.”, ujar Yusuf dengan penuh emoticon senyum.
“Eh iya dari tadi terlihat cuma ngintip aja. Pengen tahu juga Wanti masih seperti dulukah?”, Septi ikut berkomentar.
“Iya, Wanti, ayo dong mumpung kita masih diberi kesempatan buat silaturahmi, siapa tahu nanti kita ketemu di jalan bisa saling sapa.”, Bambang menimpali sementara yang lain yang mungkin tidak mengharapkan fotoku muncul tidak ada yang merespon apa apa.
Tadinya aku tidak akan menggubris semua ajakan teman-temanku tapi tiba tiba Wanti Tiara ikut berkomentar
“Iya dong ayo, Wanti, biar bisa bedain antara Wanti Tiara dan Wanti Hermawati bedanya dimana.”, dengan emoticon tersenyum yang ditutupi tangan.
Secara refleks tanganku memijit tombol galeri dan aku memilih satu foto terbaruku kemudian sebelum ku tekan send aku menuliskan namaku dan berdagang sebagai pekerjaanku.

Satu menit..
Dua menit….
Tiga menit…..
Tidak ada respon apa-apa dari mereka padahal aku melihat hampir semua sudah melihat fotoku.
Barulah di menit keempat beragam komentar muncul.
“Wah cantik sekali Wanti ini, jauh berubah banyak dari sejak SMP dulu.”, sapa nomor yang belom ada namanya.
Kemudian berturut turut aku melihat Bambang, Yusuf, Andri dan Agus sedang menulis pesan.Banyak komentar yang dituliskan teman-temanku, rata-rata teman laki-laki yang banyak memuji-muji penampilanku sekarang. Tidak kulihat komentar dari anak-anak populer kelasku, tak lama berselang kulihat Ayu berkomentar.
“Loh, bukannya ini Wanti Wiguna pengusaha sukses yang sering muncul di tv itu ternyata kamu?”, penuh dengan emoticon peluk.
“Iyakah ini Wanti wiguna?”, tanya Dea.
“Tahun lalu diberitakan Wanti Wiguna ini masuk nominasi 10 pengusaha terkaya Indonesia lho.” , lagi lagi Ayu memberikan komentarnya.
Tak lama bermunculan komentar-komentar positif dari teman-temanku yang lain yang banyak tahu aku dari berita-berita di tv dan majalah.
Kemudian bermunculan personal chat ke WhatsAppku.”Assalamualaikum, Wanti, lama tidak jumpa gimana kabarnya?”.
“Hai, Wanti, aku sering lihat kamu lho di tv, bagi tips dong kesuksesan kamu.”.
“Wanti, Aku lagi nganggur nih, bisa dong belajar bisnis darimu.”

Senyum tipis menghiasi bibirku. Kuserahkan handphoneku kepada Astri asistenku, biar dia yang membalas semua chat seperti biasa.
Dari sini aku baru sadar bahwa memang uang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang termasuk ketika kita ingin dihargai walaupun mungkin mereka tak pernah mengerti prosesku tapi mungkin mereka ingin ada dalam suksesku.
Hmmm….

Penulis : Yanti Wijaya

Silahkan Komentar
Berita sebelumyaMenantu Serba Salah #05
Berita berikutnyaKepergiannya..
Gangguan terbesar saat menulis itu adalah MENGANTUK. Baru dapat segini sudah sangat lengket ini mata😭😭coba kalau di ajak ngebucin? Pasti melek sampai tengah malam😫
BAGIKAN

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here