Pulau Berdarah #21

0
474
views

“Kau yang akan membalaskan dendamku!”

“Kenapa aku?”

“Karena kau anakku!”

“Apa kata-kata anda bisaku percaya Pak!”

“Kau meraguiku Nak!”

“Anda ingin aku lakukan apa pada mereka?”

“Bunuh mereka semua, aku tahu selama ini mereka memperlakukan mu dengan sangat tidak baik. Maka dari itu Nak balaskan dendam kita berdua pada mereka!”

Aku hanya diam terpaku ditempatku duduk, membunuh mereka?
Apa aku bisa?

Aku bukan seorang saiko seperti Pak Lucifer, aku juga tidak bisa menyentuh benda-benda yang barbau tajam. Karena sejak aku kecil Mama melarangku bermain-main dengan benda-benda seperti itu.

“Kau adalah seorang psicopat sama sepertiku Nak, kehausan akan membunuh sesuatu juga ada pada dirimu. Hanya saja sifat itu sudah lama tertidur dalam dirimu!”

Apa dia berkata benar?

Dia bilang aku seorang psicopat sama seperti dia, apa dia berkata yang sebenarnya.

Entah mengapa membayangkan aku adalah seorang psicopat sama sepetinya membuat aku jijik, aku tidak ingin menjadi seperti dia.

Tidak.

Aku hanya ingin jadi seorang gadis yang normal, menjalani kehidupan seperti biasa layaknya manusia pada umumnya.

“Sepertinya Alice berhasil membuatmu terlihat seperti gadis normal, aku salut padanya!”

Aku hanya diam tidak berniat menyelah setiap ucapannya.

“Maka dari itu aku akan membuatmu kembali jadi dirimu yang dulu!”

Aku yang dulu?
Emangnya aku yang dulu seperti apa?

“Aku tahu tentu kau begitu penasaran kenapa aku membunuh semua teman-temanmu dan menyisakan dia!”

Lelaki itu menunjuk ke arah Rediaz yang terikat.

“Aku memang penasaran tentang itu. Bisakah anda katakan padaku alasannya?”

“Membunuh teman-temanmu itu hanyalah sebuah kesenangan bagiku!”

What?
Sebuah kesenangan katanya?
Benar-benar sudah gila dosen bejat ini.
Menghabisi nyawa puluhan orang dengan sadis itu hanya sebuah kesenangan katanya.

“Kau gila!”

“Aku lebih dari gila Nak!”

“Hmm, aku juga ingin memperlihatkan kepadamu bagimana caranya membunuh dengan kejam!”

Aku menggeleng tidak habis pikir dengan dosen satu ini.
Mengajariku?
Oh, ayolah aku tidak seperti dirimu.
Aku tidak akan sanggup melakukan hal keji seperti ini.

Ya, walau bagaimanapun aku tidak percaya dengan ucapannya yang mengatakan bahwa aku sama sepertinya, seorang psicopat.

Ku lihat dia melangkah mendekati Rediaz, apa yang akan dia lakukan padanya.

“Tadinya aku ingin membunuhnya, dia begitu terlalu ikut campur urusan ku!”

Apa maksudnya?
Terlalu ikut campur, memangnya apa yang Rediaz lakukan?
Aku menatap laki-laki itu mohon penjelasan.

“Tapi setelah dipikir-pikir sepertinya menarik kalau kau sendiri yang membunuhnya!”

Kedua mataku sukses melotot mendengar pernyataannya barusan.
Apa?
Aku yang akan membunuhnya, kenapa aku?
Tidak, aku tidak akan melakukan itu.

“Tentu menarik sekali kalau kau terpaksa harus membunuh orang yang kau sayangi!”

“AKU TIDAK AKAN MELAKUKANNYA, TIDAK AKAN!”

“Aku akan membuatmu melakukannya!”

“TIDAKKKKK….!”

Aku tidak tahu mengapa aku malah jadi stress seperti ini saat lelaki itu mengatakan akan membuatku membunuh Rediaz dengan kedua tanganku sendiri, tetapi saat lelaki itu memintaku untuk membunuh keluargaku aku hanya terlihat biasa saja.

Apa yang terjadi denganku?

“Hehe, aku melihat sinar cinta di bola mata kalian berdua. Hanya saja kalian tampak tak menyadarinya sama sekali!”

Blusshhh..

Aku rasakan kedua pipiku merona, beruntung tempat ini gelap. Jadi mereka takkan menyadari pipiku yang sudah merah seperti kepiting rebus.

Ku lirik Rediaz yang saat itu juga melihat ke arahku, pandangan kami bertemu dan itu berefek pada kerja jantungku.

Benarkah aku mencintainya?

“Sungguh, aku tidak ingin melihat orang yang saling mencintai bersatu!”

Ups.

Aku terlalu sibuk memikirkan perasaanku sampai melupakan kenyataan dimana aku berada sekarang.

“Sudah waktunya Clara, aku harus membangunkan kembali dirimu yang dulu!”

Kini Pak Lucifer sudah siap dengan samurai ditangannya, pria itu melangkah mendekatiku.
Apa yang akan dia lakukan?

“Aku tidak ingin, lebih baik aku mati sekarang. BUNUH SAJA AKU!”

“Aku tidak akan membunuhmu, bukankah itu yang sudah ku katakan padamu tadi. Ambil ini! ”

Pak lucifer melemparkan samurai itu ke arahku namun aku tidak mengambilnya. Samurai itu sukses jatuh di bawah kakiku, aku menatap samurai penuh darah itu dengan jijik.

“Dasar payah!”

Aku berjingkat saat dengan cepatnya Pak Lucifer kembali mengambil samurai itu lalu menatapku dengan tajam.

Kemudian berbalik dengan cepat dia melangkah mendekati Rediaz, dia menodongkan samurai itu di leher Rediaz.

“Aku atau kau sendiri yang melakukannya, hanya beberapa detik ku jamin kepalanya akan segera putus!”

Bagaimana ini?
Dia mengacamku, apa yang harus aku lakukan?
Akankah aku membiarkan lelaki itu membunuh Rediaz, atau aku sendiri yang melakukannya.

Tidak.

Aku tidak ingin keduanya.
Aku ingin Rediaz tetap hidup.

Oh Tuhan, tolong aku harus bagaimana?

Berpikir dan berpikir itulah yang aku lakukan, berharap menemukan titik temu.

“Waktu terus berjalan Nak, apa kau mau pemuda ini mati ditangan Ayah Kandung kamu sendiri!”

Ku lihat Rediaz tampak meronta dalam ikatannya, sepertinya dia berusaha untuk bicara. Tetapi dengan kondisi mulut yang terikat membuat ia kesulitan mengeluarkan suara yang terdengar hanyalah sebuah geraman.

Karena terus-terusan bergerak otomatis samurai itu sedikit menggores lehernya hingga mengeluarkan darah, tentu saja hal itu membuatku melotot kepada Pak Lucifer.

“Sebaiknya anda lepaskan ikatan mulutnya, biarkan dia bicara!” perintahku,

Anehnya, Pak Lucifer segera menyetujui ucapanku. Kemudian dapatku lihat raut kelegaan diwajah tampan itu.

“Aku lebih baik mati ditanganmu Clara dari pada mati ditangan Papamu!”

Dengan penuh keyakinan Rediaz mengatakan hal itu padaku, tentu saja ucapannya membuat aku terkejut.

Bukan karena permintaannya yang rela ku bunuh. Melainkan kenapa dia percaya bahwa Pak Lucifer adalah Papa kandungku.

Apa dia tahu sesuatu?

“Maafkan aku Clara, aku tidak pernah bercerita padamu yang sebenarnya!”

Ku lihat Rediaz tampak menghela nafas kemudian dengan satu tarikan nafas dia mulai bercerita, dan sepertinya Pak Lucifer sengaja memberi waktu Rediaz untuk mengungkapkan semuanya dengan pergi sedikit menjauhi kami.

#flashback_on

Rediaz V.O.C.

Aku terkejut saat mendengar suara teriakan seseorang, beruntung kamera di tanganku tidak terlempar karena saking kagetnya.

Aku mengutuk siapapun orang yang berteriak seawal pagi ini.

Tahu-tahu tatapanku malah tertuju pada seorang gadis tak jauh dariku, siapa dia?
Aku belum pernah melihatnya.

Aku terus memperhatikannya hingga aku rasakan detak jantungku berhenti seketika, wajahnya begitu mirip dengan seseorang.

Aku masih kesulitan bernafas saat tiba-tiba dia menendang sebuah kaleng nganggur dibawah kakinya hingga terbang, dapat ku lihat senyum kepuasan setelah itu diwajah cantiknya.

Namun sayangnya senyuman diwajahnya segera hilang saat menyadari kaleng yang ia tendang mengenai seorang lelaki yang tak lain adalah Daren, salah satu sahabatku.

Aku yakin Daren pasti tidak akan melepaskan gadis itu begitu saja kalau dia tahu gadis itu yang membuat kaleng itu mengenai kepalanya.

Benar saja, setelah capek mencari pada akhirnya Daren melihat gadis itu. Kemudian berjalan menghampirinya tetapi seperti menyadari bahaya akan datang gadis itupun berlari pergi, meninggalkan Daren dengan kekesalannya.

Mencoba mengabaikan Daren aku kembali melangkah pergi.

Di lorong kampus kembali aku melihat gadis itu, kira-kira tepat di hadapanku hanya berjarak 10 meter dari tempatku berdiri.

Entah keberanian darimana aku malah mengambil fotonya.

Ceklik.

Aku mendapatkan fotonya.
Ketika aku memutuskan untuk melihat tak hanya gadis itu yang terlihat di foto, juga ada seseorang memperhatikannya.
Dia adalah salah satu dosen yang mengajar disini, orang-orang memanggilnya Mr. Lucifer.

Saat aku menatap ke arah objeck dimana sosok itu berdiri, sayangnya Pak Lucifer tidak terlihat lagi dan gadis itu juga sudah menghilang.
Kemana mereka pergi?

Pada akhirnya aku kembali mengabaikan kejadian yang aku lihat ini, mungkin ini hanya sebuah kebetulan.

Kembali aku meneruskan langkah menuju kelas yang aku ikuti pagi ini.

Tetapi kembali aku melihat gadis itu, dia terlihat pucat sekali. Kenapa?.
Belum sempat aku berpikir lebih jauh ku lihat tubuhnya mulai tumbang, dengan sedikit berlari aku menerjang kearahnya.

Up.

Pada akhirnya aku berhasil menangkap tubuhnya sebelum jatuh ke lantai. Kurasakan tubuhnya nyaman tertidur dalam pelukanku.

Aku memperhatikan seluruh lekuk wajahnya, lagi-lagi aku harus merasakan sakit dijantungku. Menyadari kemiripannya dengan sosok itu.

Tak tahan terus-terusan menatapnya aku mengalihkan pandanganku, dan tak sengaja aku melihat Pak Lucifer lagi, di sebalik tembok dia sedang memperhatikan kami eh lebih tepatnya pada gadis dalam pelukan ku ini.

Begitulah seterusanya dimana ada gadis ini, disitulah ada Pak Lucifer. Tentu saja hal itu membuatku curiga, aku segera meminta ayahku yang memang seorang detektif untuk menyelidiki latar belakang seorang Lucifer ini.

Tak ku duga-duga kenyataan ku dapatkan memaksaku untuk melindunginya diam-diam, aku tidak tahu mengapa aku begitu ikuy campur urusan orang, atau mungkin karena dia begitu mirip dengan sosok itu.
Entahlah, aku pun tak mengerti.

Kesempatan ku melindunginya semakin banyak saat ku ketahui ternyata gadis itu bernama Clara dia adalah sahabat kecilnya sahabatku, meskipun kita tidak saling bicara tak mengapa yang penting gadis itu aman dalam pantauan kami.

Tiba dimana hari Ivoy mengajak kami liburan, saat itu Pak Lucifer juga ada disana. Makan di meja yang bersebelahan dengan kami, dia mendengarkan obrolan kami tanpa tahu kalau aku sedang mengamatinya.

Hari itu pun tiba kami segera berangkat menuju tempat yang akan kami kunjungi, dan dibandara tak sengaja lagi aku melihat bayangan Pak Lucifer di antara keramaian. Sudah ku duga, dia pasti mengikuti kami.

Malam itu dengan mata kepalaku sendiri dia mencoba menodong Clara yang mungkin baru selesai mandi, tapi dia kurang beruntung karena Ivoy keburu datang dan ya laki-laki itu mengerjai Clara hingga gadis itu berteriak ketakutan.

Sungguh, aku ingin tertawa saat melihat espresi yang ditunjukan Clara. Dia lucu sekali.

Ku lihat dia begitu kesal dengan Ivoy, laki-laki itu mengejarnya sampai ke dalam Resort.

Beberapa menit kemudiang sosok Pak Lucifee muncul dari di balik kegelapan, meskipun dia memakai topeng tetap saja aku bisa mengenalinya. Karena hanya akulah yang tahu kalau sedari awal dia memang mengikuti kami sampai kesini.

Malam dimana aku menghilang entah bagaimana Pak Lucifer bisa masuk ke dalam kamar dan memukul kepalaku hingga aku jatuh tak sadarkan diri.

Setelah itu aku tidak sadar apa-apa lagi.

#flashback_off

Wow.

Aku sungguh terkejut mendengarnya.
Tak ku sangka-sangka dibalik sikap dinginnya dia sebenarnya sedang memperhatikanku.
Aku tidak tahu apakah aku harus senang atau malah sedih.

“Ku mohon jangan menangis!”

Aku menatap Rediaz dengan mata yang berkaca-kaca, dia meminta ku jangan menangis.
Apa dia bodoh?
Lucifer, lelaki itu akan memintaku segera membunuhnya.
Apa dia tidak takut?

“Aku rela kamu bunuh menggantikan posisi orangtua mu, ku mohon padamu Ra jangan terasut omongam lelaki itu untuk membunuh orangtua mu. Aku tahu pasti orangtuamu punya alasan mengapa mengasingkan mu dirumah. Percayalah Ra, aku mencintai mu!”

Aku menutup kedua mataku kembali ku biarkan air mata ini mengalir, aku menangis sejadi-jadinya.

Rediaz, disaat terakhirnya dia baru mengungkapkan perasaannya padaku.

Kenapa baru sekarang?
Disaat semuanya benar-benar harus memaksaku untuk melakukan kekejaman padanya.

Oh Tuhan tolong aku.

Huhuhuhu.

Aku tetap saja menangis meskipun berkali-kali lelaki itu memintaku untuk berhenti saja, aku tak bisa mendengarkannya.

Disaat seperti ini aku hanya ingin menangis.

“Sudah waktunya, lakukan dengan cepat. Aku tidak ingin menunggu lagi!”

Pak lucifer melemparkan lagi samurai itu ke arahku, membuat aku membuka kedua mataku dan pandanganku melekat pada samurai itu.

Baiklah.

Seperti yang Lucifer inginkan, aku akan membunuh.

Ku raih samurai penuh darah itu dan seketika itu aku masih menggigil, jujur saja ini terasa berat di tanganku.

Aku melirik Pak Lucifer dia disana hanya tersenyum memaksaku untuk segera melakukannya, kemudian aku kembali berpaling kembali menatap Rediaz.

Tatapan kami lagi-lagi bertemu, namun hanya saling mendiamkan diri untuk beberapa saat.

“Maafkan aku, aku terpaksa melakukannya!”

“Lakukanlah!”

Dia membalas ucapanku dengan airmata yang mengalir dipipinya.
Jujur, hatiku sakit melihatnya.

Menguatkan hati ku angkat samurai itu tinggi-tinggi dan……,

Note: link baca selanjutnya akan terbuka jam 10.00 pagi, tgl 03 Maret 2019

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here