Pulau Berdarah #17

0
403
views

“CLARAAAA….”

Alice terbangun dari mimpi buruknya, ia terjerit keras terlonjak bangun dari tidurnya. Teriakannya barusan juga ikut membangunkan Firdan, suaminya.

Firdan menatap wajah istrinya yang di penuhi keringat, wajah istrinya tampak pucat sekali.

“Kenapa Ma?”

Mendengar suara Firdan yang sedang bertanya membuat Alice menoleh dan mendapati tatapan khawatir dari suaminya.

“Mama barusan mimpiin Clara Pa, mimpi buruk. Mama takut Pa, takut kenapa-napa dengan Claranya!”

Terdengar isakan kecil dari wanita itu, Firdan yang menyadari istrinya sedang menangis segera merengkuh tubuh wanita yang sedang rapuh itu ke dalam pelukkannya.

Didalam pelukkannya Alice menumpahkan semua air matanya, berharap perasaannya bisa tenang. Namun hati seorang ibu mana yang akan tenang saat menyadari posisi anaknya kini dalam bahaya?
Tak ada.

Ya, dia tidak akan tenang sebelum melihat Clara menjejakkan kaki dirumah ini lagi.

Untuk kesekian kalinya Verlyn menghentakkan kaki geram, dia tidak tahu kenapa suasana rumah ini begitu suram semenjak kepergian Clara yang entah kemana. Harusnya mereka bersyukur dong, Clara si pengganggu itu udah gak tinggal lagi di rumah ini.

Anehnya, bukannya terlihat bahagia kedua orangtuanya malah merasa sedih seakan-akan kepergian Clara sangat mereka sesali.

Sering kali dia dapati Mamanya menangis menatap foto Clara berlama-lama lalu kemudian menangis dengan mendekap frime foto gadis bernama Clara itu.

Kesal?
Tentu saja.

Semua orang di rumah ini yang dulu memperhatikannya berbalik jadi mengacuhkannya, dia tidak pernah lagi merasakan pelukan kedua orangtuanya, Kakek dan juga Neneknya lagi.

Dia tidak bodoh.
Tentu ada yang keluarganya sembunyikan dari pengetahuannya dan juga Clara.

Apa itu?
Dia penasaran sekali, tentu dia sangat ingin tahu.

Dreeeettt….,

Mendengar suara pintu dibuka Verlyn menghentikan makannya, disana dia melihat Kakeknya baru melangkah masuk ke dalam rumah, sepertinya laki-laki tua itu baru saja dari Taman belakang.

“Dari mana Kek?”

Mendapat pertanyaan tiba-tiba membuat lelaki tua menggunakan tongkat itu menatap kearahnya.

“Dari belakang!” jawabnya sambil lalu.

Ya, Kakeknya pergi begitu saja setelah menjawab pertanyaannya. Namun Verlyn tak akan membiarkan kakeknya pergi begitu saja, dia harus mengetahui dulu rahasia yang coba mereka sembunyikan darinya.

Dia tidak bodoh.

Jika situasinya sudah seperti ini tentu rahasia itu ada sangkut pautnya dengan Clara.

“Kek…,”

Panggilannya barusan membuat si Kakek berhenti melangkah, berbalik arah menatap Verlyn dengan pandangan bertanya.

“Sebenarnya Verlyn udah pengen nanyain, tapi baru beraninya sekarang?”

“Mau nanya apa?”

“Kek, Verlyn gak bodoh…,”

“Emang yang bilangin kamu bodoh siapa?”

“Iiihhh kakek, Verlyn belum selesai bicara tahu!”

“Ooh, ya udah lanjutkan!”

“Verlyn merasa ada yang sedang kalian sembunyikan, apa itu Kek Verlyn sangat ingin tahu. Melihat sikap kalian terhadap Clara yang begitu tidak mengacuhkannya saat dirumah ini, dan begitu peduli saat Clara udah gak di rumah ini membuat Verlyn penasaran Kek. Sebenarnya apa yang sedang kalian sembunyikan dari kami berdua?”

Hening sesaat..

Verlyn menunggu dengan sabar berharap Kakeknya mau berbagi kisah dengannya.

“Biar kami yang menjelaskannya Pa!”

Suara seorang wanita di belakangnya membuat Verlyn menoleh, disana sudah berdiri Mama dan Papanya.

“Tapi Lice…,”

“Sudah saatnya Verlyn tahu yang sebenarnya Pa!”

Alice tak memberikan kesempatan untuk Cristoper menyelesaikan ucapannya, dia dan suaminya sudah lelah menyembunyikan rahasia itu. Mereka juga lelah harus bersikap seolah-olah membenci Clara padahal sebenarnya mereka sangat menyayanginya.

“Ya sudahlah, itu terserah kalian saja. Kalau menurut kalian itu yang terbaik, ceritakanlah. Papa ke kamar dulu!”

Alice hanya mengantarkan kepergian Papanya lewat ekor mata, kemudian tatapannya beralih pada wajah Verlyn yang tergambar raut kebingungan disana.

“Kamu mau Mama ceritakan satu hal, ayo ikut dengan kami!” ajak Alice, dia menarik lembut tangan putrinya kemudian berjalan menuju Taman.

Disana tempat yang sangat cocok untuk mengenang masa lalu.

“Verlyn kamu tentu penasaran kenapa sikap kami begitu acuh pada Kakak mu Clara!”

“Iya Ma!”

“Kami melakukan itu karena ada alasannya, anakku!”

Verlyn menatap Papanya penuh tanda tanya yang besar di kepalanya, alasan itulah yang ingin dia ketahui saat ini.

Tak ingin menyelah Verlyn hanya mendiamkan diri saja.

“Alasannya adalah karena kami sedang melindunginya dari seseorang!”

“Melindunginya dari seseorang, maksudnya Ma Verlyn kurang memahami!”

“Dengarkan saja cerita kami, anakku. Nanti kamu akan mengerti sendiri!”

#Flashback_on

Seorang wanita tampak menangis di ruangan yang sepertinya adalah kamar, ruangan itu sangat gelap tidak ada penerangan sama sekali.

Dari bibirnya yang mungil terus mengucapkan kalimat yang sama, kalimat itu ia lontarkan pada laki-laki yang tampak duduk santai di sofa.

“Aku membenci mu, sungguh!”

Mendengar kalimat yang di lontarkan gadis itu si lelaki malah tertawa terbahak-bahak, namun di detik kemudian wajahnya berubah dingin.

Si lelaki bangkit lalu melangkah mendekati gadis itu atau lebih tepatnya sang istri, dengan sekali sentakkan dia sudah mencengkram kuat dagu gadis itu untuk menatap wajahnya.

“Kenapa? Bukankah dulu kamu sangat mencintaiku!”

“Tidak lagi setelah kau membunuh Mama ku!”

Wanita itu membentaknya.

“Itu kesalahan Mama mu sendiri, dia lebih memilih mati ketimbang merestui hubungan kita. Baiklah, dengan senang hati aku membunuhnya sayang!”

“Cuih, jangan panggil aku sayang dengan mulut kotor mu itu. Aku jijik!”

“Tak mengapa kalau kamu merasa jijik padaku, semarah apapun kamu padaku. Aku tidak akan melepaskan mu Alice!”

“Aku akan tetap pergi!”

“Selangkah saja kamu menjauh dariku akan ku pastikan anakku sendiri yang akan membunuh mu!”

Usai mengatakan itu si lelaki berbalik pergi keluar dari kamar, pergi entah kemana.

Alice tidak jadi bergerak dari tempat duduknya setelah mendengar ucapan penuh janji yang di lontarkan pria tak berperasaan tadi. Kemudian dia mengelus perutnya yang sekarang sedang mengandung buah hatinya dengan pria kejam itu yang sayangnya adalah suaminya sendiri.

Merasa tak punya harapan dia hanya menangis di sudut kamar yang gelap hanya ditemani sebuah ponsel yang tiba-tiba saja berbunyi, seseorang menelponnya.

Firdan.

Dengan senyuman Alice menjawab panggilan dari sahabatnya itu. Dia, suaminya, dan Firdan adalah sahabat dekat. Mereka di pertemukan di universitas dengan jurusan yang sama, walaupun Firdan adalah orang Indonesia tetapi Alice sangat suka bersahabat dengannya.

Kepada Firdanlah dia mengungkapkan setiap keluh dan kesahnya, termasuk dia yang sudah tidak tahan lagi hidup bersama lelaki kejam seperti suaminya.

Dari sanalah bermula Firdan mencoba merangkak masuk membobol gawang hati Alice, memang dia sudah menyukai Alice sejak pandangan pertama. Namun sayangnya saat itu Alice sudah dimiliki lelaki lain sehingga terpaksa dia buang perasaan itu jauh-jauh.

Namun masalah demi masalah yang di hadapi Alice sedikit kembali menyulutkan semangatnya untuk merebut hati gadis yang di cintainya.

Pucuk di cinta ulampun tiba cintanya bersambut, ternyata Alice juga memiliki perasaan lebih padanya.

Pada akhirnya Alice mereka memutuskan untuk kabur, tentu saja membuat suaminya marah besar saat mengetahui itu semua.

#flashback_off

“Jadi Clara itu bukan anak kandung Papa?”

Verlyn bertanya dengan raut wajah yang jelas sekali terkejut, mengetahui suatu fakta tentang Clara begitu menyenangkan baginya.

Dia punya kartu AS untuk menghina gadis itu nantinya.

“Bukan, meskipun begitu kamu tidak diperbolehkan menghinanya nanti. Walau bagaimanapun dia anak Mama mu dengan mantan suaminya, kalau kamu menghina Clara sama saja kamu menghina Mama kamu sendiri. Kamu paham Verlyn!”

Meski sebal dengan ucapan Papanya Verlyn kembali mengangguk, aneh.
Kenapa Papanya tahu kalau dia memang berniat menghina gadis itu.

Iiiih,, kesal.
Verlyn mengutuk dalam hati.

“Kenapa harus dilindungi dengan cara harus berpura-pura mengasingkannya di rumah dan mengacuhkannya, gak ada cara lain apa. Seperti mengusirnya di pedesaan gitu, kalau disana pasti Clara hidup dengan tenang tanpa gangguan dari Papa kandungnya!”

“Tentu saja Mama tidak ingin jauh-jauh dari kakak mu Vel. Lagipula kakak mu harus selalu dalam pantauan kami berdua, kalau tidak dia bisa berbahaya bagi orang lain!”

“Berbahaya bagi orang lain bagaimana, Verlyn belum mengerti Ma!”

Alice menghela nafas kembali membuka luka lama bukanlah perkara yang mudah, haruskah ia menceritakannya pada Verlyn atau membiarkan saja.

Namun istingnya mengatakan dia harus menjelaskan pada Verlyn agar gadis itu tidak bersikap kurang ajar lagi pada Clara.

“Jadi begini…”

#Flashback_on

Seorang anak perempuan kecil berlari dari dalam rumah menyambut kedatangan sahabat laki-lakinya, dia datang bersama kedua orangtuanya yang merupakan sahabat dari kedua orangtua si anak perempuan.

Kira-kira kedua bocah itu baru berusia lima tahun, mereka saling berpelukan lalu tertawa gembira.

“Kalian main diluar saja ya!”

“Iya Ma, Azam akan main di Taman sama Reisya!”

“Kalau Tante dan Om mau ke lumah, Mama dan Papa ada kok!”

Clara kecil dengan bahasanya yang pelat memberitahu ke dua orangtua sahabatnya itu.

“Okey, Zam jagain Reisyanya ya. Awas lho jangan nakal!”

“Okey Mom!”

Setelah kedua anak itu di tinggalkan berdua, keduanya pergi ke Taman belakang.

Awalnya keduanya memang terlihat main bersama layaknya anal kecil pada umumnya, lalu kemudian kemudian Clara kecil pergi begitu saja meninggalkan Azam yang kebingungan.

“Rei, mau kemana?” tanya Azam namun di acuhkan gadis kecil itu.

Azam tidak berniat mengejar Clara kecil, dia pikir Clara mau buang air saat melihat bayangan tubuh kecil itu yang hilang di sebalik kandang kelinci.

Azam kembali bermain sendirian.

Kira-kira setengah jam lamanya setelah kepergian Clara kecil, gadis itu belum juga kembali Azam pun jadi penasaran.

Kemudian dengan langkah pelan dia mencoba mendekati kandang kelinci tempat terakhir ia melihat Clara sebelum menghilang.

Tiba disana hal pertama yang ia lihat adalah keadaan Clara yang lagi jongkok dengan pisau di tangan sedang mencabik-cabik kelinci peliharaannya, seluruh isi perut binatang mungil itu di keluarkannya secara asal membuat darah itu muncrat dibaju yang gadis itu pakai.

Tentu saja Azam kecil dibuat shock dengan pemandangan di depannya.

“Claraaaaaaa ap..,apa yang kau lakukan?”

Teguran seseorang membuat Clara kecil berjengit kaget, kemudian tatapannya beralih ke arah sosok yang baru saja menganggu kerjaannya.

Tatapannya begitu sinis tertuju pada Azam.

“Janan icut campul Azam, kau bica mati nanti”

Ancaman di balik kepelatannya sungguh lucu, Azam hampir saja ingin meledakan tawanya kalau saja tidak mengingat kejadian di depannya ini adalah nyata perbuatan gadis itu.

Bisa-bisa dia juga bakalan bernasib sama dengan kelinci itu, oh malangnya.

“Aku akan beri tahu Mamamu!”

Belum sempat dia berbalik pergi sesuatu yang tajam kini menancap di bahunya, kemudian rasa sakit yang teramat sangat ia rasakan disana. Ia dapat melihat darah yang mengalir dari luka itu, Clara kecil menusuknya.

Belum sempat Azam kecil mencerna apa yang terjadi suara teriakan seseorang yang begitu keras lebih dulu menyapa gendang telinganya, kemudian di susul langkah kaki yang berjalan mendekat.

“Apa yang kau lakukan Clara, oh ya ampun…, kau menusuk anakku. Dasar monster!”

Duaggghh…

Clara kecil sukses terjatuh dengan kepala menghamtam batu setelah didorong dengan kasar oleh Violin. Tentu saja batu itu membuat kepalanya mengeluarkan darah, tak lama kemudian Clara kecilpun pingsan.

“Aku tidak akan melupakan kejadian ini Alice, sungguh anak mu adalah monster!”

Belum sempat Alice dan Firdan memahami apa yang terjadi Violin keburu pergi bersama dengan suaminya membawa Azam yang sudah tidak sadarkan diri di gendongan Teddy.

Mereka tak menyangka itulah kali terakhir mereka berjumpa, Violin dan suaminya memilih pindah membawa Azam pergi entah kemana.

#Flashback_off

“Wow, mengerikan sekali!” seru Verlyn tak habis pikir.

Ternyata rahasia inilah yang kedua orangtua dan kakeknya tutupi juga, sungguh Clara memiliki masalalu yang kelam yang sampai saat ini gadis itu lupakan.

Hehe, dia tersenyum senang.

Baiklah, jika Clara pulang nanti dia akan membuat gadis itu mengingatnya.
Mengingatkan bahwa Clara itu adalah Monster yang mengerikan.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here